Setelah selesai bertemu klien keduanya langsung kembali ke kantor.
"Jangan ge-er kamu, saya hanya menyelematkan kamu dari mata keranjang seperti tuan William!" ucap Alan terdengar ketus.
Aerin hanya membalas dengan anggukan kepala. Lagian ia sama sekali tidak berniat terbawa perasaan, malah ia ketakutan saat Alan tadi merangkul bahunya.
Hening, tak ada lagi percakapan antara mereka. Ekor mata Alan melirik ke arah Aerin yang tampak fokus menyetir. Jauh berbeda, wanita itu memang banyak berubah. Dulu, Aerin adalah wanita yang cerewet dan aktif. Biasanya ia aktif berbicara dan menghidupkan suasana. Namun, kali ini Aerin tampak lebih diam dari biasanya.
Alan menghela napas panjang, mengalihkan pandangan ke luar jendela. Langit mendung menggantung, memberi isyarat hujan akan turun kapan saja. Di dalam mobil, keheningan semakin menekan. Alan menyandarkan tubuhnya, mencoba mengusir kegelisahan yang entah kenapa tiba-tiba menyeruak.
"Kenapa kamu diam terus? Biasanya banyak bicara?" Alan akhirnya membuka percakapan, suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya.
Aerin hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. Ia tidak langsung menjawab, seakan memilih untuk mengabaikan pertanyaan itu. Namun, Alan terlalu penasaran untuk membiarkannya berlalu begitu saja.
"Saya tahu kamu bukan Aerin yang dulu, tapi apa salahnya kalau kita bicara? Setidaknya perjalanan ini tidak terasa seperti neraka sunyi," ujar Alan lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut.
Aerin menarik napas panjang, tangannya menggenggam setir lebih erat. Ada pergulatan di dalam dirinya—apakah ia harus membuka diri atau tetap menjaga jarak? Akhirnya, ia menjawab, suaranya nyaris tenggelam dalam gumaman.
"Saya hanya sedang tidak ingin bicara, Tuan," jawabnya terdengar begitu dingin dan mencekam.
"Serius? Atau kamu memang sengaja menjauh dari saya?" Alan mendesak, meski ia tahu pertanyaannya sedikit menohok.
Aerin mengerutkan dahi, merasa terusik. Ia menghentikan mobil sejenak di lampu merah, lalu menoleh ke arah Alan.
"Saya hanya mencoba bersikap profesional. Tuan bos, saya karyawan. Aku tidak mau ada salah paham."
Alan tertegun. Jawaban itu sederhana, tetapi baginya terasa seperti pukulan.
"Salah paham? Sejak kapan kamu mulai berpikir begitu?"
"Tidak apa-apa, Tuan," jawab Aerin yang tidak mau menambah perdebatan di antara mereka.
Alan menatap Aerin dalam-dalam, mencari sesuatu di wajah wanita itu—kejujuran, kemarahan, atau mungkin perasaan yang pernah ada di antara mereka. Namun, yang ia temukan hanyalah sorot mata dingin dan penuh kehati-hatian.
"Jadi, kamu benar-benar berubah, ya?" Alan tersenyum tipis, tetapi ada kepedihan yang terselip di sana.
"Kita sudah hidup di masa yang berbeda, Tuan," sahut Aerin.
Ketika lampu merah wanita itu menghentikan mobilnya. Sejenak ia melirik jam yang tertera di mobil, terdengar helaan napas panjang.
"Tuan, setelah ini apa boleh saya izin pulang duluan? Ada urusan penting!" ucap Aerin takut-takut, lelaki ini ia kenal begitu kejam, bicara saja tidak boleh sembarangan.
"Izin ke mana?" Kening Alan mengerut heran. "Baru hari pertama bekerja, kamu sudah berani izin?" Ia memincingkan mata curiga, lebih tepatnya penasaran.
"Maaf, Tuan!" Aerin hanya tersenyum.
"Mau izin ke mana?" Alan mengulang pertanyaannya, ia tampak kesal karena Aerin tak menjawab pertanyaannya.
"Bertemu teman saya, Tuan," jawab Aerin.
"Laki-laki atau perempuan?" Alan lagi-lagi memincingkan matanya curiga. Kenapa ia jadi ingin tahu siapa saja yang dekat dengan wanita itu.
"Laki-laki, Tuan!"
* * *
Alan melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah tegas, nyaris menghentak. Sepatu kulitnya menimbulkan bunyi gemuruh di atas lantai marmer yang mengkilat, menyatu dengan aura kemarahan yang memancar dari dirinya. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras dan sorot matanya tajam seolah siap menembus siapa saja yang berani menentangnya. Semua orang di perusahaan itu langsung terdiam, membisu dalam ketegangan yang hampir terasa menggantung di udara.
Cody, asisten pribadinya yang biasa menjadi tempat Alan melampiaskan amarah, berdiri kaku di dekat meja kerja. Ia baru saja akan menyerahkan dokumen laporan bulanan ketika Alan menepisnya dengan kasar. Dokumen itu nyaris jatuh ke lantai jika Cody tidak segera menangkapnya.
"Pokoknya, tidak ada lagi karyawan yang izin pulang lebih awal tanpa persetujuan saya!" bentaknya, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Nada penuh tekanan itu membuat beberapa staf di luar pintu menoleh dengan wajah penasaran.
Cody menelan ludah, mencoba menyusun kata yang tepat. "Tapi, Tuan, kebijakan itu biasanya sudah melalui..."
"Sudah kubilang, tidak ada tapi!" potong Alan cepat, matanya menatap tajam Cody. "Aku tidak ingin melihat ada yang berlaku seenaknya di sini. Aku pemimpinnya, dan semua keputusan harus melalui aku!"
Cody mengangguk cepat, tidak ingin memperpanjang ketegangan. Ia tahu, ketika Alan sedang dalam suasana hati seperti ini, lebih baik tidak membantah sedikit pun.
Alan menjatuhkan tubuhnya ke kursi kulit hitam yang megah di tengah ruangan. Tangan kirinya mengusap wajah, sementara tangan kanannya menggenggam kuat lengan kursi. Ia mendongak, mencoba menenangkan pikirannya yang kusut. Namun, bayangan Aerin yang akan bertemu dengan laki-laki lain malah terngiang di kepalanya. Padahal belum tentu juga apa yang ia bayangkan benar-benar akan terjadi.
"Huh, dasar perempuan pembohong. Katanya dulu mencintai aku, tapi kenapa sekarang malah dekat dengan laki-laki lain?" Emosi Alan masih tampak menggebu-gebu, saat Aerin izin pulang duluan, lelaki itu mengamuk, tetapi tidak bisa menolak.
Alan melonggarkan dasinya yang terasa mencekik, dadanya masih panas, napasnya memburu. Sejenak Alan terdiam, ketika mengingat sesuatu.
"Bukankah sebelum berpisah dengan Aerin, ia sedang hamil? Lalu di mana anak itu sekarang?"
* * *
"Kak!"
"Aerin!"
Aerin berjalan dengan langkah tergesa-gesa menghampiri lelaki yang memakai jas putih kebanggaan nya itu.
"Kak, bagaimana keadaan Ar?" tanyanya. Wajah wanita itu tampak panik ketika ditelpon oleh pria tersebut.
"Ar sudah melewati masa kritisnya. Maaf tadi Kakak–"
"Tidak perlu minta maaf, Kak. Aku justru berterima kasih karena Kakak datang tepat waktu. Maaf aku selalu merepotkan Kakak!" ucap Aerin yang tak enak hati karena merasa selalu merepotkan pria itu.
Sang pria tersenyum seraya mengusap kepala Aerin dengan sayang.
"Sama sekali tidak. Kakak akan selalu buat kamu dan Ar!" Lelaki itu menarik Aerin masuk ke dalam pelukannya.
Aerin melingkarkan tangannya di pinggang lelaki yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu. Jika tak ada pria ini, entah akan seperti apa hidup Aerin dan anaknya. Pria ini sudah membantu Aerin dalam banyak hal.
Aerin masih berada dalam pelukan pria itu, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih terpacu akibat kepanikan sebelumnya. Kehangatan yang memancar dari tubuh sang pria memberikan rasa aman yang sulit ia gambarkan. Dalam hatinya, Aerin bersyukur memiliki seseorang sepertinya dalam hidupnya.
Aerin melepaskan pelukan itu perlahan. Matanya yang lembab karena air mata menatap pria itu penuh haru. Lelaki dengan jas putih kebanggaan yang menunjukkan statusnya sebagai seorang dokter. Sosok yang tak hanya berkontribusi dalam menyelamatkan nyawa orang-orang di rumah sakit, tetapi juga menyelamatkan hidup Aerin dan putranya, Ar.
"Iya sudah ayo kita masuk ke ruangan Ar!" ajaknya.
Aerin mengangguk pelan, tetapi hatinya tetap diliputi rasa bersalah. Ia tahu pria itu selalu berusaha ada untuk mereka, bahkan ketika ia sedang sibuk dengan pekerjaannya di rumah sakit. Namun, kata-kata pria itu selalu berhasil meredakan kegelisahannya.
Di dalam ruang perawatan, tubuh kecil Ar terbaring lemah. Alat-alat medis terpasang di sekujur tubuhnya, menciptakan pemandangan yang selalu membuat hati Aerin mencelos setiap kali melihatnya. Namun, kali ini berbeda—wajah Ar tidak lagi sepucat sebelumnya. Napasnya teratur, meskipun masih terbantu oleh alat medis.
“Ar…” bisik Aerin sambil mendekati tempat tidur putranya. Ia duduk di kursi di samping ranjang pria kecil itu. "Bertahanlah, Nak. Jangan tinggalkan Mommy. Mommy tidak punya siapa-siapa lagi selain Ar!"