Keheningan pagi di rumah tua itu pecah ketika langkah kaki terseret dan oleng terdengar memasuki halaman.
Pintu depan terdorong kasar hingga menghantam dinding semen.
Parji pulang dalam keadaan baju kotor berdebu, wajah kuyu, dan bau menyengat alkohol yang langsung menyeruak memenuhi ruang tengah.
Sari yang baru saja selesai menyapu lantai seketika menghentikan kegiatannya.
Matanya membelalak menatap suaminya yang bersandar di kosen pintu sambil memegang botol minuman yang tinggal separuh.
"Ya Allah, Kang Parji! Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?!" seru Sari dengan suara tertahan, berusaha menjaga volume agar tak membangunkan bayinya di kamar. "Mana bau minuman begini! Kamu mabuk-mabukan lagi?"
Parji terkekeh sinis, melangkah limbung mendekati meja. "Halah! Berisik kamu pagi-pagi! Orang pulang cape-cape kerja malah diomelin!"
"Kerja apa yang baunya minuman begini, Kang?!" tangis Sari mulai pecah, napasnya memburu menahan amarah dan kekecewaan yang menumpuk. "Uang borongan kayu kemarin ke mana? Rentenir Pak Kupra kemarin datang ke sini gedor-gedor pintu! Kalau enggak ada Danu, aku enggak tahu harus gimana! Kamu malah enak-enakan mabuk!"
"Jangan bawa-bawa Danu!" bentak Parji, matanya yang merah menatap tajam ke arah Sari. "Ini rumah tangga aku sama kamu! Lagian uang kayu itu rugi, paham?! Uangnya habis buat bayar bensin sama traktir anak-anak angkut biar mau kerja!"
Danu yang berada di kamar sebelah, baru saja merapikan ijazah sarjana teknik dan berkas kelulusannya.
Mendengar percekcokan di luar, ia menghentikan aktivitasnya.
Danu melangkah pelan ke ambang pintu kamar, bersandar di sana sambil memperhatikan dari jauh.
Sesuai prinsipnya, selama masih pertengkaran mulut, ia tidak akan ikut campur urusan rumah tangga abangnya.
"Alasan terus, Kang!" sahut Sari, suaranya gemetar. "Praktek aku lagi sepi gara-gara klinik Bidan Nani buka. Mbak enggak punya uang sama sekali buat beli s**u si Dedek! Akang malah buang-buang uang buat minuman haram begitu!"
"Bawel banget kamu jadi perempuan!" bentak Parji lagi, kali ini lebih keras.
"Biarin Bawel! Kamu itu kepala keluarga, Kang! Harusnya mikirin anak sama istri, bukannya malah lari dari masalah!" teriak Sari frustasi.
Tiba-tiba, Parji yang emosinya sudah di puncak akibat pengaruh alkohol menggeram kasar. "Kurang ajar kamu ya!"
Tangan Parji terangkat tinggi, siap melayang ke arah wajah Sari.
Sari memejamkan mata erat-erat sambil merapatkan tubuhnya ke dinding, bersiap menerima pukulan. Namun, serangan itu tak pernah sampai.
Dalam hitungan detik, Danu sudah melangkah cepat dan mencegat lengan Parji di udara.
Cengkraman jari-jari lulusan teknik yang terbiasa hidup mandiri itu mengunci pergelangan tangan Parji hingga tak bergeming sedikit pun.
"Cukup, Kang," ucap Danu dingin, matanya menatap lurus ke dalam manik mata abangnya.
Parji meringis, mencoba menarik tangannya tapi cengkeraman Danu terlalu kokoh. "Danu! Lepasin! Kamu enggak usah ikut campur!"
"Saya enggak akan ikut campur kalau Abang cuma ngobrol," kata Danu tenang namun penuh penekanan. "Tapi, kalau Abang udah main pukul perempuan, apalagi istri Abang sendiri, saya enggak bakal tinggal diam."
"Dia itu istriku! Terserah aku mau didik dia gimana!" racau Parji sambil berusaha mendorong Danu dengan tangan satunya.
Danu dengan mudah menepis dorongan itu, lalu mendorong Parji pelan hingga abangnya terduduk di kursi kayu. "Mendidik itu pakai pikiran, Kang, bukan pakai tangan dan bau alkohol. Sadar dulu. Kasihan Mbak Sari sama anak Abang."
Parji menyapu wajahnya kasar, mendengus kesal karena tak berdaya menghadapi adiknya yang kini jauh lebih dewasa dan kuat.
"Awas kamu ya..." gumam Parji tidak jelas, sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya ke meja dan tertidur lelap akibat pengaruh alkohol.
Danu menarik napas panjang, lalu berbalik menatap Sari yang masih gemetar di sudut ruangan.
Danu menghampirinya dengan raut wajah khawatir.
"Mbak Sari enggak apa-apa, kan? Ada yang sakit?" tanya Danu lembut, menatap kakak iparnya dengan rasa iba penuh kasih sayang seorang adik.
Sari menggeleng pelan, mengusap air mata yang menetes di pipinya. Ia menatap Danu dengan pandangan lega. "Mbak enggak apa-apa, Nu... Makasih ya. Kalau enggak ada kamu, Mbak enggak tahu lagi harus gimana."
"Sama-sama, Mbak. Mbak Sari itu sudah seperti mbak kandung saya sendiri," ujar Danu tulus sambil menepuk pelan bahu Sari untuk menenangkannya. "Mbak yang sabar ya. Masuk kamar saja dulu, biar Kang Parji saya yang urus."
Sari mengangguk pelan, menyapu sisa air matanya. "Iya, Nu. Mbak tengok si Dedek dulu di kamar. Kamu juga belum sarapan, nanti Mbak buatkan minum ya."
"Enggak usah repot-repot, Mbak. Tenangkan diri Mbak dulu," balas Danu tersenyum tipis.
Setelah Sari masuk ke kamarnya, Danu memindahkan botol minuman Parji ke dapur dan membiarkan abangnya tertidur di ruang tengah agar pengaruh alkoholnya mereda.
Siang harinya, setelah situasi rumah mulai tenang dan Parji masih tertidur di kamar belakang, Danu memutuskan keluar untuk membeli kebutuhan dapur. Mengenakan kaos polos sederhana dan celana jins, Danu melangkah menuju warung kelontong Mak Erna.
Sebagai pemuda yang baru menyelesaikan pendidikan sarjana teknik di kota besar, kehadiran Danu yang berpenampilan rapi dan berwibawa langsung mencuri perhatian warga desa sepanjang jalan.
"Eh, Mas Danu!" sapa Mak Erna heboh saat Danu sampai di warungnya. "Dengar-dengar udah lulus kuliah teknik ya di kota? Selamat ya, Nu! Wah, calon orang sukses nih!"
"Alhamdulillah, sudah lulus, Mak. Terima kasih banyak," jawab Danu ramah sambil tersenyum.
Di samping warung, Ratih, anak gadis Mak Erna yang masih kuliah, tampak malu-malu merapikan dagangan.
"Kuliahnya lancar, Ratih?" sapa Danu sopan pada adik tingkatnya itu.
"E-eh... iya, Mas Danu, lancar," jawab Ratih dengan pipi merona merah. "Selamat ya Mas buat kelulusannya."
"Terima kasih, Ratih. Kalau ada tugas kuliah teknik atau butuh referensi buku, tanya-tanya aja ya, santai," kata Danu memberikan semangat.
"Iya, Mas Danu, terima kasih banyak!" sahut Ratih dengan senyum mengembang.
***
Setelah selesai berbelanja, Danu kembali ke rumah. Di dapur, Sari sedang menyiapkan minum dan pisang goreng.
Wajahnya sudah lebih tenang dibanding tadi pagi.
"Sudah pulang, Nu?" sapa Sari ramah saat melihat Danu meletakkan belanjaan di meja dapur.
"Sudah, Mbak. Ini belanjaan dapur yang Mbak minta tadi," kata Danu sambil menyerahkan kantong plastik.
Sari tersenyum hangat, mengambil kantong plastik itu lalu menyodorkan piring berisi pisang goreng. "Nih, makan dulu pisang gorengnya. Mbak sengaja buatin buat kamu sebagai ucapan terima kasih."
"Wah, terima kasih banyak ya, Mbak Sari," ujar Danu langsung mengambil satu pisang goreng. "Mbak memang kakak ipar paling perhatian."
"Ya jelas dong, kamu kan adik Mbak juga sekarang," sahut Sari sambil tertawa kecil, rasa sedihnya perlahan terobati oleh kehangatan dan rasa saling menjaga di antara mereka sebagai keluarga.