Chapter 1
Deru mesin ojek pangkalan itu mendadak mati, menyisakan kesunyian khas kampung yang cuma dihiasi suara jangkrik sore.
Danu turun dari motor, membetulkan letak tali ransel besarnya yang terasa berat.
Setelah menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan kepada si tukang ojek, Danu berdiri diam di tepi jalan setapak yang berdebu, menatap rumah peninggalan almarhum orang tuanya.
Rumah batako setengah kayu yang tampak sederhana dan sepi.
Sudah hampir tiga tahun Danu merantau ke kota besar. Berkat ketekunannya, ia bisa bertahan hidup lewat jalur beasiswa kuliah, ditambah kerja paruh waktu yang membuat fisiknya makin tegap dan mandiri.
Pemuda itu kini tumbuh menjadi sosok yang dewasa.
Danu menghembuskan napas panjang. Pikirannya membayangkan rumah ini bakal tenang, hanya diisi oleh Parji, abang kandungnya yang pendiam dan bekerja serabutan.
Namun, dahi Danu berkerut saat matanya menangkap sebuah papan nama kayu yang masih baru, terpaku di tiang teras rumah: Praktek Bidan Sari, Amd. Keb.
"Bidan Sari? Siapa?" gumam Danu dalam hati, merasa asing dengan tulisan tersebut.
Namun, sebelum rasa penasarannya terjawab, samar-samar terdengar suara teriakan membentak dari dalam rumah, disusul tangisan histeris seorang wanita dan jeritan bayi yang pecah.
Danu terkejut. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat melewati halaman depan dan memutar gagang pintu yang ternyata tidak dikunci.
Pintu terbuka. Langkah Danu mendadak terkunci, matanya membelalak menatap pemandangan di ruang tengah.
Di dekat meja kayu, Parji—abang kandungnya sendiri—sedang kalap.
Wajahnya merah padam penuh emosi. Tangan Parji terangkat tinggi dan tanpa perikemanusiaan memukul bahu serta menampar pipi seorang wanita yang terduduk lemas di lantai sambil berusaha melindungi tubuhnya.
"Kang! Cukup, Kang! Kasihan anak kita!" jerit wanita itu gemetar, terisak memohon di bawah ancaman tangan suaminya.
Di sudut ruangan, seorang bayi menangis kencang di dalam ayunan, seolah ketakutan mendengar keributan orang tuanya.
"Kalian perempuan cuma bisa nyusahin!" bentak Parji kasar, hendak mengayunkan tangannya lagi ke arah wanita yang terkulai lesu itu.
"Kang Parji! Hentikan!"
Suara Danu menggelegar memenuhi ruangan. Dengan langkah cepat dan cekatan, Danu langsung menerobos masuk, menyambar lengan Parji yang hendak melayang, lalu mencengkeramnya kuat-kuat hingga gerakan abangnya terhenti seketika.
Parji menoleh kaget, matanya melotot menatap adik kandungnya yang sudah bertahun-tahun tidak pulang.
Sementara itu, wanita di lantai—Sari, yang tak lain adalah istri Parji—menengadah dengan napas tersengal-sengal, menatap kedatangan Danu dengan sudut mata memar dan tatapan penuh ketakutan.
Suasana ruang tengah mendadak mencekam. Cengkraman tangan Danu di lengan Parji begitu kuat, hingga otot-otot abangnya terkunci tak bisa bergerak.
Parji berusaha meronta, membelalakkan mata dengan napas memburu akibat amarah yang belum padam sepenuhnya.
"Danu?! Kamu... kapan pulang?" geram Parji, suaranya parau dan sarat akan keterkejutan.
"Baru saja sampai, Kang. Dan, ini sambutan yang harus saya lihat?" potong Danu dengan suara rendah namun dingin menusuk.
Matanya menatap tajam, penuh rasa kecewa pada lelaki yang seharusnya menjadi teladan bagi keluarga.
Danu menghempaskan lengan Parji ke samping, lalu buru-buru berlutut di sebelah wanita yang terkulai lemas di lantai.
Dengan perlahan, ia membantu wanita itu duduk. Sudut bibirnya sedikit berdarah, dan rambutnya berantakan menutup sebagian wajahnya yang sembab.
"Mbak... Mbak tidak apa-apa?" tanya Danu lembut, berusaha tidak mengejutkannya.
Wanita itu mengangguk pelan sambil terisak, jemarinya yang gemetar memegang bahu Danu untuk menopang tubuhnya sendiri.
"Makasih, Danu... Mbak enggak apa-apa..." suaranya begitu pelan, nyaris tenggelam oleh tangisan bayi di sudut ruang yang makin kencang.
Sari berusaha bangkit dengan sisa tenaganya, merangkak kecil menghampiri ayunan bayi untuk menenangkan buah hatinya.
Danu ikut berdiri, melangkah pasang badan di antara Sari dan Parji untuk memastikan tidak ada serangan susulan.
Parji mendengus kasar, membuang muka sambil mengusap wajahnya yang tegang. "Kamu enggak usah ikut campur, Nu! Ini urusan rumah tangga Akang! Perempuan ini cuma bisa nuntut, padahal Akang capek kerja di jadi buruh kayu!"
"Capek bukan alasan buat main tangan, Kang!" tegas Danu tanpa ragu. Langkahnya maju satu tapak, memotong ruang gerak Parji. "Istri Abang ini seorang bidan, dia juga urus rumah dan anak Abang yang masih bayi. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik, bukan pakai otot."
Parji terpaku. Ia menatap adiknya yang kini bertubuh tegap dan bicaranya tegas, sangat berbeda dengan Danu kecil yang dulu sering ia perintah.
Ada rasa malu yang mendadak menyelinap di benak Parji, bertumpuk dengan kekesalan karena kewenangannya sebagai kepala rumah tangga dipertanyakan.
"Terserah kamulah!" gumam Parji akhirnya, menyambar jaket lusuhnya yang tergeletak di kursi kayu, lalu melangkah lebar menerobos pintu depan dan membantingnya kencang.
Suara dentuman pintu menyisakan hening yang panjang. Danu menghela napas berat, lalu berbalik menghampiri Sari yang sedang menimang bayinya dengan tubuh masih bergetar.
"Mbak Sari, biar saya ambilkan air minum dulu," ucap Danu pelan, mencoba mengurai ketegangan di rumah tua yang kini menyimpan luka baru tersebut.