Siapa dia?

772 Words
"Alice!" Margaret berteriak lantang, memanggil Alice yang masih terlelap di kamar. "Buka pintunya!" Sambil menggedor pintu kamar keras-keras. Masih setengah tidur Alice membuka pintu kamar. "Siapkan sarapan untuk kami!" "Apa! Kami?" Gumam Alice dalam hati ketika ia benar-benar sudah membuka mata, sadarlah ia kalau ada seorang laki-laki di belakang Margaret. Samuel Houston, siapa lagi. Anak laki-laki berumur satu tahun lebih muda darinya, tapi kelakuannya tak lebih dewasa dari Ayden. "Cuci baju-baju ini! Thanks!" Samuel meletakkan sebuah tas punggung lusuh di depan pintu kamar Alice. Gadis itu hanya memasang wajah cemberut, menunjukkan ketidak-sukaannya pada Samuel. Life in hell, begitulah hidupnya sekarang. Nampaknya lengkap sudah. Padahal bersama Margaret saja sudah cukup membuatnya tersiksa, sekarang ia harus menghadapi iblis junior macam Samuel. Memuakkan. Alice kembali ke dalam kamar untuk mencari ikat rambutnya. "Cepat!!" sekali lagi wanita tua itu berteriak hingga membuat Alice terperanjat. "Aku sedang mencari ikat rambutku, kau tak mau kan kalau makananmu penuh dengan rambutku?" Wanita tua itu mendengus kesal lalu meninggalkan Alice. Ia sebenarnya sudah kebal dengan perlakuan kasar neneknya, tapi ia sangat lelah jika setiap hari harus membuang tenaga untuk berteriak lantang membalas umpatan sang Nenek. Setelah mengikat rambut dan mengambil beberapa makanan kaleng di nakas dapur ia kemudian mulai memasak sarapan untuk kedua manusia yang menyebalkan itu. Suara samar langkah kaki terdengar di belakangnya, Alice tahu betul itu bukan langkah kaki Margaret. Pasti Samuel, siapa lagi. "Aku punya seorang kenalan yang sedang membutuhkan waitress. Gajinya lumayan, aku rasa lebih dari cukup untuk membayar biaya bulanan di rumah sakit yang merawat adikmu," ujar Samuel sambil memperhatikan Alice dari atas kebawah. Senyumnya menyeringai, menjijikkan. Alice tak menghiraukan ocehan Samuel. "Aku serius!" Samuel mencengkeram lengannya. "Lepaskan!" Alice balik melotot. "Dasar payah, aku hanya ingin membantumu!" Samuel berteriak lalu meninggalkan Alice. "Aku tidak butuh bantuanmu p***n—" "Alice!! Jaga bicaramu!" sela Margaret dengan lantangnya membela Samuel. **** 'Sial' batin Alice saat ia yakin kalau akan terlambat sampai kampus. Bus hanya akan datang dua puluh menit lagi, yang berarti dia hanya akan tiba di kampusnya lima puluh menit kedepan. Ini semua karena si Samuel dan Nenek sihir itu. Kenapa hidupnya berubah menjadi semengerikan ini? Kebahagiaan lenyap begitu saja dari hidupnya. Sejak kepergian kedua orang tuanya ia harus menjalani semua kepedihan. Ia selalu berkata dalam hati untuk tidak boleh cengeng. Ia harus menguatkan diri, demi Ayden dan masa depannya. Ia sangat yakin mampu menata hidupnya kembali. Seseorang memecah lamunannya, "Hai, Nona Alicia?!" pria berkacamata dengan perawakan atletis itu menyapanya. "Dokter William?" Alice memastikan kalau ia tak salah orang. "Baguslah, anda masih mengingat saya." Dokter tampan itu tersenyum. "Apa yang anda lakukan disini?" Alice tak melihat dari mana datangnya, tahu-tahu pria tampan itu sudah duduk di sampingnya. "Oh ... ya ... saya hanya kebetulan saja lewat," jawabnya sambil menunjuk ke arah pasar tradisional yang berada tepat di belakang halte. "Ohh ... apakah anda membeli sesuatu? Saya tak melihatnya," Alice celingukan karena tak menemukan tas belanjaan yang seharusnya dibawa seseorang jika berbelanja ke pasar. "Tidak ... tidak, saya tidak membeli apapun. Hanya melihat-lihat, karena di tempat saya tak ada pasar tradisional semacam ini. Kami hanya biasa berbelanja di supermarket besar, dengan jenis barang terbatas. Dan harga yang lebih mahal," jelas Dokter William sembari terus mengulas senyum. Alice membalas senyumannya tanpa menjawab apapun, karena ia sedang berpikir dimana kira-kira tempat asal sang Dokter tampan. Pasti Kota besar atau malah terpencil? "Oh ya, Nona Alicia, bolehkah saya bertanya sesuatu? Tentu saja jika itu tidak menyinggung anda—" "Silakan bertanya Dokter... " sela Alice cepat. Ia tak menyukai basa-basi. "Hmmm ... okay. Saya belum pernah melihat keluarga Ayden selain anda, kalau boleh tahu, kemanakah keluarga anda yang lain?" "Maksud anda ... Ayah dan Ibu saya?" Alice mengerutkan dahi menahan silau matahari yang semakin naik. Dokter William mengangguk. "Keduanya meninggal dalam kecelakaan pesawat, sekarang saya hanya tinggal dengan Ibu tiri dari ayah saya." Alice mengalihkan pandangan ke bawah kakinya. Ia berusaha sembunyikan kepedihan yang mungkin saja tergambar di matanya. Ia takut siapapun dapat membaca matanya yang kerap tampak kosong seolah tanpa harapan. "Maafkan saya ... saya turut berduka cita ... " William ikut menunduk dalam hati merutuki pertanyaannya yang mungkin membuat gadis di depannya bersedih. Alice beranjak dari duduknya, "Dokter, terima kasih sudah menemani saya. Bus-nya sudah datang, saya pergi dulu ... see you!" Belum sempat William mengatakan apapun, Alice sudah melangkahkan kaki ke dalam bus. Melesak masuk dan menjejalkan diri diantara para penumpang yang tidak kebagian tempat duduk. Dari kejauhan matanya masih perhatikan Dokter William berdiri di pinggir jalan, ia melambaikan tangan seolah Alice bisa membalas lambaiannya. Alice tersenyum melihat tingkah lucu sang dokter yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari yang ia temui tempo hari di pusat kesehatan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD