Donatur Hati

2049 Words
Rama memeluk pinggang Allea "Terima kasih." Air matanya mengalir tanpa diketahui oleh Allea yang tengah mematung, tangannya seketika terhenti. "Sama-sama," balas Allea pelan. Tanpa sadar Rama bergumam, "Maafin gue." "Apa?" Allea tercekat heran mendengar ucapan dan gaya bicara majikannya yang biasanya formal berubah seketika. Rama langsung tersentak, "Maaf, saya mengigau," Rama langsung meraih handuk dari tangan Allea dan secepat mungkin mengusap wajahnya agar Allea tak melihat air matanya. "Allea bisa tolong ambilkan handphone saya?" Rama mengarahkan pandangannya ke meja TV yang ada di sisi kiri kamarnya. "Baik Pak!" Allea bergegas menuju meja tersebut. Rama menghembuskan nafas lega, "Hampir aja gue kebawa suasana, bisa panjang urusannya kalau dia sampai curiga." batinnya. Allea memberikan ponsel yang diminta Rama. Pria itu lalu menelpon dokter pribadinya yang memang sudah paham dengan kondisi kesehatan Rama yang dilatari oleh traumanya dimasa lalu. "Sebentar lagi dokter saya datang, kamu boleh tunggu diluar nanti." "Kenapa saya tidak boleh disini Pak?" tanya Allea heran. "Hem … saya mau disuntik, apa kamu mau melihatnya?" Rama terkekeh. "Oh, nggak Pak, saya keluar aja. Kebetulan saya harus menyiapkan makanan. Bapak harus makan sebelum minum obat," tutur Allea bersiap keluar dari kamar itu. Rama menjawab singkat, "Baiklah." "Permisi Pak." "Allea," panggil Rama menghentikan langkahnya. "Eum …." "Makasih ya?!" Rama tersenyum tipis. "Sama-sama, Pak!" Allea pun bergegas menuju dapur, ia berniat membuatkan sup daging kesukaan majikannya itu. Ya, walaupun dia hanya menerka-nerka dari stok kemasan supermarket yang telah dikemas di dalam kulkas. Tak lama dokter itu pun tiba, Allea membukakan pintu lalu mempersilahkan dokter itu masuk. "Terima kasih ya," ucap dokter dengan ramah. "Sama-sama, Dok!" jawab Allea seraya tersenyum. Allea mengantarkan dokter tersebut ke kamar Rama lalu undur diri untuk melanjutkan aktifitas memasaknya. "Hai, Eksekutif muda!" sapa dokter yang kerap dipanggil Dokter Bima itu. Rama terkekeh, "Iya, Dok!" balas Rama dengan senyum tersungging di bibirnya. Dokter Bima mendekati dan mulai memeriksanya, "Kamu pasti memforsir pikiran terlalu banyak, sehingga tak mampu menanggung muatan yang berlebih didalam kepalamu." "Hahaha!" Rama tertawa renyah. Rama kerap menderita demam ringan disertai sakit kepala bila terlalu banyak memforsir kerja otak dan tubuhnya. Itu disebabkan karena trauma kepala yang pernah dideritanya pada saat selamat dari cengkraman maut. Trauma kepala serta kondisi psikologisnya yang memprihatinkan kala itu belum sepenuhnya bisa diatasi hingga kini. "Oke gapapa, seperti biasa saya hanya akan memberi obat demam dan obat untuk mengurangi sakit kepala," ujar Dokter Bima. Rama menghela nafas kemudian menjawab, "Terima kasih, Dok!" "Tapi ingat, kamu jangan melakukan aktivitas berat dulu minimal tiga hari. Jangan bandel!" "Iya Dok!" serunya setengah terkekeh. "Obatnya saya taruh disini, jangan lupa istirahat. Dengar?!" sekali lagi Dokter Bima memperingatinya. "Iya … cerewet banget ya Bapak yang satu ini." Rama selalu terpingkal bila mendengar Dokter Bima memarahinya. "Rama ... Bapak udah menganggap kamu seperti anak sendiri, jadi jangan membantah!" tekan lelaki berusia 47 tahun tersebut. "Siap Pak!" Senyumnya tersungging lebar. Setelah selesai dengan segala ceramahnya pria paruh baya itu segera pamit. Dia harus kembali ke rumah sakit karena ada jadwal operasi malam ini. Sebelum pergi, ia berpesan agar Allea mengompres kepala Rama, "Tidak usah sampai pagi, sebisanya kamu saja." Allea dengan senang hati menyanggupi, "Baik Dok." "Titip Rama ya ...." Pesannya itu seolah mengandung arti lebih. "Baik Dok!" jawab Allea membalas senyuman Dokter Bima. Setelah Bima pergi Allea mengunci kembali pintu kemudian membawakan nasi dengan sup daging hangat yang baru saja dimasaknya. Rama menyambutnya dengan senyum menawan. "Tolong jangan tersenyum!" jerit Allea dalam hati. "Hem, harum sekali aromanya!" "Saya suapi ya Pak," tawar Allea seraya menaruh nampan di atas nakas. Rama beranjak dari tempat tidur menuju sofa. "Kamu gak makan?" tanyanya. "Nanti aja Pak." "Gak pake nanti, kamu juga harus makan sekarang!" "Iya, nanti habis ini saya makan." Dengan telaten Allea menyuapinya. Berulang kali Rama memuji masakannya itu. Tak pelak membuatnya tersipu malu menanggapi pujian itu. "Saya tidak pernah mendapat perhatian seperti ini," ujar Rama sambil tersenyum lirih. "Apa Farrel gak pernah memperhatikan Bapak?" Mata Allea menatap sendu kepada pria itu. Rama tersenyum tipis, "Saya dan Farrel sulit untuk bersama layaknya keluarga." Mendadak Allea terdiam, hatinya memerintahkan agar dia tidak bertanya apapun lagi. Bukan karena tidak peduli, tapi dia takut mendapatkan cerita tentang istri dan anaknya. "Rasanya gue mau menghilang dari dunia ini," rengek Allea dalam hati. Meskipun dalam keadaan sakit, Rama merasa lidahnya tidak terpengaruh berkat makanan yang dimasak Allea. Baru kali ini ia bisa makan dari suapan tangan seorang gadis. "Betapa nikmatnya anugrah dibalik derita ini," gumamnya dalam hati. Piring itu sudah kosong, saatnya Allea memberikan obat yang ditinggalkan oleh Dokter Bima. "Terus terang saya membenci obat," ujar Rama berusaha menelan obatnya satu persatu. Gadis itu tersenyum melihat tingkah yang dianggapnya menggemaskan itu. "Oke, sudah selesai. Saya mau membawa piring ini ke bawah." Rama menghela nafas seraya tersenyum, "Sekali lagi terima kasih banyak, Allea." Allea tak menjawab ucapan itu, dia hanya mengangguk seraya membawa kembali nampan itu ke dapur. Selesai makan dan membereskan piring kotor dia kembali ke kamar Rama dengan wadah berisi air panas di tangannya. Rama menyambut gadis itu dengan tersenyum lega, seperti dia memang menunggu kedatangan Allea lagi. Lalu dia bertanya, "Kamu sudah makan?" Allea menjawab, "Sudah Pak!" Rama melihat raut wajah lelah yang dipaksakan segar itu. Kemudian dengan tatapan sendu dia berkata, "Tidurlah kamu pasti capek. Jangan memaksakan diri, saya sudah tidak apa-apa." Sekilas perasaan aneh sempat menebas sanubarinya. Sedikit perhatian Rama terasa begitu hangat dalam hatinya. "Saya sudah biasa cape Pak." Tentu saja, karena dia sudah terbiasa kerja lembur sewaktu di rumah Mega. Rama menggeleng, matanya melotot. "Tolong jangan lestarikan kebiasaan itu selama kamu hidup bersama saya!" Mendengar kata-kata itu, Allea tak kuasa menyembunyikan rasa haru. Ia hanya bisa tersenyum tipis tanpa bisa berkata apapun. Tiba-tiba Rama mengajukan pertanyaan yang tak terduga, "Allea, kamu lahir tgl berapa?" Allea terbelalak mendengar pertanyaan Rama lantas menjawab, "Tanggal sebelas September Pak!" jawab Allea. "Jadi September nanti umur kamu 20 tahun?" Allea mengangguk, tak dapat dipungkiri dia penasaran mengapa Rama tiba-tiba bertanya. Dengan nada ragu dia memberanikan diri untuk bertanya, "Memangnya kenapa Pak?" Rama berujar dengan disaat tangan Allea telah menaruh handuk panas di dahinya, "Saya berniat membuat kamu buku tabungan." Gadis itu terkikik mendengar ucapan Rama. Dia mengajukan pertanyaan yang membuat Rama terkekeh, "Apa yang mau saya tabung Pak?" Setelah menghentikan tawa dia menjawab, "Yang jelas bukan hati kamu yang harus ditabung." Tangannya menarik lengan Allea agar duduk disisi tempat tidurnya. Secara alami Allea mengikuti instruksi itu, "Saya sepertinya tidak memiliki hati untuk disimpan." Pernyataan itu seperti godaan bagi Rama. Pria itu lantas bertanya, "Apa kau mau menyumbangkannya saja untuk si fakir ini?" Allea mengerutkan dahinya, "Orang sekaya Bapak mana pantas disebut Fakir." Rama hanya tersenyum tipis mendengar komentar itu. Suara desahannya membuat Allea merinding. Pria itu meremas telapak tangan Allea kemudian berkata, "Saya membutuhkan sumbangan hati untuk mengisi kekosongan hati ini. Apa kau bersedia menjadi Donatur?" Tak pelak Allea terkekeh, "Apa Bapak bercanda? Hati saya cuma satu. Terus kalau di sumbangkan ke Bapak, saya bakal mati dong!" Mendadak suara tawa Rama menggema, "Sebab itu saya memintanya, sebelum ada yang berhasil merebutnya. Saya tidak siap patah hati Allea dan saya berjanji tidak akan membuatnya mati." Bibir gadis itu seketika membentuk sudut datar. Allea tak mempunyai kata-kata yang pas untuk meladeni selorohan majikannya itu. Sementara tangan Rama masih meremas lembut telapak tangannya. "Bisa 'kan?" Rama sepertinya tidak akan menyerah untuk meminta hatinya. Suasana syahdu ini seharusnya menjadi momen yang membahagiakan andai Rama adalah seorang pria lajang. "Kenapa sekalinya jatuh cinta harus pada pria beristri?" Kerutan di dahinya tak bisa membohongi mata Rama. Pria itu tahu rasa keberatan Allea akan permintaannya. Pria itu pun memilih untuk tidak lagi membahasnya, dia memejamkan mata tanpa menunggu jawab dari Allea. Paginya Allea tersentak mendapati tubuhnya dalam dekapan Rama yang masih terlelap. Tadi malam dia terus-terusan mengompres Rama dengan handuk hangat, sampai kelelahan dan terlelap. Allea menempelkan telapak tangannya ke dahi lelaki yang tengah terlelap dengan tenangnya. "Ah syukurlah sudah reda panasnya," gumamnya bergegas turun untuk membuatkan sup hangat agar Rama bisa segera sarapan dan minum obat. Hari ini Ia memutuskan untuk absen, Allea menelpon ke sekolah demi mendapatkan izin. Sup yang dimasaknya hampir matang, tak lama terdengar suara bel rumah berbunyi, "Siapa sih yang bertamu pagi-pagi gini?" Allea bergegas berlari melihat siapa gerangan yang datang. "Pak Irwan!" desisnya lalu membukakan pintu dan mempersilahkan Irwan masuk. Biasanya Irwan tidak pernah membunyikan bel. Namun sekarang ia seakan memahami apa yang terjadi diantara Allea dan sahabatnya itu, ia takut mendapati pemandangan tak sedap jika nyelonong masuk begitu saja. "Pagi Allea, kamu gak sekolah?" tanya Irwan dengan senyum merekah lebar. "Saya izin Pak, soalnya Pak Rama sakit." Langkah cepatnya segera menuju dapur karena dia tengah memasak bumbu. "Rama di atas ‘kan?" tanya Irwan lagi. "Iya Pak, tapi pak Rama masih tidur." Allea memberi tahu Irwan agar ia memaklumi jika Allea melarangnya mengganggu Rama. "Saya tau, saya duduk disitu aja nungguin dia bangun." Irwan lalu duduk di ruang tengah sembari menghidupkan televisi dengan suara pelan. Tak lama Allea membawakan kopi hangat untuknya, "Thanks Al," ucap Irwan. "Sama-sama, Pak!" "Makasih juga ya udah mengompres Rama semalaman," ucap Irwan seraya tersenyum. Allea terbelalak "Dari mana dia tahu?" Dia bertanya dalam hati. Lalu menjawab ucapan Irwan, "Sama-sama, Pak." Tadi malam Rama terbangun ketika panasnya sudah mulai turun. Dia mendapati Allea yang tertidur sambil duduk bersandar di pinggir tempat tidurnya. Kemudian mengangkat tubuh ramping gadis itu ke atas tempat tidurnya. Dia menelpon Irwan agar menjemputnya hari ini. Karena Rama dan Irwan akan pergi keluar kota untuk meninjau lokasi perkebunan teh yang akan menjalin kerja sama dengan perusahaan mereka. Dikarenakan proyek ini menjanjikan, Rama tidak mau sampai menunda perjalanan mereka. "Saya boleh bertanya sesuatu, Pak?" Allea memberanikan diri. "Tanyakan saja," jawab Irwan seraya menyeruput kopinya. "Apa Kalian bersekongkol untuk mempermainkan saya?" Allea langsung menembak pada intinya. Irwan tersentak kaget mendengar pertanyaan Allea. Hampir saja ia menyemburkan kopi panas yang tengah bersarang di kerongkongannya. untuk beberapa saat pria itu termangu mencoba dengan keras mencerna pertanyaan itu, jangan sampai salah menjawab. "Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" Irwan malah balik bertanya. "Saya hanya ingin tahu, agar saya bisa bersikap sebagaimana mestinya." jawab Allea apa adanya. "Saya tidak tau apa yang terjadi diantara kamu dan Rama selama ini. Tapi yang perlu kamu tahu bahwa dia tulus melakukan semua ini untuk kamu," jelas Irwan. Allea yang merasa tidak puas dengan jawaban Irwan, mencoba memikirkan pertanyaan demi mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Namun tiba-tiba Irwan melanjutkan kata-katanya, "Allea ... Rama itu bener-bener tulus sama kamu. Meski kelihatan b******k, tapi percayalah dia tidak akan pernah mempermainkan kamu." Allea terpana mendengar pernyataan Irwan. Belum sempat ia menyela, Irwan kembali berkata. "Saya harap kamu bisa merasakan ketulusan itu, meski mungkin berat bagimu untuk menerimanya. Saya tau anak-anak remaja seperti kalian akan merasa risih berhubungan dengan pria seperti kami. Tapi umur bukan suatu patokan bukan? Kecuali kamu memandang cinta dengan fisik!" Allea bergumam dalam hati, "Fisik dia lebih dari sempurna, apa yang mau dipandang lagi. Justru memandang dia terlalu lama membuat akal sehat gue jadi gak berguna!" Irwan kembali berkata kali ini dengan gaya menekan, "Satu hal lagi, saya bukan tipe orang yang suka mempermainkan orang! Apalagi sampai berbuat jahat, camkan itu!" Allea tersentak, "Maaf Pak! Saya benar-benar tidak bermaksud menuduh Bapak jahat!" ungkap Allea dengan raut wajah menyesal. Irwan menekan ibu jari di bibirnya sendiri, "Gak perlu gitu juga kali, kalo sampe kedengaran Rama karir saya bakal terancam tamat," ucap Irwan setengah berbisik. "Kenapa bisa seperti itu? Saya hanya menyesal telah menyinggung Bapak." Raut wajahnya berubah mengerut. "Kamu itu sangat berharga bagi dia, lebih berharga dari saham dan harta kekayaannya. Jadi tolong tetaplah berada disamping dia dan menunggu sampai semua bisa teratasi dengan baik." tutur Irwan tanpa keraguan. Allea sontak tak percaya dengan apa yang dia dengar. Senyum sarkastis menghiasi raut wajah yang sarat akan ejekan. "Apa Bapak terlalu banyak minum?" "Minum kopi?" Allea mendengus kesal namun ada sepercik rasa yang membuat hatinya bergetar. Rasa bangga dibarengi dengan rasa bahagia yang abstrak mendengar penuturan Irwan tersebut. Dengan langkah gontai ia kembali ke dapur menempatkan semangkuk besar sup daging hangat yang baru saja matang di atas meja makan beserta nasi dan segelas besar air hangat untuk Irwan. "Pak, silahkan sarapan dulu sudah saya siapkan di atas meja." "Aduh, gak usah repot-repot segala biar saya ambil sendiri." "Memang sudah jadi tugas saya, Pak!" cetusnya sambil menuangkan sup ke mangkuk. "Oke Terima kasih Allea, silahkan lanjutkan kegiatanmu." Irwan bergegas menghampiri meja makan. Allea pergi ke atas, membawa nampan berisi sarapan untuk Rama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD