Chapter 16

971 Words

Siang menjelang sore, ketika rasa lelah habis membelah kayu baru saja terobati oleh segelas es teh manis, suara deru mesin mobil pikap tua terdengar berhenti kasar di depan rumah. Pintu mobil dibanting keras. Seorang pria berbadan tambun dengan kumis tebal dan wajah merah padam melangkah lebar-lebar menuju teras. Itu Pak Saman, pemilik tempat penampungan kayu terbesar di kecamatan sebelah, tempat Parji selama ini mengambil pasokan kayu. "Parji! Parji! Keluar kowe!" teriak Pak Saman histeris sambil menggebrak tiang teras rumah. Brak! Sari yang sedang merapikan botol jamu di ruang tengah langsung meloncat kaget. Danu dan Parji yang berada di belakang pun buru-buru berlari ke depan. "Wonten opo ini, Pak Saman? Kok teka-teka marah-marah?!" tanyanya Parji gugup, wajahnya seketika pucat p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD