Fahri mengusap air matanya, sebenarnya ia merasa malu dengan ayah Ucok. Bagaimana bisa menjadi kuat di tengah duka yang membelenggunya? "Aku ikhlas, Bang. Ikhlas lillahi ta'ala." 12 jam perjalanan mereka tembus dengan membawa kabar duka. Fahri sudah tertidur di samping ayah Ucok. Sedangkan laki-laki paruh baya itu, sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan kedua anaknya terus menghantui, bagaimana caranya agar ia bisa ikut tertidur dengan lelap, matanya sudah sangat panas rasanya. "Gak tidur, Bang?" Ayah Ucok langsung menatap supir mobil ambulan di depannya. Ia menggeleng pelan, lalu tersenyum lemas. "Gak bisa tidur aku, Dek. Rasanya sekarang aja kayak mimpi tanpa tidur." "Sabarlah, Abang. Mau gimana lagi? Takdir gak bisa kita hindari." "Iya memang. Tapi kenapa lah

