Erga yang menjemput Ocha adalah suatu yang luar biasa. Bahkan orangtuanya saja sudah tidak pernah lagi ia jemput kalau datang ke Jakarta. Ini, Ocha... yang selalu dimanja dengan segala fasilitasnya. Erga bela-bela untuk dijemput.
Dari jarak yang agak jauh, Erga bisa menangkap sunggingan senyum penuh makna dari bibir Ocha. Anak ABG yang baru mau masuk kuliah setelah dinikahkan. Erga langsung memutar bola mata, kesal. Memikirkan tingkah Ocha yang ternyata memprovokatif ayah perempuan itu sendiri untuk menikahkan mereka berdua.
Semakin dekat jarak Ocha dengan mobil, Erga semakin kesal melihat wajah sumringah Ocha. Dipikirannya, jika masih ingin bertahan dan merasakan kesenangan bersama Ocha, dia harus bermain aman. Ocha tidak boleh hamil, selama rencana Erga belum mencapai hasil.
"Kak... maaf, ya lama." Ocha membuka pintu depan mobil, duduk di sana, sembari memberi tatapan bersalah pada suaminya.
Erga mengulurkan tangannya, mengelus rambut Ocha. Sebelum membalas, Erga sengaja mengecup puncak kepala perempuan itu lebih dulu.
"Nggak masalah. Saya tau kamu pasti sibuk nyari temen, kok."
Ocha tersenyum lebar. Dia bahagia karena memiliki suami yang serba mau mengerti seperti Erga.
"Makasih, Kak."
Erga membalasnya dengan menarik dagu Ocha, lalu menandaskan kecupan hangat pada bibir istrinya. Tidak ada penolakan dari Ocha, kesempatan itu digunakan Erga untuk memperdalam gerakan bibirnya.
Rasa manis yang dicecap Erga ternyata berdampak pada gairah kelakiannya yang tersulut. Dengan sisi kesadaran yang ada, Erga melepaskan diri, dan menatap Ocha yang masih terpejam menikmati sisa ciuman sang suami.
Ketika mata Ocha terbuka, wajah keduanya masih begitu dekat. Semburat merah di pipi Ocha bertambah karena ditatap intens oleh Erga.
Erga sontak saja tertawa lebar karena lagi-lagi melihat Ocha yang menunduk malu.
"Jadi... kita mau pergi ke mana, Kak?"
Erga seolah baru tersadarkan. Lelaki itu menyentuh dagunya sendiri, menggerakkan tangannya seperti laki-laki yang pemikir ulung.
"Hmm... saya punya rencana buat kita berdua, Ocha."
Ocha merengut tak mengerti. "Rencana apa, Kak?"
"Menunda kehamilan," jawab Erga mengejutkan.
Ocha sebagai perempuan yang baru mengalami fase kasmaran, tentu saja kaget mendengar rencana suaminya itu. Berpikir negatif, bahwa Erga tidak sudi memiliki anak darinya.
"Hei..." Erga menyentuh tangan Ocha yang terasa dingin dan berkeringat. "Jangan mikir yang aneh-aneh, Ocha. Saya mau kita menunda kehamilan supaya kuliah kamu lancar. Kalo kamu bisa lulus lebih cepat tanpa cuti hamil, 'kan kita juga bisa lebih cepat merencanakan memiliki keturunan." Erga mengelus-elus kepala Ocha untuk menambah ketenangan pada perempuan itu.
"Lagian, Ocha. Kamu masih sangat muda. Saya takut, kalo kamu hamil terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kamu paham?"
Ocha terdiam sejenak. Memikirkan segala alasan masuk akal dari suaminya. Meski sebenarnya Ocha begitu menginginkan anak yang ia kandung, buah cinta antara dirinya dan Erga, dan juga dengan begitu Ocha merasa anak bisa mempererat hubungan rumah tangga mereka.
"Tapi..."
"Kenapa? Kamu nggak setuju, ya, sama rencana saya?"
Ocha langsung menggeleng. Dia tidak mau membuat Erga berpikir bahwa dia istri yang pembangkang, Ocha jelas tidak mau ditinggalkan oleh Erga karena alasan itu.
"Nggak. Nggak, kok. Aku setuju sama rencana kak Erga. Aku cuma mikir, semalam, 'kan kita udah ngelakuin. Apa... nggak ada kemungkinan aku hamil?"
Erga tertawa renyah. Hidup dengan gadis polos seperti Ocha, lama-lama dia bisa mati kisut.
"Ya, nggak lah, Ochaaa...." Erga mencubit gemas pipi istrinya. "Kita cuma ngelakuin sekali, terus, nanti kita bakalan langsung konsultasi buat nunda hamil ke dokter. Tenang aja, kami nggak akan hamil dalam wakti semalam, kok."
Lagian, saya nggak bisa percaya sama kamu kalo jadi ibu anak-anak saya.
*
Setelah sesi konsultasi dengan dokter, Ocha masih merasa kurang nyaman dengan keadaan yang mengharuskannya menunda kehadiran bayi dalam rumah tangganya. Sungguh, tujuan Ocha menikah muda adalah untuk memberikan cucu pada ayahnya. Ocha tidak mau kesepian jika menikah, karena sudah cukup hidup sebagai anak tunggal tanpa kasih sayang sari seorang ibu.
Ocha ingin, semakin muda usia dia menikah, semakin banyak anak yang dia lahirkan. Rumahnya akan ramai dengan teriakan, langkah kaki, tangisan, suara tawa, dan masih banyak lainnya. Ocha tidak mau anak-anaknya merasa kesepian karena tidak memiliki saudara.
"Ocha?" panggil Erga.
"I ... iya, Kak?"
"Kamu nggak fokus dengerin saya, ya, dari tadi?"
Tebakan Erga yang benar sudah pasti membuat Ocha merasa bersalah. Ocha tidak pernah diajarkan oleh ayahnya untuk mengabaikan orang lain, dia harus menghargai orang lain seperti menghargai dirinya sendiri. Dan kini, Ocha mengabaikan suaminya sendiri ketika sedang bicara. Ocha bodoh! Makinya sendiri pada diri sendiri.
"Uhm... maafin aku, Kak. Beneran, deh, aku nggak bermaksud gitu. Aku cuma ngelamun —"
Erga menghentikan racauan istrinya dengan mengecup bibir Ocha saat mereka masih ada di area rumah sakit. Ocha membelalak kaget dengan kecupan kejutan itu.
"Kak..."
"Santai aja, Cha. Kamu nggak akan dihukum penjara hanya karena nggak mendengarkan saya, kok." Gema tawa Erga membuat Ocha terperangah.
Ketampanan Erga adalah salah satu alasan kenapa Ocha menyukai Erga dan menceritakan hal itu pada ayahnya. Sungguh, Ocha tidak perlu memohon-mohon pada ayahnya hanya untuk dinikahkan dengan Erga. Sebab, saat Ocha mengatakan 'Aku mau kuliah asal kakak ganteng itu ada disampingku," semuanya terjadi dalam sekejap seperti mimpi.
Ocha bahagia, tentu. Apalagi Erga yang memang memiliki sifat baik, membuat Ocha semakin nyaman hidup bersama lelaki itu. Walau, ketika dipikirkan kembali, Ocha sudah seperti keponakan Erga. Ocha lebih pantas memanggil Erga 'Oom' ketimbang 'Kak'.
"Beneran... nggak apa-apa?" tanya Ocha, takut.
"Iya, Oceana." Erga kembali gemas dan mencubit pipi Ocha.
*
"Non mau saya buatkan s**u stroberi hangat seperti biasa?" tanya mbak Tarsih pada Ocha yang baru pulang bersama Erga.
Erga sendiri sudah memilih lebih dulu membersihkan diri di kamar. Suami Ocha itu tidak suka bolak balik ke dapur untuk meminta ini-itu ke pembantu. Jadilah, Ocha yang lebih sering datang ke dapur menyuruh pembantu membuat apa saja kebutuhan Erga. Tanpa sepengetahuan Erga, Ocha belajar memasak dengan giat. Ocha tidak mau menyediakan makanan yang tidak enak rasanya, itu sebabnya semenjak dua bulan lalu, Ocha selalu meminta pendapat mbak Tarsih lebih dulu mengenai makanan yang dia buat untuk Erga. Dan betapa bahagianya Ocha karena selalu mendapati masakannya telah dihabiskan oleh sang suami.
"Aku bikin sendiri aja, mbak. Terus, tolongin kasih cokelat hangatnya ke suami saya, ya, Mbak."
Mbak Tarsih memandang miris pada majikannya itu. Tarsih yang tahu sikap kurangajar suami majikannya itu, tidak bisa membayangkan, bagaimana ekspresi Ocha jika tahu apa pun yang dibuatkan perempuan itu akan selalu dibuang oleh Erga.
Kerja keras yang dengan mudahnya dibuang percuma. Untungnya, Tarsih tidak bodoh dengan membuang makanan serta minuman itu begitu saja. Tarsih akan memberikannya pada tukang sapu di depan komplek, satpam komplek, atau pemulung yang memang terlihat lebih menghargai masakan majikannya.
"Kenapa nggak nona kasih sendiri?" Tarsih dengan hati-hati bertanya.
Ocha mengerut mundur, lalu gelengan cepat ia keluarkan. "Nggak mau, ah, Mbak. Biarin aja suami saya taunya itu buatan mbak."
"Kenapa, sih, non?" desak Tarsih.
Ocha mengekeh dan dengan bangga menampilkan deretan giginya. "Biar suami saya senang, mbak. Dia lebih perhatian sama sikal saya yang kayak anak kecil, hehe. Saya nggak mau keliatan dewasa pokoknya. Biar digemesin terus sama suami saya, mbak."
Tarsih hanya mampu menggelengkan kepala, "Ya ampun, non... non...."
Dan Ocha semakin melebarkan senyumnya.
*
Erga menarik lengan istrinya untuk duduk di atas pangkuannya, ketika beberapa hari ini kedekatan mereka lebih terjalin. Kemarin, tidak sengaja saja Erga mendengar selentingan kabar dari beberapa orang suruhannya untuk menjaga Ocha. Akan lebih baik menjaga lebih dulu, ketimbang mendapat masalah dari Gagah(ayah Ocha) ketika tahu putri manjanya kurang diawasi, seolah Erga tak peduli.
"Kenapa, Kak?"
"Nggak kenapa-napa, Dek. Kakak cuma mau mesra-mesraan sama kamu. Nggak boleh?"
Ocha mengernyit. Mendadak tak suka dipanggil seperti itu oleh suaminya.
"Kok manggil aku adek, sih?!" sungut Ocha.
Erga mengecup hidung mungil Ocha, lalu m******t tipis bibir istrinya itu. Meski agak terkejut, tapi Ocha sudah mulai terbiasa diajak bermesraan seperti itu oleh Erga.
"Lagian, saya bosen denger kamu manggil saya kakak, kakak, kakak, melulu!" balas Erga.
Dengan pipi merona malu, Ocha terkekeh menampilkan gigi rapinya. "Hehe... abisnya... kak Erga lebih..." Ocha menggigit bibir bawahnya ragu melanjutkan kalimat selanjutnya.
"Tua!" sergah Erga lebih dulu.
Ocha mengalihkan tatapannya ke arah lain, supaya tidak langsung bersitatap dengan manik suaminya. Erga yang tahu hal itu, dengan gemas menarik dagu Ocha dan membuat mata mereka saling bertemu.
"Kamu nggak pernah diajarin sama ayah kamu buat natap mata lawan bicara kamu, Cha?" ucap Erga dengan suara rendahnya.
Ocha cukup merasa terintimidasi dengan itu. Erga memang sulit dipahami, terkadang. Sebab satu pembahasan belum usai, lelaki itu sudah bisa merambat ke topik lain.
"Ayah pernah bilang, kok. Tapi aku nggak berani, Kak. Kadang, mata orang yang aku ajak ngomong sereeeemmm ... hmpptt."
Ocha kembali terkejut karena Erga menggigit bibirnya. Meski begitu, Ocha malah senang dan menikmatinya. Sesi intim seperti ini membuat Ocha merasa sangat diinginkan oleh Erga.
"Berhenti memanggil saya 'Kak Erga'. Saya suami kamu, Ocha."
Ocha menyentuh bibirnya pelan dengan jemarinya. Menyanggah hati-hati titah suaminya. "Tapi kak Erga juga nggak boleh sebut diri sendiri saya, ya?"
Erga melongo. Dia merasa Ocha sudah bisa bernegosiasi.
"Good. Kamu berhenti panggil saya kak, dan saya—eh aku berhenti pakai 'saya' lagi. Deal?"
Ocha menggangguk setuju dengan tawaran suaminya.
Lalu, suasana di dalam kamar mereka hanya diisi dengan keheningan. Mereka bisa mendengar deru napas satu sama lain.
Erga mulai menyentuh helai rambut Ocha yang hanya sebahu dan selalu tergerai itu. Tidak ada jepit di ujung poni sebelah kiri rambutnya seperti saat berangkat kuliah, tidak ada riasan wajah yang menjamah wajah kenyalnya, tidak ada pakaian rapi serba panjang yang dipakai Ocha seperti melakukan aktivitas luar rumah. Erga menekan tengkuk Ocha agar lebih menunduk dan bibir mereka saling bertemu, tapi bukan Erga namanya jika tidak menggoda-goda istri kecilnya.
Untuk kedua kalinya, Erga dapat memastikan dirinya mendapat jatah dari istrinya yang masih ragu-ragu melakukannya lagi. Tapi bukan Erga jika tidak bisa membuat Ocha merasa tenang dan percaya, bahwa pengalaman yang kedua tidak akan sesakit yang pertama, Erga cocok sekali menjadi guru handal bagi Ocha. Mengajarkan Ocha mengenai kesukaan laki-laki—m***m—dan keengganannya ketika ditolak.
Ocha tidak pernah berani membangkang pada Erga, sudah pasti satu taktik itu Erga jadikan s*****a.
"Ga... sebentar— AKH!!" pekik Ocha masih merasa sakit.
"Ssttt... jangan ditahan... jangan ditahan. Rileks, Oceana. Rileks."
Erga dengan jantan menunggu kesiapan Ocha untuk kembali bergerak di atas tubuh istrinya, dia tidak mai mendengar tangisan memekakan telinga semalaman. Jadi, perlahan-lahan dengan cara profesionalnya, Erga mendapatkan apa yang dia inginkan.
*
Pagi-pagi sekali Erga sudah rapi dengan rambut yang sudah dikeramas bersih. Lelaki itu tidak pernah lupa melaksanakan ibadahnya meski sadar bukan manusia yang sempurna. Lebih tidak sempurnanya karena belum mau beribadah bersama sang istri.
Kadang, Erga menerka-nerka, apakah dosa jika dia menyisihkan bagian di mana menganggap istrinya bukan rezeki yang dia mau. Erga memang tidak menutup diri untuk memberikan hak Ocha menjadi istrinya, dengan menyentuh perempuan itu. Namun, masih banyak hal yang selalu Erga umpati karena Ocha yang berada disisinya, bukan wanita yang dia mau.
"Ga? Kamu mau ke mana?"
Erga menampilkan senyuman maut miliknya di pagi hari, untuk sang istri.
"Aku mau berangkat dinas, Cha. Maaf, ya baru sempet kasih tau sekarang."
Erga mendekati Ocha yang masih belum berpakaian sama sekali di atas ranjang, hanya selimut tipis membalut tubuh Ocha yang... lumayan berisi dibagian yang tepat menurut Erga.
"Jam berapa sekarang, Ga?" tanya Ocha seraya mengucek mata.
"Masih jam 05.20, kamu mau shalat?"
Ocha mengangguk. Erga membatin dalam hati, kebiasaan susah bangun dari tempat tidur Ocha persis layaknya anak kecil. Jika Erga tidak sengaja kelebihan tenaga, dia akan menggendong tubuh Ocha yang bau sisa percintaan mereka. Tidak untuk kali ini, Erga sedang malas menggendong Ocha karena dia sudah rapu dan ingin cepat berangkat ke Bali.
"Sana, bersih-bersih! Kamu bauk!" Erga membuat gerakan menutup hidung seolah bau tubuh Ocha begitu menyengat.
"Ihhh, beneran?!" panik Ocha.
"Hm!" angguk Erga sangat meyakinkan.
Dan lagi-lagi tingkah Ocha seperti bocah yang akan terlambat sekolah jika tidak dibangunkan oleh sang mama. Perempuan itu bahkan sempat tersungkur karena kecerobohannya sendiri menginjak ujung kain yang dipakai menutup tubuhnya, lalu bangun lagi dengan rambut berantakan, dan masih sempat menampilkan gigi memberi kekehan tak berguna menurut Erga.
Saat punggung Ocha sudah hilang sepenuhnya dari balik pintu kamar mandi, Erga meluruskan garis bibirnya kembali, lalu berkata, "Dasar bocah!"
*
Apa yang ada dipikiran masing-masing orang ketika mengetahui seseorang memutuskan menikah muda?
Pertanyaan itu sama berartinya untuk Ocha ketahui jawabannya, sebab, sekarang dia merasakan mala rindu pada suaminya yang sedang bekerja di Bali. Erga belum menghubungi Ocha sama sekali selama keberangkatan laki-laki itu hingga malam menjelang.
Ocha bukan tipe perempuan yang pandai bergaul. Dia terlalu takut terlalu dekat dengan seseorang dan alasannya adalah berteman. Terakhir kali di masa sekolah dia memiliki teman dekat, dia malah tersakiti karena ditipu habis-habisan. Pertama, uangnya dihabiskan untuk mentraktir gank dari temannya itu. Kedua, laki-laki yang sebelumnya mendekati Ocha langsung berpaling setelah dihasut temannya itu dan berujung malah mendekati teman Ocha.
Ocha sungguh malas membahas masa lalu. Maka dari itu, dia memutuskan untuk menikah muda agar tidak ada yang bisa menggaet suaminya dengan mudah. Namanya menikah, bukan komitmen yang mudah dimainkan dengan ditinggal pergi begitu saja.
Sekarang, Ocha bahagia menemukan cintanya. Suaminya.
"Halo, Oceana?" sahut suara itu.
"Erga?" ucap Ocha, bingung. "Ini suara Erga, 'kan?"
Lalu tawa suaminya menggema indah mengaluni pendengaran Ocha.
"Iya, Darling. Ini aku. Memangnya kamu pikir suara siapa?"
Andaikan saja Erga ada di sana, sudah pasti wajah Ocha lebih merah dari ini.
"Kok... nggak ngabarin?" tanya Ocha.
"Oh? Kamu mau dikabarin? Tadi pagi kamu nggak bilang, kok."
"Hehe. Iya, sih."
Kan! Bodohnya Ocha karena malah ikut membenarkan ucapan Erga.
"Uhm... yaudah, deh. Yang penting aku tau kamu udah sampe. Selamat istirahat, ya."
"Ya."
Menelepon berkali-kali, yang dia dapat hanya percakapan yang tidak lebih dari satu menit. Hebat sekali. Lebih hebatnya, Ocha sudah mampu tersenyum senang hanya dengan beberapa detik saja mendengar suara Erga. Sebab, Ocha merasa sangat dekat dengan Erga hanya mendengar suara suaminya itu.
*
"Tuan Erga belum pulang, Non?" tanya Mbak Tarsih.
Ocha dengan senyuman merekahnya menjawab, "Katanya pulang hari ini, mbak. Makanya saya mau bikinin makanan."
Mbak Tarsih mulai cemas, cara ala lagi yang akan dilakukan suami Ocha jika dibuatkan masakan oleh istrinya, sedangkan selama ini, yang ada selalu dibuang.
"Bilangnya saya aja, Non yang masak."
"Hm? Kenapa emangnya, mbak?"
Tarsih mencari alasan yang tepat. Melihat semangat Ocha memang tidaklah mudah untuk membohongi perempuan itu agar makanan yang sering dibuatkan oleh Ocha hanya akan berakhir dibuang... tapi...
"Supaya non bisa tau, tuan Erga kalo ditanya gimana rasanya, dia jawab jujur, Non. Kalo bilangnya itu masakan saya, 'kan tuan nggak bakal bohong."
Ocha yang pada dasarnya masih belajar mendewasakan diri tanpa disadari sekitarnya, berpikir bahwa saran dari mbak Tarsih adalah benar adanya. Jika dia melakukan skenario semacam itu, Ocha akan tahu pendapat suaminya tentang masakan yang—sebenarnya ia—Tarsih buat.
Ocha langsung melebarkan senyumannya. Memberikan persetujuan pada mbak Tarsih bahwa dia mau melakukannya untuk mengetahui pendapat suaminya.
"Mbak Tarsih nanti cobain, ya. Saya masih takut nanti rasanya buruk banget, kasian suami saya nanti, dia baru pulang tapi udah cobain makanan nggak layak—"
"Masakan non enak tauk!" sahut Tarsih memotong ucapan pesimis Ocha.
"Kok mbak tau?" tanya Ocha begitu saja.
Namanya sikap masih polos, Ocha tidak sadar jika yang selama ini mencoba makanannya bukan sang suami, melainkan teman-teman kerja mbak Tarsih.
"Oh, itu... non..."
Ocha melirik sekilas, seraya mengambil bawang bombay di sebelah mbak Tarsih.
"Kenapa?" tanya Ocha tanpa berpikir macam-macam.
"Ya, itu... non, 'kan sering nyuruh saya nyobain masakan non duluan!" jawab mbak Tarsih yakin.
Ocha terkekeh, "Iya, ya? Saya sampe lupa, mbak."
Kelebihan sifat Ocha yang lainnya, adalah seperti ini. Terlalu percaya pada orang lain. Walau mbak Tarsih memang berniat baik menyembunyikan kenyataan pahit, tapi jelas, suatu saat fakta ini hanya akan menyakiti Ocha.
*
Wajah lelah Erga menjadi pemandangan pertama yang Ocha dapat. Membukakan pintu untuk suaminya yang ternyata pulang lebih larut dari perkiraan, membuat Ocha agak kecewa sebenarnya. Makanan yang sudah ia siapkan, harus dipanaskan lagi jika Erga mau mengisk perutnya ditengah malam begini.
"Kamu belum tidur?" tanya Erga setelah menyempatkan diri mengecup pucuk kepala Ocha.
Ocha dengan sigap mengambil tas suaminya, menerima segala perintilan yang sebelumnya Erga pakai.
"Belum. Ada uts besok, sekalian nungguin kamu."
Ocha tidak pernah tahu kalau tubuh suaminya bisa selemas malam ini. Erga begitu lunglai saat berjalan, jadi Ocha memutuskan untuk membantu memapahnya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ocha.
Dipandangi wajah suaminya yang memerah. Ocha mencium aroma lain dari mulut suaminya, tapi dia tidak tahu apa. Yang pasti, aroma itu begitu menyengat.
"Erga... kamu bau..." Ocha menggantung kalimatnya.
Erga menggerakan matanya yang agak berat, membalas tatapan Ocha yang terlihat penasaran.
"Oh... tadi sempet minum. Relasi bisnis, kok. Aku nggak pernah macem-macem di luar," ujar Erga seraya menepuk-nepuk pipi Ocha.
Laki-laki itu benar-benar mulai kehilangan kesadaran sepertinya, karena Erga tertawa-tawa sendiri di depan wajah Ocha.
"Minum?" sahut Ocha bingung.
"Hm. Minum. Haha... bukan minum air putih, Darling!" Erga mencium paksa Ocha, menahan tengkuk istrinya hingga tangannya menyelinap masuk ke baju tidur Ocha.
"Erga..." ucap Ocha berusaha menyadarkan suaminya. "Stop!"
Walau minim pengalaman dalam hal minum-minuman seperti yang Erga lakukan, Ocha tetap paham jika suaminya dalam keadaan mabuk.
"Aku bakalan marah sama kamu kalo maksa begini!!!" bentak Ocha, tapi tidak berpengaruh. Karena Erga, memang ingin membuat Ocha marah, di alam bawah sadarnya yang dikendalikan oleh alkohol.