"Ji. Jangan pingsan dulu, itu rumahku Deket, Ji." Rahman menepuk pipi Panji dengan kuat. "Gak tahan aku we, mau muntah." BRAK! Badan besar Panji terkulai lemas di tengah jalan. Dengan kondisi yang tidak elit. "Ya Allah, apalagi ini?" Lirih Adul pelan sembari membantu Panji berdiri dengan sekuat tenaga. Namun karena kondisi Adul yang menang tidak terlalu baik. Di tambah Panji yang memiliki perawakan yang besar, menguat Adul kewalahan, sedangkan Fahri dan Rahman hanya memantau kegiatan Adul. "Woy, Bantuin ini." Teriak Adul. Namun Rahman malah tertawa ngakak. "Kau tau nya, Dul. Udah dikerjai kau sama si Panji, coba ambil itu tanah lumpur, letak di muka dia. Pasti bangun langsung." Adul melirik Panji yang memejamkan matanya, namun ia melihat bola mata Panji yang bergerak ke sana

