11. Vero Abraham

1262 Words
Alexa ingin kembali naik. Tapi Ia kembali memikirkan apa yang akan dipikirkan oleh Cla atau siapa pun yang melihat sikapnya yang demikian. Dengan menarik napas panjang, Alexa turun dan berjalan di belakang Cla. Sampai akhirnya Ia memutuskan untuk menghentikan langkah perempuan paruh baya tersebut. “Cla, bisakah kamu meniggalkan kami berdua?” “Baik nona muda! Jika anda memerlukan sesuatu, silahkan panggil saya.” Alexa mengangguk dan tersenyum pada Cla. Ia lantas mendekati sofa, duduk tepat berhadapan dengan desainer yang sudah Leon panggil untuk mengurus gaun pengantinnya. Degup jantung Alexa meningkat dua kali lipat. Ia menarik napas dalam dan berdeham pelan untuk meredam rasa gugupnya. Ia duduk dengan tegak layaknya seorang ratu dan berusaha untuk menunjukan sifat palsunya. “Mana gaun yang cocok untuk ku?” suara lembut namun tegas itu berhasil mengusik sang desainer yang saat ini sedang sibuk dengan gawai di tangannya. Pria itu mengangkat wajahnya. Matanya menatap lurus pada sosok cantik yang saat ini ada di hadapannya. Keningnya nampak berkerut, tidak berselang lama bibirnya yang terukir mulai bergerak. “A-Alexa... Kau Alexa?” “Hai! Apa kabar mu, Vero Abraham?” tanyanya dengan sedikit angkuh. “Lama aku tak berjumpa dengan mu dan sekarang kau tiba-tiba muncul di Villa mewah ini sebagai calon pengantin. Sungguh mengjutkan!” “Waktu ku tidak banyak! Jadi tolong tunjukkan mana gaun yang cocok untuk ku.” Alexa merasa sikapnya terlalu berlebihan, tapi ia harus melakukan hal ini agar Vero tidak bertanya banyak hal padanya. Semua masa lalunya telah ia kubur dalam-dalam, dan semua orang yang pernah mengenalnya di masa lalu. Termasuk Vero. Dunia ini begitu luar. Dari sekian banyaknya manusia dan sekian banyaknya desainer ternama, kenapa Vero yang harus di pilih Leon. Ini sama saja membuat Alexa menggali kuburannya sendiri. “Silahkan coba yang ini,” Vero menyerahkan sebuah gaun dengan bagian atas dan depan tertutup, tapi bagian punggung terbuka secara sempurna. Gadis itu berdiri dan memperhatikan gaun yang telah di pilihkan oleh Vero. Ia menggeleng. “Aku tidak menyuaki gaun itu. Ganti!” Vero dengan sabar menunjukkan beberapa gaun lainnya dan itu cukup membuatnya sedikit geram dengan sikap Alexa yang terlihat angkuh di luar. Ia tahu, saat ini Alexa hanya menggunakan topeng. “Ini adalah gaun terakhir! Dulu kau yang memberikan rancangan ini pada ku, karena kau sendiri yang mengatakan sangat ingin menggunakan gaun inni saat kau menikah. Jadi ini adalah milik mu!” Dia terdiam. Ia mengingat semua yang pernah ia katakan pada pria itu. Tapi sayangnya Vero hanya mengatakan sebagian hal dari yang pernah Ia katakan dulu. Alexa meraih gaun tersebut dan melihatnya dengan teliti. Gaun itu sama dengan rancangan yang ia gambar dengan asal. Tapi di tangan Vero, gaun ini menjadi nyata dan jauh dari bayangan Alexa. Indah. Bahkan gaun itu sangat indah. ‘Dia masih mengingat keinginan ku? Tapi kenapa dia melupakan kata-kata itu?’ Alexa membatin. Saat mereka ada dibangku sekolah menengah atas. Vero dan Alexa memiliki kedekatan yang berbeda. Mereka sama sekali tidak pernah memiliki ikatan atau hubungan hati. Tapi keduanya sama-sama tahu, jika ada rasa terpendam dalam diri mereka untuk satu sama lain. Vero memiliki cita-cita sebagai seorang desainer, dan sekarang itu menjadi nyata. Suatu hari, di sebuah taman saat mereka berdua sengaja membolos karena bosan dengan pelajaran yang tiada henti. Mereka terjebak dalam friends zone, yang akhirnya membuat keduanya nyaman dengan status persahabatan itu. “Al! Kalau gue kasih Lo satu permintaan untuk gue kabulkan di masa kini atau pun masa depan, apa yang akan lo minta dari gue?” Vero menatap langit biru dengan terlentang di atas rumput bersih dan hijau. “Al! Jangan bilang kalau Lo nggak dengar apa yang gue bilang barusan?” “Gue dengar, Al. Buktinya gue lagi mikir,” jawabnya cepat. Saat itulah keberanian tiba-tiba saja muncul dan membuat Alexa memberikan sebuah petunjuk nyata mengenai perasaannya terhadapan seorang laki-laki. Meskipun ia tidak menyebutkan siapa dia, tapi Vero merasa jika Alexa saat ini sedang menunjuk dirinya. “Lo mau jadi desainer ‘kan?” tanya Alexa. Vero mengangguk. Meskipun menjadi desainer selalu di pandang sebelah mata, tapi Ia sama sekali tidak peduli. Alexa yang masih duduk langsung mengeluarkan pensil dan kertas ukuran A4 dari dalam tasnya. Dengan sungguh-sungguh, tangannya mulai menggerakan pensil dan menari-menari di atas kertas putih tersebut. Setelah beberapa menit berlalu, Alexa memberikan hasil karyanya pada Vero dan tentu saja langusng disambut dengan kerutan bingung di wajah pria itu. “Ini... Apa?” katanya pelan. “Halahh... Katanya Lo mau jadi desainer. Masa gambar bagus kayak gini aja Lo nggak tahu,”cibir Alexa. “Serius Al, Lo boleh tanya sama semua orang. Kalau ada dari mereka yang tahu ini gambar apa, gue janji bakal bikin gaun buat Lo kalau gue jadi desainer nanti.” Alexa tidak melakukan hal itu. Ia lebih memilih untuk menjelaskan bagaimana desain dari gambar yang ia buat, dan Vero mulai menggambar ulang sesuai dengan keinginan sahabatnya. Alexa menggenggam erat gaun tersebut. Kenangan itu masih terekam indah dalan ingatannya. Bahkan jika bisa, Ia ingin memutar waktu dan kemali pada masa itu. Dimana masih ada kedua orang tua yang sangat Ia sayangi.   “Sampai kapan kau akan memandangi gaun itu, Nona Alexa?” suara itu langsung membuat Alexa tersadar dari lamunannya. Leon saat ini berjalan mendekati keduanya dan langsung mengulurkan tangan pada Vero, sebagai perkenalan. “Leon.” “Vero.” “Semoga calon istri ku tidak membut anda bingung dengan pilihannya,” Leon mempersilahkan Vero duduk dengan gerakan tangannya. Sedangkan Alexa, gadis itu bangkit dengan memegang erat gaun di tangannya. Terlihat kilatan di mata indah milik gadis itu, membuat Leon dan Vero bingung. “Aku akan mencoba dulu gaun ini!” seru Alexa. Dalam ruang ganti, Alexa memeluk gaun itu. Ia menangis, merasakan takdir benar-benar tidak adil padanya. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, bahkan satu-satunya sahabat yang Ia miliki pergi menjauh dan melanjutkan study-nya untuk menjadi seorang desainer. Alexa menarik napas dalam dan berusaha untuk berdamai dengan takdir. Toh percuma saja, karena Ia hanya manusia dan tidak mungkin baginya untuk bisa melawan takdir yang Kuasa. “Come on Alexa! Berhenti bersikap seperti ini. Aku bukan Alexa yang dulu. Aku adalah Alexa, calon istri dari pria bernama Leon.” Ia bangkit dan mencoba gaun tersebut. Ia keluar dan memperlihatkannya pada Leon dan Vero. Meskipun Ia risih, tapi Ia bangga, ternyata Vero masih mengingat keinginannya saat itu. “Leon, bagaimana penampilan ku?” Alexa berjalan mendekat dengan sedikit mengangkat gaun tersebut dengan kedua tangannya. Vero menatap gadis itu tanpa berkedip. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia, tapi tidak lama kemudian wajahnya kembali datar, seakan semua yang menggunakan jasa sama. Begitu pula dengan Alexa. “Kamu sangat cantik dengan gaun itu,” puji Leon dengan jujur. “Terima kasih,” jawab Alexa dengan tersipu malu. Terbersit dalam benaknya, jika Ia menginginkan gaun itu sebagai hadiah pernikahan mereka. Meskipun ia tahu, bukan itu alasan dibalik keinginannya. Hanya Ia dan Vero yang tahu hal itu. “Emmm... Leon, bisakah aku memiliki gaun ini sebagai hadiah pernikahan kita?” Ia mendekat dan duduk tepat dipangkuan Leon. Bukan tanpa alasan Alexa melakukan itu. Ia melakukan itu semata-mata karena ingin membuat hubungannya dan Vero renggang. Meskipun sebelum ini mereka memang sudah renggang dan berjauhan satu sama lain. Seakan ada sebuah tembok besar yang menghalangi keduanya. “Tentu saja, Alexa. Aku akan memberikan ribuan gaun seperti ini jika itu membuat mu bahagia.” Tubuh Vero menegang sempurna saat mendengar perkataan Leon. Bagaimana bisa mereka ingin memiliki gaun penuh kenangan itu. Ia tidak rela, meskipun sang pemilik gaun itu talah Ia temukan. “Maafkan aku Tuan Muda Leon! Anda dan Nona Alexa bisa mendapatkan gaun manapun yang kalian inginkan. Tapi tidak dnegan gaun itu!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD