Layaknya seorang anak kecil yang sedang kesal, Alexa pergi meninggalkan ruang kerja Leon dengan sedikit menghentakkan kakinya. Leon masih belum menyadari dimana letak kesalahannya, maka yang ia lakukan hanya mengerutkan keningnya dan menggeleng perlahan.
Leon bingung, apa perannya saat ini. Seorang suami atau seorang kakak yang harus membujuk adiknya dengan satu buah lolipop atau permen kapas berwarna merah muda. Memang sedikit menggelikan, tapi inilah yang terjadi padanya.
“Alexa... Tunggu aku!” panggilnya lembut.
Dengan sangat terpaksa, Leon keluar dari ruang kerjanya menyusul istrinya. Hal itu tentu saja menjadi pemandangan romantis di mata para maid, mereka merasa Leon sangatlah romantis.
Alexa saat ini sedang menaiki tangga, dan dibelakangnya Leon berjalan cepat untuk mengejarnya. Tanpa sengaja, ia terus saja menggerutu. Kesal dengan jawaban yang Leon berikan padanya.
“Apa-apaan dia! Aku harus pergi pada acara pertunangan adik ku dengan seorang pengawal. Lalu apa gunanya dia sebagai suami ku? Dia benar-benar pria menyebalkan!”
“Alexa, dengarkan aku dulu,” panggil Leon.
Gadis itu hanya melirik Leon sekilas dan berjalan cepat meninggalkannya. Leon mendengus, inilah alasannya mengapa Ia masih menyukai hidup sendiri sebelum kembali ke tanah kelahirannya.
Setelah sampai di dalam kamar Leon, Alexa duduk ditepi ranjang dan melipat kedua tangannya di d**a. Ia kesal. Meskipun tidak seharusnya ia bersikap demikian. Tapi tidak seharusnya perempuan yang memiliki suami pergi pada sebuah pesta justru dengan pengawalnya.
Tanpa sengaja, Jack melihat Tuan Muda nya berlari mengejar istrinya. Terlihat aneh, tapi ini cukup membuat pria dingin dan kaku seperti Jack menyunggingkan senyum.
Leon akhirnya sampai di dalam kamarnya. Pintu terbuka dan ia langsung mendapat hadiah tatapan tajam dari gadis yang tidak lain adalah istrinya.
“Alexa... Come on! Kenapa kamu bersikap seperti anak kecil?”
“Aku! Seperti anak kecil? Yang benar saja... Aku istri mu, tapi aku harus pergi ke pesta itu bersama dengan Jack,” keluhnya.
Leon hanya bisa menarik napas dalam saat melihat sikap Alexa seperti ini. Baru beberapa menit yang lalu gadis itu membicarakan mengenai profesionalitas. Tapi lihat, justru sekarang dia yang tidak profesional.
“Kamu harus mengerti Alexa. Aku memiliki rencana tersendiri untuk datang ke pesta itu. Jika kita pergi bersama, akan besar kemungkinan jika mereka akan menjadikan mu target untuk melemahkan aku!” jelas cepat.
Leon sadar tidak seharusnya ia berkata demikian. Siapa Alexa? Sampai gadis itu akan menjadi salah satu kelemahannya?
Alexa bungkam, bibirnya mengatup rapat saat mendengar hal itu.
“Dengarkan Aku! Kita memiliki tujuan yang sama untuk membuat Lingga mendapatkan karma. Tapi kita juga harus saling menjaga satu sama lain. Apa kamu mengerti maksud ku, Alexa?”
Alexa hanya mengangguk.
Melihat raut wajah gadis itu nampak tegang, Leon menjadi tidak senang. Ia lantas menjawil dagu lancip Alexa dan menggerakkannya pelan.
“Sudah! Jangan menekuk wajah mu seperti ini istriku, atau semua orang akan mengira jika kita sedang bertengkar.”
“Kita memang sedang bertengkar!”
“Oh... Ayolah, bukannya semua sudah selesai beberapa menit yang lalu?”
Alexa menggeleng dan meninggalkan kamar dengan tersenyum nakal. Ia harus kembali memerankan perannya dengan baik. Bukannya pertengkaran ringan sering terjadi pada setiap pasangan yang sudah menikah?
“Malam ini kamu tidak akan mendapat jatah apa pun!” katanya dengan tersenyum geli.
Bagaimana tidak, mereka sama sekali belum pernah melakukan apapun tapi tingkah keduanya seperti pengantin pada umumnya yang sudah bersenang-senang di malam pertama pernikahan mereka.
“Leon! Bagaimana kalau kita berkumpul dengan papa, sepertinya kita harus memperhatikannya juga,” usulnya dari ambang pintu.
Leon mengangguk. Apa yang dikatakan Alexa memang benar adanya dan Ia tidak boleh terus menyusun rencana tanpa memikirkan kesehatan Aji yang masih ada dalam masa proses pemulihan.
***
Di sebuah ruangan khusus, saat ini Aji dibantu oleh dokter khusus untuk memulihkan kondisi fisiknya. Perlahan-lahan, tangannya mendapatkan terapi dan hasilnya memang sangat memuasakan.
Jari-jari Aji yang kaku kini mulai bisa bergerak bebas, meskipun belum sepenuhnya pulih. Semua memang membutuhkan proses yang panjang dan mereka semua harus bersabar untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
“Bagaimana terapi yang papa lakukan, dok? Apa ada kemajuan, kemarin saya melihat papa bisa menggerakan jari-jarinya dengan mudah.”
“Hasilnya sangat luar biasa. Mungkin dalam satu minggu ini anda akan melihatnya makan dengan tangannya sendiri,” ujar dokter tersebut.
“Syukurlah! Tapi berapa lama sampai kondisinya benar-benar pulih?”
Dokter itu tidak bisa memberikan kepastian. Mungkin saat ini Aji bisa mendapatkan kemajuan yang pesat, tapi di hari atau minggu berikutnya tidak akan sama. Setiap anggota tubuh memiliki tingkatan yang berbeda dalam mendapatkan respon dari terapi yang dilakukannya.
“Saya tidak dapat memastikan itu! Tapi saya akan berusaha sebaik mungkin membantu Tuan Aji untuk pulih.”
“Terima kasih atas bantuan, anda.”
“Sama-sama, Tuan Leon! Ini sudah merupakan pekerjaan saya.”
Leon menjabat tangan dokter tersebut dengan menyelipkan sebuah amplop sebagai bayaran dan Jack langsung mengawalnya hingga dokter itu sampai di kediamannya.
Alexa saat ini membantu Aji naik ke kursi roda. Dengan begitu lembut, ia menyeka keringan ke pelipis mertuanya menggunakan handuk dingin. Alexa lantas mendorong kursi roda itu dan mendekati Leon.
“Bagaimana perasaan papa?” tanya Leon dengan berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan Aji.
Aji mengangguk dan terlihat sedikit senyuman di wajahnya.
“Leon bahagia mendengar papa pulih dengan cepat.”
“Bagaimana hasil terapi papa hari ini?” Alexa merasa penasaran, pasalnya Ia merasa jika mertuanya itu bisa menggenggam tangannya saat ia membantunya untuk duduk di kursi roda.
“Sangat bagus! Dokter itu mengatakan jika dalam minggu ini, ada kemungkinan kita bisa melihat papa makan dengan tangannya sendiri.”
Punggung Aji tiba-tiba saja bergetar setelah mendengar perkataan putranya. Entah apa yang membuatnya demikian, namun hal itu benar-benar membuat Alexa dan Leon khawatir.
“Papa kenapa? Apa papa kesulitan untuk bernapas? Pa... Apa papa merasa sakit?” Alexa sedikit panik, sedangkan Leon mulai mengerti apa yang saat ini dirasakan oleh papa nya.
“Tenanglah Alexa, papa tidak apa-apa.”
“Tapi Leon, kamu lihat papa menangis!!” Alexa sedikit emosional, saat ini Ia merasakan jika Aji seperti ayah kandungnya.
Dengan lembut, Leon memegang kedua lengan Alexa dan memutar tubuhnya agar gadis itu melihat dengan jelas apa yang saat ini terjadi pada Aji. “Lihat dengan baik!” bisik Leon.
Alexa mematuhi perkataan Leon. Ia menatap Aji yang duduk di kursi roda dan masih terlihat sesegukan.
“Dia bahagia, Alexa! Bukan sakit atau pun sedih.”
Apa yang Leon katakan sepenuhnya benar. Aji saat ini merasa snagat bahagia karena ia bisa bersama putra dan menantu yan menyayanginya. Meskipun apa yang telah Aji lakukan di masa lalu, tapi Leon tetap menghormati dan menyayanginya. Karena sebelum bertemu dengan putranya, Aji merasa pasrah dan meminta agar Tuhan dengan cepat mencabut nyawanya.
Setelah mengetahui hal itu, Alexa langsung berjongkok dan memegang tangan pria tua itu dengan erat. Tiba-tiba saja rasa panas menjalar pada matanya, detik berikutnya Ia menangis.
“Aku terlalu takut melihat papa sedih. Karena setelah aku kehilangan semua orang yang Alexa sayangi, pada akhirnya sekarang ada papa dan Leon yang melengkapi kehidupan Alexa.”
Hati Aji terenyuh melihat dan mendengar gadis itu. Ia menatapnya dengan lekat. Dengan perlahan, tangan Aji terulur dan mengusap pucuk kepala Alexa lembut. Perlakuan yang Ia dapat dari Aji begitu membuatnya sedih. Setelah bertahun-tahun, kasih sayang dan sentuhan lembut dari seorang ayah yang sayang Ia rindukan, akhirnya bisa Ia rasakan kembali.
Aji menggelengkan kepala, dan menyeka air mata di wajah cantik menantunya itu.
“Ja-jangan me-me-nangis...” ucap Aji dengan susah payah.
“Ini air mata bahagia pa. Alexa bahagia. Sangat bahagia!”
Leon hanya bisa bergeming menatap Aji dan Alexa layaknya seorang anak dan ayah kandung yang saling melepas rindu. Leon tidak pernah menyangka jika ternyata gadis yang terlihat kuat itu sangatlah rapuh, bahkan mudah sekali hancur.
‘Kita akan menyelesaikan semuanya tanpa melukai siapa pun! Aku berjanji akan hal itu,’ batin Leon.
***
Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja Jack melihat Lingga bersama beberapa pria dengan setelan jas memasuki sebuah lobi hotel. Karena Ia penasaran, tanpa meminta izin pada Leon, Jack bergerak sendiri dan membuntuti kemana wanita itu pergi.
Restoran hotel.
Di sanalah saat ini Lingga dan kedua pria itu berada. Mereka duduk bersama dan belum membicarakan apapun. Tidak berselang lama datang seorang berusia 40 tahun datang dan langsung membahas beberapa hal. Mereka terlihat tegang, begitu juga pria yang baru saja bergabung bersama mereka.
“Tidak mungkin!!” tegasnya.
“Pelankan suara mu! Atau siapa pun akan mengira jika kita membuat keributan,” ujar Lingga dengan memberikan tatapan tajamnya.
“Aku tidak percaya jika Leon masih hidup! Bisa apa bocah ingusan seperti dia?” lanjutnya dengan emosi yang meleda-ledak.
‘Leon! Apa mungkin yang di maksud pria tua itu adalah Tuan muda Leon?’ batin Jack.
Tanpa berpikir panjang, Jack langsung mengeluarkan sebuah ballpoit dan mengarahkan ujungnya pada meja dimana Lingga dan beberapa pria itu sedang bicara.
Jack adalah orang yang sejak awal di tugaskan kakek tua itu untuk menjaga Leon. Jack adalah orang terlatih. Bela diri dan pengetahuannya terhadapa obat, racun dan bahan peledak sudah tidak dapat diragukan. Ia adalah orang yang tidak suka banyak bicara dan itu yang membuat Leon suka padanya sejak mereka dipertemukan.
Beberapa menit berada di sana, Jack merasa cukup mengumpulakn bukti dan berharap jika ini bisa membantu Leon dalam menyelesaikan misinya. Sebuah misi balas dendam tanpa adanya kekerasan. Jack tahu dengan baik alasan mengapa Leon tidak ingin adanya pertumpahan darah.
Ia pergi tanpa memesan apapun, dan hanya meninggalkan uang sebagai kompensasi karena ia telah menduduki kursi tersebut.
“Semoga kalian cepat membusuk, seperti kelakuan kalian yang busuk!”