Sesampainya di kamar, Allea mendapati pria gagah itu masih terlelap dengan nyenyak. Sebenarnya dia tidak tega untuk membangunkan, namun Rama harus segera mengisi perut dan minum obat.
Dengan lembut Allea menepuk lengan Rama, "Pak …."
Rama mengerjap berulang kali seolah berusaha mengambil kesadarannya. Allea tersenyum lalu berkata, "Makan yuk, biar saya suap."
"Eum, jam berapa ini?" tanya Rama dengan suara berat.
"Jam sembilan Pak!"
Matanya langsung terbuka lebar, "Hah! Kamu gak sekolah?"
"Saya sudah izin tadi."
"Ya ampun, kok mesti izin sih?"
"Gapapa Pak."
"Saya harus ke desa hari ini," Rama memberitahu Allea.
"Tapi 'kan Bapak masih sakit?"
Tubuh kekar itu sudah beranjak dari tempat tidur, "Jangan khawatirkan saya Allea!"
Seketika Allea terdiam, Dia teringat kembali akan ucapan Rama di kolam renang kemarin sore, "Baik Pak, Tapi–" Allea menghentikan kalimatnya.
Rama bergegas menuju kamar mandi sepuluh menit kemudian kembali dengan wajah dan rambutnya yang setengah basah.
Tak ayal mengerjapkan pandangan Allea, "So hot," gumamnya pelan.
"Apa?" Rama seolah tak mendengar jelas gumaman itu.
"Ah gapapa. Maaf," sahutnya setengah terbata.
Rama memalingkan wajah, seraya mengulum senyum lalu bertanya "Kamu masak apa?"
Mendadak dia gelagapan ketika rambut Rama menyapu wajahnya, "Oh ini sop daging Pak!"
"Oke kamu bilang mau menyuapi saya," Pria itu duduk manis disamping Allea yang mendadak terkekeh, membuat Rama tak kuasa menahan gemas ke gadis pujaan hatinya itu.
"Betapa cantiknya kamu dengan senyum manis itu, tolong mulai sekarang rajinlah tersenyum. Supaya saya semakin bersemangat melewati hari-hari yang sulit ini."
Allea seketika terpaku, Ia tak sadar telah tersenyum pagi itu. Tubuhnya terasa mengeras, seakan telah melakukan hal yang tidak lazim.
Rama membuka mulutnya memberi sinyal agar Allea memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Manis sekali," gumam Allea dalam hati.
Rama melahap habis semua makanan yang dibawa Allea lalu Menelan obat yang diberikan oleh Dokter tadi malam.
"Saya akan menyuruh Anita untuk menemani kamu di sini nanti malam."
Allea tertegun melihat tubuh polos Rama di depan matanya, seolah dia tengah menikmati pemandangan menakjubkan. Sebuah tato mawar putih di pundak serta tanaman rambat yang mengikat tangkai mawar itu menjalar sampai lengannya.
Allea berdecak kagum dan berujar dalam hati, "Ah, kenapa pemandangan ini begitu indah terlihat pagi ini? Padahal kemarin sore biasa aja."
Dia tak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Rama matanya terus terfokus pada tubuh indah yang kini telah terbalut dengan kemeja biru muda.
"Oke?!" Suara lantang pemilik tubuh indah itu menghentikan lamunan Allea.
"Apanya Pak?"
Mendengar pertanyaan itu, Rama menunduk memandang lekat wajah Allea. "Kamu dari tadi mikirin apa?" Rama terkekeh.
"Anu, Itu, Hem." Allea bingung harus menjawab apa.
Rama meledek, "Anu apa, itu apa?"
"Maaf," Allea mengulum bibirnya seraya tertunduk malu.
Rama menghadiahi bibir Allea dengan kecupan singkat kemudian langsung melepasnya. Tak pelak seketika ia mematung mendapat perlakuan romantis Rama pagi ini.
"Saya harus pergi mungkin akan bermalam di sana, jadi nanti sore Anita datang kesini menemani kamu."
"Oh iya," gumam Allea lirih masih dengan gaya mematung. Padahal bukan sekali dua kali Rama menyerobot bibirnya, tapi kali ini terasa berbeda baginya.
"Sepertinya gue harus periksa kejiwaan." Pikirannya kacau balau. "Tapi Bapak 'kan sakit, apa gak sebaiknya–"
"Shtt!"
Rama menyela kata-kata Allea dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir gadis itu. Seketika allea kembali mematung menerima perlakuan hangat pria itu.
"Saya sudah bilang jangan mengkhawatirkan saya," tekan Rama setelah melepas jarinya dari bibir tipis Allea.
Desahan nafas beratnya memberi isyarat bahwa ia tidak setuju dengan ucapan Rama. Tapi pada akhirnya ia pun menjawab, "Baik Pak." Dengan raut kecutnya yang membuat Rama menggelengkan kepala sambil menyunggingkan senyum separuhnya.
"Ayo kita turun, Irwan pasti sudah menunggu."
Allea mengikuti Rama dari Belakang dengan langkah yang terpaksa.
"Hai Wan!" sapa Rama.
"Lo beneran udah baikan?"
"Yeah!" sahutnya dengan Geraman seksi.
Allea terbelalak melihat keakraban mereka, "Apa mereka memang biasa seakrab ini?"
Rama seperti menyadari kernyit dahi Allea. "Jangan heran kalau melihat kami diluar kantor," tukasnya.
"Eh iya Pak," sahut Allea malu. "Apa dia sejenis makhluk yang bisa menyelam ke dalam pikiran orang lain?"
"Kami adalah sahabat sejak kecil Allea. Jadi gak ada istilah Bos dan anak buah," papar Irwan lalu meledek, "Kamu lihatlah betapa baiknya dia!"
Allea mengumpat dalam hati, "Cih, malam itu aja pucat pasi kayak murid ketahuan merokok di sekolah!"
"Yuk berangkat!" ajak Irwan seraya melenggang.
"Duluan lah!" suruh Rama.
Irwan seakan mengerti isyarat itu dan keluar lebih dulu, menunggu di mobil.
Rama menyambar tubuh Allea dan memeluknya erat. "Saya pergi dulu ya."
"Baik Pak."
Rama mengeluarkan amplop dari saku celananya lalu memberikannya kepada Allea.
"Ini apa Pak?" Matanya terbelalak.
"Untuk kamu jalan-jalan nanti malam bersama Anita. Beli apapun yang kamu mau."
"Tapi ini banyak banget!" seru Allea setelah melihat isi amplop tersebut.
"Terima saja Allea lakukan apapun yang kamu mau," ujar Rama seraya membingkai kedua tangannya ke wajah Allea. "Oke?! Ah satu lagi, jangan terlalu capek kamu harus istirahat habis ini."
Allea mengangguk.
Rama mendaratkan kecupan di bibirnya, kali ini sedikit lebih lama lalu naik ke dahinya. "Saya pergi dulu ya, besok siang kami sudah pulang. Paling lama sore sudah sampai di rumah."
"Baik Pak!" Allea mengikuti Rama dari belakang dengan langkah gontai. Terasa ada yang terlepas dari hatinya pagi ini. Terlebih sikap Rama benar-benar membuat hatinya mabuk kepayang.
Lamunannya segera buyar ketika mengingat obat, "Oh iya Pak!" Dia berlari menghampiri Rama yang sudah duduk dalam mobil.
"Ada apa?"
"Obat?" tanyanya ketika sampai di hadapan Rama.
"Nih!" Rama mengeluarkan tiga bungkus obat dari saku kemejanya.
"Oke deh!"
Irwan tersipu melihat pemandangan langka itu, pemandangan yang tak pernah terjadi selama hampir enam belas tahun ia mengenal sahabatnya itu. "Oke Allea, kami pamit ya!" seru Irwan.
"Hati-hati di rumah, gak usah keluar sebelum Anita datang. Oke Sayang?!" pesan Rama sambil mengedipkan sebelah mata.
Allea tersipu mendengar kata sayang keluar dengan lugas dari mulut Rama. Terlebih diucapkannya depan Irwan, membuat jantungnya terasa ingin meledak.
"Baik Pak!" sahutnya seraya melambaikan tangan.
Rama dan Irwan membalas lambaian tangannya. Tak lama mereka pun luput dari pandangan Allea.
Terasa hawa sepi menyeruak dalam hatinya ketika memasuki rumah. Baru saja ia bermaksud menelpon ibunya tiba-tiba masuk Panggilan dari Rama.
"Halo," jawabnya
"Huftt Payah! Baru juga sejengkal keluar rumah sudah rindu."
Mendengar gombalan Rama, ia bingung harus menjawab apa. Akhirnya ia hanya bisa bilang, "Hati-hati dijalan Pak."
Rama tertegun mendengar reaksi Allea, harapannya untuk mendapat jawaban manja sirna sudah. "Ya udah kamu istirahat ya, Jangan capek-capek! Tidak usah repot membersihkan rumah, tidurlah biar semangat jalan-jalan nanti malam. Oke?!"
"Terima kasih, Pak!"
"Tolong Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu!"
"Eum …." Allea memikirkan sejenak apa yang ingin diucapkan.
"Oke, saya tutup ya telponnya."
"Baik Pak!"
"Bye!" Rama memutuskan sambungan telepon.
***
Sore itu Anita datang menjemput Allea, "Al, keluar gih! Kakak udah didepan nih," suruh Anita via telepon.
"Oke Kak!" Allea yang memang telah menunggu Anita di ruang tamu, bergegas keluar.
"Cie yang mau jalan-jalan. Lo dapet bonus juga ya?" goda Anita sambil nyengir.
"Hah!" Allea setengah kaget mendengar kata bonus. "Haha, nggak Kak. Pak Rama cuma nyuruh saya jalan-jalan aja."
"Eum, mereka selalu gitu kalau mau melarikan diri dari gue!" ungkap Anita dengan bibir bersungut.
"Gitu gimana, Kak?" Allea kurang memahami maksud Anita.
"Nyogok!" cetus Anita.
Allea masih tak mengerti apa yang dimaksud oleh Anita. "Kenapa mereka berdua mesti nyogok dan kenapa juga mesti melarikan diri?"
"Kadang gue curiga kenapa mereka sering pergi tanpa ngajakin gue?" Gadis itu terus bersungut seraya mengemudi.
Allea masih mencoba mencerna arah omongan Anita, "Curiga gimana kak?" tanya Allea pelan, karena dia masih canggung untuk cerita bareng Anita.
"Mereka pasti seneng-seneng diluar sana, alasannya keluar kota untuk kepentingan bisnis supaya gue gak ngikut."
Hati Allea seakan hampa mendengar kata-kata Anita, entah apa penyebabnya.
"Eh, lo mau borong apa?" tanya Anita yang menyadari kebosanan Allea mendengar ocehannya.
"Gak ada kak. Saya cuma pengen jalan-jalan aja," sahutnya mencoba menetralkan perasaannya.
"Kita ke mall aja yuk! Temenin Kakak ke salon ntar kakak traktir SPA deh."
"Boleh," sahut Allea, dengan canggung kemudian dia bertanya, "Anu … kalau malam Bank tutup ya, Kak?"
"Iyalah Kenapa?"
Allea menunduk, "Saya mau kirim uang ke Ibu di kampung."
"Oh, nomor rekeningnya ada?" tanya Anita.
"Ada Kak."
"Ntar kirim dari ATM aja."
Kernyit dahi Allea membuat Anita ingin tertawa. "Emang bisa Kak?" tanya Allea polos.
"Bisa dong, kamu mau kirim berapa?"
Dengan semangat dia menjawab, "Tiga ratus ribu!"
Garis wajah Anita terangkat penuh, "Dikit amat memangnya cukup?"
"Memang biasanya kirim segitu Kak!"
"Oke." Pandangannya sibuk mencari tempat parkir. Setelah mendapat tempat yang pas mereka langsung menuju salon langganan Anita.
"Sore Kak Nita," sapa salah satu kasir begitu melihat Anita mendorong pintu kaca.
"Sore," jawab Anita seraya menuju kasir.
"Mau perawatan apa Kak?" tanya si kasir dengan senyuman ramah.
"Biasa,” sahutnya menaikan turunkan alisnya. “Satu lagi ya Adek gue, sama juga ya perawatannya."
"Baik Kak, masih nunggu sekitar lima belas menit ya?" jawab si kasir.
"Ke ATM bentar ya?" ucapnya ketika kasir menulis daftar tunggunya.
"Oke Kak," jawab si kasir.
Anita membawa Allea ke ATM yang tak jauh dari salon, setibanya di sana ia meminta catatan nomor rekening yang akan dikirimi uang.
Tak lama, "Nih!" Anita menyodorkan bukti transfer kepada Allea.
Gadis itu ternganga melihat nominal yang dikirim oleh Anita "Satu juta!" serunya seraya melotot ke arah Anita.
"Telpon gih ibu lo, suruh ambil!" ujar Anita santai.
"Tapi dari mana saya mau bayar segini banyak Kak? Saya ‘kan belum gajian," protes Allea setengah merengek.
"Kamu gak perlu ganti, simpan saja uang tabunganmu. Kakak cuma mau berbagi rezeki," sahut Anita.
Mata Allea berkaca-kaca memandang kertas resi itu, tak terasa bulir bening jatuh dari kelopak matanya. "Lah kok nangis?" tanya Anita bingung.
"Saya terharu Kak," ucap Allea jujur.
"Allea-Allea, udah ah jangan mewek. Ntar gue ikutan nangis lagi." Anita menyeret tangan kurus Allea masuk kedalam salon. "Waktunya memanjakan diri!"
Sembari menunggu, Allea menelpon wartel tempat biasa ibunya menelpon. Mengabarkan bahwa ia mengirimkan uang sebesar satu juta kepada ibunya. Pemilik wartel yang baik hati itu selalu ramah terhadap keluarga Allea. Bila ibunya tidak punya uang untuk membayar, si pemilik wartel tak segan-segan memberi gratisan.
"Pemilik wartel itu keluarga lo ya Al?" tanya Anita sambil membolak balik halaman majalah.
"Bukan Kak, dia teman Ibu saya!"
"Oh, Baik juga ya."
"Baik banget Kak, malah sering nawari nelpon gratis kalau ibu gak punya uang."
Pandangan Anita teralihkan, "Wah, masih ada orang baik hati di dunia ini ternyata."
"Cuma ibu kadang gak enak mesti numpang nelpon, secara di kampung pemasukan gak sebesar di kota."
"Orang baik itu pasti ada aja rezekinya."
"Amin …," timpal Allea.
Ruang SPA sudah siap dihuni oleh kedua gadis manis tersebut. Mereka pun beranjak dari duduknya menuju ruangan khusus. Anita melambaikan tangan kepada Allea tanda mereka berpisah untuk waktu dua jam selama perawatan.
Didalam sana Allea merasa canggung karena harus menanggalkan semua bajunya dan mengenakan dalaman khusus. Terlebih lagi ia harus menahan geli oleh sepasang tangan asing yang menggosok tubuhnya.
Setelah tahap demi tahap dilalui, akhirnya selesai sudah kegiatan memanjakan tubuh. Allea merasakan sensasi segar yang luar biasa, terlebih lagi efek minyak aroma terapi yang terasa melonggarkan urat-uratnya yang kaku.
"Kakak mau beli produk kami?" tawar terapis yang menangani Allea.
"Produk apa Kak?" tanya Allea penasaran.
"Masker p******a Kak," jawab terapis tersebut setengah berbisik.
"Gunanya buat apa?" tanya Allea penasaran mengingat ukuran payudaranya yang kecil.
"Mengencangkan, membantu agar bentuk p******a indah. Kalau rutin dipakai bisa bikin gede juga," terang si terapis.
"Berapa Kak?" bisik Allea.
Terapis itu menjawab, "Murah kak!"
"Oke deh!"
Setelah selesai dengan perawatan tubuh, kini Anita mengajak Allea melanjutkan dengan perawatan rambut dan lainnya praktis waktu mereka hingga malam dihabiskan dengan memanjakan diri. Anita membayar tagihan dan kegiatan mereka ditutup dengan acara makan malam di warung lesehan favorite Anita.
Sampai keesokan harinya Rama tak kunjung memberi kabar, "Kenapa gue jadi gelisah?" Allea merasa ada yang hilang dari pandangannya. "Kok dia gak kasih kabar sih?"
Akhirnya dia cuma termenung menatap kolam renang. Tempat dimana sesuatu yang berdetak itu mulai menangkap sinyal yang selama ini timbul tenggelam.
Ya, tanpa Allea sadari sejak di kolam renang itu dia telah menambatkan hatinya untuk pria berjambang itu. Kini rasa resah yang entah apa namanya membuatnya terus saja gelisah tak menentu.
Anita duduk disampingnya, "Keluar yuk!"
Mau kemana Kak?" Suaranya terdengar tak bersemangat.
"Kemana aja gue suntuk!" Gadis itu resah memikirkan Irwan. Acap kali Anita selalu gelisah jika Irwan pergi tanpanya. Maklum saja gadis hitam manis itu telah lama memendam rasa terhadap Irwan.
"Saya ngantuk Kak." Allea tidak dapat tidur semalaman. Pikirannya terus terarah kepada lelaki yang seakan tengah dirindukannya saat ini.
"Oh ya udah. Kita nyantai-nyantai aja disini," ujar Anita memaklumi.
Bahkan Allea terdengar lesu saat menjawab, "Oke!"