Seoul, Korea Selatan. Hari ini matahari besinar seperti biasa layaknya musim semi lalu. Kelopak bunga sakura bermekaran dengan cantik..biar sinar dari mentari memantul membuat daun cantik merah muda itu bergerak dengan binar layaknya kristal.
Harusnya hari ini Reya bersama Yunki akan memilih cincin untuk pernikahan mereka. Takdir berkata lain, hari ini ia rebah tanpa detak dan nadi, dalam peti. Sementara sang tunangan berdiri di samping William menerima para peziarah. Sebelum mereka berdoa untuk jasad gadis itu.
Di sana pria dengan senyum kotak itu, sedari tadi hanya membungkuk lalu mengangguk, dengan senyum yang ia paksakan. Kata-kata yang ia dengan sedari tadi hanya ucapan untuk tabah, sabar dan kuat. Meski seolah bisa menerima tentu dalam hatinya memberontak. Kurang sabar dan tabah apa? Sejak lama ibunya meninggal karena sakit kanker, lalu sang Ayah meninggal karena dibunuh, dan sekarang adiknya tewas karena dibunuh. Hanya Reya yang menjadi alasan hidupnya. Ia bekerja dan semua hal yang ia capai hanya untuk membahagiakan adik perempuan satu-satunya. Lalu saat ini? Pada siapa ia menggantungkan tujuan hidup? Bukankah, setiap hal memiliki tujuan? Lalu jika tak lagi bagaimana ia bisa melalui hari ini, esok, lusa?
Helaan napas beratnya terdengar sering sekali. Setiap kali ia menatap foto yang terpasang di dekat peti jenazah itu. Terulas senyum yang hanya bisa ia tatap dalam bias angan. Air matanya menetes lagi, dan lagi, lalu ia dengan segera menghapusnya. Berusaha tegar. William Kim saat ini terlihat kuat. Namun tak ada yang tau jika perasaan dan hatinya hancur lebur.
Sementara Yunki seolah hilang kesadaran. Meski ia berdiri di samping William. Ia tak lepas menatap altar dimana jasad dan foto gadis yang ia cintai ada di sana. Ia tak bisa menghentikan air mata yang terus saja menetes, hingga gigi-giginya saling menggertak setiap kali ia berusaha menahannya. Tetap saja, ia menangis. Ia ingin menguatkan William. Sadar betul bukan hanya dirinya yang hancur. Namun itu sulit ia lakukan. Hatinya hancur, masih berharap ini adalah mimpi. Mungkin besok pagi Reya akan datang ke apartemen miliknya. Saat ia bangun gadis itu tengah membuat sarapan. Kemudian, mereka bersantap pagi berdua.
Seorang wanita paruh baya berjalan menghampiri keduanya. Eliza wanita berusia lima puluhan tahun itu adalah adik dari ibu William dan Reya.
"Ayo, ini saatnya kita mendoakan Reya. Hmm? Will?"
"Bibi bisa sebentar lagi? Sebentar lagi." Ini sudah ketiga kalinya William meminta tambahan waktu.
Tak ada lagi yang datang sudah satu setengah jam tambahan, semua menunggu dan berusaha mengerti. Bahwa William mengulur waktu, tak ingin terburu-buru berpisah dengan sang adik.
"Will, ini sudah lebih dari satu jam." Ucap Eliza lembut. Tangannya menggenggam tangan William, lalu menepuk-nepuk perlahan. "Berat aku mengerti—"
"Bibi tak mengerti. Tak ada yang bisa mengerti." Pria itu menatap Eliza dengan tatapan yang berkaca-kaca.
Yunki berusaha mengajak William duduk. "Ayo." hanya itu yang bisa ia katakan. Meski berat, untuk kedua pria itu mereka berjalan untuk bisa memulai doa dan mengantar Reya ke peristirahatan terakhirnya.
Eliza mengikuti keduanya yang berjalan dengan bahu yang terkulai. Bagaimana pun, takdir telah memuliakan akhir dari hidup gadis itu. Tak ada manusia yang bisa melawan garis Tuhan. Semua memiliki ketetapan. Bukankah Tuhan selalu memutuskan keputusan tak pernah melebihi kemampuan umatnya?
***
Reya berada di pemakamannya. Jimmy sengaja mengajaknya meski gadis itu tak mengetahui tentang itu. Ya, sebenarnya ia juga ingin melihat pemakaman rekan barunya.
Di bawah pohon rindang, Jimmy berdiri melipat kedua tangannya di depan d**a, menatap ke depan, di sana semua berdiri melihat peristirahatan terakhir Reya. Sementara gadis itu duduk di rerumputan, menatap telapak tangannya yang kini berada di atas wajah, memperhatikan sinar mentari yang menelusup melalui sela jemarinya. Ia lalu melirik Jimmy.
"Sebenarnya apa yang ingin kita lakukan di sini?"
"Tak ada," jawab Jimmy sementara kedua sayapnya kini mendadak menghilang.
Reya menatap dengan takjub. Lalu ia melirik ke arah sayapnya. Tak terlihat, ia memegangi sayap kecil miliknya dengan susah payah. Memejamkan mata berharap sayapnya menghilang. Dan berhasil!
"Waaahh! Keren!"
Sorakan itu membuat Jimmy terkejut. "Yak! Jangan mengagetkan!" Ia lalu menatap Reya, memerhatikan gadis itu yang memperlihatkan punggungnya. "Hei, kemana sayapmu?"
"Menghilang seperti milikmu senior." Ia terkekeh, lalu memejamkan kedua matanya lagi. Dan, kedua sayap kecil miliknya kembali muncul. Reya mengarahkan tangannya dan bersorak lagi saat ia bisa menggapai sayap miliknya.
Jimmy menatap dengan takjub. "Bagaimana kau bisa melakukan itu?"
"Entah lah."
"Aku bahkan baru bisa melakukannya setelah tiga bulan."
Reya beranjak lalu berdiri di samping seniornya. "Itu mungkin karena saat hidup kau bodoh, sedangkan aku pintar."
Ucapan hadis itu membuat Jimmy dengan cepat mendorong kening juniornya itu dengan jari telunjuknya. Sementara itu, tatapan Reya mengedar lalu berhenti tepat pada dua sisik pria yang masih berdiri di depan sebuah makam. Itu adalah William dan Yunki. Keduanya masih berdiri di sana, sementara Eliza menatap dari kejauhan.
Reya menepuk-nepuk dadanya. Terasa sakit sekali, air matanya bahkan menetes begitu saja. Jimmy tak melakukan apapun, ia memerhatikan yang terjadi. Bahwa hubungan diantara Will dan Yunki masih belum sepenuhnya terputus. Masih ada kenangan yang tanpa sadar tersimpan di benak gadis itu. Perlahan gadis itu lemas dan duduk bersimpuh. Ia seolah tak ingin melepas tatapannya dari kedua pria itu.
"Senior ...."
Jimmy menatap antusias dengan apa yang ia lihat. "Hmm?"
"Apa ini? Sakit sekali." Reya menepuk-nepuk dadanya tak bisa ia hentikan. Sementara ia bingung apa yang ia rasakan.
Plak!
Sebuah pukulan di kepala mendarat. Membuat Jimmy memekik kesakitan.
"YAAAKK!" Ia memekik kesal. Lalu membekap mulutnya ketika melihat yang memukul kepalanya adalah Jinerly, seniornya.
Jinerly memegang Jimmy dan Reya, sekejap saja keduanya berpindah tempat. Ke sebuah rumah dengan kesan klasik.
"Kau tunggu di sini." Jinerly memerintah Reya yang segera menjawab dengan anggukan. Sementara ia meminta Jimmy mengikutinya menuju ruangan lain.
Setelah keduanya masuk ke sebuah ruang kerja. Jimmy segera duduk terlihat ia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Kau bodoh? Mengajaknya ke pemakaman?"
"Aku hanya ingin ia melihat."
"Kau atau—" Jinerly terdiam mengingat nama malaikat baru itu.
"Belle," sahut Jimmy.
"Aah, Belle ... Kau tau dia bisa saja mendapat ingatannya. Jangan bodoh Jimmy."
"Bukankah Tuhan sudah menghapusnya?"
"Tuhan tak seburuk itu. Kenangan dan perasaan meski hal yang menggoyahkan dan penuh tipu daya. Itu adalah hal yang berharga. Mereka dibangun dalam waktu yang lama. Apalagi gadis itu punya ikatan kuat pada kedua pria itu. Jangan macam-macam. Sudah kukatakan lakukan saja tugasmu. Ajari dia dengan baik sebelum tiba masa reinkarnsinya."
Jimmy hanya mengangguk.
"Jangan berharap kau bereinkarnasi kembali. Ini kehidupan ketigamu, kau sudah melalui tiga jatah kehidupanmu dengan baik. Maka Tuhan menjadikanmu malaikat."
"Iyaaaa, aku tau," sahut Jimmy malas, lalu bangkit dari duduknya bergerak malas berjalan keluar.
"Aish! Anak itu."
Jimmy melihat Reya yang kini duduk dsn memainkan jemarinya. Ia berjalan menghampiri. Lalu duduk di sampingnya.
"Kau dimarahi?"
Jimmy menggeleng. "Ia memang seperti itu. Itu memang salahku."
Reya tak mendengar apa yg dibicarakan kedua seniornya itu. ia hanya menduga Jimmy di marahi.
"Sudah tak sakit lagi kan Belle?"
Yang di tanya menatap Jimmy lalu tersenyum. "Tidak."
"Baguslah. Ayo kita bertugas."
***