Part 2 : Tanggung Jawab

1505 Words
Begitu mobil yang ditumpangi Thalia berhenti, ia segera membuka sabuk pengaman kemudian berniat keluar. Namun pintu kendaraan itu masih terkunci. Ia menoleh ke kanannya.   “Buka Darren.”   Lelaki itu justru tertawa pelan sebelum membuka kunci pintu kendaraannya. Namun tak hanya Thalia saja yang keluar, Darren pun ikut.   “Thalia.”   “Apa?”   “Kabari saat jam kerjamu selesai. Aku akan menjemputmu.”   “Tid—.”   “Aku pergi. Sampai jumpa nanti dan terimakasih untuk semalam.”   Baru Thalia akan membuka suara lelaki itu telah menghilang dibalik mobil mewahnya yang segera melesat pergi.   “Terimakasih untuk semalam?” itu suara Elena.   Thalia meringis pelan mendengar suara itu, ia pikir ia datang sangat pagi, tapi ternyata. Darren sialan. Umpatnya sebelum berbalik menghadap Elena.   “Hai Elen. Selamat pagi.”   “Thalia! Bukankah dia Darren Davidson? Kenapa kau bersamanya?”   Oh! Double s**t. Darren sialan!   “Jangan-jangan—kalian menghabiskan waktu bersama?”   Thalia membulatkan matanya mendengar pertanyaan itu. Darimana dia tau?   ***   Yang terjadi semalam…   “Ahn—Thalia.”   “Pelan—ahh.”   “Berhenti mendesah-desah Tuan Darren. Kau mengganggu.”   “Ahh—.”   Thalia menekan luka diwajah Darren dengan kencang. sebal mendengar desahan yang menurutnya terlalu berlebihan itu.   “Argh!.” Kali ini lelaki itu meringis kesakitan. “Sakit! Kau gila? Kenapa malah menekannya?”   “Makanya, jangan kebanyakan drama!”   Mendengar penuturan Thalia justru membuat Darren tersenyum miring. Ia mendekatkan wajahnya pada Thalia hingga hidung mereka bersinggungan. “Kenapa? Kau membayangkan kejadian malam itu ya?”   “Tutup mulutmu Darren.”   “Bukankah kau sangat menikmatinya?” Goda Darren. “Darren—ahh—lebih cepat. Darren—yaa—disana—ahh.” Darren menirukan ucapan Thalia malam itu.   “b******k!”   Cup!   Darren mendaratkan ciuman ringan setelah mendengar umpatan itu, membuat Thalia yang berada dihadapannya mematung dengan wajah yang mulai menunjukkan semburat merah. “Jaga ucapanmu Thalia. aku tak segan-segan melakukan hal lebih jika kau terus mengumpat dihadapanku.”   “Sia—.”   Cup!   “Ucapanmu Thalia.”   Darren sialan!   “Lebih baik sekarang kita tidur. Besok aku ada meeting penting.”   Thalia membulatkan matanya. “Apa maksudmu kita tidur? Pulang sana!”   “Thalia aku ini korban yang hampir dirampok dan keadaanku masih sangat buruk. Bagaimana jika aku dirampok lagi?”   “Aku tidak peduli, mau kau dirampok lagi atau apapun. Pergi sana!”   “Kalau kau tak peduli, kenapa tadi menolongku? Seharusnya kau abaikan saja.”   Thalia menatap berang pada lelaki dihadapannya ini. “Itu karena aku memang baik hati. Memang siapa yang tau itu kau? Kalau aku tau, aku tidak akan pernah menolongmu. Biarkan saja kau dirampok dan jadi gelandangan.”   “Jahat sekali.”   “Memang! Sana pergi!”   Bukannya mengikuti keinginan Thalia. Darren justru menarik pinggang Thalia, membuat dirinya dan wanita itu terjatuh bersama keatas pembaringan dengan Thalia berada dalam pelukannya. Keduanya saling bertatapan dalam diam beberapa saat, sebelum akhirnya Darren bersua.   “Jangan pernah berani-beraninya memerintahku Thalia. disini, kau yang harus mengikuti semua keinginanku.”   Thalia meneguk ludah untuk kesekian kalinya. “Jangan seenaknya Darren! Ini rumahku!” Seru Thalia tak terima.   “Berhenti berteriak dan tidurlah. Sebelum aku benar-benar memperkosamu lagi.”   Seketika, Thalia membungkam mulutnya. Tidak berniat membantah lagi karena sejujurnya ia sangat lelah dan memang membutuhkan istirahat untuk tubuhnya.   Namun bukannya memejamkan mata, Thalia justru menatap lelaki yang telah lebih dulu memejamkan matanya itu. Jika sedang seperti ini, Darren terlihat sangat tenang dan lebih tampan dari sebelumnya. Apalagi saat bibir yang selalu mengeluarkan seringaian menyebalkan itu juga tidak bergerak sama sekali, membuat Darren tampak lain dari Darren yang beberapa saat lalu sangat menyebalkan. Thalia lagi-lagi meneguk ludahnya kasar saat lebih dekat mengamati bibir penuh godaan itu. Jujur saja, ia masih bisa merasakan saat bibir itu membakar seluruh tubuhnya dengan ciuman panas dan basah. Bibir itu—yang membuatnya gila dan hilang kendali. Bagaimana—ya jika bibir itu melumatnya lagi? Menciuminya lagi? s**t! Thalia, berhenti. Apa yang kau pikirkan?   “Thalia.”   Thalia semakin membatu saat melihat Darren kembali membuka mata yang terlihat sayu itu.   “Jika kau yang ingin, aku tak akan menolak.”   “Dalam mimpimu!”   Thalia melepaskan paksa pelukan Darren kemudian beranjak, meninggalkan lelaki yang sedang tertawa begitu puas itu.   Sial! Darren pasti sedang berusaha mempermainkannya.   ***   Thalia dapat merasakan Elen yang sesekali meliriknya saat bekerja, ia tau jika sahabatnya itu penasaran dengan kemunculan Darren disekitar mereka. Sementara saat kemarin dirinya ditanyai mengenai lelaki itu ia bersikukuh tidak menyukainya.   Akan tetapi sebenarnya ia memiliki satu hal yang membuatnya risau. Tentang hubungannya dengan Darren yang terjadi malam itu. Apalagi setelah percakapan mereka semalam, saat mereka memutuskan untuk menyantap sebuah mie instan bersama. Awalnya Thalia bertanya tentang alasan Darren yang berada didepan tempat kerjanya.   “Aku datang untuk menemuimu. Tentu saja.”   “Untuk apa Darren?”   “Bertanggung jawab. Kau mungkin saja Hamil Thalia. kau tidak berpikir aku b******k yang akan meninggalkan teman kencan satu malamnya kan?”   “Berarti kau juga selalu seperti ini pada setiap wanita?”   “Tidak. Hanya kau.”   “Kenapa?”   “Karena hanya kau wanita yang menjadi teman kencan semalamku.”   “Bohong!”   “Tidak, aku tidak pernah berbohong apapun padamu.”   Thalia menatap Darren yang sedang menikmati mie instan buatannya. Darren terlihat jujur. Tapi, bagaimana bisa ia percaya jika hanya dirinya yang pernah dia kencani? Seorang lelaki sepanas Darren hanya berkencan satu malam dengannya?   Omong kosong!   “Aku serius tentang ucapanku ini Thalia. jika terjadi apapun, katakanlah. Karena bagaimanapun aku Ayahnya.”   “Bagaimana jika aku hamil bukan anakmu?”   Darren justru tertawa pelan. “Jangan bercanda. Aku orang pertama untukmu Thalia. aku tidak bisa kau bodohi.”   Thalia hanya mempu meneguk ludahnya kasar. Ia pikir Darren tidak akan tau mengenai fakta itu. Namun ternyata dia mengetahuinya juga.   Darren yang gemas melihat wajah kaget Thalia, ia mendekatkan dirinya. Thalia bahkan hingga memundurkan wajah.   “Suka, tidak suka. Aku akan bertanggung jawab.”   Thalia tidak pernah berpikir sekalipun tentang kalimat yang Darren sampaikan itu. Ia pikir semua lelaki yang melakukan one night stand itu sama saja. Sama-sama b******k dan berhidung belang. Tapi—kenapa Darren terlihat sangat baik? Dia bahkan mau bertanggung jawab.   Thalia menghela nafas lagi. Sudahlah. Lupakan. Bisa saja dia hanya memanfaatkannya saja.   ***   Makan siang, Thalia membuka bekal yang ia bawa bersama Elena. Kedua wanita itu saling berhadapan seraya sesekali menyantap makan siangnya.   “Elen.”   “Hm?”   “Menurutmu, bagaimana tentang one night stand?”   Elena menatap Thalia sangsi. Thalia mengerti alasan Elena menatapnya begitu aneh, karena selama ini ia tidak pernah membicarakan tentang ini. Ia cenderung menutup percakapan tentang hal itu.   Elena menghembuskan nafas. “Thalia, apa kau berniat melakukannya? One night stand?”   Thalia tidak menjawab. Elena bersedekap diatas meja seraya menatap Thalia.   “Aku sarankan jangan. Maksudku, kau tau? Tak ada jaminan bahwa lelaki itu baik.”   Thalia mendesis. “Tak ada lelaki yang suka melakukan one night stand yang baik-baik Elena.”   “Maksudku bagaimana jika dia memiliki kink yang aneh? Please Thalia kau ini bukan anak kecilkan yang harus aku jelaskan semua hal tentang one night stand? Tentang lelaki b******k dan tentang kink aneh yang mungkin akan terjadi?”   “Lebih baik kau cari pacar saja. Atau—kau pacari saja Jhonny. Aku lihat dia sepertinya menyukaimu.”   “Jangan gila Elen. Aku justru banyak utang budi padanya. Aku cukup tau diri juga.”   “Kalau dia suka, kenapa tidakkan? Daripada lelaki gak jelas.”   Thalia menggigiti bibir bagian dalamnya, gugup. Ia ingin menceritakan keresahannya ini. Bagaimanapun ini menyangkut masa depannya juga. “Elen—kau ingat kemarin lusa aku tidak bekerja?”   “Hm—tepat hari ulang tahunmu juga kan? Kau memang sengaja ambil libur, seperti biasanya.” Ujar Elen seraya mengunyah kembali makanannya.   “Aku—melakukannya.”   Uhuk!   Thalia memberikan sebotol minuman pada sahabatnya itu. Ia tau, dia pasti akan seterkejut ini. Sudah ia bayangkan sebelumnya.   “Kau gila? Siapa lelaki itu? Jangan bilang kau tidak mengenalnya. Kalau kau mengatakan itu, kau pasti sudah gila Thalia.”   “Kau—mengenalnya juga.”   “Siapa?!” seru Elena. “Tunggu! Jangan bilang Darren?”   Thalia menggigit bibirnya lagi lalu mengangguk samar.   “GILA!”   “St—jangan keras-keras. Elena dengarkan aku bukan itu masalahnya.”   “Apa? Jangan bilang dia tidak memakai pengaman.”   Thalia lagi-lagi menggigit bibirnya.   Elena menghembuskan nafasnya, mengerti dengan diamnya Thalia. “Selamat, sepertinya kau akan punya bayi dan akan segera menjadi single parent.”   “Jangan begitu—.”   “Lalu apa? Kau berharap dia bertanggung jawab? Thalia—kau harus rasional. Orang seperti kita mana bisa bersama seseorang seperti Darren? Kau pikir ini negeri dongeng?”   “Tapi—dia bilang. Dia akan bertanggung jawab.”   “Dan—kau akan langsung mengikuti keinginannya?”   Thalia menggeleng. “Aku tidak mau Elen, beri aku saran.”   “Abaikan dia. Jika dia benar-benar ingin bersamamu dia pasti akan melakukan apapun untukmu kan?” Elena menghembuskan nafasnya. “Seperti yang kau bilang Thalia, lelaki akan melakukan banyak cara demi mendapatkan wanita yang mereka inginkan.”   “Lagi pula kau belum tentu hamilkan?”   Benar. Itu poin pentingnya. Ia belum tentu hamil. Jadi ia tidak perlu risaukan?   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD