Hari kedua sejak kepergian Lian ke Jakarta terasa berjalan sangat lambat bagi Danu. Matahari siang bolong menyengat terik di atas atap studio PT Ujung Karya Mandiri. Suara deru mesin ketam kayu dan pukulan martil dari para pekerja membahana di halaman luar, namun di dalam ruangan studio, Danu hanya duduk termangu menatap layar ponselnya yang redup. Pintu studio terdorong pelan. Ratih masuk membawa dua cangkir teh hangat dan piring berisi pisang goreng. Ratih memandang Danu yang tampak begitu berjarak dari tumpukan berkas gambar kerja di mejanya. "Mas Danu... diminum dulu tehnya," tegur Ratih pelan sambil meletakkan cangkir di tepi meja. "Dari tadi Ratih perhatiin HP-nya cuma dipegang-pegang terus, tapi gak ada yang ditelepon." Danu tersentak, cepat-cepat meletakkan ponselnya ke a

