Ditempatku berdiri, tubuhku menegang. Kakiku tak dapat digerakkan. Rasanya seperti ada paku yang menusuk ke dalam dagingku sehingga tidak dapat digerakkan. Bibirku terbuka, tapi sedetik kemudian kututup rapat-rapat. Lidahku terasa berat berkali-kali lipat, membuatku tak mampu berkata-kata. Dan sepasang mataku menatap Reyhan tanpa berkedip sedikitpun. Terlalu terkejut dengan kalimat yang dilontarkan olehnya. "Kamu terkejut?" lanjutnya lagi. Senyum sinis sekaligus kepahitan tampak jelas di bibirnya. "Bukan kamu saja No, aku pun sama terkejutnya saat mendengar fakta ini. Tapi yang lebih mengecewakan adalah aku harus mendengar berita yang seharusnya membahagiakan ini dari bibir orang lain. Bukan dari bibir ibu anakku!" Tubuhku terlonjak ketika nada suara Reyhan meninggi. Bibirku mulai gemet

