Aerin terpaku seperti patung, tubuhnya gemetar dan aliran darahnya seolah berhenti mengalir. Rasanya seperti waktu berhenti, meninggalkan dirinya dalam kekosongan yang mencekam. Matanya berkunang-kunang, pandangannya kabur Namun, sosok itu tetap jelas terlihat di depan sana—mantan suaminya. Lelaki yang tanpa ampun pernah mengusirnya saat ia tengah mengandung anak mereka.
Alan Jacksonville, pria itu, sama-sama tertegun di tempatnya. Mereka saling menatap dalam diam, seolah mencoba mencari jawaban dari tatapan yang tak pernah selesai. Tapi Aerin tahu, apa pun yang ia cari di sana, tidak akan pernah ada cinta. Tidak pernah ada perasaan tulus dari pria itu untuk dirinya. Ia tahu, dengan keyakinan yang menusuk hati.
“Hem!” Aerin berdeham pelan, memecah keheningan yang begitu menusuk. Suaranya terdengar hambar, seperti sisa keberanian terakhirnya. “Semua dokumen sudah saya selesaikan, Tuan. Jika tidak ada lagi, saya permisi.”
Tanpa menunggu jawaban, Aerin membalikkan badan dan melangkah keluar dengan cepat, tergesa. Ia tidak peduli bagaimana wajah pria itu sekarang. Ia tahu, ia harus segera pergi sebelum jiwanya yang rapuh benar-benar runtuh.
Sementara itu, Alan tetap terdiam di kursi kebesarannya. Tatapannya mengikuti sosok wanita yang kini menghilang di balik pintu. Jemarinya perlahan menyentuh dadanya. Ada sesuatu yang ia rasakan di sana—getaran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Aerin?” gumamnya pelan.
Nama itu meluncur dari bibirnya seperti desahan pahit yang telah lama ia pendam. Matanya menyipit, mencoba menghubungkan kenangan masa lalu dengan sosok yang baru saja ia lihat. Wanita itu begitu berbeda. Penampilannya, cara bicaranya, bahkan aura yang ia bawa, semuanya terasa asing. Namun, wajah itu, wajah yang dulu ia pandang penuh kebencian, masih bisa ia kenali dengan jelas.
Alan meraih tombol interkom di mejanya, jari-jarinya gemetar halus.
“Cody, ke ruanganku sekarang!" perintahnya dengan suara berat yang sedikit bergetar.
Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka, dan seorang pria muda dengan jas rapi melangkah masuk. Cody, asisten pribadinya, membungkuk hormat sebelum berdiri tegap di hadapan bosnya.
“Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan.
Alan menatapnya tajam, matanya seperti mencoba menembus kepala Cody untuk mencari jawaban yang ia butuhkan.
“Kenapa Aerin bisa menjadi sekretarisku?” tanyanya, nadanya dingin, penuh tekanan.
Cody sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu, tapi ia tetap menjaga ekspresinya tetap profesional.
“Maaf, Tuan. Departemen HRD yang langsung merekrut Ibu Aerin. Saya mendapat informasi bahwa beliau memenuhi kriteria yang Anda butuhkan untuk posisi ini,” jelasnya dengan tenang.
Alan menghela napas panjang, frustrasi. Ia menyapu wajahnya dengan kedua tangan, mencoba mengusir kegelisahan yang terus menghantui pikirannya sejak ia melihat wanita itu.
“Baiklah. Kamu boleh keluar,” ucapnya singkat, tanpa menatap Cody lagi.
“Saya permisi, Tuan.” Cody membungkuk sekali lagi sebelum keluar dari ruangan itu, meninggalkan Alan sendirian.
Alan Jacksonville, pria yang dikenal sebagai sosok tanpa ampun di dunia bisnis, kembali tenggelam dalam pikirannya. Selama enam tahun terakhir, ia hidup dalam kesendirian yang ia pilih sendiri. Hatinya terkunci rapat, tidak pernah sekalipun ia mencoba membuka diri untuk wanita lain, meskipun desakan dari keluarganya terus berdatangan.
Namun, pertemuannya dengan Aerin hari ini mengguncang dunianya yang selama ini stabil. Wanita itu telah banyak berubah, tetapi kenangan tentang masa lalu mereka masih segar dalam ingatannya.
Alan berdiri, melangkah mendekati jendela besar di belakang meja kerjanya. Pandangannya tertuju ke luar, ke hiruk-pikuk kota yang tampak kecil dari lantai tertinggi gedung ini. Namun pikirannya tidak berada di sana.
“Aerin, siapa yang mengira kita akan bertemu lagi dalam keadaan seperti ini?” bisiknya pada dirinya sendiri.
Kenangan enam tahun lalu menyeruak tanpa diundang. Ia ingat bagaimana ia mencaci maki wanita itu, mengusirnya dengan hinaan yang kejam. Semua itu ia lakukan atas dasar kebencian dan balas dendam. Sekarang, wanita yang sama berdiri di depannya, sebagai sekretaris barunya. Takdir sepertinya sedang bermain-main dengannya.
"Tak kusangka kita akan bertemu lagi, Aerin," gumamnya menatap kekosongan.
* * *
Sementara Aerin terduduk lemah di atas kursinya. Ia memegang dadanya yang terasa berdebar. Lelaki itu, pria yang sudah menciptakan luka di hatinya, kini muncul kembali dan sialnya malah jadi bos tempat ia bekerja.
"Apa perusahaan ini milik Alan?" gumam Aerin.
Tanpa sadar air mata wanita cantik itu menetes membasahi pipinya. Rasa sakit yang ingin ia lupakan, ternyata kembali mengoyak hatinya.
"Tidak, aku tidak boleh begini. Aku harus profesional demi Ar!" ucapnya menyemangati diri sendiri.
Aerin berusaha fokus pada pekerjaannya, tetapi bayangan Alan masih terus mengusik pikirannya. Selama enam tahun ia mencoba bangkit dari patah hati dan segala rasa sakit yang diciptakan oleh lelaki itu. Namun, siapa yang akan menyangka bahwa belum juga lukanya pulih, ia harus kembali dilukai lagi dengan pertemuan yang tidak pernah ia inginkan ini.
"Hem!"
"Astaga!" Aerin memegang dadanya karena mendengar deheman yang tiba-tiba mendekati meja kerjanya.
Melihat Alan yang berdiri di depan mejanya, segera wanita itu berdiri dengan menunduk.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanyanya tanpa berani menatap wajah lelaki itu. Lebih tepatnya, ia tidak ingin melihat Alan.
Alan tampak menghembuskan napasnya dengan kasar, sebelum berbicara.
"Ikut saya ketemu klien!" ajaknya.
"Baik, Tuan," jawab Aerin mengangguk sembari membungkuk.
"Siapkan data meeting yang diberikan Cody!" titahnya lagi.
Aerin menyiapkan semua data meeting yang dibutuhkan oleh lelaki itu. Ia berjalan mengekor Alan dari belakang, dadanya tak hanya berdebar, tetapi tubuhnya bergetar karena ketakutan. Keringat dingin tampak mengucur dari dahinya.
"Kamu bisa bawa mobil?" Alan menatap wanita itu dengan dingin.
"Bisa, Tuan," jawab Aerin.
Keduanya masuk ke dalam mobil. Wajah Aerin tampak pucat fasih, entah apa yang membuatnya begitu takut.
"Kenapa Anda tidak duduk di belakang, Tuan?" tanya Aerin yang heran melihat lelaki itu duduk di samping kemudi.
"Memangnya kenapa? Ini mobilku, aku punya hak mau duduk di mana pun," jawab Alan ketus dan juga dingin.
"Maaf, Tuan!" Aerin tersenyum kikuk mendengar jawaban dari lelaki itu. Alan sama saja tak berubah sama sekali.
Di dalam mobil tak ada obrolan di antara kedua manusia itu. Mereka tampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya suara deru mobil yang memecahkan gelembung lamunan di antara mereka.
Hingga mobil yang dikendarai oleh Aerin berhenti di depan sebuah cafe mewah. Wanita itu turun duluan membuka pintu agar Alan keluar dari sana.
Alan dan Aerin berjalan masuk ke dalam cafe, para pengunjung tampak menatap Alan dengan penuh damba. Lelaki idaman sejuta kaum hawa itu selalu menarik perhatian di mana pun ia berada.
"Selamat siang, Tuan Alan!" sapa seorang pria tampan seraya menjabat tangan Alan.
"Selamat siang juga, Tuan William!" balasnya sembari membalas jabatan tangan lelaki tampan itu.
Pria itu melirik ke arah Aerin yang sejak tadi hanya melempar senyum.
"Hai, saya William." Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Aerin.
"Saya Aerin, Tuan!" Aerin hanya menangkup kedua tangan di d**a, agar tak menyambut tangan William.
"Hem!" William berdehem. "Kamu sekertaris baru tuan Alan?" tebaknya.
"Iy—"
"Bukan!" potong Alan merangkul bahu Aerin. "Dia pacar saya, calon istri saya!"
"Hah?!"