Malam ini adalah hari yang ditentukan, Ken sudah bersiap dengan pakaian formalnya, tentu saja untuk menghormati ajakan sang papa menemui calon istrinya. Meski logikanya tidak menerima, tapi syarat kebebasan yang diajukan sang papa tidak bisa dia tolak begitu saja. Sayaka sudah bicarakan hal ini, tapi Ken tetap tidak ingin menolak, dia sudah bosan dengan segala urusan berbau bisnis keluarga, dia sadar dengan posisinya sebagai anak, tapi dia hanya ingin mencoba hal lain, apa sebegitu tidak percayanya sang papa sampai-sampai harus selalu menyetir kehidupannya.
Ken mengenakan tuxedo biru dongker yang berpadu manis dengan celana berwarna abu-abu, malam ini dia benar-benar sempurna. Mungkin gadis itu nanti akan langsung jatuh cinta padanya. Bahkan Sayaka memuji anaknya itu, Ken biasa tampil apa adanya, bahkan rambutnya yang sedikit panjang sangat jarang sekali terlihat rapi. Keluarga Almachzumi pun berangkat menuju restoran yang tentu saja sudah mereka sewa.
Keluarga Almachzumi sudah sampai, restoran ini terlihat sepi, tapi Ken sudah hafal sekali dengan tabiat sang papa, dia pasti menyewa satu restoran hanya untuk makan malam kedua keluarga. Ken masih setia dengan wajah datarnya, Lia yang selalu ceria terlihat biasa saja, sementara Sayaka berusaha mengimbangi suaminya dengan selalu tersenyum.
Di dalam restoran Ibrahim menyapa keluarga calon besannya dengan ramah, begitupun Sayaka. Sementara Lia dan Ken mereka tetap berusaha untuk sopan. Keluarga itu adalah salah satu rekan bisnis dari seorang Ibrahim Almachzumi, meskipun hanya bersifat rekan bisnis tapi Ibrahim cukup percaya dengan keluarga mereka, sang kepala keluarga Bima Sanjaya memang sahabat Ibrahim sejak mereka memulai bisnis bersama, dan putri mereka Yenni Putri Sanjaya adalah gadis yang akan dijodohkan kepada putra satu-satunya di keluarga Almachzumi.
Ken menyalami gadis itu sopan, tapi tatapan dingin gadis itu membuat Ken malah tersenyum. Bagaimana tidak, setiap gadis akan langsung terkagum-kagum oleh pesona dingin seorang Kenichi Almachzumi tapi gadis itu malah sebaliknya, dia menambah aura dingin hingga terciptalah badai salju tak terlihat yang sedang memenuhi ruangan.
“Yenni sayang, itu Ken nya diajak ngobrol dong.”
“Ya Bun.”
Hanya itu jawaban Yenni, masih dengan muka datarnya. Dalam hati Ken tersenyum senang, sepertinya gadis itu menolak untuk dijodohkan.
“Ken…”
“Haiik Mama, Watashi wa Genki.”
Beruntunglah Ken, karena saat ini makanan sudah datang. Jadi dia tidak perlu repot-repot untuk sekedar berbasa-basi dengan Yenni. Dan Yenni pun sama, gadis itu tersenyum penuh misteri. Makan malam itu terasa singkat, karena hanya diisi pembicaraan dari Ibrahim dan Bima. Selebihnya hanya ikut tersenyum dan sesekali Sayaka menanggapi. Raut kekesalan terpatri jelas pada wajah cantik Yenni. Apalagi saat ayahnya itu sudah membahas tanggal pernikahan.
Selesai makan Ken berusaha untuk keluar, mulutnya asam. Dia butuh asap tembakau, Ken pun meminta izin pada papa dan mamanya serta pada om dan tante Sanjaya. Mereka mengizinkan Ken untuk keluar tentu saja dengan izin ke kamar mandi, hanya Sayaka serta Lia yang tahu tentang kebiasaan buruknya ini.
Keadaan restoran ini bener-bener sepi, diluar pun hanya ada satpam yang berjaga, dan beberapa orang bodyguard milik sang papa. Ken mulai membakar satu batang tembakau itu, menikmati setiap asap yang siap membunuhnya kapan saja. Sesaat Ken kaget karena dia melihat sosok perempuan sudah berada di depannya, kepulan asap tembakau yang menemani gadis itu membuat Ken kaget.
“Gue baru tahu kalo putra bungsu Almachzumi ternyata bisa begini.”
Kata gadis itu dengan senyum remehnya.
“Nobody perfect, aku cuma beruntung saja, karena lahir di keluarga Almachzumi.”
Balas Ken.
“Jadi gimana acaranya tadi ? Jangan bilang kalo acara itu gagal, nanti gue dipecat sama bokap lo.” Cecar Nya kembali.
“Bokap ? apa itu ?”
“Hah, lo lahir dimana sih sebenernya ?”
“Maaf, aku emang lahir di Indonesia, tapi aku besar di Jepang. Dan aku belum tahu banyak bahasa Indonesia.”
“Bokap, Papa lo maksud gue.”
“Oh maaf maaf. Ya acara itu cukup sukses, menu makanan tidak ada masalah, bahkan lidahku bisa menerimanya.” Jawab Ken.
“Bagus deh, sekarang mendingan lo masuk. Kalo bokap lo tahu, bisa habis lo.”
“Semoga kita bisa ketemu lagi yah.”
Ken sekarang kembali, tak lupa dia memakai wewangian agar bau tembakau dan nikotin tidak meninggalkan jejak di Tuxedo birunya,
“Ken kenapa lama banget di toilet.” Tanya sang Mama dengan bahasa Jepangnya.
“Em Ano, aku gugup Ma.”
Begitu jawaban Ken. Sayaka pun memberitahu Mirna (Istri Bima) apa yang mereka bicarakan.
“Nak Ken tidak usah gugup gitu. Kalian nanti akan menikah jadi harus dibiasakan.” Mereka semua tertawa, kecuali Yenni.
Jika saja ini bukan demi menjaga kehormatan sang Ayah, maka sudah dipastikan Yenni akan berteriak sekencang-kencangnya untuk menolak perjodohan konyol ini.
“Ken, gimana Yenni ?” Itu adalah pertanyaan Ibrahim, bahkan papa nya itu tidak menanyakan perihal persetujuannya.
“Boleh Ken mengenal Yenni dulu pa ? Agar kisah cinta ini jadi lebih indah dan kami berdua bisa saling mencintai.” Balas Ken.
Balasan dari Ken jelas membuat Yenni mendelik tajam, pasalnya dia tidak menyangka kalau putra bungsu Almachzumi itu terlihat setuju-setuju saja. Bahkan wanita yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka dibuat tersenyum misterius.
“Kamu sendiri gimana Yen ?” Bima gantian bertanya pada putrinya.
“E-eh i-itu Yah, Yenni belum siap. Yenni masih kuliah baru juga semester satu. Ken juga masih kuliah kan pasti.” Jawab Yenni gugup.
“Ken masih SMA Yenni, kan Ayah bilang tadi sebelum kesini.”
Jawaban Bima membuat Yenni tercekat, benar-benar ini adalah hal terkonyol dalam hidupnya, dijodohkan, dengan lelaki yang bahkan lebih muda dari dirinya. Setelah berbincang cukup lama acara makan malam itu pun selesai.
“Ken, kamu pulangnya bareng Pak Soni, jangan lupa ajak Yenni pulang bareng kamu. Jagain Yenni.”
“Kenichi sayang, baik-baik sama Yenni.”
Begitulah pesan mama dan papa nya sebelum meninggalkan dirinya. Ken merasa terjebak sekarang, bersama dengan gadis yang bahkan bermuka lebih datar darinya.
“Aku mau keluar, aku mau merokok. Kalau kamu mau tetap disini gpp.”
Yenni apa tidak salah dengar, lelaki itu mau merokok katanya, jelas Yenni kaget.
“Lo mau ngerokok ? yaudah sana. Tapi kok bisa ya anak bungsu Almachzumi kayak gini.”
“Hei Nona, Nobody Perfect. Aku bukan lelaki seperti yang kamu bayangkan. Dan satu lagi Almachzumi akan tetap terhormat meskipun aku tidak sempurna. Permisi !”
Yenni yang ditinggal hanya kesal, dan sikap Ken tadi ternyata hanya akting, seharusnya dia senang, tapi apa sekarang dia malah kesal. Yenni Putri Sanjaya, tidak ada lelaki yang menolaknya sebelumnya, mereka semua bertekuk lutut, tapi kenapa lelaki itu malah menciptakan badai salju yang sangat dingin saat bertemu dengannya. Disatu sisi Yenni ingin membuat lelaki itu bertekuk lutut tapi disatu sisi dia sangat enggan melanjutkan acara perjodohan ini.
Karena rasa kesalnya Yenni tidak sadar jika ada seorang yang berdiri dihadapannya, dia menatap wanita itu datar, “Siapa yah ?”
“Oh kenalin gue Fellicia Angela Kusuma. Kalo lo nggak mau sama brondong, mending kasih ke gue aja.” Ucapnya tanpa basa basi.
“Hah ? Maksud lo gimana ya mbak ?” Tanya Yenni yang masih kaget.
“Ck, itu calon suami lo buat gue aja. Biar gue yang naklukin hati dia demi kepentingan gue. Lagian gue liat lo nggak ada rasa sama sekali deh.” Jawab Felli sedikit sarkas.
“Haha, kepentingan apa mbak emangnya ? Lo mau dia karena dia Almachzumi ?” Balas Yenni tak kalah sarkas.
“Pertama, soal harta gue nggak kekurangan. Kedua gue belum pernah bisa menaklukan brondong, dan ketiga gue bisa bantuin lo buat lepas dari perjodohan yang pasti menurut lo ini konyol.”
“Mbak, sumpah udah cukup hari ini gue kesel. Sekarang muncul cewek yang dengan gamblangnya pengen ngerebut calon suami gue, kalo aja disini gue setuju udah gue cakar-cakar muka lo mbak. Tapi gue setuju sama lo, gimana kalo kita bareng-bareng bersaing, gue belum pernah di tolak sama cowok selama ini, jadi gue mau buat dia bertekuk lutut dihadapan gue.”
“Wah wah, kok lo jadi semangat gini. Apa rasanya segitu gak nyenengin yah ditolak sama cowok.”
“Hehe gitulah mbak. Tapi kok mbak bisa kenal mereka sih ?”
“Oh itu, gue sebenernya Manager Marketing di perusahaan Almachzumi, tapi bos besar gue itu minta tolong sama gue buat ngerancang ini semua, jadilah gue disini buat bikin acara lo sama anak bos gue.”
Yenni hanya ber-oh ria mendengarnya, Yenni dan Felli pun sepakat, mereka akan bermain-main dengan Ken, siapa yang akan membuat Ken jatuh cinta.
Kehidupan Ken akan lebih rumit lagi, Indonesia mungkin akan meninggalkan bekas yang begitu buruk baginya.