"Bicaramu janggal, Kang! Jujur sama aku!" teriak Sari mendadak, membuat Parji dan Danu tersentak kaget di atas motor. "Empat puluh delapan juta itu habis buat judi... atau buat melayani cewek-cewek di kafe remang-remang tol?!" Muka Parji seketika berubah pucat pasi, seperti mayat. "S-Sari... kowe ngomong opo toh? Siapa sing nggawa cerita ngawur begitu?!" "Ora usah ngeles meneh, Parji!" amuk Sari melengking, air matanya tumpah deras membasahi pipinya. Tangannya mengepal keras, memukuli d**a Parji tanpa ampun. "Aku ini kurang apa sama kamu, hah?! Aku sabar disiksa, aku diam muka membiru dipukuli, aku ikut pusing nanggung utangmu! Tapi, kowe malah foya-foya main cewek di luar?!" Parji cuma bisa menunduk pasrah sambil berusaha menahan tangan istrinya. "Sari... rungokno disik, Dek... Akang

