Matahari baru saja bergeser sedikit ke barat, memancarkan hawa hangat di atas atap seng rumah tua itu. Keheningan sisa keributan kemarin sore masih membekas, membuat suasana terasa canggung.
Papan nama Praktek Bidan Sari, Amd. Keb. di teras depan tergantung tenang, tapi bangku tunggu di sampingnya kosong melompong.
Sari sedang duduk di kursi kayu ruang tengah, mengayun pelan ayunan bayinya dengan wajah muram.
Danu yang baru selesai membasuh muka di dapur, berjalan mendekat.
"Masih sepi ya, Mbak?" tanya Danu pelan sambil mampir di dekat pintu.
Sari menghela napas panjang. "Iya, Nu. Dari minggu lalu hampir enggak ada pasien yang datang."
"Kok bisa begitu, Mbak? Bukannya di kampung ini bidan cuma Mbak Sari?"
"Seharusnya gitu, Danu," sahut Sari dengan nada getir. "Tapi, Bidan Nani buka klinik baru di ujung jalan desa. Kamu belum tahu kan, Nani itu dari dulu memang musuh bebuyutan Mbak sejak zaman sekolah. Dia sengaja banting harga obat, terus fasilitas kliniknya lebih lengkap karena modal suaminya besar. Pasien Mbak disabet semua sama dia."
"Oalah, jadi Bidan Nani yang bikin praktek Mbak sepi?"
"Iya, Nu. Mbak bener-bener enggak ada pemasukan sekarang. Buat beli s**u bayi aja pas-pasan," desah Sari pasrah.
Tiba-tiba, suara deru dua sepeda motor bertubuh besar berhenti kasar di halaman depan.
Langkah kaki beratap sepatu tebal menginjak lantai teras kayu dengan lantang.
"Parji! Keluar kamu! Jangan pura-pura mati di dalam!" teriakan bersuara serak mengejutkan isi rumah.
Sari seketika tersentak. Wajahnya yang semula tenang berubah pucat pasi. Tangannya gemetar hebat memegang tepi ayunan.
"Danu... itu anak buahnya Pak Kupra," bisik Sari ketakutan. "Rentenir dari desa sebelah."
"Kang Parji punya utang sama mereka, Mbak?" tanya Danu cepat.
"Iya, Nu. Kang Parji pinjam uang banyak buat modal borongan kayu beberapa bulan lalu, buat sewa truk sama mesin gergaji. Tapi, bisnis kayunya macet total, rugi besar," jelas Sari panik. "Mbak mau bantu bayar cicilannya pakai uang praktek, tapi uangnya sama sekali enggak ada gara-gara sepi kalah saing sama klinik Nani!"
"Parji! Buka pintunya atau kami dobrak!" gedoran keras menghantam pintu depan.
"Mbak Sari di dalam saja, jaga bayinya," kata Danu tenang. "Biar saya yang temui mereka."
"Tapi, Danu, mereka kasar..."
"Tenang, Mbak. Saya penengahnya."
Danu melangkah ke pintu depan dan membukanya lebar-lebar.
Di teras, berdiri dua pria bertubuh tegap dengan jaket kulit kusam dan tatapan beringas.
"Siapa kamu? Mana Parji?" bentak pria berkumis tebal yang memegang catatan.
"Saya Danu, adiknya Kang Parji. Ada urusan apa gedor-gedor rumah orang siang-siang begini?" jawab Danu santai sambil bersedekap d**a.
Pria berkumis itu tertawa sinis. "Oalah, adiknya toh? Dengarin ya, abangmu si Parji itu punya utang menumpuk sama Pak Kupra. Hari ini jatuh tempo! Mana dia?"
"Kang Parji lagi kerja dari pagi, angkut kayu ke luar daerah. Enggak ada di rumah," ujar Danu datar.
"Alasan terus! Tiap kita datang bilangnya kerja angkut kayu!" sahut pria kedua dengan nada tinggi. "Kalau Parji enggak ada, suruh istrinya si bidan itu keluar buat bayar!"
"Mbak Sari lagi ngurus bayi di dalam. Dan, dia enggak ada hubungannya sama utang Kang Parji," potong Danu tegas.
"Gak bisa gitu! Mau suami mau istri, kalau nikah ya tanggung jawab bareng! Kalau kagak ada uang tunai, barang medis di prakteknya kita sita buat jaminan!" gertak pria berkumis sambil mencoba menerobos masuk.
Danu langsung menggeser posisinya, menghalangi pintu dengan badannya yang tegap. "Coba saja kalau berani melangkah satu senti lagi."
Pria kedua yang emosional mencoba mendorong bahu Danu. "Enggak usah sok jagoan kamu di sini! Mau kita acak-acak rumah ini?!"
Danu tidak bergeser sedikit pun. Dengan cepat, ia memegang pergelangan tangan pria itu dan mencengkeramnya kuat. Pria itu seketika meringis kesakitan.
"Aduh! Lepas! Lepasin tangan gue!" ringis pria kedua sambil berusaha menarik tangannya.
Danu melepaskannya perlahan. "Saya enggak mau cari keributan. Berapa utang Kang Parji sebenarnya?"
Pria berkumis tebal membedah kertasnya dengan tangan sedikit gemetar. "Total utang pokok sama bunganya dua puluh dua juta!"
"Bunga jenis apa yang sampai mencekik begitu?" sindir Danu. "Saya tahu Kang Parji itu cuma buruh kayu yang kerja banting tulang dari subuh sampai malam. Dia bukan penipu."
"Itu aturan tempat kami! Hari ini harus ada setoran minimal tiga juta! Kalau kagak ada uang, sepeda motor di dalam kita bawa!" ancam pria kedua.
Dari balik pintu, Sari mengintip dengan mata berkaca-kaca.
"Danu... jangan berantem, Danu..." bisiknya bergetar.
Danu menoleh sedikit, memberi isyarat agar Sari tenang. Lalu ia kembali menatap kedua penagih utang itu.
"Enggak ada barang yang dibawa hari ini. Ini rumah peninggalan orang tua saya, bukan milik Parji pribadi," tegas Danu.
"Kamu mau ngajak perang sama Pak Kupra, hah?!" ancam pria berkumis.
"Saya cuma minta cara yang adil," balas Danu tenang. "Beri waktu sampai akhir bulan ini. Kang Parji pasti bayar."
"Terus jaminannya apa kalau kalian kagak kabur?!"
Danu mengeluarkan kartu identitasnya dari dompet. "Ini KTM dan identitas saya. Saya mahasiswa dan bakal ada di sini. Saya yang jadi jaminannya. Datang lagi akhir bulan, bicara langsung sama Kang Parji dan saya secara baik-baik."
Pria berkumis tebal menatap KTM Danu, lalu memperhatikan ketenangan pemuda di depannya. Ia sadar Danu bukan orang yang bisa digertak sembarangan.
"Oke! Kami pegang omonganmu!" kata pria berkumis menunjuk Danu. "Tanggal tiga puluh kami datang lagi. Kalau uangnya belum siap, jangan salahkan kami kalau Pak Kupra sendiri yang datang!"
"Silakan. Tapi, datang dengan cara manusia," jawab Danu dingin.
Kedua rentenir itu berbalik pergi sambil bersungut-sungut.
Tak lama kemudian, suara deru mesin motor mereka menjauh meninggalkan halaman rumah.
Danu menarik napas panjang lalu berbalik masuk. Sari keluar dari kamar dengan langkah gemetar, menggendong bayinya.
"Nu... kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Sari terharu.
"Saya enggak apa-apa, Mbak Sari. Mereka sudah pergi," jawab Danu tersenyum tipis.
"Makasih banyak ya, Nu... Mbak bener-bener bingung tadi," kata Sari menyapu air matanya. "Soal Bidan Nani dan utang Kang Parji ini bikin Mbak rasanya mau menyerah."
"Enggak usah dipikirkan lagi, Mbak. Soal Bidan Nani nanti kita cari jalannya, dan soal utang, nanti malam kita harus bicara bertiga sama Kang Parji," ucap Danu pelan dan penuh keyakinan.