BAB TIGA

2698 Words
Keesokan pagi, dimana suara kicauan burung tetangga dapat Ocha dengarkan merdunya perempuan itu sudah tidak bergelung di atas ranjang seperti biasanya. Ocha sengaja pindah kamar di bawah setelah kelakuan Erga yang membuatnya marah. Ocha tidak perlu persetujuan siapa pun untuk menyatakan perang dingin seperti anak pada ayahnya di rumah itu. Dia punya banyak suruhan untuk menjaga serta mengantarnya menuju kampus, mall, supermarket, dan tempat lain-lainnya yang ingin Ocha datangi. Erga bukan satu-satunya orang yang mau mengantarnya ke mana saja. Pikir Ocha, jika Erga suami yang baik dan peduli, pasti akan mencarinya. Erga pasti akan meminta maaf padanya atas sikap semalam yang begitu... asshole! Harus Ocha akui, tidak ada laki-laki di sekitarnya—keluarga—yang berani pulang dalam keadaan mabuk. Semua normal, hidup selayaknya orang umum yang tidak neko-neko. Pertama kali mendapati seseorang mabuk, ya, semalam. Suaminya yang menunjukkan bagaimana perangai orang mabuk yang menyebalkan, tidak sadar apa-apa, persis seperti orang gila. Paling menjijikannya adalah bau mulut Erga yang menyengat dan terus-menerus menghembus ketika laki-laki itu mengaum puas semalam. "Non..." suara salah seorang pembantu mengetuk pintu kamar yang Ocha gunakan. Ocha merasa beruntung karena rumah yang ia dan Erga tempati sangat cocok untuk keluarga yang berniat memiliki banyak anak, jadilah banyak kamar kosong di bawah yang ukurannya sama luas seperti kamar atas. Seprainya saja yang dipasang berwarna beda-beda pada tiap kamar. Tidak seperti kamar hotel yang selalu sama; putih. Di kamar yang Ocha tempati ini bernuansa hijau. Di balik jendela minimalis ada taman kecil yang sengaja diberi pancuran agar ketika malam suasana tenang seperti di alam mampu dirasakan oleh penghuninya. "Non...," panggil pelayan itu lagi. "Kenapa?" jawab Ocha dengan suara serak yang lemas. Iya, Ocha memang selemas itu. Matanya pegal karena mengantuk, tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Tubuhnya memang mudah lemas, kata ayahnya memang turunan dari sang mama yang serb cepat lelah melakukan sesuatu. Ocha lemas sekarang karena semalam Erga seperti bukan dirinya sendiri. Ocha bahkan bisa merasakan miliknya perih, walau tidak sesakit saat melakukan pertama kali. "Tuan Erga menunggu di meja makan, Non." Ocha meletakkan telapak tangannya pada kening hingga menutupi matanya. Dia lelah. Rasanya sakit karena Erga tidak mendatanginya sendiri, Ocha jelas ingin dimanja-manja setelah diperlakukan seperti... p*****r? "Suruh berangkat duluan aja, mbak." Ocha bersuara dari dalam. Suara seraknya sepertinya kurang jelas, hingga membuat pembantu yang Ocha yakini bukan mbak Tarsih itu mengulang lagi, "Apa, Non?" Ocha mendesah napas lelah. Meladeni telinga pembantu itu hanya akan membuat Ocha semakin kesal batin. Segera diputuskannya untuk mengirim pesan pada suaminya agar berangkat lebih dulu. Tidak ada alasan khusus yang Ocha ketik dalam pesan tersebut, dia biarkan Erga berpikir semau hati laki-laki itu. "Non..." "UDAH, SANA PERGI!!!" teriak Ocha pada akhirnya. Dia yang masih sering manja pada ayahnya memang suka berteriak ketika tidak ada yang mau mengerti apa maunya. Dan, ya... kekanakan sekali. Kali ini Ocha tak peduli. Dia ingin meraung menangis sendiri. Dia menyebut ayah dan mamanya, entah rindu atau ingin diperhatikan seperti orangtuanya memperlakukan Ocha. Sebal sekali rasanya jika apa yang kita inginkan tidak dituruti oleh orang yang ingin kita lihat kepekaannya. * Erga tidak mau peduli pada adegan merajuk Ocha. Menurutnya hanya menyia-nyiakan waktu memedulikan adegan 'ngambek' Ocha. Keberangkatannya menuju kantor memang terasa sepi, karena biasanya ada Ocha yang dia antarkan lebih dulu ke kampus. Tak mau banyak berpikir mengenai apa yang akan dilakukan Ocha jika dirinya tak peduli pada perempuan itu.   Erga sudah merasa lelah semalaman, tidak tahu mengapa, tapi badannya memang makin terasa lelah, juga dia tidak ingat jika memiliki kebiasaan menanggalkan baju untuk tertidur. "Pagi, Pak. Dokumen resminya sudah saya taruh di meja bapak." Camelia sudah berdiri di tempatnya dengan manis. Pekerjaannya memang se-profesional itu, tapi lain hal jika menyangkut Rama kalau sahabat Erga itu datang... Camel akan bertingkah alay. "Kapan jam pertemuan saya dan Mr. Benjamin Lee?" Camelia mengecek pada agenda harian milik Erga yang sengaaa dicatat manual, agar Camelia hafal di luar kepala. "Jam pertemuannya bersamaan dengan makan siang, Pak. Mr. Benjamin Lee juga mengatakan, dia akan membawa putrinya karena tidak ada yang bisa dititipkan. Apakah bapak keberatan?" Erga tidak terlalu mempermasalahkan mengenai itu, yang terpenting adalah Mr. Benjamin Lee itu tidak membuat masalah dengan membawa anaknya. "Tidak masalah. Yang terpenting, dia bisa profesional meski membawa anak." Camelia mengangguki tugasnya hanya perlu mengingatkan pada atasannya itu agar tidak lupa dan molor dari jadwal yang ditentukan. Saat masuk ke dalam ruangannya yang cukup besar, Erga membanting pintunya dengan cukup keras. Seseorang yang sudah bertengger di kursi bundar berwarna putih di ruangan Erga, yang memiliki tempat malah melengos seolah tidak pernah melihat sahabatnya itu. "Santai kali, Ga! Kenapa lo marah-marah begitu?" Rama dengan santainya menyeruput teh yang dibuatkan oleh Camelia. Erga membuka kancing jas pas badannya, melepas, lalu membuangnya ke wajah Rama yang langsung memekik dengan u*****n. "Ngapain lo pagi-pagi ke sini? Bisa duduk tenang gitu di ruangan gue... siapa yang ngasih?" Rama membersihkan wajah serta bajunya yang terkena imbas tumpahan teh yang niatnya dia seruput tadi, tapi tidak terlalu banyak. Rama bersyukur karena spontanitas gerakan beladirinya masih terpakai. "Cewek kantor lo lah yang ngasih!" Erga mengambil jurnal kantornya, mencoret-coret entah apa itu yang Rama tak paham. "Cewek siapa? Gue nggak punya cewek," jawab Erga, malas. "Camelia lah! Dia, 'kan cewek kantor lo." Rama mengingat lagi ucapam Erga, "Eh! Lo punya cewek, kok. Itu... si Ocha, 'kan cewek lo." Lalu suara tawa Rama kembali menggema. Erga tidak terpengaruh dengan candaan Rama. Dia biarkan ejekan Rama menjadi terbang bersama debu begitu saja. "Nggak dapet jatah, ya lo?" tebak Rama. Erga menghentikan coretannya, lalu memandang Rama yang malah terlihat seperti pengangguran banyak acara ketimbang pengacara yang memang kesibukannya tingkat tinggi. "Ram, kalo ada perempuan yang lagi ngambek... harusnya diapain?" Rama menaikkan kedua alisnya, lalu beranjak menuju Erga di tempatnya. "Oohhh... jadi Ocha lagi ngambek?" colek Rama ke dagu Erga. "Tumbenan lo peduli sama cewek ngambek, Ga?" Erga mendecak keras, lalu menghempaskan tangan Rama yang sengaja menjahilinya. "Gue nggak peduli kalo aja bapaknya nggak orang kaya, Ram. Masalahnya, gue mau dapetin perusahaan seisi-isinya berarti gue juga harus ngurusin anak manjanya." "Ya, ampun...." Rama berlaga menutup mulutnya, persis perempuan yang sering kaget anggun dengan menutup mulut mereka. "Aku lupa." Erga kembali berdecak keras. "Balik lo sana! Nggak guna." "Yaelah. Kok, malah lo yang ngambek, sih? Nih, gue kasih tau. Cewek baperan kayak bini bocah lo itu, tinggal disayang-sayang, dielus-elus kayak anak anjing juga demen. Pokoknya, abis lo sayang-sayang, elus-elus, langsung lo tidurin, deh... enak!" Erga menerawang, kasih yang gimana supaya langsung luluh, ya? * Pertemuan Erga dan Mr. Benjamin Lee memang termasuk pertemuan yang... rupawan. Erga tidak menyangka jika gadis cilik bernama Bella, anak dari Mr. Benjamin Lee, sungguh mengesankan. Bocah berusia tiga tahun itu mengerti kesibukan ayahnya dan tidak rewel sama sekali. Erga sampai terpukau melihatnya. Justru, yang bisa dikatakan tidak profesional adalah Erga, karena lebih tertarik melihat Bella yang asik dengan buku gambarnya tanpa menimbulkan masalah berarti. Usai pembicaraan panjang resmi keduanya, Bella mendongak kepada Ben. "Papa, ice cream." "Oh, yeah. I'm forget, Bebe. Wait a minute, papa need to talk with my colleage." Lagi-lagi, Erga dibuat terperangah dengan ketenangan Bella. Anak itu tidak memprotes sama sekali dengan kesibukan ayahnya. "Apa dia selalu setenang itu?" tanya Erga pada Ben. "Ya. Dia selalu setenang ini. Semenjak ulang tahun pertamanya, ketika mendapat hadiah berupa surat dari mamanya, Bella selalu menjadi anak yang pintar." "Surat?" tanya Erga. Ben tersenyum, mengangguk. "Istri saya sudah meninggal, tapi sudah menyiapkan hadiah setiap tahunnya untuk putri kami." Erga merasa tidak enak hati membicarakan itu. "Saya turut berduka. Maaf, membahasnya." Ben tersenyum. Erga berpikir, mungkin efek ditinggal istrinya Ben bisa setenang itu juga. "Saya merasa lebih senang karena ada yang mau membahasnya. Karena kalau saya tidak membahasnya, saya takut akan melupakannya." Erga memahami itu. Dia membatin dalam hatinya, itu semua karena Ben dan istrinya saling mencintai. "Anda sudah menikah, Mr. Pratama?" "Oh. Sudah. Istri saya masih kuliah," jawab Erga lalu tertawa singkat. Ben ikut tertawa senang. "Jangan sia-siakan kalau begitu. Karena kalau sudah kehilangan, akan baru terasa berharganya." Lalu Ben menurunkan putrinya dari kursi restoran. "Saya permisi, Mr. Pratama. Mungkin, lain kali kita bisa berbagi cerita dengan kesempatan yang lebih luas lagi." "Iya, Mr. Lee. Terima kasih untuk hari ini." Erga memerhatikan interaksi ayah dan anak itu. Dia jadi teringat Ocha. Teringat akan dua hal. Pertama, sikap anak yang sudah ditinggalkan ibu mereka sedari kecil. Kedua, karena Ocha adalah istri yang sempat disinggung oleh Ben. Erga langsung menggeleng keras. Dia menolak pemikiran bahwa Ocha berharga dalam hidupnya, jelas kalau Ocha hanya pengganggu dan perusak dalam hidup Erga. * Saat pulang, Erga tidak disambut oleh Ocha seperti biasa. Dia kira Ocha ada di kamar bawah yang digunakan perempuan itu untuk melancarkan aksi merajuknya pada Erga. Melangkah santai saja menuju kamar atas, Erga segera membersihkan diri. Aroma Ocha langsung menyeruak masuk ke hidungnya, lalu ke rongga pernapasannya. Erga dapat menebak kalau istrinya itu sempat membersihkan diri di kamar mereka. Setelah selesai dengan agenda mandi, Erga menuruni tangga dan mendapati meja makan sudah terisi penuh makanan. Terlihat belum ada yang menyentuh. "Tarsih!" panggil Erga. "Ya, Tuan?" "Istri saya belum makan?" Tarsih memandang bingung pada Erga. "Bukannya non Ocha sudah bilang sama tuan, ya?" Giliran Erga yang memandang bingung pada Tarsih. "Bilang apa?" "Tadi pagi, sebelum non Ocha berangkat ke kampus bilangnya udah izin sama tuan buat nginep di rumah temennya. Kata non Ocha juga, tuan sudah mengizinkan. Begitu." Erga mendadak saja merasakan amarah yang besar sedang merayapi dirinya. "Istri saya nggak pulang?" Tarsih ingin tertawa, tapi ditahan. "Ya, iya, Tuan. Namanya nginep, ya nggak pulang ke sini." Erga kesal. Dia juga bisa marah jika Ocha tidak mau mengalah, dan justru seenaknya sendiri menginap tanpa izinnya. Belum lagi, Ocha sudah berani berbohong pada pembantu rumah mereka. Erga jelas merasa tidak dihargai sebagai suami. Sudah jelas. Erga marah. * Ocha tidak tahu kalau suaminya akan mau bersusah payah datang ke rumah ayahnya dalam keadaan yang... menyeramkan. Ocha sungguh takut melihat suaminya yang sudah memasang wajah dingin, dengan rahang mengeras. "Erga... " Ocha bingung ingin mengatakan apa. Dia benar-benar tidak menyangka jika Erga tahu keberadaannya. "Mana ayah kamu?" Erga tidak mau berlama-lama beradegan drama dengan Ocha di kediaman Gagah. Erga bersumpah akan menyelesaikannya malam ini, di rumahnya sendiri. "Ga—" Erga tidak mendengarkan ucapan Ocha, dia sedikit mendorong perempuan itu agar kesempatannya masuk ke dalam rumah Gagah menjadi lebih lebar. "Jangan bikin keributan di rumah ayah aku, Erga!" sergah Ocha agak membentak lelaki itu. Erga menunjuk wajah Ocha dengan emosi yang tertahan. Tak lama, turunlah Gagah yang merasa terganggu. "Oh. Hai, menantu!" sapa Gagah dengan gaya slengek'an-nya. Gagah memang contoh mertua yang unik. Meski orang kaya, gaya berpakaiannya sangat sederhana dan terkesan seperti orang susah. Belum lagi sikap suka bercandanya itu... Erga kesal sekali. "Pak Gagah. Saya ingin menagih janji pada Anda." Gagah dengan santainya menyuruh Ocha pergi ke kamarnya. Berbicara mengenai perjanjian memang tidak benar jika dihadapan Ocha. "Santai dulu lah, Erga. Ayo, kita ke gazebo belakang. Pasti lebih tenang." "Pak Gagah!" Erga yang dasarnya memang nyolot sedari lahir, tidak Gagah gubris kelakuan agak kerasnya. "Duduk!" ucap Gagah. Erga ingin segera menyelesaikan ini. "Pak Gagah. Saya tidak suka kalau Anda selalu bersikap tidak tegas pada Ocha. Dia jelas salah, memiliki masalah dengan suaminya, tapi malah berbohong seperti ini. Anda terlalu melindunginya, Pak! Itu jelas membuat rumah tangga kami tidak sehat." Erga langsung meluapkan protesnya. "Saya paham, Erga. Saya paham. Tapi kali ini, Ocha tidak bermaksud membohongi kamu. Dia memang berniat menginap di rumah temannya, tapi saya melarang. Lebih baik dia di sini, daripada di rumah temannya yang tidak jelas. Saya lebih khawatir dengan itu." "Apa pun alasannya! Anda masih memanjakannya, padahal Ocha harus belajar lebih dewasa menyikapi permasalahan, Pak!" Erga tidak mau mendengarkan alasan ayah Ocha lagi. Baginya, akan sama saja versi pendek mau pun panjang, akan sama-sama membela Ocha. Gagah yang ditinggalkan sendiri, hanya dapat mengelus d**a, sabar. Dia tidak bisa merubah sikap orang lain seperti apa yang dia mau, itu sebabnya, dia biarkan Erga berperilaku kurang sopan padanya. Lagi pula, Gagah paham dengan amarah menantunya itu. * "Sakiiittt...," rintih Ocha. "Sakit? Ini akibatnya kalo kamu nggak mau nurut sama suami kamu sendiri!" desis Erga yang sengaja mengikat pergelangan tangan Ocha di kepala ranjang mereka. "Berhenti... lepasin talinya..." Ocha memohon pada Erga yang hanya melihatnya dari dekat. "Oceana, dengar. Kalo kamu mau bebas lebib baik kita ce—" "NGGAAAK MAUUU...!" Sudah sejak satu setengah jam yang lalu Erga sengaja mengikat Ocha seperti itu di atas ranjang. Bukannya Erga memiliki perilaku menyimpang, dia hanya ingin memperlihatkan pada Ocha kalau dia— "Erga... ini... sakit...." Erga melihat wajah lemas istrinya. Sudah tidak ada rona kemerahan di sana, wajah Ocha memucat pasi. Seiring ucapannya yang semakin lemas, Ocha memejamkan matanya. Erga memang tidak membentak-bentak pada Ocha, tapi ucapan sinis yang selalu dilontarkannya tenti saja mampu membuat Ocha mencicit takut. Erga mengusap keringat di dahi hingga turun ke bagian wajah yang lain istrinya. Tapi bukannya membaik, Ocha malah semakin banyak berkeringat. "Ocha? Oceana?" panggil Erga. Tidak ada jawaban. "Ocha jangan bercanda!" sergah Erga mulai panik. Segera saja Erga membuka belitan tali di pergelangan tangan Ocha, melihat bekasnya yang sangat memerah, dan Erga yakin besok akan membiru. Sempat terlintas di benak Erga, Salahnya sendiri nggak bisa diem, jadi lecet, 'kan. Tapi sisi manusianya berkeinginan lain. "Plis... jangan bikin gue takut, Oceana." * Tujuan Erga membawa pulang dan mengikat Ocha adalah untuk membuat perempuan itu jera. Erga ingin, Ocha tidak berani berkutik apa-apa padanya. Karena itu, membuat sakit Ocha secara fisik serta membuat mental Ocha tertekan dengan mengancam Ocha untuk bercerai saja pasti akan sangat berpengaruh. Cara yang Erga terapkan ini dia pilih karena mengingat sikap Ocha yang masih seperti anak-anak. Terbukti ampuh! Saking ampuhnya sampai Ocha drop dan pingsan karena perbuatan Erga. Mendatangkan dokter pribadi malam-malam, sudah tentu Erga mendapat pandangan aneh dari si dokter. "Dijaga, ya, Pak kondisi istrinya. Dari segi fisik memang sepertinya nyonya Pratama terhitung lemah...." Erga malas mendengarkan lebih jauh ucapan si dokter. Intinya, memang cengeng dan lemah. Meski pun malas untuk berbicara dengan si dokter, Erga tetap meladeni secukupnya. Setelah selesai, Erga hanya menunggui Ocha hingga sadar. Dia ingin melihat, seperti apa dampak dari perbuatannya tadi. Namun, bukannya bertahan menunggui istrinya sampai bangun Erga malah ikut tertidur. Samar-samar adzan subuh terdengar, Erga ingat jika dia tidak sedang dalam keadaan santai untuk tidur lelap. Lalu dia menajamkan telinga, suara tangisan pelan membuat Erga sadar sepenuhnya dari bangun tidur mengumpulkan nyawanya. Posisi Ocha ternyata sudah membelakangi Erga. Punggung perempuan itu bergetar, Ocha jelas tidak akan berhenti menangis jika tidak didiamkan. Betah sekali jika meraung sendirian seperti itu. Erga berinisiatif memeluk tubuh Ocha dari belakang, membenamkan diri di ceruk leher istrinya itu. Memang sejenak terasa, kalau Ocha agak menegang mendapat pelukan tersebut, tapi tidak ada penolakan. "Maaf," ucap Erga. "Aku terlalu marah sama kamu, makanya aku sampe nekat iket tangan kamu. Aku beneran marah, Cha. Kamu lari dari masalah, nggak ngomong apa-apa sama aku, bohong sama pembantu, dan parahnya lagi kamu bohong berkali-kali. Kamu bilang nginep di rumah temen kamu, tapi ternyata kamu di rumah ayah kamu..." Erga menghela napas. "Aku, tuh cemas sama kamu. Aku juga ngerasa nggak kamu hargai sebagai suami. Aku kira, kamu adalah istri yang penurut, nggak suka bohong-" "Maafin akuuu... huhuhu. Maafin aku... beneran... aku nggak... bermaksud... bohong... sama... kamu... huhuhu," ucap Ocha yang sudah membalikkan badan dan berganti memeluk tubuh Erga dengan kuat. Erga mengelus rambut Ocha, memberi kecupan-kecupan hangat di pucuk kepala perempuan itu. Sungguh, keduanya sudah seperti pasangan yang bahagia. Bahkan, Erga tidak terlihat seperti pura-pura, semuanya terlihat... dari hati. "Aku nggak suka kamu bertingkah kayak gitu," ujar Erga. "Nggak lagi... janji!" Ocha menggelengkan kepala dalam dekapan suaminya. Entah mengapa Erga lega mendengarnya. Sebenarnya, Erga tidak mengerti untuk apa menyiksa Ocha sampai perempuan itu harus sekali tunduk dan menurut padanya. Yang ada dipikiran Erga, upaya itu ia lakukan agar nanti ketika surat cerai Erga layangkan pada Ocha, perempuan itu tidak akan membangkang. Tapi jelas sekali kalau Erga merasa takut akan Ocha yang berani, dia tidak suka Ocha yang dapat berdiri tegar saat semuanya akan Erga akhiri, dia ingin Ocha lemah terus... dan bergantung padanya. "Nurut sama aku. Bisa?" ucap Erga. Ocha mengangguk atas ucapan suaminya. "Jangan bandel lagi. Kalau kamu mau rumah tangga kita bertahan, kamu harus membuat aku mau mempertahankan kamu." Erga merasakan tangan Ocha mengerat pada punggungnya. Perempuan itu takut Erga tinggalkan, dan tanpa sadar, Erga tersenyum karena Ocha yang memasrahkan diri padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD