14. Sebuah Profesionalitas

1128 Words
Untuk beberapa saat Alexa tertegun saat melihat pria yang sudah menjadi suaminya itu tertawa lepas. Sejak pertama kali bertemu dengan Leon, baru kali ini ia bisa melihat pria itu tertawa dengan lepas. Sama sekali tidak ada beban yang di wajahnya. “Hari ini kamu terlihat berbeda,” ujar Alexa jujur. “Oh ya? Mungkin ini karena aku sudah merasakan malam pertama dengan istriku,” Leon kembali mengingatkan malam pertama mereka. “Cukup Leon! Sampai kapan kamu akan mengejek ku? Uhhh... Menyebalkan!” Pagi ini Leon merasa hatinya kembali menghangat. Ia merasa memiliki berbeda saat dekat dengan Alexa. Hari ini wajah dingin itu pergi entah kemana, berganti dengan wajah ceria, hangat dan bersahabat. Alexa tersenyum dan menatap pria itu tanpa berkedip, andai saja... "Aku memang pria tampan, tapi kamu tidak perlu menatap ku seperti itu, Alexa." "Kenapa rasa percaya diri anda begitu tinggi, Tuan Muda Leon? Aku menatap ku karena ada sesuatu yang ingin aku pastikan dari mu," kilahnya. "Apa yang ingin kamu pastikan? Kejantananku atau keperjakaan ku?" Leon terlihat serius. "Kalau kamu ingin memastikan aku perjaka atau tidak, tentu saja jawaban ku adalah tidak!" "Sudah ku duga! Mulai sekarang aku akan lebih berhati-hati lagi." Leon tidak melakukan apapun, Ia hanya menanggapi perkataan Alexa dengan senyum terbaiknya. Senyum yang tanpa sadar membuat gadis yang ada di hadapannya luluh. Alexa dengan cepat menepis rasa yang mulai tumbuh dalam hatinya. Pun dengan Leon yang terus menjaga hatinya agar Ia tidak masuk dalam cinta yang bias saja menyakiti mereka berdua. "Bersiaplah untuk lusa! Adik mu akan bertunangan dengan seorang pengusaha ternama di hotel mewah. Aku sudah mendapatkan kartu undangan nya jika kamu ingin datang," Leon memberikan undangan dengan barcode khusus di halaman depannya. "Angel! Di bertunangan..." Leon mengangguk. "Kamu akan pergi?" Hening Leon bahkan menghentikan gerakannya bibirnya dan mengalihkan pandangannya pada gadis itu. Suasana berubah canggung karena Leon tak kunjung mengatakan apapun. Meski hanya satu kata. Hanya terdengar helaan napas pendek dari pria itu, dan bibirnya kembali bergerak. Leon sengaja diam, ia memang belum memiliki jawaban atas pertanyaan yang diajukan Alexa padanya. Ia tidak boleh gegabah, karena Ia masih harus mengumpulkan siapa saja yang menjadi tangan kanan dari Lingga dan Rey. "Aku akan memberitahu mu jika aku sudah memiliki jawaban!" wajah Leon kembali murung. Ia lantas bangkit dan meninggalkan kamar itu, membuat selera makan Alexa hilang dan Ia sangat merasa bersalah karena sudah merusak momen kebersamaan mereka. Ia hanyut dalam rasa bersalahnya sampai benar-benar tidak menyadari kehadiran Cla di ambang pintu. "Nona muda..." "Nona muda! Apa anda baik-baik saja?" "Ah... Ya! Aku baik-baik saja Cla. Tolong bawa semua makanan ini keluar." Cla hanya mengangguk. Tanpa sengaja, Cla juga melihat wajah Leon yang terlihat murung saat keluar dari kamarnya menuju ruang kerja dan sama halnya dengan Alexa saat ini. Ia mulai menduga-duga, jika Tuan dan Nona muda nya sedang berselisih. 'Saya hanya berharap semua akan baik-baik saja. *** Di ruang kerjanya, Leon saat ini sedang duduk menyendiri menatap taman yang dipenuhi bunga berwarna-warni. Ia berusaha untuk bersikap tenang dan memerikan jawaban yang tepat pada Alexa. Pesta itu memang akan menjadi sebuah awal untuk membuat Lingga hancur, tapi di sisi lain Alexa berharap Angel baik-baik saja. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskan aku memulainya dari acara pertunangan itu?” bibirnya bergerak pelan dan suara hampir tak terdengar. “Leon...” suara itu langsung membuat lamunan pria itu buyar. “Alexa, kenapa kamu kemari? Aku ingin sendiri!” Alexa tidak tahu apa yang ia lakukan. Ia hanya tidak bisa diam saat Ia gelisah. Diamnya Leon benar-benar mengusiknya dan Ia tahu, jika saat ini mereka harus bisa bekerja sama dan bersikap profesional. “Aku tidak tahu kenapa kamu berubah, dan... Aku merasa kamu tidka menyukai pertanyaan ku tadi,” tebaknya. “Jangan sembunyikan apapun dari ku, Leon! Kita adalah mitra dan sesuai dengan perjanjian itu aku akan bersikap profesional.” Leon diam, Ia sadar jika saat ini ialah yang bersikap tidak profesional. Akhirnya Ia menarik napas dalam dan meyakinkan diri jika semua akan berjala sesuai dengan rencananya. Sebenarnya Jack sudah mencari tahu siapa pria yang akan bertunangan dengan Angel dan Leon sudah memiliki seluruh data pria itu. Terlepas dari dendamnya, Leon masih ingat jika Alexa ingin membawa Angel lepas dari Lingga. Meskipun itu sangat tidak mungkin. “Duduklah! Kita bicara.” Alexa mengangguk. Ia duduk di hadapan Leon dan menunggu apa yang akan dibicarakan pria itu padanya. Jujur saja Ia merasa penasaran. Apa yang dilakukan pria itu sangat sulit untuk ia tebak, sama seperti saat ini. Leon membuka sebuah berkas dan memberikannya pada Alex. Ia duduk bersandar dan membiarkan gadis itu membaca isi berkas tersebut. Leon berharap setelah itu ia akan memiliki sebuah keputusan seperti yang diharapkannya. Alexa terlihat sangat serius. Terlihat dari gerakan matanya yang lambat, sepertinya gadis itu benar-benar memperhatikan semua detailnya dengan baik dan mencerna kata demi kata. “Apa yang aku baca ini benar? Kalau begitu pria itu adalah seorang penipu?” Leon mengangguk. “Aku berniat untuk membiarkan Lingga tertipu oleh calon menantunya itu! Aku ingin dia merasakan karma atas perbuatannya selama ini,” jelas Leon. Pria itu masih menelisik perubahan yang terjadi di wajah Alexa. Tapi sayangnya tidak ada hal yang perlu untuk di khawatirkan dari gadis itu. “Aku setuju! Tapi aku tidak ingin sampai pria itu menyakiti adik ku, Angel! Jika Lingga sampai hancur, aku akan membawa Angel dan meninggalkan semua kenangan buruk bersama wanita itu.” Kening Leon berkerut. “Apa kamu berniat pergi setelah Angel ada dalam kendali mu? Dan kamu akan meninggalkan ku?” “Meninggalkan mu? Maksudnya, kamu ingin aku tetap ada di sini, bersama mu?” Alexa merasa kata-kata Leon menganduk makna berbeda. “Maksud ku, apakah kamu akan meninggalkan ku dan menyelesaikan misi ini sendiri?” Gadis itu tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Mungkin kata-katanya terlihat demikian, namun bukan itu yang ia maksudkan. Alexa sudah berjanji pada mendiang papa nya. Ia akan membawa Angel ke jalan yang lebih baik dan jauh dari Lingga. Setelah tahu jika ibu tirinya dulu ada orang sakit jiwa, Alexa akhirnya mengerti mengapa papa nya memberikan Ia tanggung jawab itu. Meskipun ada rasa kecewa dalam hatinya, tapi bagaimanapun juga mereka memiliki papa yang sama dan itu adalah sebuah ikatand arah yang sangat kuat. “Apa kamu siap melihat Ange... Maksud ku, apakah kamu siap melihat adik mu hancur?” Leon ingin melihat sejauh mana Alexa akan bisa bekerja sama dengannya. “Apa daya ku, Leon? Mungkin kehancuran itu adalah karma dan pelajaran berharga untuknya. Jadi alasan apa yang harus aku berikan jika aku mengatakan tidak siap melihat kehancurannya?” Leon merasa puas mendengar jawaban Alexa. Ia tidak menyangka jika gadis itu akan berpikir demikian. Namun yang pasti, keputusan yang sudah Alexa ambil hari ini akan membuat Leon merasa bebas untuk bergerak. “Jadi apa keputusan mu? Apakah kamu akan menemaniku pada cara pertunangan Angel?”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD