Setelah Mak Erna dan Ratih melangkah pergi meninggalkan halaman rumah tua itu, suasana teras mendadak berubah hening. Danu menghembuskan napas panjang, berbalik menatap kakak iparnya yang berdiri bersandar di kusen pintu depan. "Mbak... makasih ya udah ngizinkan saya pergi," kata Danu penuh rasa terima kasih. Rasa sumpek di kepalanya perlahan terasa agak berkurang. "Mbak Sari beneran enggak apa-apa di rumah sendirian nanti malam?" Sari tersenyum tipis, mengangguk pelan penuh kepasrahan. "Enggak apa-apa, Nu. Mbak beneran ikhlas. Kamu itu udah terlalu banyak nanggung beban di rumah ini dari kemarin-kemarin. Otakmu udah mau pecah mikirin masalah utang sama bisnis kayu. Kamu berhak hiburan sebentar, jalan-jalan sama Ratih." "Mbak Sari enggak mau nitip apa-apa nanti pas saya pulang?" tawar

