Bab V

2421 Words
Sesampainya di kelas Ken langsung duduk di mejanya seperti biasa, sambil terus berusaha menghindari siswi-siswi yang mengejarnya tiada henti. Dia juga tidak lupa untuk menengok kolong mejanya yang selalu penuh dengan surat-surat ungkapan cinta, dan benar saja hari ini sudah ada 10 surat, dia pun mengambilnya dan menaruh surat-surat itu di dalam tas. “Pagi Ken.” Wina baru saja datang dan dia langsung menyapa Ken. “Iya, Pagi Wina.” Balas Ken. “Kamu dapat surat cinta lagi ya ?” “Ya gitu deh, hehe.” “Zafran mana Win ?” “Nggak tahu Ken, dia juga belum kasih kabar apa-apa.” Setelah itu tidak ada lagi percakapan antar keduanya, tepat sebelum bel berbunyi Zafran datang. Dia yang masih mengatur napas harus segera berbaris karena upacara bendera akan segera dimulai. Bagi sebagian siswa upacara memang membosankan, begitu juga Ken, “Jadi, 2 minggu dari sekarang kalian akan liburan ke Yogyakarta. Nikmati waktu kalian, dan ingat liburan ini membawa nama sekolah, jaga sopan santun kalian selama disana. Bapak tidak ingin mendengar kalian membuat onar. Itu saja yang ingin Bapak sampaikan, terima kasih semuanya.” Begitulah kata-kata penutup dari Kepala Sekolah selaku pembina upacara, riuh ramai teriakan senang dari seluruh siswa serentak menggema, liburan dadakan yang cukup menyenangkan bukan, dan seluruh biaya ditanggung oleh pihak sekolah. Pelajaran Bahasa Indonesia dan PKN berhasil dilewati Ken tanpa kesusahan, dia sudah bisa Bahasa Indonesia meskipun masih dengan aksen Jepang yang khas. Ken tergolong lelaki pintar, tidak bisa dipungkiri, “Ken ke kantin nggak ?” “Boleh deh, aku mau makan yang kemarin itu apa namanya ?” “Hah, bentar gue juga lupa. Apa ya, ketoprak apa ya ?” “Nah bener, Ketoplaku.” “Ketoprak etdah.” “Yaudah pokoknya itu namanya Fran.” Zafran dan Ken, tentu saja bersama Wina juga sedang menuju kantin sekolah. Kenichi yang awalnya ragu memakan ketoprak sekarang malah dia ketagihan. Saus kacangnya enak, begitulah Kenichi bilang. Mereka bertiga berjalan kompak sambil sesekali melempari candaan satu sama lain. Suasana kantin ramai seperti biasa, namun karena tempatnya yang luas siswa tidak merasa sumpek sedikitpun, bagaimanapun sekolah ini adalah salah satu sekolah elite di Jakarta. “Kenichi,” Panggil seseorang. Si empunya menengok, yah meski sudah jadi rutinitas lama-lama dia jengah juga. “Iya,” “Gimana surat dari aku ? Udah dibaca belum ?” Tanya orang itu lagi. “Eto, maafu, aku belum sempat membacanya. Mungkin nanti dirumah aku akan membacanya.” Begitu jawaban Ken selalu sama. “Hmm oke. Tapi kamu harus makan bareng aku hari ini. Aku tahu kamu cuma bohong kan ? Lagian kalau emang kamu baca itu surat pasti sekarang kamu tahu nama aku !” Skak mat, sudah Ken tidak bisa menghindar lagi. Ken hanya tersenyum kikuk sambil memegangi tengkuknya, “Tapi aku udah janji mau makan bareng mereka sahabat aku.” Ken menunjuk Wina dan Zafran. Tapi gadis itu malah menarik tangan Ken dan menjauhi Wina serta Zafran. “Woy Kak tunggu ! Lo mau bawa kemana Kenichi.” Wina jelas saja marah, dia merasa tersaingi disaat yang bersamaan. “Udah ya, Kenichi gue pinjem dulu buat hari ini. Kalian bisa makan berdua aja kan ?” “Berhenti ya Kak, sebelumnya maaf aku nggak bisa dipaksa. Terus soal perasaan Kakak aku nggak bisa bales, karena aku belum bisa jatuh cinta sama siapapun sampai sekarang. Maaf ya Kak.” “Oke, minimal inget namaku yah. Aku Clara. Dah Ken, aku gak akan ganggu kamu sampai kamu nyariin aku.” Meski dengan rasa kecewa Clara pergi meninggalkan Ken bersama kedua sahabatnya. Wina tersenyum penuh kemenangan meski dia juga tidak bisa berharap lebih, asalkan dia bisa terus bersama dengan Ken. “Aduh gila banget Kak Clara, nekat gitu dah.” Ucap Zafran yang sedari tadi hanya diam. “Ah elo tadi diem aja, bukannya bantuin gue!” Balas Wina. “Bukannya gitu, gue mau Ken yang mutusin sendiri. Kita sahabatnya cuma bisa dukung dia. Kecuali dia bener-bener dalam bahaya, baru gue turun tangan.” “Huh” Keluhan Wina tidak ditanggapi oleh Zafran, sekarang mereka sudah memesan makanan masing-masing dan menikmatinya hingga waktu istirahat selesai. Waktu terasa cepat berlalu, anak-anak XI-1 sudah kembali berkutat dengan buku pelajaran, Ken berusaha setengah mati menghafal materi demi materi yang diberikan guru-gurunya. Ada beberapa guru yang mengerti keadaannya, tapi banyak juga yang tidak peduli dan menyamaratakan Ken seperti anak-anak lain, tentu Ken tidak masalah, dia hanya harus berjuang lebih keras. Bel sekolah sudah berbunyi, kegiatan hari ini cukup menguras tenaga, belum lagi ada 2 tugas kelompok yang harus dikejar. Ken tidak mendapat kelompok bersama Zafran atau Wina,  “Kenichi, sorry kita kan sekelompok, kira-kira lusa bisa kumpul nggak ?” Tanya Ina teman sekelompok Ken. “Ano, bisa kita ganti besok saja, karena lusa aku ada acara dengan keluargaku.” Ken ingat lusa ada jadwal makan malam bersama calon istri nya.  “Yah, sebentar gue tanyain ke temen-temen yang lain.” Ina kembali merembukan jadwal untuk mengerjakan tugas kelompoknya, bersama Ken tentunya. Akhirnya kesepakatan tercapai, besok adalah hari yang ditentukan. “Menurut aku bisa sih kalau dikerjakan dirumah aku aja. Tapi nanti kalian telpon aku yah begitu sampai di gerbang rumah. Alamatnya sudah aku share di WA group.” Ina, Rendra dan Lina pun mengangguk setuju. Kenapa Ken justru menyarankan rumahnya karena lelaki Indo-Jepang itu tidak mau ribet-ribet, biarlah mereka yang datang. Toh dia juga kesepian di rumah. * * * * Esok harinya Ina, Rendra dan Lina langsung pergi menuju rumah Kenichi, sesuai dengan alamat yang diberikan olehnya di group. Kenichi sempat menawari untuk bareng kerumah, tapi mereka menolak dengan alasan ingin pulang dulu, Ina yang sampai duluan menatap pagar besar dan tinggi didepannya. “Maaf mbak ada keperluan apa yah ?” Tanya security pada Ina. “Itu pak, kita mau kerja kelompok. Saya teman sekolahnya Kenichi pak.” “Oh temen sekolahnya Mas Ken, jangan tersinggung ya mbak, sudah peraturannya kayak gini. Mending mbak telpon Mas Ken deh, saya nggak bisa kasih izin mbak masuk soalnya.” Jelas bapak security itu lagi. “Kok ribet gini ya pak mau masuk aja hehe. Saya nggak kepikiran sampe kayak gini soalnya pak.”  “Hehe iya Mbak, abisnya udah perintah langsung tuan Almachzumi, saya cuma jalanin aja mbak.” Sambil menunggu Lina dan Rendra, Ina menelpon Ken, dan sesegera mungkin lelaki itu turun untuk membawa teman-temannya masuk tapi karena Rendra dan Lina belum datang jadilah mereka sedikit menunggu, outfit Ken hari ini membuat Ina berusaha mati-matian menghindari kontak mata dengannya, Ken mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek yang menampilkan lengan berotot lelaki Indo-Jepang itu, dan Ken sengaja mengikat rambutnya yang sedikit panjang. Ina tahu betul lelaki itu adalah salah satu most wanted boy di sekolahnya, dan Ina sama sekali tidak menolak pesona lelaki itu. Tapi hanya untuk sekedar suka, tidak mungkin Ina nekat mengatakan kalau dia suka lelaki itu, bisa ditolak mentah-mentah. Ina tersenyum kecut,  “Padahal sudah sedekat ini sekarang, tapi kenapa masih terasa jauh.” “Hei Ina, kamu kenapa ?” “Oh, Ken sorry gue ngelamun yah. Abisnya rumah lo gede pake banget hehe.” “Haha bukan, ini rumah Papa dan Mama, aku hanya menumpang disini.”  Jawaban Ken cukup membuat Ina terkejut, “Ya tapi tetap saja, lo kan anak mereka” “Tidak Ina, aku tidak pernah memikirkan kekayaan orang tuaku. Selama aku belum bisa menghasilkan uang maka aku ini hanya numpang.” Ina tidak tahu lagi harus berkata apa, dia benar-benar terpesona tidak hanya tampan di luar tapi juga di dalam. Setelah cukup lama menunggu akhirnya Rendra dan Lina datang. Mereka bertiga dibawa oleh Ken ke ruang tamu, Ken sudah menawarkan untuk belajar di kamarnya saja, tapi mereka bertiga menolak, padahal kamar Ken tidak kalah besar dari ruang tamu rumah ini. Sesuai dengan apa yang mereka bahas di WA group, Rendra sudah menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan, Ina dan Lina sudah menyiapkan koran berita yang sudah sangat langka di Indonesia, sementara Ken sendiri sudah siap dengan beberapa potongan berita dari internet yang dicarinya kemarin malam. Tugas membuat makalah mereka sepertinya berjalan dengan lancar, sebelum Kak Alea pulang. “Assalamualaikum, Lia pulaaang.” Suara perempuan itu menggema diruang tamu, sudah kebiasaannya seperti itu. Ya biasanya juga tidak ada orang selain dia, mamanya dan para maid dirumah. Tapi kali ini ada ketiga teman adiknya yang sedang mengerjakan tugas kelompok.  “Waalaikum salam.” “Loh kok tumben dek. Biasanya selalu sama Zafran atau Wina.” “Ini tugas kelompok Kakak, kebetulan aku beda kelompok sama Zafran dan Wina.” “Owh gitu, yaudah lanjutin deh, Mama kok nggak ada tumben banget ?” “Mama pergi, katanya mau urus butik di Serpong.” “Oke deh kalo gitu. Guys semoga akrab sama Ken yah, dia dari lahir udah kayak gini, sukanya diem hehe.” Ucap Lia,  Ina, Lina, dan Rendra masih diam, mereka bengong. Terutama Rendra, dia mengaku kalau dia selalu mengikuti i********: kakaknya, dan sering menonton konten sang Kakak di Youtube. Dan mereka baru tahu kalau Alea Hana Almachzumi adalah kakak kandung dari Kenichi Almachzumi. Pasalnya Alea sangat tertutup jika itu mengenai keluarga dan orang-orang terdekatnya,  “Ken, abis ini gue boleh foto sama Alea kan ?” Tanya antusias Rendra. “Iya, gampang. Sekarang fokus kerjakan ini dulu ya. Soalnya aku nggak enak ninggalin kalian besok.” “Rendra apaan sih, malu tau.” “Lina, sorry soal Alea gue udah gak inget malu.” Ken hanya geleng-geleng kepala, kalau dia di posisi Rendra sekarang mungkin dia akan melakukan hal yang sama. Apalagi jika itu menyangkut L’arc En Ciel. Kesempatan seperti apapun pasti akan dia kejar. “Yaudah ayo buruan dilanjut, gue juga mau dong ngobrol sama Kak Alea.” Ini ucapan Ina, Mereka semua tertawa, dan melanjutkan kembali aktivitas yang sempat tertunda karena kedatangan Alea. Ken dan Rendra bertugas memilih berita yang ada di koran lalu mengkaji ulang dan menempelkannya ke karton. Sementara Lina dan Ina membuat laporan yang berisi rangkuman seluruh berita yang mereka pilih. Sekitar 1 jam berlalu, tugas itu akhirnya rampung, yah meskipun laporannya baru jadi 90% tapi itu tidak apa-apa,  “Assalamualaikum.” Suara lembut itu membuat mereka menengok, terlihat wanita dewasa memasuki rumah besar ini,  “Waalaikumsalam, tante” “Hmm, temen-temennya Ken yah ?” “Iyah Tante.”  “Kenichi nya kemana ?” Karena sejak masuk tadi Sayaka tidak melihat keberadaan anaknya. “Tadi Ken izin ke kamar mandi Tante.” “Oh gitu, btw sudah pada makan ?” “Gak usah tante nanti ngerepotin.” “Nggak gitu kok, yasudah nanti tante siapin makan dulu buat kalian, Tante masuk dulu yah.” Mereka semua mengangguk,  “Lin, liat orang Jepang berhijab jadi gimana gitu. Terpesona .” Ucap Rendra. “Rendra ! Jaga mulut lo, kalo di denger Ken kan nggak enak.” “Tau dari tadi nih, bikin malu lo tau gak.”  “Ya gue kan nggak pernah liat, tapi bener deh gue kira Ken itu Nonis loh.” “Iya juga sih, Ina makin naksir nih gue rasa sama si Ken ?” “Yeuh, jangan dibahas ah, gue minder duluan kalo gini ceritanya.” “Jangan dong, kenapa harus minder. Mama nya baik, Kakaknya baik, kalo nggak karna lo udah gue tikung duluan deh In.” “Lina plis, kali ini gue bolehin lo tikung gue. Gue takut deketin Kenichi, dari segi materi gue kalah, dari segi apapun gue pasti kalah. Lagian gue juga gak bisa deket sama si Ken.” “Ah Ina gak seru. Yaudah nanti gue bantuin lo deh biar deket sama Kenichi.” “Nah tu si Ken dateng. Sikat Na, lo pasti bisa.” Ken yang sudah selesai dengan urusannya pun kembali ke tempat teman-temannya, dia menatap heran dengan perubahan sikap tiga temannya itu.  “Kalian kenapa ?” “E-eh gapapa Ken. Cu-cuma mau pamit pulang tapi tadi nyokap lo suruh kita makan dulu. Kita nggak enak.” “Nyokap ? apa itu ?” Lina menyikut lengan Ina, “Eh maksud nya Mama lo” “Oh gitu, yaudah kalian makan dulu ya, nggak ngerepotin kok. Mama nggak cuma sekedar nyuruh. Jangan sungkan yah.” Balas Ken. Sekarang Ina, Lina serta Rendra tengah menyantap makanan, di meja makan tentu ada Alea. Mimpi apa mereka hingga bisa makan bareng selebgram yang tengah naik daun itu. Tidak ada yang berani bicara, karena keluarga Almachzumi biasa makan dalam diam, mereka hanya sedikit berinteraksi di awal. Setelah selesai makan Rendra meminta langsung pada Alea untuk berfoto bersama. Alea mengizinkan, tak lupa Lina dan Ina pun ikut dalam acara dadakan tersebut.  “Kalian kenapa bisa gitu nge fans sama anak tante ? Padahal dia cuma anak manja kalo dirumah loh.” Tiba-tiba Sayaka datang dan berkata demikian dengan tersenyum. “Mama, jangan gitu dong. Aku kan cuma manja di rumah. Lagian diluar rumah aku mandiri loh, buktinya fans aku banyak.” Balas Lia tak mau kalah. Lina, Ina serta Rendra bingung harus berkomentar apa selain tersenyum melihat tingkah idola mereka dirumah. Dan mereka memutuskan untuk segera pulang, tak lupa mereka juga berpamitan dengan Tante Sayaka. “Tante kita pulang dulu ya. Terima kasih banyak Tante sudah dijamu makan, maaf kalau ngerepotin. Kak Alea makasih juga ya udah mau foto-foto bareng kita.” Ucap Ina. “Jangan kapok datang kesini, jangan kapok juga temenan sama Kenichi, dia memang pendiam. Tapi anak Tante itu baik kok orangnya.” Ken mengantar mereka bertiga sampai di depan gerbang.  “Ken sumpah gue seneng pake banget. Sekiranya kalo gue main kesini bisa kali gue deket sama Alea.”  “Hahah, silahkan berusaha. Kak Lia sudah ada yang punya.” “Hah, “ Mereka bertiga kini kompak berteriak. “Kenapa, bukannya kalian follow IG nya Kakakku yah ? harusnya info itu sudah ada.” Buru-buru mereka mengecek i********: milik Alea Hana Almachzumi, dan benar saja postingan terbaru milik Alea yang sedang menggandeng mesra seorang lelaki lengkap dengan caption Love , Ken hanya tersenyum melihat mereka bertiga syok. “Maaf ya aku kira kalian sudah tahu.” “Nggak usah minta maaf Ken, lagian Rendra mah lewat sama cowoknya Kak Alea.” Dan semua orang tertawa diatas penderitaan Rendra. “Sekali lagi makasih ya Ken. Besok gue kabarin kalo laporannya udah selesai. Lo fokus aja sama acara keluarga lo.” Lanjut Ina. “Iya makasih juga. Maaf aku nggak bisa anter kalian.” Mereka bertiga pun sudah pulang dan Ken kembali sendiri. Kesendirian adalah sahabat terbaik dalam hidup Ken, tapi disatu sisi kesendirian adalah musuh terbesar baginya, dia begitu akrab dengan kesendirian. Tidak peduli apa yang terjadi, kesendirian akan selalu menghantuinya. ~ To Be Continued ~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD