Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Itulah yang terjadi pada Leon saat ini. Ia sama sekali tidak berniat untuk melakukan itu pada Alexa, tapi Ia terpaksa hanya untuk menutupi wajahnya dan wajah Alexa ditengah kegelapan.
Jack sudah siap dalam posisinya, sedangkan Leon masih saja mengungkung gadis itu pada sudut gelap klub tersebut.
“Ingat Alexa! Semua ini tergantung bagaimana kamu ber-akting.”
Leon melepaskan gadis itu dan masuk pada ruang VIP dimana Jack berada. Tidak banyak yang mereka lakukan, hanya diam dan mengawasi apa yang akan terjadi di sana.
Gadis itu duduk di depan bartender dan memperhatikan pria yang sudah menjadi incarannya. Ia duduk dengan gaya menggoda, ditangannya. Menggoyangkan gelas yang berisikan wine yang belum sedikit pun ia minum.
Setelah waktunya tiba, Alexa dengan cepat berdiri dan langsung menabrakan diri pada tubuh tambun dengan perutnya yang sediki buncit.
“Aww... Maaf, aku tidak sengaja,” Alexa dengan setengah jijik masih memegang d*da pria itu.
Tidak ada respon. Mata pria itu hanya memperhatikan Alexa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bagian depan Alexa yang terbuka benar-benar membuat pria itu seketika menginginkannya.
“Tidak apa-apa, nona,” jawabnya dengan meraih pinggang ramping Alexa.
“Terima kasih, perkenalkan saya Ana.”
Alexa mundur dan ia berhasil melepaskan tangan pria itu dari pinggangnya. Sebagai alibi, Ia mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. Terlihat aneh, tapi nyatanya hal ini berhasil.
“Saya Heru! Panggil saja saya Om Heru.”
Alexa ingin berlari menjauhi tempat tersebut saat ia berjabat tangan dengan p****************g seperti Heru. Ternyata ini peringatan yang Leon berikan padanya sebelum Ia benar-benar mengijinkannya untuk ikut.
“Om, bisakah om membantu saya? Ada pria yang sejak tadi menguntit saya dan saya curiga kalau dia ingin meniduri saya dan merebut... Kesucian saya,” Alexa kemudian berbisik, meskipun itu tidak layak untuk disebut sebagai bisikan.
Heru tentu saja senang bukan main. Baru saja masuk Ia sudah langsung berhadapan dengan gadis seksi dan cantik seperti Alexa. Dengan spontan, Alexa langsung meraih lengan Heru dan mengajaknya masuk ke ruang VIP, tepat di dekat Leon berada.
Alexa dengan cepat memberikan kode pada Leon karena Ia sukses membawa Heru masuk ke dalam jebakan mereka. Leon memberikan tugas pada Alexa untuk menarik musuh dalam selimut yang sudah membantu Lingga untuk menjatuhkannya lima tahun lalu.
“Bagaimana anak buah kita?”
“Mereka sudah siap dalam posisi dan satu orang ada tepat berdiri di belakang Nona muda,” jelasnya.
“Bagus!”
Leon memperhatikan kembali dengan seksama. Ia dan Jack menangkap sinyal yang diberikan gadis itu. Tanpa menunggu perintah, Jack melakukan tugasnya, sedangkan Leon hanya bersiap untuk kejutan pada pertemuan pertamanya dengan Heru.
“Jaga jarak dengan nona muda!” titak Jack pada anak buahnya.
Sebagai pria, Jack merasa ada yang salah dengan tuan muda nya itu. Bagaimana bisa Ia begitu santai melihat istrinya mendekati pria lain, bahkan dengan terang-terangan menggoda dengan menggunakan pakaian seksi.
Jack memperhatikan sekeliling. Ia tidak tidak boleh lengah. selain memperhatikan Alexa, Ia juga harus memperhatikan mereka yang terlihat mendekati paman dari Leon.
Heru mengangkat tangannya saat dua bodyguard nya berniat untuk mengikuti mereka ke dalam ruang VIP. Tentu saja, bagaimana mungkin mereka bisa mengganggu kesenangan bersama daun muda seperti Alexa.
“Tapi tuan...”
“Jangan membantah!” seru Heru.
Dengan perasaan was-was, Alexa masuk dengan tetap menggandeng lengan Heru. Ia sempat melirik ruang VIP dimana Leon berada, tanpa sadar ia berharap jika suaminya itu tidak terlambat untuk menghentikan keinginan pria ini.
“Te-terima kasih, Om, sekarang saya sudah aman. Om bisa pergi,” Alexa mengulur waktu, rasa takut mulai mendominasi.
“Pergi? Ahahah... Kamu pikir aku bersedia menolong mu tanpa mendapat keuntungan apapun?” ujar Heru. “Jangan pura-pura suci Ana! Aku tahu kau sengaja menabrak ku karena kau ingin mendapatkan uang dari ku. Benar bukan?”
Mendengar itu Alexa benar-benar geram. Ia mengingat tawa yang saat ini di tunjukan Heru padanya. Seringaian jahat, bahkan sorot matanya, Alexa masih mengingatnya dengan jelas.
‘Di-dia... Bukankah dia adalah...’ batin Alexa.
Tangannya tiba-tiba saja gemetar saat mengingat kenangan malam itu. Kenangan dimana Ia hampir saja terjual dengan harga ratusan juta rupiah karena Lingga menjualnya.
Malam itu, Lingga mendandani Alexa dengan make up tebal dan membuatnya terlihat seperti gadis dewasa. Dengan paksa, Lingga memaksa alexa menggunakan pakaian mini yang memperlihatkan hampir seluruh lekuk tubuhnya di depan para p****************g.
‘Tiga ratus juta!’ teriak seseorang dalam ruangan gelap tersebut.
‘Tiga ratus lima puluh juta!’ lagi.
Sampai akhirnya... ‘Lima ratus juta!’
Lampu ruangan menyala dan saat ini Alexa muda hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tidak berani melihat siapa yang sudah mau membayar dengan harga lima ratus juta. Dalam hati Ia hanya berdo’a, semoga pria itu bisa Ia ajak bicara dengan baik dan mau melepaskannya dengan suka rela.
Tapi apa yang Alexa harapkan sama sekali tidak terjadi. Gadis itu berakhir di kamar hotel dengan pria berusia tiga puluh tahun, duduk di depan meja dengan botol di depannya.
Saat semua yang Alexa takutkan terjadi, Ia hanya bisa meronta, memukul dan mengigit hingga pria itu semakin kesal dan mencekik Alexa. Sampai akhirnya dengan cepat ia meraih pas bunga dan memukul kepala pria itu dengan keras hingga Ia terkulai tidak sadarkan diri dan Alexa berhasil melarikan diri hingga saat ini.
Tapi detik ini, bayangan bertahun-tahun silam muncul dan membuatnya merasa waspada. Heru. Dia adalah pria yang sama, bukan hanya sama tapi memang dia lah orangnya.
“Jangan mendekat!” seru Alexa dengan mengangkat tangannya.
Keringat dingin mulai terasa mengalir di punggungnya. Tangannya semakin gemetar saat tubuhnya membentur tembok dan tidak ada lagi jalan untuk Ia menghindar.
Tanpa di duga, Heru mencengkram kuat pergelangan tangan Alexa dan melemparkannya ke atas sofa dengan kasar. Pra itu benar-benar kalap terbuai dengan hasrat yang sudah ia tahan.
“Leon...” lirik Alexa dalam ketakutannya.
Saat Heru akan berusaha untuk menyentuh Alexa, tiba-tiba saja sebuah tangan menarik kerah kemeja Heru, sampai akhirnya pria itu terjengkang membentur lantai dengan keras.
“Jack!” seru Leon tanpa perintah.
“Baik Tuan.”
Leon dengan cepat mendekati Alexa yang kini meringkuk dengan menutup matanya. Tubuh gadis itu bergetar hebat, dan Leon tidak menyangka jika gadis itu akan histeris saat Ia menyentuh lengannya.
“Alexa...”
“Pergi!! Jangan sentuh aku. Kalau tidak Leon akan menghabisi mu!!” teriak Alexa.
“Alexa! Tenanglah, ini aku, Leon.”
‘Leon...’
Alexa membuka mata, napasnya tersengal-sengal dan tubuhnya gemetar hebat. Tanpa bisa berpikir, gadis itu langsung memeluk Leon dengan erat dan menangis dalam pelukan suaminya itu.
Untuk sesaat Leon diam dalam rasa terkejutnya. Tapi detik berikutnya Leon membalas pelukan Alexa dan berusaha untuk menenangkan gadis itu.
“Tenanglah Alexa.”
“Dia—Pria itu adalah orang yang sama, yang dulu berniat membeli ku dari Lingga,” jelasnya masih sedikit terisak.
Tanpa terasa, tangan Leon mengepal kuat. Rasa jijiknya pada Heru semakin besar dan tidak ada lagi ampun bagi manusia sepertinya. Leon tidak akan ragu untuk membuat Heru membusuk dalam jeruji besi, toh pria itu sama sekali tidak memiliki orang yang akan membelanya—termasuk Lingga sekali pun.
Ia sangat yakin, Lingga akan meninggalkan Heru untuk mengamankan posisinya dan menyingkirkan Heru tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
“Dia akan mendapatkan balasan yang setimpal!”
“Alexa... Gantilah pakaian mu,” Leon memberikan gaun yang di tinggalkan Alexa dalam mobil.
Gadis itu melepaskan pelukannya dan menatap sekeliling. Dalam ruang itu hanya ada dia dan Leon. Sedangkan Jack, pria itu saat ini sedang mengurus Heru di luar klub.
“Tapi aku malu,” lirihnya.
“Aku akan menutup mata ku dan kita pergi setelah kamu selesai mengganti pakaian mu.”
Leon membuka jas dan membentangkannya untuk menutupi Alexa. Meskipun tidak ada satu orang pun dari luar yang akan melihat mereka, tapi Leon tetap melakukan hal itu. Ia benar-benar menutup mata, sampai Alexa benar-benar selesai berganti pakaian.
Setelah itu mereka meninggalkan klub malam tersebut dan menuju sebuah tempat tanpa membawa Alexa. Sudah cukup melihatnya ketakutan malam ini.
***
Di sebuah gudang tua, saat ini Jack duduk di depan sebuah meja bundar. Tepat di depannya ada seseorang dengan kepala terbungkus kain hitam, tangan terikat dan masih tidak sadarkan diri.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Leon yang baru saja tiba.
Jack dengan cepat berdiri, “Dia masih belum sadarkan diri, Tuan muda!”
Leon menepuk pundak Jack dan meminta pria itu untuk duduk kembali. Mereka akan menunggu pria itu hingga sadarkan diri dan memintanya untuk bicara. Memang tidak akan semudah kedengarannya, tapi Leon akan sabar menunggu.
“Tuan muda, bagaimana keadaan nona muda? Maaf jika saya lancang bertanya,” Jack langsung menundukan kepalanya.
“Tida apa-apa, Jack! Aku langsung membawanya ke dalam kamar dan meminta Cla untuk menjaganya. Aku benar-benar menyesal karena sudah mengijinkannya ikut bersama ku. Aku tidak pernah tahu jika Ia pernah ada dalam situasi rumit bersama pria ini, karena ulah Lingga.”
Leon berpangku tangan dengan wajah kesalnya. Ia benar-benar akan membuat perhitungan tersendiri atas nama Alexa.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Leon melihat pergerakan yang lambat dari tubuh gempal Heru. Ia tersenyum sinis, menyilangkan kedua tangannya di d*da dan menatap pria itu dengan santai.
“Buka penutup kepalanya!”
Jack mengangguk dan menarik paksa kain hitam tersebut, tentunya membuat Heru merasa kesakitan karena itu.
“Apa kabar paman?” suara Leon benar-benar memecah keheningan saat Heru membuka matanya.
“Ll-Leon....” Heru terkejut bukan main.
“Ya! Ini aku, Leon, keponakan mu,” jawabnya dingin.
Heru masih belum mengerti apa yang terjadi. Ia hanya menatap Leon dan tidak menyadari kehadiran Jack yang diam tanpa kata dibelakangnya.
Dengan memasang wajah palsu dan penipu, Heru meminta belas kasihan pada Leon untuk melepaskan ikatannya. Ia masih berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi dan berharap Leon akan tertipu.
“Leon, tolong lepaskan paman mu ini, nak! Kasihanilah aku.”
“Aku bisa saja melepaskan mu, paman! Tapi apa kau bisa mengembalikan mama dan semua yang menjadi hak ku?” tanya Leon dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.
“Aa-apa maksud mu, Leon? Paman benar-benar tidak mengerti?”
Leon tertawa dan menertawakan sikap pamannya yang tidak bisa bekerja sama dengannya. Ia tahu tidak akan mudah untuk membuat Heru mengakui semuanya, tapi Leon masih memiliki cara lain agar Ia mengakui semuanya.
“Silahkan paman pilih! Mengakui segalanya atau aku akan menyuntikan obat ini sebagai bentuk hukuman dari ku.”
“Aku ini paman mu, Leon! Kenapa kamu ingin melukai ku?” Heru mulai gemetar. “Aku masih ingin hidup!”
“Obat ini sama sekali tidak akan membuat mu kehilangan nyawa. Hanya saja aku tidak menjamin jika burung paman akan bisa berdiri hingga ajal menjemput sekalipun,” Leon menyeringai penuh kemenangan.
Heru tentu saja terkejut mendengar perkataan Leon. Ia tidak merasa takut dengan ancaman itu, karena Ia tidak tahu bagaimana menyiksanya jika hasratnya lenyap saat melihat mangsa di depan matanya.
“Aku lebih baik mendapat suntikan itu dari pada mengatakan semuanya pada mu!”
Akhirnya Heru menunjukkan wajah aslinya.
“Baiklah jika itu pilihan paman!”
Leon meminta Jack untuk melakukan semua sesuai dengan permintaan Heru. Ia menyuntikan cairan itu melebihi dosis seharusnya.
Heru tertawa keras dan Ia merasa menang.
“Kenapa paman bisa tertawa lepas saat akan kehilangan segalanya?”
“Kau tidak tahu siapa aku, Leon! Andai saja aku menghabisi mu bersama dnegan Davina, mungkin semua rencana ku akan berjalan lebih baik.”
“Ck, ck, ck! Jika saja ibu mu tidak tahu rahasia besar ku dan Lingga, mungkin sampai detik ini Ia masih hidup. Tapi sayangnya dia terlalu berani dan ikut campur,” jelas Heru.
Darah Leon semakin mendidih saat mengetahui itu langsung dari mulut si pelaku. Ia bisa saja menghabisi Heru dan langsung menghancurkan semuanya. Tapi Ia tidak akan brutal dan tetap akan membalas dendam dengan caranya sendiri.
“Jack! Lepaskan dia, biarkan dia bebas.”
Leon keluar dari tempat tersebut dan tidak lama Jack menyusul. Mereka meninggalkan Heru sendirian di gedung tua itu. Tanpa ponsel atau apapun yang bisa Ia gunakan untuk berkomunikasi.
“Menurut mu dia bisa apa sekarang?”
“Saya rasa dia hanya akan mengompol di celana karena ketakutan,” ledek Jack.
“Aku rasa lebih dari itu,” Leon terkekeh membayangkan apa yang terjadi.
Tempat itu jauh dari lingkungan warga, jadi sangat tidak mungkin jika Heru akan bisa bertemu dengan manusia di sana.
“Besok adalah akhir bagi nya!”