Tigabelas

1249 Words

Awalnya aku sempat berpikir jika semuanya akan baik-baik saja. Seperti saat ketika Reyhan pulang besok, aku akan menjelaskan semua perihal keberadaan Reynaldo kepadanya dan meminta laki-laki itu untuk menyusul mereka di Bali. Tapi sayangnya semuanya berubah ketika aku mendapati Felicia berdiri di depan apartemen kami dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. "Minum dulu," kataku membuka pembicaraan. Kulirik jam di atas meja kecil di sisi sofa yang menunjukkan pukul delapan malam. "Terima kasih," gumamnya setelah tangisannya sedikit mereda. Disesapnya teh hangat yang aku buatkan untuknya. "Ada apa? Coba jelaskan padaku lebih detail," pintaku hati-hati. Penampilan Felicia sangat berbeda dengan perempuan yang kutemui di Bali. Saat ini ia jauh dari kata rapi. Rambut hitamnya sedikit

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD