Berusia 20 tahun, Jolin masih ingin menikmati hidupnya. Kebebasan yang baginya titik paling menyenangkan selama ini. Beberapa perantau cenderung rindu pulang ke rumah. Berbeda dengan Jolin, di libur semester ini dia memutuskan untuk jalan-jalan ke Bali bareng Tari dan Diara.
Bunyi alarm dengan lagu Eyes, Nose, Lips dari Taeyang membangunkannya dari mimpi indah. Ia mengucek matanya dan dengan malas menekan tombol apapun untuk menghentikan alarm itu. Ia bangkit duduk karena tertarik dengan pemandangan dari kaca jendela. Air pantai yang indah dengan orang berlalu-lalang. Indah sekali. Bali memang tiada duanya.
Kepala yang menengadah dan tangan dibentangkan. Rasanya seperti berada di surga dunia yang belum pernah ditemui. Tunggu dulu! Ada yang aneh dengan tempat itu. Seingat Jolin, hotel tempat tinggalnya tidak sebagus ini. Mereka itu mahasiswa miskin yang gak punya uang banyak. Tidak ada uang untuk menyewa hotel sebagus ini.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Jolin melayangkan pandangan ke arah tempat tidurnya. Seseorang sedang tertidur lelap. Tak kuasa, Jolin berteriak kencang. Teriakan yang tak bisa ia tahan karena syok berkepanjangan. Boro-boro pacaran, kalau ada yang deketin, Jolin langsung memberi jarak yang sangat jauh. As we know, Jolin gak suka dikekang. Dia gak suka relationship ala-ala people +62. Boomer yang kerap menyuruh anaknya untuk buru-buru nikah biar gak diomongin tetangga. Hell, Jolin gak peduli masalah itu.
Cowok itu bangun dan melonjak kaget. Rupanya keadaan ini sama-sama tak diinginkan kedua belah pihak. Mereka diam sejenak, berusaha menerka-nerka apa yang terjadi. Jolin menutupi badannya yang semi naked. Badan yang seharusnya ditempel dengan empat helai pakaian, kini hanya ditempel dua helai pakaian. Bayangkan!
Belum sempat saling memberikan klarifikasi, telepon hotel memecah keheningan. Dan untuk kedua kalinya, mereka berdua melonjak kaget.
“Hallo!”
“Pra, gue kesana ya? Gue cuman mastiin lo di kamar apa engga.”
“Gak usah! Mau ngapain lo kesini?”
“Mau ngomong sesuatu. Kalau lo masih tidur, ga apa-apa. Gue bisa minta dibukain sama receptionist.”
“Nggak kok. Gue udah bangun.”
Praga melihat ke arah Jolin yang masih terpaku dengan muka melongo. Cewek polos itu tampak aneh dengan bibir menganga. Rambutnya acak adul dan mengembang.
“Hmm, lo bisa sembunyi bentar gak?”ucap Praga dengan suara paling halus yang dia miliki. Suara canggung dari stranger. Siapa juga yang tidak canggung berada dalam keadaan itu? Gadis yang bahkan tidak tahu darimana asalnya muncul begitu saja. Bukan di depan mata, tapi diatas ranjang. Sungguh perkara yang menimbulkan banyak masalah.
“Gak, gak bisa. Gue butuh penjelasan lo. Kenapa gue ada disini?”Jolin bertingkah seperti cacing kepanasan. Ia berjalan ke kiri dan ke kanan. Otaknya berusaha bekerja keras, tapi tak ada yang bisa diingat. Bahkan wajah cowok di depannya itu bukan wajah yang pernah ia temui.
“Gini deh. Kalau teman gue tahu lo disini, dia bisa berpikir yang engga-engga. Gak cuma itu, dia bisa nyebarin ke teman-teman gue, bahkan bisa disebarkan ke seluruh dunia. Itu gak cuma ngerugiin gue, tapi lo juga. Gimana?”
“Oke. Gue harus kemana?”
“Lemari. Lemari itu. Gue bakal usahain biar dia cepat pergi.”
Ting tong!
Tak butuh waktu lama untuk Aldo sampai. Dengan jantung yang masih berdegup kencang, Praga membuka pintu. Ah, dia memastikan tak ada barang-barang Jolin di atas tempat tidur. Dan untuk sepatu cewek itu, dia meletakkannya di bawah wastafel. Dengan hati-hati, ia membuka pintu.
“Astaga, lama banget sih. Kayak cewek aja lo bro!”Aldo langsung melenggang masuk dan duduk di kasur. “Jadi gimana, kita jadi ke Nusa Penida? Mumpung besok gak ada kerjaan.”
“Lo kesini cuma mau ngomongin itu? Gak penting banget!”
“Gue serius Pra. Gak ada yang bisa diajak kecuali lo. Kan disini, kita doang yang single and available. Ayolah!”
“Gue gak tertarik. Mending gue selesaikan project buat bulan depan.”
“Hell, manusia macam apa sih lo?”Aldo sekarang tiduran di kasur. Sangat susah mengajak Praga untuk menikmati hidup. Bagi cowok itu, bekerja adalah hiburan paling menyenangkan. Unik memang, dia salah satu manusia unik yang di create sama Tuhan.
“Udahlah, mending lo cari yang lain yang bisa diajak.”
“Gak ada Pra. Kalau gini ceritanya, gak ada gunanya gue ke Bali. Niat nyari hiburan, tapi gak ada yang bisa diajak. Bosan banget gue.”
“Ya udah deh, gue mau pergi. Tapi lo bisa pergi sekarang gak? Gue perlu waktu buat sendiri.”Praga terpaksa mengalah agar Aldo segera pergi dari tempat itu. Kalau gak diusir, Aldo bakal betah dan terus-terusan disana.
“Beneran nih? Gak boong kan lo?”
“Iya. Demi lo!”
“Yash!”
“Udah sana. Lo keluar kamar gue, biar gak sumpek.”
“Siap bos!”balas Aldo sambil bangkit dari tempat tidur. Tumben Praga mau diajak jalan-jalan. Mereka sudah seminggu di Bali, dia tetap sibuk di depan laptopnya. Sesekali dia pergi ke pantai tapi dengan laptopnya juga. Workaholic seperti Praga memang membuat orang disekitarnya merasakan yang namanya culture shock. Aldo sih sudah terbiasa karena mereka sudah jadi rekan kerja selama 6 tahun.
Setelah Aldo pergi, Praga langsung mengunci pintu. Takut ada yang tiba-tiba masuk. Siapapun itu, bisa timbul gosip baru. Dia membuka lemari dan mendapati Jolin yang sedang berdiri dengan tatapan kosong.
“Hmm, teman gue udah pergi.”ucap Praga sambil menggaruk kepalanya.
“Astaga Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi disini?”Jolin tampak histeris. “Kita ngelakuin apa tadi malam?”
“Bisa tenang dulu gak? Gue juga gak tahu apa yang terjadi.”balas Praga kesal. Lama-lama cewek itu jadi menyebalkan.
“Sumpah ya, dari tadi gue berusaha mengingat apa yang terjadi. Otak gue di reset sama waktu. Gue gak ingat apa-apa.”ucap Jolin dengan muka polosnya.”
“Gini aja. Lo tetap disini, coba lo ingat apa yang terjadi. Harusnya gak ada apa-apa.”
“Gak ada apa-apa gimana? Jelas banget gue tidur cuma pakai daleman doang.”
“Tapi itu gak ngebuktiin apa-apa. Bisa aja lo punya kebiasaan tidur gak pake baju.”
“Iya juga sih..”Jolin mengakui hal itu. Memang sih, dia gak betah tidur pakai baju. Itu kebiasaannya setiap hari di kamar kosan. Terkecuali kalau dia balik ke rumah. Jolin benar-benar stres. Apa benar dia tidak berbuat apa-apa dengan cowok itu.
“Astaga,,,” Jolin mengambil ponselnya di meja. Ponsel yang kehabisan baterai. “Mati gue, gue gak bawa casan.”keluhnya setelah melakukan pengecekan di tas.
“Bisa pinjam casan lo gak?”
“Ah, gue gak punya casan Android.”
“Mati udah.”keluh Jolin sambil menggaruk-garuk kepalanya. Cewek dengan tingkat kepanikan yang sangat tinggi. Dia menggigit jarinya saking bingung. Sedang Praga diam tanpa kata.
“Teman lo. Iya, teman lo pasti ada yang pakai android. Tolong banget, lo pinjam!”ucap Jolin dengan wajah memelas. Wajah yang gak bisa ditolak sama sekali. Jolin memang tipe cewek yang wajahnya polos tapi aslinya tidak. Dan karena wajah itu, ia sering mendapatkan bantuan cuma-cuma dari strangers. Berbanding lurus dengan hal itu, beberapa orang juga menganggap dia orang bodoh. Padahal dia bisa jadi serigala kalau lagi ngamuk.
“Oke. Lo tunggu disini ya.”ucap Praga sambil bergegas hendak pergi. “Oh ya, mending lo pakai baju.”lanjutnya.
Jolin yang bodoh itu akhirnya sadar. Sedari tadi dia menutup badannya dengan selimut. Dia berdoa dengan serius, semoga saja tidak ada hal yang terjadi tadi malam. Logikanya, cewek sama cowok satu kamar, rasanya akan terjadi hal yang dalam tanda kutip itu. Mengerikan!
Tak butuh waktu lama, Praga kembali dengan casan android di tangannya.. Jolin langsung mengisi baterai ponselnya. Alkohol bisa jadi surga dan neraka sekaligus. Untuk pertama kalinya, Jolin meneguk minuman itu dan seketika hidupnya berantakan.
“Ehmm, kebetulan gue ada kerjaan hari ini. Gue ngasih lo kontak gue aja ya, kalau ada apa-apa.”ucap Praga sambil meletakkan kartu nama di meja itu.
“Lo beneran gak ingat? Asal lo tau, gue gak pernah merasakan hal yang begitu. Bahkan ciuman pun gue gak pernah. Semoga aja kita cuma tidur bareng.”ucap Jolin dengan polosnya.
“Iya, semoga aja.”
Bang Bang Bang!!! Lagu dari Big Bang terdengar. Bunyi dering ponsel Jolin menguasai ruangan itu. Jolin langsung sigap mengangkatnya. Telepon dari Tari.
“Jol, lo dimana?”
“Gue di suatu tempat. But, i’m fine. Lo sama Diara di hotel?”
“Iya. Lo beneran baik-baik saja? Udah gue bilang kan, harusnya kita gak pergi kesana. Gue sampai jantungan karena lo gak jawab telepon. Dan Diara sudah hampir nelfon Kak Cissa.”
“Gila lo! Jangan dong Ta. Gue aman kok, badan gue yang gak aman.”
“Badan lo gak aman? Kenapa emang?”
“Entar gue ceritain. Ini gue butuh duit buat pesan Gojek. Tolong lo transfer ya Ta.”
“Iya Jol. Hati-hati ya.” Jolin diam membisu. Bingung harus apa, pikirannya kemana-mana.
Kalau sampai dia hamil, segala rencananya akan hancur berantakan. Jangan sampai! Jolin masih harus nonton konser Big Bang. Tak boleh, kejadian buruk itu tak boleh terjadi.
“Gue pergi ya. Gue bawa kartu nama lo. Berdoa aja biar gak terjadi apa-apa.”Jolin bergegas sambil mengenakan jaket yang digantung di kursi. Jaket itu bau alkohol dan seketika membuat Jolin jijik. Dia gak jadi pakai. Cewek itu berusaha mengatur nafas agar tidak panik. Percaya dirilah karena tidak akan terjadi apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Percayalah.
Jolin menunggu gojek yang ia pesan. Ia berusaha meyakini kalau sebenarnya ia tidak dinodai. Jelas saja, dia masih pakai bra dan celana dalam. Kalau itu sudah terjadi, seharusnya dia bangun dalam keadaan naked. Logis bukan?
Dalam perjalanan menuju ke hotel, perasaan Jolin tidak tenang. Candaan Tari di tepi pantai kemarin seakan nyata.
“Astaga, itu bule ganteng amat. Gue pengen banget bilang sama dia buat menanam benihnya di gue. Buat memperbaiki keturunan.”Tari dengan santainya bergumam seperti itu. Ucapan yang membuat Jolin dan Diara terkekeh.
Kartu nama atas nama Pragadio Martin Arianto, seorang IT manager di Bukalawang. Bukalawang adalah startup yang bertindak sebagai intermediate antara buyer dan seller.
Jolin memukul kepalanya berkali-kali. Andai waktu bisa diulang, Jolin akan menerima anjuran Diara untuk tidak mengikuti Bella. Bella, cewek yang membawa mereka bertiga ke salah satu klub di Bali. Orang yang tergoda akan ajakan itu tentu saja Jolin dan Tari. Sedang Diara dengan muka datar hanya mengikuti kemana kedua temannya itu pergi.
“Ayolah, sekalian hangout. This is your first time, right? Kalau ke Bali itu harus ke klub. Biar berasa vibe nya.”ucap Bella waktu itu.
“Boleh juga. Gimana Jol, Di?”tanya Tari dengan excited.
“Boleh.”
“Engga.”
Dua pendapat yang berbeda. Tetap saja, suara terbanyak yang akan menang. Dua berbanding satu. Sesuai kesepakatan, segala sesuatu dilakukan dengan asas demokrasi. Terpaksa Diara mengikuti Jolin dan Tari ke sumber masalah itu.