Wanita tua bau tanah

408 Words
"Aku butuh uang itu untuk pengobatan Ayden," kata Alice saat selesai makan malam. Wanita bertubuh gempal yang sedang menikmati salad buah di depannya itu langsung memasang muka masam. Detik berikutnya, wanita tua itu membanting sendok hingga timbulkan suara gaduh di atas meja. "Apa kau tidak lihat? Aku sedang makan? Huh!? Kau membuat selera makanku hilang," lantang wanita yang tak lain adalah Margaret, nenek Alice. Wanita berusia sekitar enam puluhan itu beranjak dan membanting mangkuk salad dengan kasar. "Tapi, Nek. Ayden sangat membutuhkan uang itu untuk pengobatannya, ia harus menjalani prosedur lain karena kemoterapi tidak berjalan sesuai harapan." Alice masih mencoba meredam amarah yang sebenarnya sudah sampai di ubun-ubun. "Diam! Aku hanya akan memberimu uang dan aset-aset itu, jika sudah waktunya. Untuk sekarang kau masih dibawah asuhanku, jadi akulah yang berhak mengelola semua aset ayahmu dan uang-uang itu." Teriak Margaret, lalu menutup pintu kamarnya dengan bantingan keras. Alice menghela nafas panjang berusaha melepaskan segala kesesakan yang kini menghantam rongga dadanya. Seperti yang sudah ia duga, Margaret pasti mempersulitnya. "Kalau kau ingin menyelamatkan nyawa adikmu itu, bekerjalah lebih giat. Jangan hanya bekerja paruh waktu, itu bahkan tak akan cukup untuk membeli makanan selama seminggu." Margaret masih berteriak lagi saat di dalam kamar. Alice tak mau berdebat lagi dengan neneknya yang jelas-jelas hanya akan membuatnya semakin tertekan dengan keadaan. "Bersihkan kamar depan, Samuel akan datang besok!" "Apa yang dilakukan berandalan itu dirumah ini?" Alice membalas dengan teriakan. "Dia cucuku, kau tak berhak berkata seperti itu tentang dia." "Okay, aku tahu nenek. Kau sangat mencintai adik sepupuku yang sudah berkali-kali keluar masuk penjara itu." Sengaja Alice membuat Margaret naik darah. Tak pelak ucapannya membuat Margaret keluar dari kamar dan ... PLAKK!! Melayangkan tangan kanannya tepat di pipi Alice. "Kau seharusnya malu berkata seperti itu, anak seorang pe*ac*r sepertimu tak pantas mengatakan hal buruk tentang cucu laki-laki penerus keluarga Houston!" "Ibuku bukan pe*la**r!" Alice berteriak, lelehan panas perlahan turun membasah di pipinya. "Lalu sebutan apa yang pantas untuk wanita yang tidur dengan laki-laki lain hingga hamil? Huh? Haruskah kusebut dia malaikat? Oh Tuhan selamatkan aku. Lebih baik kau diam, Alice. Kau semakin mirip saja dengan ibumu. Dan itu membuatku muak!" Lagi-lagi Margaret membanting pintu kamarnya, setelah beberapa saat, ia keluar dari kamarnya dengan dandanan menor ala sosialita. Entah kemana perginya wanita bau tanah itu, yang jelas ia takkan pulang hingga fajar tiba, Alice tahu betul kebiasaan itu. Dan enggan menggubrisnya lagi. Lebih baik ia mulai memutar otak agar bisa mendapatkan uang untuk Ayden.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD