Di restoran, saat ini situasi menjadi tegang. Lingga yang sudah lebih dulu mendapatkan informasi mengenai kembalinya Leon benar-benar tersudut. Ia dianggap sebagai pembual, karena bisa saja Lingga juga merencanakan untuk menyingkirkan mereka.
“Jangan mencoba bermain-main dengan ku Lingga! Kau tahu, bisa saja aku membongkar semua kebusukan mu,” ujarnya pelan dan penuh penekanan.
“Aku sungguh tidak main-main! Dia bahkan sudah menghubungi ku dan mengambil Aji dari rumah sakit. Bukan hanya itu, Leon juga muncul di universitas dimana Angel melanjutkan study nya. Tapi hari itu Leon muncul seperti gembel,” jelas Lingga.
“Aku harap yang kau katakan itu benar! Untuk masalah keberadaan Aji, bisa saja jika kau menyembunyikan, bukan?” tuduhnya.
Lingga sudah tidak mempunyai pilihan. Ia sengaja menghubungi adik tiri Aji yang tidak lain adalah paman dari Leon.
Karena cemburu dengan Aji yang mendapatkan segala kekayaan dari ayahnya, adik tiri Aji gelap mata dan mengikuti semua perkataan Lingga dan bekerja sama hingga bisa menyingkirkan Leon. Tapi siapa sangka, niatnya itu sama sekali tidak bisa membawanya menjadi pemilik perusahaan karena Rey yang langsung menjadi calon pewaris.
“Tunjukkan bukti nyata jika kau ingin aku mempercayai mu!”
Ketiga pria itu pergi meninggalkan Lingga. Saat ini tidak ada yang bisa Ia lakukan untuk membuat rekannya percaya, karena sampai detik ini ia belum pernah bertemu dengan Leon.
“Dasar anak pembawa sial! Apa yang Rey katakan memang benar. Seharusnya anak itu pergi ke neraka bersama ibunya!”
Lingga berdiri dan memakai kaca mata hitamnya. Ia meletakan beberapa lembar uang dan meninggalkan restoran tersebut dengan perasaan kecal. Bagaimanapun caranya, ia harus segera menemukan dimana Leon saat ini dan apa tujuannya datang kembali.
***
Jack baru saja sampai di villa, Ia bergegas masuk dan langsung mencari tahu dimana keberadaan Leon melalui Cla. Di villa ini, hanya Cla yang mengetahui siapa dan apa yang sedang dikerjakan Tuan muda mereka. Terkecuali pernikahannya dengan Alexa.
Leon sengaja mengurus semua berkas untuk pernikahannya atas nama hukum. Ia tidak ingin semua itu menjadi masalah dikemudian hari. Karena jika ada seseorang yang membongkar jika pernikahan mereka adalah palsu, Leon tidak memiliki bukti kuat. Tapi semua itu akan dengan mudah untuk ia bantah dengan semua bukti surat-surat yang ia miliki.
“Cla! Dimana tuan muda?”
“Tuan muda ada di lantai atas bersama nona muda.”
“Terima kasih!”
Jack dengan cepat menuju lantai atas. Melihat pintu kamarnya Leon tidak tertutup rapat, Jack mendorongnya dan masuk dengan cepat. Belum sempat Ia melangkah masuk, Jack kembali menarik handle pintu dan menutupnya rapat.
“Bodoh! Tidak seharusnya aku masuk saat Tuan muda sedang bersama istrinya,” gumamnya pelan.
Sadar akan kesalahannya, Jack lantas meninggalkan kamar tersebut tanpa Ia tahu yang sebenarnya terjadi antara Leon dan Alexa.
Senyum tak lepas dari wajah kaku pria itu, membuat Ia terlihat aneh dan sedikit mengusik pertanyaan para penghuni villa termasuk Cla.
"Apa tuan muda tidak ada di kamarnya?" tanya Cla saat melihat Jack kembali mendekatinya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya lagi.
"Aku masuk di waktu yang tidak tepat! Mereka sedang..." Jack bingung bagaimana cara menjelaskan apa yang Ia lihat.
Cla hanya tersenyum dan tidak berniat untuk kembali bertanya. Di usianya yang sudah menginjak kepala empat, Cla paham betul segalanya.
Semua orang akhirnya tersenyum bahagia. Tidak lama lagi tempat villa itu akan dipenuhi dengan tangis bayi kecil yang menggemaskan. Berita itu menyebar cukup cepat, tanpa mereka ketahui apa yang sudah terjadi sebelum kedatangan tangan kanan Leon.
"Kecoa...!!" Alexa berlari dan langsung melompat ke pangkuan Leon.
Gadis itu beruntung, karena saat itu Leon sedang dalam keadaan siap untuk menerima beban tubuhnya.
"Dimana kecoa nya?"
"Di sana... Itu! Kecoa nya ada di sana..." Alexa menenggelamkan wajahnya di ceruk leher pria itu dan memegangi nya erat. "Cepat buang!!"
"Ck! Bagaimana aku bisa membuang makhluk kecil itu kalau kamu terus seperti ini," cibir Leon.
"Aku takut..."
Leon meletakkan Alexa di atas ranjang dengan sedikit kasar, membuat gadis itu mendengus. Alexa beringsut menjauh, ia tidak ingin sampai melihat kecoa itu lagi.
Dengan santai, Leon mulai mengobrak-abrik isi kamar tersebut, tapi sialnya kecoa itu tak kunjung menampakkan wujudnya.
"Apa kamu menemukan hewan menjijikan itu?" Alexa masih duduk di sudut ranjang dengan memeluk bantal milik Leon. Wanginya yang khas membuat Alexa terkesiap.
"Aku rasa kamu salah lihat! Di sini sama sekali tidak ada hewan apapun, Alexa," jelasnya.
Mendengar itu Alexa mendengus kasar dan mulai turun dari ranjang. Dengan gaya elegan, ia berdiri dan seakan-akan tidak terjadi apapun sebelumnya.
Leon kembali mendekati ranjang, ia tersenyum nakal, sepertinya menggoda gadis itu sudah menjadi salah satu kesukaannya sekarang.
"Kenapa aku merasa kecoa hanya kamu jadikan alasan untuk bisa memeluk ku!" tukas Leon dengan menunjukkan seringainya.
Alexa terbelalak mendengar perkataan pria itu. Ia benar-benar melihat hewan kecil menggelikan itu dan bukan hanya sekedar omong kosong belaka.
"Anda jangan asal bicara tuan muda!"
"Sepertinya aku tidak asal bicara," balas Leon .
Ia mendelik kesal dan berniat pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Tapi baru saja Ia berbalik, kecoa itu kembali dan naik ke atas punggung kakinya. Sontak saja Alexa ketakutan dan menjerit dengan menghentakkan kedua kakinya. Ia berbalik dan langsung memeluk Leon. Tapi sayangnya posisinya saat itu benar-benar tidak siap, membuat mereka berdua jatuh dengan posisi yang sangat intim.
Napas Leon tercekat saat Alexa berada tepat di atas tubuh nya. Posisi mereka benar-benar membuat siapa saja salah mengartikan apa yang sedang terjadi. Dan Jack salah satunya.
***
Jack akhirnya masuk ke dalam kamar dan mulai menyalin rekaman saat Ia di restoran membuntuti Lingga. Semua wajah yang bersama Lingga terlihat dengan jelas, bahkan percakapan mereka cukup jelas menurut Jack.
Tidak berselang lama, Leon memanggilnya. Pria itu sudah menunggunya di ruang kerja. Sebelum itu, Jack langsung mengirim salinan video pada e-mail Leon. Ia bergegas menuju ruang kerja tersebut dan langsung tersenyum kaku saat melihat Leon.
"Kenapa kamu lama sekali, Jack? Apa terjadi masalah dalam perjalanan?" tanya Leon.
"Maafkan saya, Tuan Muda! Sebenarnya saya melakukan sesuatu dalam perjalanan pulang dan saya sudah mengirim hasilnya ada e-mail anda."
Kening Leon berkerut. Sedikit bingung dengan apa yang dikatakan Jack padanya. Tapi Ia tidak perlu bertanya apapun, dan langsung memeriksa semua e-mail yang masuk. Matanya membulat sempurna saat melihat video tersebut. Napasnya tercekat, Ia benar-benar terkejut saat kenyataan itu kini muncul kepermukaan dan Ia tahu siapa dalang dari kejadian lima tahu lalu yang sudah berhasil mengotori namanya.
“Dari mana kamu mendapatkan semua ini, Jack?”
“Maafkan saya tuan muda! Tanpa sengaja saya melihat Lingga turun dari mobil di ikuti dua pria itu. Terlalu penasaran, saya masuk dan ternyata mereka seperti yang sudah anda lihat dalam video tersebut. Dan ya, pria yang sudah lebih tua itu datang setelah mereka semua berkumpul,” jelas Jack
Leon akhirnya menarik napas dalam dan berusaha untuk tetap tenang. Emosi hampir saja menguasai dirinya, tapi ia benar-berna bersyukur karena sekarang Ia tahu siapa tangan-tangan yang sudah membantu Lingga.
“Terima kasih Jack! Jika bukan karena insting mu yang kuat untuk mengikuti Lingga, mungkin aku tidak akan tahu wajah asli mereka.”
“Sepertinya anda sangat mengenal mereka,” tebaknya.
“Ya! Bahkan aku lebih dari mengenal mereka semua Jack.”
Jack tercengang, ia tidak menyangka jika Leon mengetahui semua orang-orang itu. Tapi Ia tidak pernah menyangka, jika ternyata semua masalah ini tidak semudah yang Ia perkirakan. Sejak awal Ia hanya tahu jika mereka berniat untuk menggulingkan Lingga dan putranya. Mengambil semua hak milik Leon dan menjebloskan mereka yang bersalah ke dalam jeruji besi. Tapi pada kenyataannya ini cukup rumit.
“Apa kau tahu, dia adalah paman ku! Dua pria itu adalah orang kepercayaan papa dan yang satu itu... Aku sudah tidak perlu lagi mengatakan siapa dia.”
Jack hanya mengangguk. Jadi semua orang yang ia lihat ternyata memiliki ikatan yang sangat dekat dengan Leon. Tapi bukannya membantu Leon untuk menjalankan perusahaan, mereka justru menikam Leon dari belakang hingga semua menjadi seperti saat ini.
Pikiran Leon berkelana jauh setelah Ia melihat video tersebut. Sejak awal, Leon tahu siapa pamannya dan dari mana Ia berasal. Tapi seluruh keluarga akhirnya menerima kehadiran pamannya itu dan itu terjadi saat Leon sudah beranjak remaja.
‘Apa mungkin paman juga terlibat dalam kecelakaan yang menimpa mama waktu itu?’ batin Leon.
Semakin ia memikirkannya, semakin sesak dadanya. Bagaimana bisa Ia membayangkan keluarganya sendiri yang sudah tega membuat Davina kecelakaan dan meregang nyawa di tempat kejadian.
Sejak ia mendapatkan ijin dari kakek tua untuk kembali pulang, Leon berniat untuk menghubungi pamannya, tapi Tuhan sangat menyayanginya sampai akhirnya ia tahu mengapa sangat sulit baginya untuk menghubungi semua orang.
Leon hanya tidak menyangka jika ternyata, setelah mendapatkan sebuah kebaikan dari keluaraga besar, adik tiri Aji mampu melakukan semua ini pada dirinya dan keluarganya.
Meskipun ia sudah mendapat harta warisan, tapi keserakahan ternyata membutakan mata harinya.
“Sepertinya kita harus memberikan dia pelajaran terlebih dulu, Jack!”
“Saya siap untuk menyingkirkannya tanpa jejak!”
Leon menggelengkan kepalanya.
“Tidak Jack! Jangan bersikap kasar padanya. Aku ingin dia merasakan penderitaan dimasa tuanya dan kehilangan segalanya.”
Leon tahu benar jika saat ini Jack sudah tidak sabar. Tapi ini belum saatnya mengerahkan seluruh tenaga hanya untuk membuat pamannya hancur.
“Apa kau siap untuk bersenang-senang, Jack?”