"Apa kabarmu, No?" Suara serak itu membuat rinduku semakin besar. Ingin rasanya aku berteriak dan berkata bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku sangat merindukanmu! "A-aku...baik-baik aja," jawabku pelan. "Syukurlah." Setelah itu kami terdiam. Suasana tegang memenuhiku. Tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Karena begitu banyak yang ingin aku katakan tapi, tidak bisa. "Aku... merindukanmu." Deg! Dua kata yang keluar dari bibir Reyhan berhasil membuat pertahananku hancur seketika. Mendadak kelenjar air mata ini tidak terkendali. Air mata terus mengalir di atas pipiku. Sampai akhirnya aku menutup bibirku dengan sebelah tanganku. Tak ingin isakan tangis yang lolos dari bibirku terdengar olehnya. "Maaf..seharusnya aku tidak bicara seperti itu. Hanya saja... aku benar-benar merindukanmu...

