Leon menatap Alexa dengan penuh minta. Sesaat, jantungnya berdebar kencang saat membayangkan sosok cantik itu berbaring dengan begitu indah di atas ranjangnya.
Dengan cepat Ia berdahm, mencoba untuk mengembalikan kesadarannya. Ia tidak boleh terus membayangkan hal itu, karena semuanya salah.
“Hanya itu saja yang ingin kau tanyakan?” Leon berjalan mendekati meja kerjanya, sebagai pelarian agar Ia tidak menatapnya terus-menerus.
“Ya! Aku hanya ingin menanyakan itu pada mu.”
Alexa masih saja duduk di tepi ranjang, ia masih menikmati ruangan itu. Sadar atau pun tidak, saat ini Leon benar-benar tersiksa dengan adanya dia di kamarnya.
“Alexa...”
“Ya, ada apa?”
“Masih ada pertanyaan yang ingin kamu tanyakan pada ku?”
“Aku rasa tidak!”
“Lalu untuk apa kamu masih ada di sini? Di dalam kamar ku!” seru Leon dengan nada tidak senang.
Mendengar seruan itu, Alexa berjingkat dan langsung meninggalkan kamar tersebut. Tanpa bicara apapun, ia keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
Leon melirik pintu tersebut. Ia menggeram frustasi dan sedikit menjambak rambutnya.
‘s**t!! Kenapa sangat sulit bagi ku mengendalikan diri saat melihatnya?’ Leon membatin.
Ia berjalan mendekati ranjang dan kembali terlentang di sana. Ia menggunakan kedua tangannya sebagai bantalan dan semakin lama, Ia semakin tersiksa dengan bayangan indahnya tubuh Alexa.
Saat fantasinya berkelana jauh, sesuati dibalik celananya kembali menggelembung, sedikit berkedut. Leon hanya bisa menahan napas saat keinginannya sudah mencapai ubun-ubun.
Pintu kembali terbuka, Alexa menyembulkan kepalanya dan langsung tertuju pada ranjang dimana Leon berada. Seketika ia menunduk, merasa ada yang tidak pantas untuk Ia lihat.
“Leon, apa bisa kita...”
“Bisakah kamu mengetuk pintu sebelum masuk, Alexa? Bagaimana kalau aku sedang tidak menggunakan apapun? Apa kau akan langsung masuk dan...” Leon langsung menghentikan perkataannya dan bangun dengan cepat.
“Lupakan! Apa yang bisa kita lakukan, di sini atau di luar?”
“Aku lapar!”
Leon hanya bisa melongo mendengar dua kata yang keluar dari bibir Alexa. Pria it menggelengkan kepalanya dan langsung turun dari atas ranjang mendekati Alexa yang terlihat seperti set*n kepala.
Kenapa seperti itu?
Karena Alexa hanya menyembulkan kepalanya dan menyembunyikan tubuhnya dibalik pintu. Sangat menyebalkan!
Leon keluar, ia langsung menarik pergelangan tangan Alexa dan bergegas menuju dapur. Semua maid dan penjaga hanya bisa menatap tidak percaya dengan apa yang Leon lakukan. Selama mereka bersama Tuan-nya, belum pernah sekali pun mereka melihat Leon bersikap lembut pada wanita, bahkan sampai memegang tangannya.
“Cla! Siapkan makanan sekarang!”
“Baik Tuan Muda!”
Claretta atau yang sering dipanggil Cla, adalah maid yang sengaja Ia bawa dari negara tetangga bersama dengan Jack dan beberapa anak buah yang lainnya. Cla menjadi kepala maid, dan bertugas untuk mengawasi semua orang. Tapi jika Leon yang turun, Cla akan langsung melayani Leon.
Beberapa saat menunggu, baik Alexa atau pun Leon sama sekali tidak bicara apapun. Mereka hanya dia dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Alexa sibuk dengan rasa laparnya, sedangkan Leon, Ia masih sibuk dengan majalah yang ia lihat tergelatak di atas meja makan.
Awalnya Ia akan marah, namun saat melihat isi dari majalah tersebut, kedua sudut bibirnya terangkat dan Ia tersenyum penuh ejekan. Entah apa yang membuat pria itu terlihat senang, tapi Alexa sama sekali tidak peduli akan hal itu.
Makanan sudah tersaji, wanginya benar-benar menggugah selera dan mata Alexa seketika berbinar, tidak sabar untuk mencicipi hidangan tersebut.
“Terima kasih banyak, Cla.”
“Sama-sama, Nona muda! Ini sudah menjadi tugas saya.”
Tanpa berniat untuk menunggu persetujuan Leon, gadis itu langsung membalik piring Leon dan mengisinya dengan berbagai hidangan dan nasi yang cukup banyak.
Cla yang berdiri tidak jauh dari meja makan hendak memberitahu Alexa, namun gadis itu sama sekali tidak peduli dan terus mengisi piring itu sesukanya.
“Mari makan.”
“Hmmm...”
Leon meletakan kembali majalah bisnis tersebut dan melirik ke arah piringnya yang sudah berisi berbagai macam. Seketika wajahnya muram.
"Cla! Ambilkan aku piring baru!" Alexa hanya mendengus kasar dan mendelik kesal. Ia sudah berbaik hati dengan mengisi piring pria itu, tapi justru Leon akan membuangnya.
Alexa hanya diam dan terus menyiapkan satu demi satu ke mulutnya tanpa peduli rasa kesal di wajah pria itu.
'Aku sudah berbaik hati dengan mengisi piringnya. Tapi apa balasannya... Ck! Dia memang sedikit menyebalkan sepertinya,' batin Alexa.
"Aku benci makan dengan setumpuk lauk dan sayur. Asal kamu tahu itu!"
"Tapi kenapa? Semua makanan ini sangat lezat menurut ku," kata Alexa dengan menyuapkan satu sendok penuh ke dalam mulutnya.
"Aku pernah hidup dan makan dari sisa orang lain. Makan dengan nasi yang sudah tercampur dan tidak berbentuk. Jika aku melihat ini..." Leon melirik nasi di piringnya. "Ini sangat mengingatkan ku pada masa itu."
Alexa menghentikan gerakannya tangan dan mulutnya. Menatap Leon dengan penuh tanda tanya. Pikirannya menolak semua yang dikatakan Leon, tapi sama seperti nya, kehidupan pria yang ada di depannya itu hancur karena ulah orang yang sama. Dan Ia merasakan semua itu.
"Aku minta maaf. Aku sama sekali tidak berniat untuk membuat mu mengingat hal itu."
"Lupakan! Habiskan makanan mu dan kembali lah ke kamar. Sore ini seorang desainer akan membawakan beberapa gaun untuk pernikahan kita."
Alih-alih menolak, ia justru mengangguk dan langsung kembali melanjutkan makan siangnya. Tanpa bicara. Hanya sesekali melirik pria itu dengan sudut matanya.
Makan siang telah selesai, Alexa bangkit lebih dulu dan meninggalkan meja makan. Ia tidak ingin mengusik Leon. Rasa bersalah masih mengganggunya, dan Ia akan diam sampai Leon terlihat lebih baik.
Setelah kepergian Alexa, Leon menghentikan makan siangnya dan meminta Cla untuk membereskan semuanya. Ia langsung menuju ruang kerja dan menghubungi Jack. Ia khawatir karena tangan kanannya itu tak kunjung menghubunginya.
Leon : Apa yang terjadi?
Jack : Mereka datang, tapi Tuan Aji aman bersama saya, Tuan.
Leon : Mereka?
Jack : Ya, Tuan!
Sadar jika Tuan nya ingin tahu, Jack langsung menjelaskan secara detail siapa yang masuk bersama Rey. Dari nada bicara Jack, Leon bisa menangkap rasa tidak senang Jack terhadap dua orang pria yang sudah masuk ke ruangan dimana Aji berada.
Leon : Bagaimana mereka tidak mengenali papa?
Jack : Saya memasang janggut dan tahi lalat di wajah Tuan. Tolong maafkan saya, Tuan muda.
Leon : Terima kasih, Jack.
Di sebrang sana Jack tertegun saat mendengar Leon berterima kasih. Panggilan terputus dan Leon merasa lega karena Aji baik-baik saja bersama Jack.
Leon keluar dari ruang kerjanya dan kembali mendekati meja makan. Ia lantas menyambar majalah bisnis tersebut dan kembali ke ruang kerjanya. Terdengar jelas jika pintu itu sengaja di kunci dari dalam. Semua orang tahu, jika saat ini Leon tidak ingin mendapat gangguan dari siapa pun.
***
Alexa berdiri di depan jendela kaca yang besar dan melihat semua pemandangan indah dari sana. Sesekali, terdengar helaan napas berat dari gadis itu, entah beban apa yang saat ini sedang mengusiknya.
Tok, tok, tok.
"Nona muda, desainer sedang menunggu anda di bawah. Segera lah turun."
"Iya, aku akan segera turun."
Alexa mencoba untuk tersenyum sebaik mungkin saat keluar dan menemui semua orang. Apa yang mengusiknya tidak boleh diketahui oleh orang lain. Ini adalah masalahnya dan Ia sendiri yang harus menanggung semuanya.
"Nona Muda, silahkan coba gaun pengantin yang anda sukai," Cla menemani Alexa saat ini Tapi saat melihat desainer yang akan Ia temui, punggung gadis itu menegang sempurna.
"Di-dia... Bagaimana bisa dia ada di sini?"