Bab 4. Pilihan

1098 Words
Aerin memandangi wajah polos putranya yang terlelap. Napas anak itu terdengar tenang, namun tubuhnya yang kecil terlihat lemah, dihiasi oleh kabel-kabel monitor dan jarum suntik yang menancap di lengannya. Perlahan, ia menggenggam tangan mungil itu dan membungkuk untuk mengecupnya dengan penuh kasih. Hatinya tersayat, seperti ada ribuan belati yang menusuk tiap kali ia melihat kondisi anaknya seperti ini. “Maafkan Mommy, Nak,” bisiknya lirih. Suaranya nyaris tenggelam dalam isakan yang tertahan. “Mommy belum bisa jadi ibu yang baik buat kamu.” Aerin merasa dadanya semakin sesak. Bagaimana tidak? Kesibukannya bekerja membuatnya tidak bisa selalu berada di sisi anaknya. Hatinya menangis, merasa gagal menjadi seorang ibu. Dari belakang, tangan seorang pria menyentuh bahunya dengan lembut. Sentuhan itu seperti menawarkan kekuatan bagi wanita yang tengah rapuh. “Ar akan baik-baik saja,” ucap pria itu, terdengar mantap meski sorot matanya menyiratkan kekhawatiran yang tak terucap. Aerin menyeka air matanya dengan punggung tangan. Ia menoleh, menatap wajah pria itu penuh harap, meskipun hatinya sudah dipenuhi kecemasan yang menggunung. “Kapan Ar bisa menjalani operasi, Kak?” tanyanya, suaranya hampir tenggelam dalam udara yang terasa berat. Sang dokter terdiam sesaat. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab. Senyumnya dipaksakan, mencoba menutupi beban berat yang ia rasakan. “Kamu harus menemukan ayah kandung Ar dulu, Rin.” Hati Aerin seolah berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya seperti membeku. Kata-kata pria itu menggema di kepalanya, menghantam keras. Ayah kandung Ar? Kenapa harus dia? Bukankah pria itu sudah memilih pergi dan menolak mengakui darah dagingnya sendiri? “Kenapa harus dia?” Aerin berusaha menyembunyikan getaran suaranya. Ia ingin mendengar alasan yang lebih masuk akal. “Karena dia satu-satunya yang bisa memberikan donor sumsum tulang yang cocok untuk Ar,” jawab sang pria, suaranya berat, tetapi tegas. “Tidak mungkin,” gumam Aerin, matanya berkaca-kaca. Ia memalingkan wajah, mencoba menahan luapan emosinya. “Kak, tidak ada cara lain? Selain meminta bantuan dari dia?” Sang dokter hanya menggeleng pelan. “Tidak ada, Rin. Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan Ar.” Air mata yang sejak tadi hanya membendung akhirnya jatuh juga, membasahi pipi Aerin. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan suara tangis yang hampir pecah. Bayangan pria itu muncul di kepalanya. Pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, tetapi pergi meninggalkan luka yang mendalam. “Aku tidak bisa memintanya, Kak,” ucap Aerin dengan bergetar. Ia memukul dadanya sendiri, seakan ingin mengusir rasa sakit yang kian menyesakkan. "Apa yang harus aku katakan padanya, Kak? Dia bahkan tak menginginkan keberadaan Ar!" * * * "Kamu..." Alan menatap tajam Aerin. "Ke ruangan saya!" titahnya kemudian. "Baik, Tuan!" Aerin membalas dengan anggukan kepala dan segera menyusul Alan. Aerin masuk ke dalam ruangan Alan dan siap mendengarkan perintah bosnya tersebut. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?!" tanyanya sopan dan tak lupa membungkuk hormat. "Duduk!" suruhnya. Aerin duduk di kursi depan meja Alan. Alan menatap dalam wajah Aerin, tatapan wanita ini tampak kosong dan seperti tak punya gairah hidup. Bahkan sorot mata yang dulu ia kenal penuh dengan cinta, kini hanya kehancuran yang terlihat jelas. "Kamu..." Sejenak Alan terdiam, seolah sedang memikirkan kelanjutan kata-katanya. "Kenapa tidak masuk kemarin?" Bukan itu yang ingin Alan tanyakan, sebenarnya ia ingin marah, tetapi entah kenapa lidahnya tiba-tiba saja kelu. "Maaf, Tuan, saya ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan!" jawab Aerin beralasan. "Urusan apa?" Alan menatap penuh selidik dan juga penasaran. "Keluarga, Tuan," jawabnya. "Kamu sudah menikah? Kamu sudah punya suami?" cecarnya terdengar tak suka. Cemburu? Tidak mungkin, mana mungkin Alan cemburu. "Iya, Tuan." Jawaban Aerin membuat tangan Alan otomatis terkepal dengan kuat, otot-otot rahangnya terlihat bermunculan. Apakah benar Aerin menikah lagi? Enak saja Aerin dengan gampang menikah dan bangkit dari patah hati? Sementara Alan setengah mati, menahan siapa saja yang mencoba masuk ke dalam kehidupannya. "Kenapa kamu menikah?" Pertanyaan ambigu dan bodoh, tetapi Alan juga tidak tahu, kenapa pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepala Alan? "Hah?!" Aerin tampak kebingungan, sepertinya wanita itu baru sadar atas jawabannya. "Ah, sudahlah, bicara sama kamu itu bikin saya emosi saja!" ketus Alan, tanpa sadar lelaki itu mengenggam kuat bolpoin di tangannya. "Kerjakan semua datang meeting ini sampai selesai. Kamu tidak boleh izin sebelum jam pulang!" "Eh, tapi, Tuan–" "Tidak ada tapi-tapian, kalau kamu berani izin tanpa sepengatahuan saya, gaji kamu saya potong semuanya!" ancam Alan. Aerin terduduk lemah, ia tidak mau gajinya dipotong karena itu satu-satunya biaya untuk Ar bisa menjalani perawatan rutin di rumah sakit. Namun, tak izin dan menunggu jam pulang, siapa yang akan menjaga anaknya? Dokter yang merawat sang putra juga banyak pekerjaan, tidak selalu bisa membantu dirinya. "Iya, Tuan." Aerin hanya membalas dengan anggukan kepala. "Keluar dari ruangan saya!" usirnya dengan wajah masam. Setelah Aerin keluar dari ruangannya, Alan menghembuskan napasnya dengan kasar. Ada rasa marah yang meluap-luap di dalam dadanya. Entah, kenapa ia tidak terima mendengar Aerin sudah menikah? Alan menyapu wajahnya dengan kasar. Ia mengepalkan tangan dengan erat, terlihat ia marah dan seperti hendak mengamuk, tetapi pada siapa? Tak mau pusing lelaki itu berjalan keluar meninggalkan ruangannya. Tak lupa membawa kunci mobil, ponsel serta dompet miliknya. Saat mengendarai mobil, bayangan Aerin tiba-tiba muncul lagi di hadapan Alan. "Jika Aerin menikah lagi, lalu di mana anak kami?" tanyanya. Masih teringat jelas 6 tahun yang lalu saat Alan mengusir dan menceraikan wanita itu, saat itu Aerin mengatakan bahwa dia hamil anak mereka. Namun, ia tidak peduli karena tak menginginkan anak dari wanita itu. Ia menikahi wanita tersebut juga karena balas dendam, setelah semua rasa sakitnya terbalaskan, Alan membuang mantan istrinya begitu saja. Mobil lelaki itu berhenti di depan sebuah bar. Ia langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam tempat haram itu. Sejak enam tahun belakangan, Alan memang kerap kali menghabiskan waktunya di sini, ditemani oleh alkohol yang membuatnya lupa akan masalah yang tengah ia hadapi. "Hem, kalau sudah datang ke sini pasti ada masalah!" Seorang pria mendekati Alan sembari menyedorkan gelas berisi wine pada sahabatnya itu. Alan mengambil gelas itu lalu menunggak isinya hingga tandas tak tersisa. Lalu diisi kembali oleh bartender. "Aku bertemu Aerin!" jawab Alan, lagi-lagi menunggak isi gelas itu. "Hah?!" Sahabatnya tampak terkejut saat mendengar penjelasan Alan. "Bagaimana bisa? Bertemu di mana?" cecarnya tampak penasaran. Pria itu sampai menarik kursi dan duduk di sebelah Alan. "Hem!" Alan berdehem sembari menyalakan rokok yang terselip di antara sela jarinya."Dia sekertarisku di kantor!" jawabnya. "Wow kisah yang menarik!" ledek lelaki itu sambil bertemu tangan dan tertawa mengejek. Sementara Alan melemparkan tatapan tajam dan juga kesalnya. Ia tahu jika curhat pada sahabatnya itu, pasti ujung-ujungnya akan diledek seperti yang sudah-sudah. "Lalu, bagaimana dengan anak kalian? Bukankah katamu, sebelum berpisah Aerin mengatakan bahwa dirinya hamil? Hem, jika dihitung-hitung mungkin usia anakmu sekitar 5 tahun!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD