Malam makin larut, namun suasana di rumah tua terasa sangat dingin dan tegang. Danu berdiri di dalam kamarnya, memasukkan beberapa helai baju, celana, dan barang-barang pribadinya ke dalam tas duffel besar. Ucapan Lian di pesan teks setelah ke Jakarta dua hari lalu kembali menari-nari di ingatan Danu: “Mas Danu, demi kebaikan bersama dan biar gak jadi fitnah warga, mending Mas Danu tinggal di ruangan belakang studio aja. Kasihan Mbak Sari, kasihan Mas Danu juga.” Danu menghembuskan napas panjang. Saran dari Lian memang sangat masuk akal, apalagi setelah menyadari benih-benih fitnah yang mulai disebar oleh Bejo dan Bu Nani di sekitar desa. Saat Danu menarik resleting tasnya dan melangkah keluar kamar menuju pintu depan, Mbak Sari yang sedang menimang si Dedek di ruang tengah langsung

