13. Aku suami mu

1525 Words
Tepat pukul lima pagi Leon masih terjaga. Ia duduk di depan layar komputernya dengan menggunakan kacamata anti radiasi. Mata dan kesehatannya benar-benar penting, tapi untuk malam ini Ia terpaksa harus terjaga sepanjang malam. Tanpa Ia sadari, matahari mulai naik dan memancarkan sinar ke-emasan yang menerobos masuk melalui tirai-tirai yang tidak tertutup sempurna. Ia menghela napas panjang dan meregang otot-otot tubuhnya. Duduk hampir semalaman ternyata benar-benar membuat ia lelah. Leon bergegas menuju kamar mandi. Ia harus menyegarkan diri sebelum bergabung untuk sarapan pagi. Sampai akhirnya Leon melupakan sesuatu. Sedangkan Alexa, gadis itu masih terlelap dalam tidurnya. Ia benar-benar menikmati malamnya sebagai pengantin yang bisa lepas dari tanggung jawab adegan ranjang. Bukankah itu sebuah keberuntungan untuknya? Selesai membersihkan diri, Leon keluar dengan menggunakan t-shirt hitam yang benar-benar mencetak bentuk tubuhnya, memperlihatkan sebuah tato berukir naga yang membelit lengan kekarnya. “Selamat pagi, pa?” sapa Leon saat ia baru saja menuruni tangga. Aji hanya tersenyum, tapi seketika kening pria paruh baya itu berkerut tanpa Leon sadari. Denga bantuan anak buah Jack, Aji mendekati leon dan meraih tangan putranya itu. “Ada apa pa? Apa papa membutugkan sesuatu?” Leon menatap Aji, pun dengan Aji yang saat ini sedang menatapnya dengan heran. “Mana A-Alexa?” akhirnya Aji bertanya, meskipun Ia kesulitan untuk itu. ‘Oh, s**t!! Sial! Bagaimana aku bisa melupakan gadis itu? Bukan hanya papa, bahkan semua orang akan bertanya pada ku dimana dia,’ batin Leon. Dengan cepat otaknya bekerja, dan detik berikutnya ia langsung menunjukkan senyum terbaiknya pada Aji, seakan semua berjalan seperti seharusnya. “Emmm... Alexa masih tidur, pa, dia lelah!” bisik Leon. “Aku tidak tega untuk membangunkannya,” lanjutnya lagi dengan suara normal. Aji terssenyum bahagia saat mendengar Leon begitu memperhatikan istrinya. Hatinya merasa sangat tenang saat melihat hubungan Leon benar-benar sempurna dengan Alexa. ‘Maafkan Leon, pa! Tapi ini semua untuk kebaikan kita dan Alexa,’ batinya lagi. “Pa, sepertinya Leon akan sarapan di atas bersama Alexa. Kasihan dia jika harus kemari.” Aji hanya mengangguk, sedangkan Cla dan semua orang hanya berani menunduk saat mereka mendengar perkataan Leon. Sungguh saat ini mereka melihat tuan muda nya seperti lelah karena memadu kasih semalaman. Tapi hanya Jack yang tahu apa yang dilakukan Leon tadi malam sampai wajahnya terlihat lelah. “Jack! Tolong minta Cla untuk mengantarkan makanan ke kamar ku.” Jack mengangguk cepat. Setelah itu Leon bergegas menuju kamarnya, ia mengunci pintu dan langsung memeriksa keadaan Alexa. Pintu terbuka. Leon cukup terkejut saat ia melihat gaun itu menjuntai dan gadis cantik terlihat meringkuk di atas ranjang dengan gaun tersebut. Wajahnya masih sama seperti mereka mengikat janji suci kemarin. ‘Dia sangat cantik, tapi sayangnya nasibnya tidak baik karena kehadiran mereka,’ batin Leon. Ia menarik napas dalam, duduk di tepi ranjang dengan perlahan. Ia tidak ingin mengganggu tidur gadis itu. Wajahnya terlihat damai, tapi ia tahu jika tidak mudah bagi gadis itu menjalani hidup sendirian, berjuang tanpa harus melemparkan diri pada tempat terlarang. Ia perempuan terhormat dan begitu pula Leon akan memperlakukannya. Tapi Ia tetaplah pria dewasa yang tergoda saat melihat ikan segar di depan matanya. Dengan susah payah, Leon menelan ludahnya saat Ia melihat leher jenjang milik Alexa terlihat bebas tanpa halangan. Bukan hanya itu, belahan gaun dikenakan Alexa cukup rendah, membuat Isinya sebagian terlihat, bahkan salah satunya bisa ia lihat dengan jelas. ‘s**t!! Kenapa aku harus seperti ini setiap kali dekat dengannya,’ batin Leon tersiksa. “Alexa...” bisik Leon, tangan pria itu menyentuh pipi kemerahannya perlahan. Gadis itu menggeliat dan menahan tangan Leon. “Iya ma... Sebentar lagi!” Leon terbelalak, bagaiman bisa Alexa memanggilnya dengan sebuatan mama. Ia lantas berbisik kembali, kali ini lebih dekat dengan daun telinganya. “Bangun Alexa! Aku suami mu.” ‘Suami?’ batin Alexa. Tanpa menunggu lama, mata indah milik gadis itu terbuka dan menatap Leon yang saat ini benar-benar di depan matanya. Jarak mereka dekat, dan wangi khas dari pria itu langsung memenuhi indra penciumannya. Jelas terlihat di wajahnya jika Alexa terkejut. Dengan cepat ia bangun dan duduk tanpa memperhatikan penampilannya. Suasana menjadi canggung dan untuk menghilangkan rasa itu, Leon akhirnya bangkit dan memilih untuk menunggu Alexa di bagian kamar miliknya. “Cepat segarkan diri mu dan kita sarapan di kamar bersama-sama!” seru Leon di ambang pintu. Alexa hanya mengangguk sebagai jawaban. Pintu tertutup dan akhirnya Ia bisa bernapas lega. Bagaimanapun berada dekat dengan pria itu selalu membuat jantung Alexa seperti bermain trampolin, berlompatan ke sana-kemari. *** Di kediaman Aji, saat ini Lingga dan Reyhan mulai menyusun rencana untuk pertunangan Angel dengan seorang CEO ternama. Mereka akan membuat sebuah kebusukan dan mengahancuran nama baik Aji. Bagaimanapun pada pernikahan Angel Aji harus datang, tapi faktanya mereka justru tidak bisa menemukan dimana pria tua itu berada. “Rey! Segera sebarkan rumor mengenai penyakit menjijikan itu. Cari seseorang yang handal untuk mengubah wajahnya lebih mengerikan.” “Apa ini akan berhasil?” Rey merasa ragu. “Semua orang akan percaya setelah melihat video yang kita buat,” katanya dengan yakin. Rey mengangguk, Ia lantas menghubungi orang kepercayaannya dan mengirimkan semuanya melalui email. Mereka bekerja dengan cepat melalui teknologi kekinian, dan bukan masalah besar hanya untuk mengubah sebuah video. “Ma, tapi bagaimana dengan Leon? Sampai detik ini kita belum menemukan dimana pria kurang jar itu berada. Cih... Dia benar-benar menyusahkan! Seharusnya kita melakukan hal yang sama, seperti yang kita lakukan pada ibunya.” “Perketat penjagaan! Kawal Angel kemana pun dia pergi. Mama yakin, jika saat ini anak sialan itu sedang mengincar Angel sebagai balas dendamnya.” Rey mengangguk dan pergi menuju kantor. Tentu saja, sebagai pewaris dari Beno Aji yang begitu tersohor dengan kebaikan dan kekayaannya itu. Ia melangkah dengan bangga, hidup di atas hak orang lain tanpa rasa malu. ‘Jack! Dia meninggalkan kediaman Tuan Aji!’ seorang pejalan kaki itu mengirimkan pesan pada Jack. Ia lantas meninggalkan jalanan itu dan tidak ada satu pun dari penjaga yang mencurigai pria itu. Angel akan bertuangan di sebuah hotel ternama, bahkan acara pertunangan itu digadang-gadang menjadi pertungan termewah. Tamu yang hadir merupakan para pemimpin perusahaan, dan mereka akan bisa masuk hanya jika membawa undangan khusus dengan telah di sebar oleh kedua calon. Lingga saat ini sedang duduk dengan berpangku tangan. Sama hal nya seperti Rey, ia cukup waspada dengan kehadiran Leon. Meskipun sampai detik ini anak tirinya itu tidak melakukan gerakan apapun, tapi Lingga tetap merasa dia menjadi ancaman yang besar. Ia bahkan sangat yakin, jika saat ini Aji ada bersama Leon. Tapi bagaimana mungkin Leon bisa mengeluarkan pria itu dan merawatnya, sedangkan menurut Angel, anak tirinya itu benar-benar terlihat miskin. “Leon terlihat miskin, apa mungkin dia hanya berpura-pura untuk mengelabui ku dan Reyhan?” Lingga mulai menduga-duga. Drrttt... Drrrttt... Lingga terkejut saat mendengar ponselnya bergetar di atas pangkuannya. Ia lantas meraihnya dan melihat siapa yang mengganggunya saat ini. Matanya membulat sempurna saat Ia membaca pesan yang masuk pada ponselnya. Napasnya mulai terengah, dan wajahnya mulai terlihat menegang. ‘Apa kabar ibu ku tersayang? Tidak inginkah kau mengundang ku saat Angel bertunangan?’ ‘Jangan macam-macam! Atau kalau tidak aku akan menghabisi Aji dan mengirimnya jasadnya ke lubang buaya.’ Tangan Lingga gemetar saat membalas pesan tersebut. ‘Apa kau yakin ibu? Hanya untuk membalas pesan ku saja tangan mu sangat gemetar. Apa kau bisa menghabisi pria tua itu?’ Lingga panik. Ia berdiri dan melihat sekeliling. Tidak ada siapa pun di mana ia berada saat ini. Bahkan ruangan itu benar-benar sunyi karena maid rumah itu sedang membersihkan bagian belakang dan sebagian memasak. Sedangkan Lingga saat ini berada di ruang pribadinya. *** Dalam kamarnya, saat ini Alexa dan Leon duduk berhadapan di atas ranjang. Seperti pengantin lainnya yang sulit untuk berjalan, begitu juga dengan gadis itu. Ini benar-benar membuatnya ingin tertawa. Ia seperti sedang memainkan sebuah drama dan menjadi pemeran utama yang menderita setelah malam pengantin mereka, karena menghabiskan malam dengan penuh kemesraan di atas ranjang. “Terima kasih, Cla, kau boleh pergi.” “Baik Tuan muda.” Pintu tertutup. Alexa menatap Leon dengan tajam. Ia cukup malu saat mendapat perlakuan seperti ini dari pria itu dan semua orang. Bukan karena berharap ia merasakan yang sesungguhnya, namun ia merasa dipermalukan saat ini. “Kenapa kamu melakukan ini? Kita sama sekali tidak melakukan apapun tadi malam, tapi kamu justru membuat semua orang mengira jika kita... sudahlah! Aku bahkan malu untuk mengatakannya,” ujar Alexa sebelum memasukan roti ke dalam mulutnya. “Aku hanya ingin semuanya terlihat nyata Alexa. Tapi sepertinya kau cocok untuk memenangkan piala penghargaan atas akting mu,” cibir Leon. “Tapi ada sesuatu yang kurang!” “Apa lagi? Apa aku malam harus mendesah di pagi hari seperti ini agar semua orang mendengarnya?” ia sedikit emosi. “Ahahaha... Ide mu lumayan buruk, Alexa! Yang ku maksud adalah, leher mu masih bersih dan tidak ada kiss mark satu pun di sana. Apa kau berniat untuk membuatnya? Aku cukup mahir untuk hal itu.” Lagi-lagi Alexa terbelalak mendengar perkataan pria itu. Dengan tidak tahu malu Ia bahkan menawarkan diri untuk membuat tanda merah dileher gadis polos seperti dirinya. ‘Pria ini benar-benar mengerikan!’ batin Alexa. “Apa kau berminat? Aku akan melakukannya dengan cepat.” “Jangan berharap lebih Tuan Muda Leon!”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD