Part 5 : Kejadian bertubi-tubi [Re-upload]

1286 Words
[HOT] Darren Davidson memberikan konfirmasi tentang kabar pernikahannya   [HOT NEWS] Darren Davidson segera menikah   [HOT] Sekian lama melajang, Darren Davidson akan menikah. Inikah calon istrinya?     Thalia tersenyum masam saat ia membaca judul artikel baru yang memuat wajah Darren didalamnya itu. Ia enggan membacanya lagi. Cukup sudah ia membaca satu artikel karena isinya pun pasti sama saja.   Ya—Darren kali ini memberikan konfirmasi. Dia benar-benar akan menikah.   “Benar, aku memang akan segera menikah.”   Thalia tersenyum masam. Ternyata memang benar Darren b******k yang paling b******k. Beruntung dirinya tidak benar-benar hamil anak lelaki b******k itu. Pagi ini Thalia cukup lega karena period-nya datang tepat waktu. Tidak seperti yang ia takutkan kemarin-kemarin. Tandanya ia tidak hamil.   Yaa—Thalia bersyukur. Setidaknya ia tidak perlu berhadapan dengan lelaki b******k semacam Darren lagi. Namun entah kenapa ia justru merasa ada yang sedikit hampa? Karena tak ada pesan dari Darren bahkan menghubunginya pun tidak ada.   Terhitung sudah satu minggu dan datu minggu itu juga Darren tidak ada menemuinya sama sekali. Lelaki itu benar-benar menghilang layaknya ditelan bumi. Lelaki b******k itu.   Thalia menggeram. Ia merasa telah dibodohi lelaki itu. Bisa-bisanya ia juga terlena sesaat oleh ucapan lelaki itu. Beruntung Elena selalu memberinya pengertian, dia selalu membuat pikirannya terbuka. Tapi tetap saja, kenapa rasanya semenyebalkan ini?   “Thalia—hey.”   Thalia mendongak mendapati Elena yang berdiri didepan meja kerjanya. “Kenapa Elen?”   “Kau dipanggil Madam, sepertinya ada yang ingin dia sampaikan padamu. Katanya penting. Dia bilang kau harus sekarang juga menemuinya.”   Thalia mengangguk setelah itu ia menyimpan ponselnya sebelum menghadap Madam Sin, pemilik rumah jahit tempatnya bekerja. Thalia mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya memasuki ruangan itu.   “Thalia, duduk.”   Thalia mendudukkan dirinya tetap didepan wanita paruh baya itu. Ia memberikan senyumannya sesaat sebelum menyapa atasannya itu. “Sepertinya ada hal penting Madam?”   “Ya—.” Madam Sin memandang Thalia sesaat kemudian menghembuskan nafasnya. “Thalia mohon maaf, aku terpaksa harus memberhentikanmu.”   “Apa?” Hati Thalia mencelos, sesuatu terasa menghilang namun menyakitkan secara bersamaan. Perasaan putus asa mulai menguasainya. “Tapi Madam apa aku melakukan kesalahan? Kenapa sangat tiba-tiba? Aku pikir aku tidak melakukan kesalahan hingga membuatmu rugi.”   “Memang, tapi aku tidak bisa mempekerjakanmu lagi Thalia.” Madam Sin menghembuskan nafasnya pelan lalu mendorong sebuah amplop berwarna coklat kehadapan Thalia. “Ini gajimu bulan ini beserta tunjangannya. Sekali lagi maafkan aku Thalia. aku terpaksa melakukannya.”   Thalia memandang Madam Sin dengan tatapan memohon. “Madam—aku tidak perlu tunjangan, aku hanya perlu pekerjaan. Madam—tolong jangan memecatku.”   “Aku tidak mampu membayar karyawan lebih Thalia. dua orang sudah cukup dan ya—semoga kau mengerti. Kau tau sendiri tempat ini sudah kalah saing dengan butik-butik mahal.”   “Madam—.”   Madam Sin memegang lengan Thalia sesaat. “Kau pasti mendapatkan pekerjaan yang lebih layak Thalia, kau sangat rajin dan ulet. Sekali lagi maafkan aku.”   “Madam—kalau begitu untuk hari ini. Ijinkan aku menyelesaikan pekerjaanku.”   Madam Sin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu Thalia, lihat jam kerja hampir habis dan sebaiknya kau tidak lembur lagi. Hm—lalu kunci, tolong serahkan pada Elena. Mulai sekarang dia yang akan bertanggung jawab mengunci tempat ini.”   Thalia menggigit bibir bagian dalamnya, putus asa. Sangat putus asa. Ia juga sangat kecewa dengan keputusan sepihak ini. Pekerjaan ini adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya, jika begini bagaimana ia menyambung hidup? Dari mana ia mendapatkan uang untuk makan? Dan—kemana ia harus mencari pekerjaan? Sementara ditempat-tempat kerja lain hanya menginginkan gadis muda ketimbang dirinya yang sudah kepala tiga.   Thalia menatap Madam Sin sesaat sebelum berpamitan, meski dengan perasaan putus asa tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa pasrah dan menerima keputusan dari sang pemilik tempat. Begitu sampai dimejanya, ia melihat Elena sudah menunggu. Dia juga menatapnya penuh tanya.   “Lia ada apa? Kenapa Madam Sin sangat serius?”   Thalia tersenyum tipis. “Aku tidak ada apa-apa Elen.” Ujarnya seraya membereskan meja kerja. “Ini, kunci tempat ini. Mulai sekarang kamu yang pegang.”   “Thalia—.”   Thalia memberikan senyuman lagi. “Aku pulang duluan Elen, kalau ada apa-apa kau bisa kabari aku. Kita bisa bertemu kapanpun kau ingin. Sampai jumpa.” Ujarnya kemudian pergi setelah membawa semua barang berharga miliknya.   Thalia mendesah pelan begitu keluar dari tempat kerjanya. Ia memandang langit yang masih cukup cerah beberapa saat kemudian menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Langit sangat cerah, tidak seperti perasaannya yang terasa semakin memburuk.   “Thalia.”   Thalia berbalik saat mendapati Elena berlari kearahnya kemudian memberinya pelukan. “Kalau ada sesuatu katakan padaku. Jangan sungkan. Pokoknya kalau kau butuh sesuatu juga katakan padaku, hm?”   Thalia terkekeh pelan seraya menepuk punggung itu beberapa kali. “Tentu saja, aku akan menghubungimu nanti. Sudah, bekerja sana.”   Elena mengangguk sebelum akhirnya beranjak memasuki tempat kerjanya lagi dengan sesekali berbalik menatapnya. Thalia kembali menghela nafas panjang kemudian beranjak menuju halte bus terdekat. Senyumannya ia paksakan terbentuk, hanya berusaha memberi semangat untuk dirinya sendiri.   Setelah ini ia harus mencari pekerjaan baru, ia tidak boleh terlalu lama terpuruk bukan? Karena hidupnya esok tergantung hari ini.   ***   Thalia meneguk ludahnya kasar dengan kaki yang mematung ditempatnya, ia baru saja sampai didepan gedung flat huniannya namun yang ia dapatkan justru semua barang-barang milik penghuni flat itu dikeluarkan secara paksa. Benar-benar dikeluarkan dengan tidak manusiawi.   Kenapa? Ada apa ini? Kenapa jadi kacau begini padahal tadi pagi ia pikir baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang ribut begini?   “Ini ada apa?” tanya Thalia pada seorang ibu-ibu, yang ia ketahui sebagai salah satu penghuni flat itu.   “Flat ini akan robohkan, akan diganti dengan sebuah tempat hiburan Thalia.”   “Tapi Mrs, aku sudah membayar untuk satu tahun penuh.” Thalia mengerang kesal. Bagaimana bisa hari ini kejadian buruk terus saja datang secara bertubi-tubi padanya? Bagaimana mungkin kesialannya terus berlanjut seperti ini?   Kedua tangan Thalia terkepal, menahan tangis yang telah siap tumpah karena meratapi harinya yang terasa sangat buruk itu. Kenapa hari ini terasa sangat menyedihkan?   “Thalia, kau lihat kerumunan disana? Disana pemilik flat, dia sedang membayar ganti rugi sewa yang sudah dibayarkan.”   Bukan ganti rugi yang Thalia butuhkan. Tapi flat itu. Karena sejauh ini memang hanya flat itu yang paling murah. Ia bahkan tidak menemukan lagi flat yang biaya sewanya lebih rendah dari ini. Meskipun terkadang air macet atau bahkan sering adanya padam listrik. Namun itu tak masalah bagi Thalia, yang penting ia bisa hidup, ia bisa tidur nyaman dan juga aman. Tapi jika kejadiannya begini—apa yang harus ia lakukan?   Thalia berjalan menuju pemilik flat yang berada di ujung antrian penyewa. Sesekali ia menghela nafas dan menghembuskannya pelan. sesekali juga ia mengeratkan kepalannnya.   Jujur saja, Thalia masih sangat memikirkan tentang kejadian hari ini, keburukannya dan kemalangannya.. terasa sangat menyedihkan, sangat nyata dan seketika membuatnya putus asa.   “Thalia—.”   “Bibi, kenapa Bibi menutup tempat ini?”   “Bibi menjualnya karena sedang sangat membutuhkan uang.”   Thalia menghembuskan nafasnya pelan, pemilik flat ini memang sedang melakukan perawatan medis untuk penyakitnya yang telah lama dia derita, sehingga memang pantas saja jika membutuhkan uang yang cukup banyak.   “Ini ganti rugi biaya sewa untukmu Thalia, aku tidak memotongnya sedikitpun.”   Thalia menerima uang itu dengan berat hati, ia tersenyum meskipun hatinya tak rela. Karena mau bagaimana lagi? Selain hanya pasrah dan menerima. “Baiklah, sekarang dimana barang-barangku Bi?”   “Tadi—seseorang membawanya, pakaianmu beserta seluruh dokumen penting yang kau miliki. Dia bilang dia calon suamimu dan kau harus datang ke alamat ini.” Wanita itu memberikan sebuah kertas, kartu  pengenal.   Thalia menerima kartu nama itu kemudian membacanya, setelah itu ia meremat kuat kertas kecil ditangannya.   Sialan! Darren!   Thalia menggeram lagi, kali ini ia murka. Amarahnya tidak bisa dibendung lagi.   Lelaki b******k sialan! Awas saja Darren! Aku akan menghabisimu!   ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD