Part 4 : Berita Mengejutkan

1408 Words
Hari itu pekerjaan Thalia selesai lebih cepat. Bukan tanpa alasan, ia memang segera menyelesaikannya karena sore ini, sahabatnya –Jhonny meminta bertemu untuk membicarakan tentang adiknya. Kemudian ia juga menjadi sedikit kepikiran tentang Darren yang akan menjemputnya. Itu artinya—ia harus kembali ke tempat kerjanya ini setelah bertemu Jhonny.   “Apakah sudah menemukan titik terangnya Lia?” Tanya Elena disela-sela pekerjaannya.   Thalia menghembuskan nafasnya pelan. “Aku tidak yakin, tapi semoga mendapatkan petunjuk.” Ia memberikan senyumannya. “Jhon belum mengatakan apapun karena dia bilang akan mengatakannya saat bertemu nanti.”   “Thalia.” Elen memandang Thalia dengan sedikit ragu.   “Hm?”   “Jika, kau hamil. Tidak bisakah kau bersama Jhonny saja? Aku pikir dia lebih baik daripada Darren. Lagipula kita belum tau dia lelaki seperti apa Thalia. kalau Jonny, dia jelas sangat menyukaimu.”   Kekehan pelan terdengar dari Thalia. “Jangan mengada-ada Elen, aku tidak pantas untuk lelaki sebaik Jhon, dia berhak memiliki wanita yang lebih baik.”   “Kau juga baik Thalia.”   “Tidak ada wanita baik-baik yang melakukan one night stand sepertiku.”   “Tapi kau—“Elena menghembuskan nafasnya. “Sudahlah aku bosan mengatakannya.”   “Yasudah. Jangan dipikirkan.”   “Tapi Lia, aku serius. Lebih baik Jhonny.”   “Kenapa selalu mengatakan itu Elen sejak makan siang tadi? Bukankah lebih baik memberi kesempatan dulu? maksudku, kita belum tau dia seperti apa, bisa saja dia lebih baik daripada yang kita lihat.”   “Kau bilang lelaki seperti Darren itu b******k. Bahkan lebih dari kata brengsek.”   “Aku—.”   “Thalia aku sebenarnya tidak ingin menunjukkan ini padamu. Tapi tadi, aku melihat kabar ini di social media.”   Thalia menerima ponsel milik sahabatnya itu. Disana ada potret seorang wanita paruh baya. Ia mengeritkan keningnya saat melihat judul artikel itu.   [HOT] Darren Davidson akan Segera Menikah? Begini kata Rossaline   “Itu Rossaline Davidson, Ibu dari Darren Davidson. Baca beritanya Thalia.”   Thalia meneguk ludahnya kasar. Darren akan segera menikah?   Ibu jari Thalia terus menggulir layar saat membaca artikel tersebut. Sampai ia menemukan satu kalimat yang membuat Thalia termenung beberapa saat.   “Darren memang akan segera menikah, aku rasa Darren sudah mempersiapkannya. Aku sebagai orangtua hanya mendukung dan mengikuti keinginan puteraku saja.”   “Aku bahkan sudah akrab dengan calon menantuku.”   Thalia semakin terdiam kala membaca artikel itu. Darren akan segera menikah? Bahkan calon istrinya sudah akrab dengan keluarga Darren? Lalu apa yang dia maksud dengan pertanggung jawaban itu? Apakah dia hanya bermain-main? Karena tidak masuk akal jika pernikahan Darren mendadak, jika calon istrinya saja sudah akrab dengan orangtua Darren.   Atau—ia hanya akan dijadikan simpanan? Selingkuhan?   Brengsek! Darren memang b******k! Sialan.   “Jadi—kau masih mau? Sebaiknya jangan memberi kesempatan daripada kau terluka Thalia.”   Thalia belum memberikan reaksi apapun, bahkan setelah menyerahkan ponsel milik Elena lagi. Ia masih tak habis pikir Darren melakukan hal seperti ini padanya. Ia pikir ia sudah waspada, tapi sepertinya tanpa ia sadari ia terlalu terbawa perasaan akan janji manis itu. Ia terlalu polos, terlalu naïf menanggapi ucapan lelaki b******k seperti Darren.   Sehingga rasanya—ia sedikit terluka.   “Lihat—Jhon sudah sampai, sebaiknya kau bersenang-senang dengan Jhon, jangan pikirkan Darren. Hm?”   Thalia membalas senyuman Elena seraya mengangguk sekilas. Benar, sebaiknya ia tidak memikirkan lelaki itu. Ia harus melupakannya dan membuang jauh-jauh tentang lelaki itu.   “Thalia—.”   Thalia tersenyum saat melihat Jhonny melambaikan tangan padanya. Ia menoleh pada Elena sesaat. “Elen aku pergi sekarang. Sampai jumpa nanti.”   “Inga tapa kataku, have fun ya.”   Thalia mengangguk samar seraya beranjak pergi meninggalkan tempatnya bekerja.   ***   “Jadi Jhon, bagaimana?” tanya Thalia begitu mereka memasuki kendaraan yang dibawa Jhonny.   “Kenapa buru-buru sekali? Kita bisa bicara sambil makan Lia.”   “Aku ingin segera tidur di flat. Aku lelah Jhon.”   Jhonny menghembuskan nafasnya. “Kalau begitu, keliling kota dulu, seperti biasa? Sepertinya kau sedang banyak pikiran Lia. Diam sendiri hanya akan membuatmu semakin pusing.”   Thalia melirik Jhonny sesaat. “Kau tidak sibuk memangnya?”   Jhonny melirik Thalia seraya tersenyum. “Memang, kapan aku sibuk? Kapanpun, aku akan ada untukmu.”   Dengusan dikeluarkan Thalia, tiba-tiba ia merasa muak dengan gombalan murahan seperti itu. Namun ia sadar ia tidak seharusnya marah pada Jhonny. Sehingga ia hanya diam lalu menghembuskan nafasnya lagi. Kemudian pandangannyaterarah pada jalan raya yang mulai ramai.   “Aku mendengar Tania pernah menikah Thalia, tapi aku tidak bisa menemukan identitas suaminya. Karena—semua akses tertutup. Bahkan untuk menemukan nama Tania saja rasanya sangat sulit. Informasi benar-benar tertutup.”   Thalia menghembuskan nafasnya lagi. Sepertinya Tania benar-benar dijual pada seseorang yang kaya raya, sampai identitasnya saja sangat sulit ia cari. Jangankan orang yang membeli Tania, informasi mengenai Tania saja sangat sulit ia dapatkan.   Seperti disengaja untuk menutupi sesuatu. Tapi—apa?   “Thalia—jangan bersedih. Kau tau bukan? Aku tidak akan pernah menyerah.”   Thalia mengangguk. “Aku berharap segera menemukan Tania Jhon, seperti Sabrina –tetangga flatnya—yang akhirnya mengetahui kebenaran tentang kematian orangtuanya.”   Thalia menoleh pada Jhonny saat merasakan sebuah tangan yang cukup besar menggenggam tangannya. “Kau—do’akan saja aku. Aku akan berusaha sekuat tenaga mencarinya. Percayalah.”   Thalia membalas ucapan itu dengan sebuah senyuman. Seperti yang biasa ia lakukan pada lelaki dihadapannya ini.   Mereka benar-benar keliling kota di sore hari. meskipun hanya beberapa saat tetapi Thalia cukup bersyukur, ia memiliki Jhonny yang menemani masa-masa kegundahannya itu.   “Terimakasih untuk hari ini Jhon, padahal mampir, aku akan buatkan makan malam.”   Jhonny mengusak puncak kepala Thalia sesaat. “Lain kali ya, kau sepertinya sangat lelah. Kau harus istirahat. Aku juga akan kembali ke apartemen lalu istirahat.”   Thalia mengangguk. “Jangan lupa makan malam Jhon.”   Jhonny terkekeh pelan. “Siap. Kau juga. Sampai jumpa besok. Aku harap besok kau meluangkan waktu untuk makan malam bersama.”   “Aku usahakan Jhon, terimakasih untuk hari ini.”   “Kembali kasih, bye…” Jhonny menyentuh lengan Thalia sesaat sebelum memasuki kendaraannya lagi.   Thalia memandangi kendaraan itu beberapa saat, ia juga sedikit dapat melihat wajah Jhonny dari spion yang kebetulan jendelanya tidak tertutup. Ia menghela nafas lagi. Jhonny sangat baik, bahkan lebih baik dari yang ia duga. Dulu Jhonny adalah orang pertama yang ia temui di negara asing ini. Dia datang menolong saat dirinya kebingungan untuk mencari tempat singgah. Dia juga yang menolongnya banyak hal. Awalnya Thalia juga sedikit waspada. Namun ternyata Jhonny baik, dia juga mengatakan bahwa ibu-nya merupakan keturunan Asia juga. Sehingga jiwa kekeluargaannya menggugah untuk menolong. Setidaknya itu yang lelaki itu katakan dulu.   Akan tetapi ia tidak menduga kedekatan mereka bisa sejauh ini. Bahkan menjelang empat tahun. Thalia menghela nafas lagi sebelum melangkah memasuki flat. Namun baru satu langkah, tangannya ditarik seseorang, membuat tubuh Thalia sedikit terhuyun lalu berbalik.   Darren--   “Darren—.”   Thalia meneguk ludahnya dengan kasar saat melihat wajah Darren yang memerah menahan marah.   “Kau—membuatku marah Thalia!”   Thalia terdiam, pandangannya masih terfokus pada Darren yang menatapnya dengan pandangan nyalang. Ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan pelan, beberapa kali. Berusaha mengendalikan diri.   Setelah beberapa saat, Thalia terkekeh pelan lalu memandang Darren dengan tatapan lain, jujur saja ia terkejut dengan keberadaan lelaki dihadapannya ini, ia tak menduga sedikitpun Darren akan datang untuk menemuinya seperti ini. Tetapi ia tidak boleh gentar, ia tidak boleh menerima perlakuan semena-mena Darren lagi. Ia harus melawannya.   “Marah saja, aku tidak peduli. Memang siapa kau? Tak ada alasan kau marah padaku.”   Darren menggeram, “Jangan memancingku Thalia.”   “Aku tidak, aku tidak melakukan apapun. Aku berbicara kenyataan. Kau! Bukan siapapun dihidupku Darren. Kau tak berhak menuntut apapun dariku!”   “Aku bilang aku akan bertanggung jawab.”   “Aku rasa aku juga sudah mengatakan padamu kalau kau tidak perlu melakukannya. Toh aku tidak hamil dan meskipun aku hamil aku tak akan mau berurusan denganmu!”   “Jangan membantahku!”   “Aku tidak peduli.”   “Kau tidak tau aku Thalia, jangan macam-macam!”   “Aku tau, kau Tuan Darren Davidson yang terhormat yang sangat tampan dan kekayaannya dimana-mana. Bagianmana yang kau pikir aku tidak tau?”   “Thalia.” geram Darren lagi.   “Apa?! Sebaiknya sekarang kau pergi darihadapanku!” seru Thalia lagi kemudian beranjak pergi. Tidak membiarkan Darren mengejar langkahnya.   Thalia menghembuskan nafasnya pelan. Karena saat ia menoleh kearah Darren ia melihat lelaki itu tengah mengangkat suatu panggilan. Lalu beranjak pergi dari hadapannya.   Lihat kan? Bukannya mengejar dirinya dan meluluhkannya. Dia malah pergi begitu saja.   Apa itu kesungguhan?   Thalia tertawa masam. Memang apa yang kau harapkan Thalia dari lelaki b******k seperti Darren?   ***          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD