"Kamu butuhnya apa?" tanya Erga membawa tas keranjang untuk diisikan segala macam kebutuhan alat kuliah baru untuk istrinya.
Iya. Istri. Erga sudah resmi menikahi Oceana Eurahalin Gagahasana. Perempuan yang lebih pantas disebut 'cewek' karena menurut Erga Ocha lebih pantas menjadi cewek lajang yang menikmati usia mudanya. Iya. Muda. Bagi Erga bahkan usia Ocha tidak masuk akal untuk menikah. 18 tahun. Meski di negara ini sudah termasuk legal, tapi sangat tidak masuk akal bagi Erga.
"Aku nggak tau, Kak."
Ocha dengan santainya mengendik bahu seolah bukan masalah besar tidak mengetahui apa maunya ia sekarang. Lain bagi Erga, karena itu adalah bentuk bencana jika Ocha tidak tahu menginginkan apa saat Erga ingin segera menyelesaikan sesi belanja bersama istrinya.
"Ocha, kita harus cepet selesai. Saya ada urusan lain, Cha. Dari pada muter-muter begini, mending kita pulang sekarang."
Ocha segera menahan tangan Erga. "Aaaa, jangan!" rengek Ocha. "Iya, deh. Aku pilih, nih."
Erga langsung tahu kalau tujuan Ocha mengatakan tidak tahu, tidak tahu melulu karena ingin memperlama sesi belanja saja. Erga memaklumi tingkah kasmaran Ocha itu. Walau bagaimana, Erga memberi perhatian untuk membuat ayah dari perempuan itu senang melihat putrinya senang.
"Ocha..." Erga mendesah lelah.
Ocha menoleh dan berkata, "Apa, Kak?" dengan mimik datar.
Perempuan itu memang langsung memilih, tapi memilihnya lamaaaa... sekali. Belum lagi, setiap barang yang diambil adalah jenis barang yang harganya paling mahal.
"Apa, sih yang kamu pikirin sampe milih ini semua?!"
Ocha memberengut. "Aku, 'kan nggak tau, Kak. Makanya... bantuin... pilihin."
Erga melihat gelagat Ocha yang memilin kedua ibu jarinya, lalu memandang malu-malu pada Erga.
"Oke. Saya pilih, tapi setelah itu pulang. Selesai. Bisa?"
Ocha mengangguk semangat. Wajahnya yang sudah berbinar makin berbinar dengan mengamati Erga yang mau memilihkan setiap item untuk keperluan kuliah Ocha. Walau dalam batinnya, Erga mengumpat serta mencibir Ocha yang persis anak SD. Ini keperluan kuliah, sudah heboh seperti keperluan anak kecil sekolah.
"Kamu suka warna apa?" tanya Erga tanpa menoleh ke belakang, di mana Ocha berada.
"Hijau." Jawab Ocha pasti.
Erga mengangguk paham. "Suka bentuk apa?" tanya Erga lagi.
"Uhm... koala."
"Bentuk, Ocha. Bukan hewan," balas Erga.
Ocha terkekeh, lalu menjawab. "Ooohh... hehe. Aku suka bentuk daun, Kak."
Erga lagi-lagi menggeleng lelah. Matanya memutar, menunjukkan bahwa dia bosan menanyai Ocha.
"Itu tanaman, dasar..." bocah! Erga mencibir dalam hati.
"Uhm, iya, sih... tapi emang itu berbentuk, 'kan? Koala dan daun ada bentuknya, kok."
Erga membuang napas kasar. "Iya, tahu." Matanya menangkap tanaman hijau, dan seperti daun, tangan Erga dengan sigap mengambilnya.
Ocha yang melihat hal itu sontak merasa bungah(*excited) karena suaminya ternyata seperhatian itu.
"Udah. Ayo, bayar."
Erga menggiring Ocha menuju kasir. Pria itu menyentuh pinggang Ocha agar perempuan itu tidak tertabrak orang yang berlalu lalang.
Malu-malu, Ocha menekan tangan Erga yang berada di pinggangnya. Merasakan hangat yang menjalari seluruh tubuhnya hanya dari tangan Erga, Ocha merasa sangat bahagia.
Satu tekad Ocha bertambah. Yang awalnya hanya menyukai, kini Ocha sudah yakin jika ia semakin dalam mencintai suaminya. Erga Pratama. Pria dewasa yang mampu mengayomi Ocha, serta mau menerima Ocha yang masih begitu polos dan kekanakan.
"Kak..."
"Hm?"
"Terima kasih."
Dengan santainya Erga menjawab, "Kembali kasih, Ocha."
Lalu Ocha semakin memuncak kebahagiaannya karena Erga mengelus rambutnya dan mengecup pucuk kepalanya.
*
Di dalam mobil, keduanya memakai sabuk pengaman dan Ocha masih dengan senyuman lebarnya memandangi sang suami yang gagah mengemudikan mobil menuju rumah. Ia tidak henti menggenggam tangan yang sebelumnya sudah menyentuh tangan hangat milik suaminya, tadi.
"Kak...," panggil Ocha.
"Kenapa?"
Ocha menggigit bibirnya, gugup. Dia tahu jika Erga tidak akan marah hanya karena dia ingin membahas masalah malam pertama mereka yang belum terjadi juga, tapi Ocha tidak mau membebani suaminya hanya untuk rasa penasaran Ocha sendiri.
"Uhm... kapan... uhm..."
"Kamu mau ngomong apa, sih, Cha?"
Ocha menguatkan tekadnya. Menghembuskan napas sekali, lalu berniat berucap dalam sekali tarikan napas.
"Kapan kita ngelakuin malam pertama?"
Erga yang super terkejut, langsung mengerem mobil dan sempat dimaki oleh beberapa pengendara yang lewat karena merasa terganggu oleh tindakan tiba-tiba Erga. Walau tidak saling mengenal, tapi Erga meringis malu karena dari jendela mobil dia melihat u*****n dari orang-orang tersebut.
Ocha tidak menyangka jika Erga akan sampai melakukan tindakan spontan seperti itu.
"Kak Erga... maaf... maaf. Aku nggak bermaksud bikin-"
"Nggak apa-apa. Saya cuma kaget aja kamu bahas hal seperti itu di mobil. Saat saya menyetir pula."
Erga adalah tipe laki-laki dewasa yang santun dalam berkata, maka sama hal nya saat menyindir. Sangat halus.
"Kak, maaf."
Erga menampakkan wajah biasa setelahnya.
Sampai di rumah, Ocha heran mendapati suaminya yang tidak ikut turun.
"Kak Erga nggak masuk?"
"Nanti saya pulang sekitar," Erga menjeda, seraya melihat jam tangannya. "jam delapan. Kamu mau apa? Nanti saya pulang bawain, kamu mau apa, Ocha?"
"Uhm... nasi goreng gila di deket kantor papa. Boleh?"
Erga mengeluarkan tangan kanannya, lalu mengusap rambut Ocha. "Sini," suruh Erga pada Ocha.
Mengerti kebiasaan suaminya yang sering kali mencium pucuk kepalanya.
"Jangan ke mana-mana kalo saya belum pulang. Kecuali kepepet, ya. Saya bawain nanti pesenan kamu, tapi harus kamu habisin. Nggak boleh nggak. Paham?"
Ocha mengangguk semangat. "Hati-hati, ya, Kak."
Ocha memandangi mobil suaminya hingga tak lagi terlihat.
*
"Wuaaaaahhhh... enak!" seru Ocha senang.
"Makan. Habisin."
Ocha menurut. Untuk seukuran badan Ocha yang kecil, daya tampung perutnya memang sangat besar. Erga jika mengikuti cara makan Ocha tanpa rajin olahraga sebelum ke kantor, bisa buncit dia sebagai laki-laki.
Erga memandangi wajah Ocha yang mungil. Rambut sebahu perempuan itu sebagian ada yang turun dan menutupi wajah Ocha.
"Kenyaaaanggg...."
Ocha terkesiap ketika jemari Erga mengusap pipinya, dan menyingsing rambut Ocha ke samping. Mendapati wajah memerah istrinya, Erga tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia berdiri, menarik tubuh Ocha agar ikut berdiri dari kursi makan.
"Udah kenyang?" Erga berbisik.
"Hmm, Kak." Ocha sudah seperti peliharaan yang mendapatkan kenyamanan dari pemiliknya.
"Sekarang... kamu yang harus mengenyangkan saya, Ocha. Kamu paham?"
Ocha tidak bodoh dengan hembusan berat nan panas milik Erga. Dianggukinya ucapan suaminya itu.
Erga memulainya dengan mengecupi seluruh bagian wajah Ocha. Bibir Erga menyentuhkan kulitnya dengan tengkuk Ocha, rintihan perempuan itu tanpa sadar menggema.
Erga tidak tinggal diam hanya dengan bibir, lelaki itu juga mengurut bagian d**a Ocha dari balik pakaiannya, dan Erga hafal bahwa istrinya selalu alfa mengenakan b*a ketika di rumah. Mata terpejam Ocha menambah gairah Erga, dipujanya puncak d**a istrinya setelah menggigiti leher Ocha.
Rambut Ocha berantakan dengan jemari Erga, juga tangan Ocha dengan naluri alaminya menjambak-jambak rambut Erga.
Tanpa aba-aba, Erga menggendong tubuh Ocha yang bagian atas tubuh perempuan itu sudah terpampang dan membuat Ocha menyembunyikan wajah di d**a suaminya, malu.
"Oceana... saya peringatkan kamu. Saya nggak akan berhenti setelah memulainya. Paham?"
Ocha mengangguk lemah dalam dekapan suaminya. "Iya, Kak."
Dan Erga Pratama menyukai bagaimana Ocha menuruti setiap perkataannya.
*
Ocha masih menangis setelah pagi menjelang. Tidak menyangka jika rasa sakitnya akan sebegitu gila. Dia pikir, akan enak dan menyenangkan seperti kisah yang dia baca. Namun, bukan itu yang ia dapatkan.
"Ssttt. Maafkan, saya, ya?"
Erga dengan setia tetap menemani Ocha yang tidak mau tidur semalaman. Seperti anak kecil yang takut dengan perintah orangtuanya, Ocha tidak menghentikan aksi suaminya malam tadi. Ocha memang tipe yang penurut, karena selama ini selalu dituruti keinginannya.
Erga mengecupi tengkuk hingga sisi wajah istrinya. Mencoba menenangkan Ocha dari sensasi sakit kegiatan mereka menuai malam pertama.
"Harusnya kamu bilang kalo saya keterlaluan," ucap Erga yang sebenarnya merasa lelah.
Setelah semalam menunggangi istrinya, Erga memang sempat terlelap salam 30 menit. Merasa terpuaskan dan lelah, matanya langsung tertutup tanpa mampu diabaikan. Lalu, saat terbangun dia mendengar tangisan istrinya berlangsung hingga jam empat pagi ini.
"Turun, ya? Kita bersih-bersih. Kamu perlu dibasuh air hangat, supaya rileks."
Erga membalikkan tubuh Ocha, lalu menatap wajah kuyu perempuan itu.
"Saakiiittt...." rengekan Ocha menggema. "Sakiiitt... Kak Erga."
Erga memeluk tubuh istrinya. Mendekap sekuat tenaga agar Ocha merasa terlindungi. Sungguh, Erga tetap tidak tega dengan rintih kesakitan Ocha. Walau harus Erga akui, dirinya masih penasaran melakukan hubungan intim bersama Ocha tanpa ikut menahan sakit karena Ocha terlalu menahan miliknya hingga Erga harus mendorong lebih keras untuk membobol milik Ocha.
Sudah Erga katakan, dia tidak mau dihentikan ketika sudah memulai. Meski mengatakan pada Ocha-setelah berhubungan-untuk menegurnya ketika sudah sangat merasa sakit, tetap saja, ambisi gairah laki-lakinya ingin dipuaskan.
"Saya siapkan air hangat. Kamu di sini dulu."
Erga segera beranjak dari ranjang. Tidak peduli dengan keadaannya yang tanpa busana, berjalan ke sana ke mari untuk memastikan segala keperluan mandi dia dan istrinya siap, tanpa bantuan pembantu.
"Ayo," ajak Erga yang sudah menyelipkan tangannya di lipatan tangan serta lipatan kaki Ocha. Menggendong perempuan itu seperti saat akan melakukan malam pertama mereka.
"Jangan ditahan rasa sakitnya. Nangis saja. Saya nggak akan ngetawain kamu karena itu, kok."
Erga dengan telaten membasuh tubuh Ocha. Mandi berdua dalam keadaan yang menyadari ketelanjangan masing-masing memang masih agak canggung bagi Ocha, tapi menyadari bahwa suaminya sudah membiasakan diri, Ocha jadi ingin belajar hal yang sama.
"Kak...," panggil Ocha.
Meski Erga agaknya lelah dengan sikap Ocha yang selalu memanggilnya lebih dulu ketimbang langsung bersuara, tapi Erga juga membiasakan diri. Belajar memahami Ocha yang memang sangat kalem dan lembut terhadap sesuatu.
"Ya, Ocha?"
"Boleh... peluk?" tanya Ocha takut, takut.
Erga tidak menunggu lagi. Dilebarkan tangannya, hingga tempat Ocha bersandar terasa sangat nyaman.
Erga merasakan hidung Ocha mengendus-endus dadanya. "Kamu suka di sana?" tanya Erga melirik ke bawah, di mana istrinya bertengger aman.
"Iya," sahut Ocha tanpa malu. "Kak Erga wangiiii...." ucap Ocha seperti anak kecil.
"Kamu juga wangi. Pakai aroma apa?" tanya Erga, seraya mengelusi rambut cokelat Ocha.
"Kak Erga suka?" Ocha balik bertanya.
"Iya," jawab Erga bergantian tanpa malu.
Erga hanya berharap hubungan itu tetap terjaga selama kondisi perusahaan cabang makin berkembang pesat. Dia akan belajar menyamankan diri bersama Ocha, meski lelah meladeni sikap kekanakan perempuan itu.
Ocha terkekeh, lalu berkata, "Aku nggak mau kasih tau. Biar kak Erga nggak bosen cium wangi aku."
Kucing dikasih ikan tuna begini, mana bosen, Cha? Jangankan wanginya, dagingnya aja bikin nagih. Celetuk Erga dalam hati. Namun, di luar itu dia hanya tersenyum.
"Iya, jangan kasih tau, Cha. Biar saya nggak cepet bosen."
*
Pembantu rumah tangga memang tidak terlalu diperlukan bagi Erga, dia terbiasa mandiri sejak kecil. Masalah memasak, mengurus rumah, Erga sudah terbiasa mengaturnya sejak kuliah di luar negeri sendiri. Meski laki-laki, tapi Erga tetap tipikal yang tidak suka kotor. Tempat tinggalnya harus bersih dan membuatnya nyaman ketika lelah setelah pulang beraktivitas di luar.
Jadi, ketika Ocha bukanlah material wifes yang dia inginkan... sudah tidak ada jaminan lain. Jaminan dimana dia bisa diurus dan mendapati rumah terjamin keadaannya tanpa harus pembantu yang mengurus semuanya. Seharusnya ada istri idaman Erga yang datang menyambut dan memahami segala kebutuhan Erga tanpa harus diceramahi panjang kali lebar sama dengan luas.
Erga tidak tega menginjak harga diri Ocha sebagai perempuan dengan menyiksanya luar dalam. Yang mengartikan, Erga adalah suami yang kejam. Itu bukan gaya seorang Erga Pratama sama sekali. Suka tidak suka, mau tidak mau, niat tidak niat, dia memang harus bersikap selayaknya suami yang menyayangi istrinya.
Oh, istri bocahnya.
"Aduh, maaf, ya, Kak. Aku belum bisa masak yang cepet. Bekal buat kakak dibikinin sama mbak Tarsih." Ocha memandang suaminya dengan perasaan bersalah.
Erga tersenyum, mengelus rambut Ocha. Seperti biasa, dikecupnya pucuk kepala Ocha dengan khidmat.
"Sana, mendingan kamu siap-siap berangkat ke kampus. Saya tunggu 15 menit lagi."
Ocha sebegitu semangatnya ditunggui Erga. Tidak sia-sia usaha Erga membimbing Ocha agar mau kuliah. Entah ke depannya perempuan itu bisa bertahan lanjut atau tidak, karena Erga sudah ada rencana menceraikan Ocha ketika semuanya sudah matang.
"Oke!" sahut Ocha dengan semangat.
Erga mendengus. Ternyata sifat naif Ocha begitu melekat dalam diri perempuan itu. Tidak dapat Erga bayangkan, apa saja pendidikan karakter yang keluarga perempuan itu ajarkan pada Ocha, hingga sepolos dan senaif itu.
Setelah Ocha memilih membersihkan diri, Erga beranjak untuk membuat sarapannya sendiri. Dia diam-diam membuang masakan buatan Ocha dan menyuruh salah satu pembantu membuangnya ke tong sampah depan komplek agar Ocha tidak tahu.
Erga lebih memilih sarapan dengan selembar roti dengan selai ketimbang memakan masakan Ocha yang tidak jelas juntrungannya-menurut Erga.
Tidak ada sepuluh menit, Erga sudah merasa kenyang dengan sarapan simpel buatannya sendiri. Berpura-pura menyelesaikan makannya saat langkah kaki Ocha terdengar.
"Udah selesai sarapannya, Kak?" tanya Ocha, riang.
"Sudah. Kenapa?"
Ocha tersenyum lebar, kakinya digerak-gerakkan mengalihkan rasa senangnya yang teramat.
"Padahal aku belum sarapan, tapi makanannya udah kak Erga habisin-"
"Beneran? Kenapa nggak bilang?" sahut Erga, panik.
Tangan Ocha menahan Erga agar tidak beranjak membuatkannya makanan sebagai ganti. "Nggak apa-apa, Kak! Aku udah minta dibikinin sama mbak Tarsih, kok. Nanti aku juga bawa bekal, jadi nggak bakalan kelaperan. Hehe...."
Erga ikut memberikan senyumannya. Mengelus rambut Ocha lagi. Padahal, dalam hatinya Erga senang karena Ocha tidak berpikiran macam-macam dengan makanan yang langsung habis padahal porsinya cukup untuk dua orang.
"Yaudah. Ayo, berangkat." Erga berjalan lebih dulu.
"Kak Erga duluan ke mobil aja. Aku mau ambil bekalnya dulu."
Ocha melangkah riang layaknya anak kecil menuju dapur kotor di mana mbak Tarsih membuatkan makanan. Di belakang Ocha yang terlalu riang, Erga hanya memandangi punggung kecil Ocha.
"Sampai kapan kamu akan sebahagia ini, Oceana? Sedangkan kamu nggak pernah tau, ada orang yang tersiksa di bawah kebahagiaan kamu."
*
Rama tertawa keras mendengar curhatan sahabatnya. Mengangungkan wanita-wanita dewasa, dan seumuran yang selama ini Erga gadang-gadang, nyatanya malah terperangkap bersama cewek yang terhitung masih usia remaja, kekanakan, polos, manja, cengeng, cerewet, rewel, dan banyak minus kelakuan yang Erga paling hindari dalam mencari pasangan.
"Ketawa aja, terus!" ketus Erga.
"Hahaha. Ya, ampun, Ga... lo beneran setahan itu, hidup sama bocah kayak gitu?"
Erga mengendik, "Mau gimana lagi? Bapaknya ngasih jaminan yang lebih gila, sih. Mana tahan gue buat nggak nerima tawarannya?"
Dengan sisa tawanya, Rama berucap, "Dengan mainin anaknya? Lo gila, ya?" sembur Rama.
"Lo pengacara gila!"
"Eyy... gue mah, nggak perlu dikasih perusahaan, udah kaya melintir. Nggak perlu lah gue akting kayak lo cuma buat ngedapetin perusahaan cabang."
Erga menyugar rambutnya, kesal. "Gue juga mikir buat nolak, Ram. Tapi bokapnya Ocha emang segila itu buat dapetin apa pun asal anaknya seneng. Nggak mikirin kalo gue jadi korban!" jelas Erga emosi.
"Yakin, lo korban? Bukannya tadi lo bilang udah nyicipin tuh bocah ampe nangis semaleman? Hahaha!" Rama kembali terpingkal membayangkan sahabatnya dalam situasi tidak menyenangkan.
"Kalo nggak kepepet, gue pasti milih Yessy, Ram. Jelas lebih mateng, pengalaman, profesional."
Rama mengibaskan tangan, tanda malas mendengar lanjutannya.
"Lo ngomong, doang! Buktinya sekarang Yessy nggak ada kabar, lo juga diem-diem t*i ayam aja. Masih ngarep sama Yessy yang aduhai begitu?"
"Gue udah jalan lama sama dia, nggak mungkin lah gampang lupainnya." Erga menyentak tangan Rama yang ingin menyalakan rokok di dalam ruangannya.
"Napa, sih?!"
"Ke luar sono! Gue nggak mau lo kotorin ruangan gue sama asep rokok lo," jawab Erga.
Meski mendecak, Rama tetap menuruti kemauan Erga.
"Jadi, gimana? Lo mau bertahan sama, tuh bocah sampe kapan?"
Erga menoleh pada Rama. Mendapat ide dengan kartu nama Rama di atas mejanya.
"Lo bantuin gue, ya, Ram. Gue mau bikin surat resminya dari sekarang, jaga-jaga. Gue nggak tau kapan tepatnya bakalan gugat Ocha, tapi gue pastiin, gua bakalan cerai dari dia."
*
Pranggg
"Aduh!" pekik Ocha terkena serpihan beling dari gelas kaca yang terpecah.
"Ocha... maaf, maaf." Karin, teman baru Ocha membersihkan serpihannya pelan.
"Aduh, Karin... biar aku aja. Kamu bantuin ibu kantinnya aja, bersihin belingnya."
Karin memandang Ocha dengan perasaan bersalah. "Maaf, ya, Cha. Sorry, gue nggak sengaja nyenggol."
Ocha hanya mengangguk paham. Dia tidak mau memperpanjang masalah, karena tidak ingin diketahui banyak orang yang bisa merembet ke bagian siapa ayah Ocha sebenarnya.
"Aku duluan aja, deh, Rin. Mau ke kamar mandi juga buat bersihin kaki aku. Duluan, ya."
"Oke, Cha. Sorry, ya sekali lagi."
"Iya, santai aja."
Tak tahu kenapa, Ocha merasa gelisah sekali. Bekalnya belum termakan habis, jika Erga tahu, Ocha yakin dia akan kena marah oleh suaminya itu.
Perlahan, Ocha membersihkan darah yang mengalir dari kulit kakinya. Bayangan sang suami yang sering kali menegur kecerobohannya merambati hati Ocha.
Tak lama, lamunan Ocha terbuyar oleh panggilan dari Erga.
My Darl❤ calling...
"Halo, Kak." Suara manis Ocha menyapa lebih dulu.
"Kamu di mana?"
"Masih di kampus, Kak."
"Belum dijemput Pak Yudi?"
"Belum," balas Ocha sembari menggigit bibir bawahnya.
"Masih sakit... yang semalam?"
Meski berbicara dari telepon, wajah Ocha tetap merona. "Mendingan, kok. Tapi..."
"Tapi?"
"Aku nggak janji bisa lagi... beberapa hari ke depan."
Ocha malu sekali, tapi merasa lega sudah menyampaikan karena memang masih merasakan sakitnya.
Dari seberang Ocha mendengar kekehan suaminya. "Yaudah. Nggak dulu juga nggak apa-apa. Saya jemput, ya, Cha. Ada yang mau saya urus sama kamu juga soalnya."
"Iya, Kak."
Dan di seberang sana, tersenyum puas karena Ocha selalu menurutinya. Selalu.