Aduk terdiam, menatap figuran foto Ucok yang berada di dinding kanan ranjang. Matanya menatap foto itu secara intens, pikirannya berkelana, mulai menayangkan seandainya dan seandainya. Omongan Amri tadi membuat Adul kepikiran, kenapa bisa hanya dirinya saja yang selamat? Sedangkan kedua temannya harus merasakan sesuatu yang tidak baik. Adul melihat ke arah pintu, terlihat Rahman masuk dengan wajah yang tidak bersahabat. "Kenapa, Man?" Tanya Adul heran. Rahman mendengus tidak suka. Ia menatap Adul dengan wajah yang sedikit kesal. "Kenapa gak kau jawab aja itu tadi si Amri? Lantam kali muncungnya, pengen aku tumbuk aja rasanya." Rahman bersungut-sungut kesal, bahkan sangking kesalnya ia sampai meremat sprei di atas ranjang. "Hahaha... Baperan kau, ngapain kayak gitu diambil hati, o

