Darren tersenyum puas saat melihat Thalia yang berjalan cepat kearahnya, dari pintu utama menuju ruang tengah gadis itu menatapnya dengan tatapan nyalang diiringi dengan nafas yang memburu. Wanita itu berhenti tepat dihadapannya dengan nafas terengah.
“Kembalikan barang-barangku Darren!”
“Aku sudah membuangnya.”
“Darren! Beraninya kau!”
“Hanya barang-barang tidak berguna. Aku bisa menggantinya dengan yang lebih mahal.”
Thalia menggeram. “Barang yang kau sebut tidak berguna itu setidaknya hasil jerih payahku sendiri. Kembalikan barangku!”
“Aku tidak akan mengembalikannya.”
“Kau mencuri barang-barangku Darren?! Akan aku laporkan kau pada polisi!”
“Laporkan saja, aku tinggal bilang kalau kau calon istriku yang sedang marah besar padaku.“
“Darren!”
Darren menghela nafas panjang. “Kau ini sekarang gelandangan Thalia, tidak akan ada yang memercayaimu. Akan lebih masuk akal alasanku barusan daripada tuduhan pencurianmu.”
“Aku, Darren Davidson, mencuri darimu? Mereka hanya akan menertawakanmu Thalia. mereka akan berpikir, apa yang bisa aku curi dari gelandangan?”
“Aku bukan gelandangan!”
“Seseorang tanpa hunian memangnya disebut apa jika bukan gelandangan?”
Thalia menggeram lagi, ingin sekali rasanya ia menjambak Darren jika tidak ingat sekarang ia berada dimana.
“Jadi istriku, setelah itu akan aku serahkan semuanya. Termasuk dokumen yang sangat penting milikmu itu.”
“Aku tidak mau. Aku tidak sudi menikah denganmu!”
Darren mengedikkan bahunya. “Yasudah, itu pilihanmu.”
“Artinya kau tak ingin dokumenmu kembali.”
“Darren!” Thalia berseru. “Sebenarnya apa maumu?!”
“DADDY!!!”
Senyuman Darren berubah menjadi lebih hangat saat mendengar seruan dari seorang anak perempuan berumur sekitar tiga tahun.
Thalia mengerutkan keningnya. Daddy?
“Alllen.”
“Daddy.”
Darren meraih anak perempuan dalam pelukannya, lalu memutarnya beberapa kali. “Mana Nenek?”
“Diluar, ambil pakaian Allen.”
Thalia memperhatikan kedua orang itu dalam diam. Anak perempuan itu begitu cantik dan sangat menawan. Senyumannya pun begitu manis. Darren juga nampak lain saat bersama anak perempuan itu.
“Dad! Apa dia Mommy Allen?” tanya anak perempuan itu seraya menunjuk Thalia.
Apa katanya? Mommy?
Darren mengangguk. “Tentu saja. Ini.”
“Bukan tante Gabriel?”
Darren menggeleng, membuat anak perempuan itu bersorak riang. Disatu sisi Thalia hanya diam, masih tidak mengerti dengan yang terjadi. Terlebih saat anak itu mengulur-ulurkan tangan padanya.
“Mommy Allen gendong.”
Thalia menatap anak perempuan itu dalam diam, binar mata yang terpancar membuat hati Thalia terenyuh. Wajah cantinya benar-benar membuatnya tanpa sadar meraih anak perempuan itu dalam pelukannya.
“Namanya siapa?” tanya Thalia pelan seraya menatap anak perempuan itu.
“Allen. Allena Davidson. Mommmy namanya siapa Mom?”
Thalia mengulas senyumannya. “Thalia, Thalia Cho.”
Senyuman anak perempuan itu mengembang, kemudian dia berbicara dengan suara bayinya. “Mommy Lia. Mom. Mommy benar mau tinggal disini mulai sekarang? Nemenin Allen? Daddy bilang Mommy akan tinggal dan rawat Allen.”
Thalia menghela nafas lalu melirik Darren yang tersenyum penuh kemenangan. Darren sengaja menjeratnya melalui anak ini? Begitukah?
Darren benar-benar tahu salah satu kelemahannya. Tapi, ia tidak boleh kalah. Ia tak peduli sekalipun anak itu menangis. Toh tidak ada hubungan apapun dengannyakan?
“Allen, tante—.”
“Mommy!”
“Allen tapi ini Tante, bukan Mommy.”
Mata anak perempuan itu mulai berkaca-kaca, bibirnya bahkan kini cekung kebawah diiringi dengan lelehan air matanya.
Hiks
“Mommy jahat! Mommy jahat! Mommy gak sayang Allen.” Anak perempuan itu memberontak dalam pelukan Thalia, dia memukuli ringan bahu Thalia dengan kaki yang terus menendang-nendang. Membuat Darren yang sedari tadi hanya diam menatapi keduanya, segera meraih Allen dalam pelukannya. Tidak mau mengambil resiko Allen terjatuh.
“Allena kenapa menangis sayang?” seruan suara lain.
Thalia meneguk ludahnya kasar, saat melihat seorang perempuan paruh baya yang ia ketahui sebagai ibu Darren, Rosaline mendekat kearah mereka. Matanya beradu sesaat dengan mata Thalia sebelum wanita paruh baya itu fokus pada sang cucu.
“Allen? Sayang—.”
“Mommy jahat.”
Thalia terpaku. Bagaimana bisa ia dikatakan jahat seperti itu? Kenal saja barusan. Dasar anak dan ayah sama saja. Wanita itu menatap Thalia berang. “Kalau kau tidak suka Allen, yasudah. Jangan berhubungan dengan anakku.”
“Mom!”
“Apa Darren?”
“Thalia hanya terkejut, dia baru saja datang dan langsung dipanggil Mommy.”
Rosaline menatap Darren lalu melirik Thalia sesaat. “Kau belum cerita padanya?”
“Belum sempat.”
Rosaline berdecak lalu menghadap pada Thalia. namun saat hendak mengeluarkan suara, sudah dicegah oleh Darren terlebih dulu.
“Mom, kami sedang ada masalah sedikit. Kami akan selesaikan segera. Mom tidak perlu mendesak Thalia.”
Rosaline berpaling, kearah puteranya. “Selesaikan. Jangan sampai Allen jadi korban.” Wanita itu menatap sang cucu. “Allen—ayo tidur dulu sama Nenek ya?”
Allen yang sedang membenamkan kepalanya diceruk leher Rosaline hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan sesekali senggukannya masih terdengar.
Thalia menatap anak itu lagi. Apakah ia menyakitinya begitu dalam sampai dia menangis begitu? Sampai tidak mau menatapnya lagi? Padahal ini pertemuan pertama mereka. Tapi kenapa Allen seolah sudah dekat dengannya.
“Aku mengatakan bahwa kau Mommy-nya Allen. Allen sudah lama ingin bertemu Ibunya, dia ingin mempunyai Ibu. Beberapa hari lalu juga sempat sakit dan dia terus mengatakan ingin bertemu Mommy-nya.”
“Yasudah pertemukan saja mereka! Apa susahnya? Kenapa jadi aku?”
“Karena aku merasa kau tepat Thalia. kau penyayang. Aku pikir akan cocok untuk Allen.”
Thalia memicingkan matanya. “Jadi kau ingin menikahiku hanya karena ingin Ibu untuk anakmu itu?”
Darren tidak menjawab.
“Aku bisa menjadi pengasuhnya, tidak perlu menikah denganmu Darren.”
“Mana bisa begitu? Aku juga ingin seorang putera.”
“Cari wanita lain!”
“Jika aku bisa bersama wanita lain, sudah aku lakukan sejak dulu.” geram Darren, ia melangkah mendekati Thalia hingga perempuan itu jatuh terjerembab keatas sofa. “Salahmu malam itu datang dalam kehidupanku. Salahmu sendiri. Maka ini konsekuensi yang harus kau terima.”
Darren mendekatkan wajahnya pada telinga Thalia. “Tidak ada penawaran lagi Thalia karena semua ini salahmu. Kau yang membuatku tidak bisa berpaling dan kau harus bertanggung jawab.”
“Kau—.”
“Kalau kau membangkang, aku akan membuat hidupmu semakin sulit Thalia.” Darren mengeluarkan seringaiannya. “Kau pikir kenapa pemilik rumah tempat menjahit itu memecatmu? Dan—flatmu? Kau pikir, kenapa sekarang kau tidak bisa meninggalinya?”
Thalia membulatkan matanya. “Kau!”
“Ya aku yang melakukannya karena kau terus membangkangku.” Darren menatap Thalia yang masih berada dalam kuasanya. Ia membelai wajah perempuan itu. “Ikutilah kataku dan buat hidupmu lebih mudah.”
***