Anita sibuk memperhatikan ponselnya, "Lo dihubungi gak sih sama Rama?"
"Kenapa pak Rama mesti menghubungi saya?" tanya Allea salah tingkah.
"Iya juga sih, toh mereka pastinya kerja sambil bersenang-senang. Dasar b******k!" umpat Anita menghempaskan ponselnya ke meja.
Allea mencoba menelaah kata-kata Anita sebelum dia mengajukan pertanyaan. Belum sempat membuka mulut, Anita meneruskan umpatannya.
"Lo tau gak sih? Mereka tuh b******n tengik! Kemana mereka pergi selalu ada wanita. Nggak heran sih kalo mereka gak pernah ngasih kabar ke gue!"
Anita yang dikuasai perasaan cemburunya terhadap Irwan, tidak menyadari percikan hawa panas memantik dalam d**a Allea. Rasa terbakar oleh perasaan aneh melalap habis logikanya.
Sampai Allea secara tidak sadar mengirim pesan singkat ke Rama: Kok gak ngasih kabar?
Sementara Anita masih sibuk dengan umpatannya terhadap Irwan. Anita sama sekali tak menyadari bahkan tidak tahu bahwa Allea telah menaruh rasa terhadap Rama. Karena baik Rama maupun Irwan enggan bercerita kepadanya.
Anita memiliki kepekaan yang sangat minim. Gadis itu kurang bisa memahami situasi, harus ada penjelasan rinci mengenai suatu situasi baru ia akan mengerti. Kini Allea ikut terbakar api cemburu yang disemburkan oleh Anita.
"Kemana sih dia?" Seolah pertanyaan itu akan mendapat jawaban.
Satu jam telah berlalu tapi Rama tak juga membalas pesannya hingga Allea terlelap.
Sampai suara lantang memanggil dalam tidurnya, "Allea oi Allea!" Suara Anita membahana, "Sudah mau maghrib masuk gih! Lo bisa membeku di sini!"
"Hah maghrib?" Tanpa sadar tubuhnya terlontar dari kursi santai di dekat kolam renang. Secepat mungkin melihat ponselnya tapi tak juga mendapat balasan dari Rama. Hatinya mulai risau, segera berlari kedalam rumah
"Mau kemana lo?" tanya Anita dengan suara lantang.
"Kamar mandi!" seru Allea sembari berlari.
Suara nada tunggu dari seberang sana terdengar seperti bom waktu yang siap meledak. Allea terus mencoba menelpon entah sudah berapa kali panggilan, namun tak juga mendapati suara Rama.
Tiba-tiba "Halo," Suara lembut dari seberang sana menjawab panggilan Allea.
"Suara cewek!" desisnya.
Allea buru-buru menutup telepon tanpa menjawab suara tersebut. kini ia dibakar amarah yang tiada tara. "Sialan! Berani-beraninya dia mempermainkan perasaan gue!" Suaranya menggema dalam kamar mandi kamarnya.
Dia berusaha menata hatinya sebelum keluar dari kamar mandi, jangan sampai Anita menyadari perasaannya.
"Lo gak makan?" tanya Anita yang melihat Allea terkulai lesu di sofa yang berada di dekat meja makan.
"Gak laper Kak," sahut Allea.
"Lo kenapa?" tanya Anita heran.
"Gapapa kok!" Allea buru-buru menata ekspresinya.
"Jangan-jangan, lo–" Anita mendelik ke arah Allea yang melotot menanti lanjutan kata-kata Anita.
"Apaan Kak?" tanya Allea gugup.
"Lo lagi diet, ya?" Matanya mendelik ke arah Allea duduk.
Matanya menyipit, untuk sesaat sempat merasa takut kalau Anita mengetahui perasaannya saat ini. Dia menjawab dengan nada acuh tak acuh, "Diet apanya, badan udah kayak tripleks kering gini."
"Ya kali aja lo mau punya body setipis super model," ejek Anita sambil mengunyah. "Lo tau gak? Laki-laki itu sukanya sama cewek yang punya body aduhai. Setidaknya kayak gitulah dimata dua b******n itu!" Lagi-lagi Anita melepaskan umpatannya.
Allea menghempaskan remote TV, kemudian beranjak dari sofa.
"Lo mau kemana? Tungguin wei!" seru Anita segera menyusulnya.
Allea seakan ingin menumpahkan bulir bening dari matanya, "Kenapa rasanya sesak banget sih?" ringisnya dalam hati, “huh, body aduhai, cih!”
"Jam berapa sih mereka pulang? Dia bilang paling lambat sore!" gerutu Anita. Kemudian berseru pada Allea, "Telepon gih bos lo!"
"Siapa?" Pertanyaan dengan nada datar itu tanpa sengaja meluncur begitu saja dari mulut Allea.
"Kok siapa? Ya Rama lah, siapa lagi bos lo, masa Irwan?"
Kata-kata Anita seakan memberi tamparan keras padanya untuk segera menyadari, bahwa posisinya memang hanya seorang Pembantu.
Mau tak mau Allea mencoba menghubungi Rama, "Gak aktif Kak!" cetusnya.
"Sial!" seru Anita dengan raut wajah emosi.
***
Di sekolah Allea tidak terlalu memperhatikan pelajaran, pikirannya terus tertuju pada Rama.
"Kenapa dia belum ngasih kabar juga? Apa terjadi sesuatu sama mereka?"
Bahkan Karina absen hari ini pun, tidak dipusingkan olehnya. Sampai waktu istirahat tiba Allea masih termenung di bangkunya.
Farrel mendatanginya, "Gue cariin di kantin taunya masih di kelas!"
"Apa sih Rel," sahutnya lesu.
"Lo kenapa sih?"
"Ah sudahlah gue lagi pusing, mending lo keluar deh!"
"Pusing mikirin si Jambang?"
"Bukan."
"Jadi?"
"Udah mending lo keluar deh, gue lagi gak mood."
"Kantin aja yuk!" ajak Farrel seraya menggamit tangannya.
"Males gue," sahut Allea seraya menyandarkan kepalanya ke meja.
"Ayolah!" Farrel menarik paksa tangan Allea, membuat gadis itu mau tidak mau mengikuti dengan langkah terpaksa.
Baru sampai di depan mereka bertemu dengan Dinda– siswi yang kerap mencari perhatian Farrel.
"Hai Rel!" sapanya.
Farrel menjawab, "Hai!" Seraya terus melangkah menarik tangan Allea.
Allea memprotes sikap Farrel, "Gak sopan banget sih lo, disapa maen melengos aja."
"I don't care!"
"Iya juga Farrel gitu loh! Sejak kapan ramah sama orang?!"
"Berkaca lah dulu sebelum ngatain gue, lo lebih parah!"
"BTW bentar lagi Valentine siapa tau dia mau kasih lo bunga gitu?!" ledek Allea.
Farrel menghempaskan tubuh Allea ke bangku kantin, "Gue udah punya target!"
Allea mendelik, "Siapa? Gue?"
"Cih entahlah ya Al! Kayaknya lucu kalau kita jadian."
"Lucunya dimana?"
"Lo sama gue bakal perang sengit tiap hari."
Tiba-tiba Soni datang menawari bakso.
"Gue es doger aja Bang!"
"Lo gak makan?" tanya Farrel heran.
"Gak laper gue!"
Farrel hanya mendesah.
"Eh serius siapa sih cewek yang lo incar?"
"Rahasia!"
"Ayolah Rel! Kok gitu ya sekarang, main rahasia-rahasiaan."
Farrel mengulum bibirnya, "Nanti kalau masalah keluarga gue sudah selesai baru gue kasih tau."
"Memangnya ada masalah apa sih? Gue heran sama kalian!"
"Si Jambang gak cerita sama lo?" telisik Farrel.
"Cerita apa? Dia sakit tau gak! Tapi lo gak peduli sama sekali."
"Gue tau kok!"
"Oh ya?! Dia ngasih tau lo?"
"Irwan yang ngasih tau."
"Hem, okelah! Gue gak mau mencampuri kisruh pertikaian kalian. Gue harap hubungan kalian segera membaik."
Farrel merangkul leher Allea, "Makasih ya Lek!"
Allea menggeram, "Sama-sama Tak!"
Farrel mengernyit, "Tak?"
"Katak!" jawab Allea setelah itu tawanya pecah.
"Wah cari ribut lo ya?!"
Farrel menggelitik pinggang Allea sampai gadis itu menggelinjang kesana kemari. Mereka memang kerap bercanda di sela menunggu pesanan datang. Hanya hari ini Karina absen karena Diare.
***
Hari ini merupakan hari yang melelahkan bagi Allea.
"Capeknya …."
Tubuhnya dihempaskan ke sofa, selepas mengerjakan apa yang bisa dikerjakan di rumah itu.
"Benar-benar tak berperasaan dia itu!" gerutunya, "sudah dua hari pergi gak ada kabar. Sangking senengnya menikmati waktu sama cewek itu, sampe wajib banget matikan Handphone."
Sampai malam tiba, baik Rama ataupun Anita tidak menampakan batang hidungnya, "Loh, kak Anita kok gak kesini?" Allea bergegas mengambil ponselnya yang masih tersimpan dalam tas. "Mati ternyata pantes aja gak ada kabar dari kak Anita."
Allea mengecas HP-nya tanpa menyalakan power on. Tubuhnya telungkup di atas tempat tidurnya sambil mengerjakan tugas sekolah.
"Biar ajalah, kalo kak Anita datang nanti 'kan tinggal masuk aja. Toh, pintu gak gue kunci."
Belum lagi selesai mengerjakan tugas sekolah, Allea telah tertidur pulas.
"Bisa-bisanya dia tidur nyenyak gak kunci pintu. Untung tembok rumah ini tinggi, pake kunci khusus. Kalau nggak, mungkin dia bakal jadi korban pencabulan." Suara berat setengah terkekeh, tampak kelelahan setelah perjalanan jauh.
Rama sudah kembali ke kota sejak sore, namun ia harus mengurus beberapa dokumen kontrak sebelum pulang.
Pria itu membereskan buku-buku Allea yang tertimpa oleh tangannya lalu memasukan ke dalam bufet di bawah televisi. Matanya teralihkan oleh sebuah paper bag unik. Matanya terbelalak ketika mendapati isi tas mini itu ternyata satu set produk pembesar p******a.
Seketika ia terkekeh dengan penemuannya itu, "Rupanya dia gak Pede dengan dadanya yang kecil."
Senyum simpul tersungging di bibirnya, menaruh buku itu diatas bufet dan mengembalikan bungkusan itu ke posisi semula. Supaya gadis itu tidak tahu, bahwa dia memergoki produk itu.
Dua hari berada di desa, pria itu benar-benar merindukan tambatan hatinya yang tengah tertidur pulas. Dengan hati-hati membetulkan posisi tidurnya.
Matanya terkesima menatap wajah polos sang gadis dengan bibir ranum dan sedikit terbuka. Tanpa menunggu lama dia pun menyambar bibir itu dengan perlahan. Takut membangunkannya, rasa rindu yang membelenggunya selama dua hari ini membuatnya makin memanas. Sehingga tanpa sadar ia semakin lahap melumat bibir itu.
"Eum …." Suara rengekan Allea membuat adrenalin pria itu kian berpacu.
Rama mendekap erat tubuhnya sembari menghujani dengan kecupan-kecupan di sekujur wajahnya.
"Eum udahlah!" rengek Allea lagi.
Sepertinya gadis itu masih belum menyadari kehadiran pria yang ia rindukan itu di atas Ranjangnya.
Sampai akhirnya Rama berbisik, "Aku rindu, Sayang."
Allea mengerjap mencoba mengambil kesadarannya. Tak pelak kepalanya berputar ketika mendapati Rama telah setengah badan menimpa tubuhnya.
"Pak Rama!" desisnya dengan mata melotot.
"Eum," sahutnya pelan seraya membelai lembut wajah dan rambut Allea.
"Loh, Bapak sudah pulang?" Allea bertanya seraya berusaha melepaskan dekapannya.
Rama berbisik, "Sebentar aja, aku rindu padamu."
"Aku?" Gumam Allea dalam hati.
Belum sempat ia memikirkan hal lain, Rama kembali menghujaninya dengan kecupan mesra.
"Lepasin Pak!" pinta Allea, memberontak.
"Sebentar lagi Sayang," bisiknya dengan suara yang semakin berat.
"Pak tolonglah!" pinta Allea setengah memelas.
Namun pria itu sama sekali tidak mengindahkan ucapan itu. Dia malah
melumat habis bibir gadis itu sehingga Allea tak kuasa untuk menolak lagi. Meski begitu, perasaan hatinya masih hampa oleh prasangka yang membuatnya setengah hati menerima kecupan pria itu.
Tangan Rama bergerilya ke sekujur tubuh Allea. Menjajaki sisi sensitif bagian atas yang masih terbalut pembungkusnya. Sangking melayangnya gadis itu sampai tidak menyadari tangannya telah merangkul erat bahu Rama. Membuat Rama kian dirasuki hawa panas yang mengalir di sekujur tubuhnya.
Matanya mengisyaratkan sesuatu dengan tatapan yang sudah sayu terbawa hasrat yang tiba-tiba bergejolak. Allea tak mengerti dengan isyarat itu, ia malah memejamkan mata dengan pasrah seolah memberi izin atas apa yang diminta oleh Rama.
"Boleh?" bisik Rama.
Allea tak lagi bisa berkata-kata, ia tengah menahan sensasi asing yang memabukkan membuat wajahnya menjadi sendu.
Rama kembali menyambar bibir tipis itu, seraya menekan tubuhnya lebih erat lagi. Nafasnya memburu. "Aku udah gak tahan lagi!" Tangannya meluncur ke bagian bawah mencoba untuk menarik celana tidurnya.
Dengan sigap Allea menghalau tangan kokoh itu, "Jangan Pak!" sentak Allea.
"Kenapa jangan?"
"Saya masih perawan."
"Aku akan menikahi kamu Sayang."
"Nggak Pak, kita gak akan mungkin bisa sampai ke sana."
Mendengar ucapan Allea, seketika Rama kehilangan gairah, "Apa maksud kamu?"
"Kita gak boleh seperti ini, keluarlah Pak!" pinta Allea hampir menangis.
Hawa panas yang bergejolak oleh gairah seketika berubah menjadi amarah. "Jadi kamu anggap apa yang sudah kita lakukan ini?"
"Oleh sebab itu saya menyesalinya. Maafkan saya."
"Menyesal kamu bilang?!"
Allea mengulang kembali ucapannya, "Iya Pak, saya sangat menyesal! Maafkan saya."
Mendengar pengakuan Allea, d**a pria itu seakan terbakar. "Semudah itu kamu menghempaskan harga diri saya, Allea!" bentak Rama, "saya benar-benar kecewa!" Rama keluar dari kamar itu, menutup pintu dengan hempasan kuat.
Tak ayal air mata gadis itu tumpah ruah. Perasaan khawatir, rindu dan cemburunya, seketika porak poranda.
Paginya Rama tak menampakan batang hidungnya, biasanya kalau hari minggu ia mengajak Allea membenahi tanaman-tanamnya.
"Masih tidur mungkin," gumam Allea.
Bahkan sampai tengah hari Rama belum juga terlihat. Dengan langkah gemetar, Allea mengetuk pintu kamarnya, namun tidak mendapat jawaban dari dalam.
"Masa iya masih tidur?"
Kemudian memberanikan diri membuka pintu kamar itu, seraya memegang sapu di tangannya. Ia telah menyiapkan alasan untuk masuk ke sana. Ternyata Rama tidak mengunci pintu tadi malam. Allea masuk dengan hati-hati takut kalau-kalau membangunkan Rama, tapi pria itu tidak ada di ranjangnya.
Ia menoleh ke arah ruang TV namun Rama juga tidak ada di sana. "Kemana dia?" batin Allea seraya mengayunkan sapu.
Sampai selesai menyapu yang dinanti tak kunjung muncul. Allea menghempaskan nafas berat seolah frustasi. Ia Pun keluar dan kembali ke kamar itu setelah mengambil kain pel. Matanya terbelalak melihat Rama telah berdiri tegak di tengah ruangan kamar, seraya menatap tajam dengan sorot mata yang mengerikan.
"Permisi Pak!"
Rama menghindari gadis itu tanpa berkata sepatah pun, mendapati hal itu hati Allea terasa perih. Matanya telah berkabut oleh genangan yang siap meluncur. Di balik sikap tegasnya, ia hanyalah pribadi rapuh yang mudah sekali menangis.
"Bapak mau makan?" tawar Allea setelah selesai mengepel.
Rama tak menjawab pertanyaan gadis itu, pria itu menarik dalam kretek filternya lalu menghembuskan dengan kasar.
Tak menyerah sampai disitu, Allea berusaha untuk menarik perhatian bosnya yang telah berubah dingin. "Saya bawakan ke sini ya, pasti Bapak belum menghabiskan obat dari Dokter, ‘kan?"
Rama tak juga menjawab, pria itu masih sibuk dengan hembusan asap rokok sambil memandang keluar jendela.
Allea kembali berkata, "Sebentar saya siapkan makanan untuk Bapak."
Tiba-tiba Rama bersuara, "Jangan pernah injak kamar ini lagi. Saya tidak pernah mengizinkan tukang bersih-bersih menjamah kamar saya!"
Bak disambar petir, Allea tercekat mendengar ucapan yang teramat kasar, hingga dadanya terasa terbakar. Seketika air matanya tumpah, ia bergegas mengambil alat pel dan keluar dari kamar itu.