Allea dan Karina mengendap di balik pohon belakang sekolah.
"Mau ngapain lo ngajak gue kesini?" tanya Farrel kepada perempuan yang saat ini berjuang mengatasi debaran jantungnya.
Ya benar saja dugaan Allea, Dinda menawarkan bingkisan Valentine untuk Farrel. "Semoga lo suka ya?!"
Farrel memperhatikan kota coklat berbentuk love berwarna pink itu dengan tatapan cuek. "Pasti itu mahal 'kan?"
Dinda langsung menatap Farrel dengan mata berbinar, "Iya gue nabung khusus buat beliin lo ini!"
Farrel mendesah, "Seharusnya lo gunakan uang tabungan itu untuk yang pasti bermanfaat. Apa gunanya lo kasih ini ke gue?"
"Gue suka sama lo Rel!" ucap Dinda terbata.
Tak ayal Allea dan Karina saling mencubit kegirangan. Mereka bersorak dengan suara berbisik, berharap pemuda jutek itu melepas masa jomblonya.
Tapi sayangnya Farrel malah berkata, "Gue tau kok dan lo pasti ngerasain itu. Seharusnya lo berpikir lebih cerdas sebelum menyatakan perasaan ke gue. Jangan kira apa yang lo lakuin sekarang ini bakal buat gue tersentuh. Bagi gue perasaan itu gak bisa timbul begitu saja hanya dengan sekotak coklat Valentine."
Dinda tercekat mendengar ucapan Farrel.
Kemudian Farrel kembali bicara, "Kalau memang gue suka sama lo, gak perlu lo duluan yang maju. Gak perlu repot-repot nabung buat beliin gue beginian! Gue yang bakal ngelakuin itu karena memang tugas laki-laki memberi, perempuan hanya tinggal menerima. Itu baru cinta namanya."
Seketika air mata Allea jatuh memenuhi wajahnya. Terlintas dalam pikirannya apa yang telah dilakukan Rama selama ini terhadapnya. "Dia memberi apapun, tapi gue malah mengabaikannya."
Karina menoleh, "Ngomong apa sih loh!" Gadis periang itu menanggapi celotehan Allea tanpa memalingkan wajah dari Farrel dan Dinda.
Allea langsung menghapus air matanya kembali memperhatikan sahabatnya itu.
Tampak Farrel mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya, "Gue gak mau lo menyesal sudah kehilangan uang tabungan. Ambilah anggap aja gue beli coklat ini, jangan pernah melakukan hal konyol seperti ini lagi nantinya."
Farrel pergi meninggalkan Dinda yang terpaku dengan linangan air mata. Membuat Karina dan Allea ikut terpaku melihat sikap Farrel.
"Kejam sih tapi keren!" gumam Karina masih belum melepas arah pandangnya.
Allea mendesah, "Farrel benar-benar luar biasa. Gak nyangka gue dia ternyata memiliki pemikiran yang dewasa dibalik wataknya yang kadang gak jelas."
"Yang gak jelas tuh kalian! Ngapain kalian mengendap-endap disini?" bentak Farrel tiba-tiba.
Tak urung keduanya terjungkal masuk ke pagar hidup yang mengapit pohon besar itu.
"Sialan lo!" raung Karina, "Kalau nongol kasih aba-aba kek!"
Allea berusaha mengatasi himpitan ranting yang menghimpit tubuhnya. "Bisa gak kalian tolongin gue dulu sebelum berantem?"
Posisi Allea yang menungging itu membuat mereka terpingkal.
"Hancur harga diri Ratu Kutub Selatan. Untung Evan gak ngeliat ini!" Farrel terkekeh setengah mati seraya menarik pinggang Allea sementara Karina menarik bagian ketiak.
"Aduh sakit juga ya kena besutan ranting sialan ini!"
"Lagian lo ngapain juga sampai jengkang kayak gitu?" seloroh Karina tak bisa berhenti tertawa.
"Namanya juga kaget!" sewotnya sambil membersihkan rok sekolahnya.
Farrel menggeleng, "Nih! Buat kalian aja," ucap Farrel sambil menyodorkan coklat pemberian Dinda.
Allea langsung bersungut, "Gue gak suka coklat!"
"Asik! Berarti utuh dong buat gue!" sorak Karina tanpa basa-basi mengambil satu kotak besar coklat berbentuk love berwarna merah tersebut.
Farrel mengulum senyum melihat tingkah Karina, "Dia selalu apa adanya, gak ada jaim-jaiman. Cantik tapi gak pernah sadar dengan kecantikan sendiri. Hah! Itulah Karina …," kesahnya dalam hati.
***
Diperjalanan pulang memasuki komplek rumah Rama, Allea melihat ada penjual bunga.
"Pak Rama 'kan suka mawar putih, gue mau beliin buat kado Valentine siapa tau dia luluh!"
Dengan penuh semangat ia turun dari ojek dan menghampiri gerai bunga tersebut setelah membayar ongkos tumpangan ojeknya.
"Bang, ada bunga mawar putih?" tanyanya kepada penjual.
"Ada Neng," jawabnya.
"Sudah ada yang berbunga, Bang?"
"Ada, tapi harganya agak mahal sedikit. Mau?"
"Berapa Bang?"
"Tujuh puluh ribu, Neng."
"Oke, saya mau Bang!" Allea mengeluarkan uang selembar merah dari saku bajunya setelah mendapat kembalian dan bunga mawar putih yang telah dibungkus oleh penjual. Allea melangkahkan kaki dengan penuh semangat menuju rumah.
Dipertengahan jalan, ia melihat mobil Rama melintas. Dengan senyum gemilang ia melambaikan tangan, namun mobil itu melaju melewatinya.
Perasaan sedih menyerbu dalam hatinya, "Semarah itukah dia?" Air matanya mengalir begitu saja.
Sesampainya di rumah, Allea berhamburan menghampiri Rama yang tengah menaruh sebuah pajangan hadiah dari client di lemari pajangan.
"Wah dia dapet kado Valentine yang lebih mahal!" kesahnya dalam hati, "tapi gue gak boleh patah semangat!"
Allea bergegas menghampiri Rama, "Pak saya membelikan Bapak sesuatu … tara!" Allea membuka kantong pembungkus mawar putih yang dibelinya tadi.
Rama tahu persis apa makna di balik mawar putih tersebut, tapi hatinya seolah tidak tergugah sama sekali. Ia malah berbalik melangkah naik ke atas tanpa menanggapi perlakuan manis Allea.
Lagi-lagi Allea harus menelan kekecewaan karena Rama tidak menggubrisnya sama sekali. Allea meletakan bunga itu di samping pancuran. Membiarkannya tetap di dalam polibag.
Keesokan harinya Allea mengetuk pintu kamar Rama, tapi penghuni kamar itu tidak meresponnya. Ketika tengah hari, kelebat Rama terlihat dengan setelan rapi.
Senyum Allea merekah menghampiri pria itu, "Bapak mau pergi?" tanyanya.
Tapi Rama tidak menjawab pertanyaan Allea, kakinya terus melangkah ke arah pintu yang tertuju ke garasi mobil di halaman samping rumahnya.
Allea kembali berkata, "Makan dulu yuk Pak! Saya sudah masakin menu kesukaan Bapak."
Rama berbalik dengan raut wajah kesal menatap Allea, gadis itu spontan terpaku menerima sikap sinis Rama.
"Bisakah kamu bersikap selayaknya pembantu?" Suara kerasnya membuat Allea terkejut. "Bukankah kamu yang meminta saya untuk memperlakukan kamu sebagaimana mestinya?"
Allea tercekat.
Hatinya semakin hancur ketika Rama menekan ucapannya, "Jadi tolong bersikaplah selayaknya pembantu di rumah ini, paham?"
Dengan nada berat Allea menjawab, "Baik Pak, maaf …." Kerongkongan terasa terjepit oleh sesuatu yang mendesak ingin keluar dari pelupuk matanya.
Rama menghampiri mobilnya dan pergi tanpa membunyikan klakson. Hati gadis itu serasa retak seribu, demi memenangkan hati Rama kembali ia rela menjadi orang yang tidak tahu malu. Tapi Rama tak bergeming dari sikap dinginnya yang telah berhari-hari membuat gadis itu frustasi.
Sejak sikap dinginnya itu, Allea selalu pulang dan pergi sekolah sendiri. Makanan yang telah dimasak berujung masuk kedalam perut kucing yang biasa tidur di tembok belakang rumah, bahkan Allea pun jadi jarang makan.
Sampai menjelang malam Rama tak juga menampakan batang hidungnya. Makanan yang sudah dimasak mulai dingin menanti sentuhan si tuan rumah.
Lamunan Allea berpusat pada penyesalannya karena telah menolak Rama malam itu. "Kenapa gue gak turuti saja kemauan dia. Tapi kalau gue turuti apa dia bakal bertanggung jawab?"
Allea bisa merasakan kemarahan yang dalam dari tatapan Rama terhadapnya. Sehingga tiba-tiba saja dia mengumpat dalam hati, "Cih! Gue gak boleh terpancing oleh sikap acuh tak acuh itu. Iya, pas belum dapet dia bilang mau bertanggung jawab. Setelah gue kehilangan segalanya dia buang gue gitu aja."
Sekalipun dia merasa hatinya akan baik-baik saja setelah memaki. ternyata perasaannya tetap tak berubah. Penyesalan itu tetap menghantuinya, seolah makian tadi tak benar-benar larut dari hatinya.
"Gue harus gimana supaya dia gak marah lagi? Apa gue harus memohon dan menyembah dengan pakaian terbuka atau dengan tubuh polos? Terus dia bakal menyergap gue dan melupakan kesalahan gue?"
Allea memukul-mukul kepalanya sendiri Sampai pintu samping terbuka. Rama masuk dengan raut wajah lelah melangkah menuju tangga.
Tanpa membuang waktu Allea menghampirinya, "Permisi Pak! Makanan sudah siap apa Bapak mau langsung makan atau ngopi dulu? Biar saya siapkan."
Rama menjawab dengan nada sedikit menyentak, "Tidak perlu! Saya sudah makan bersama rekan bisnis."
Lutut Allea terasa lemas, kabut di matanya membuat pandangannya kabur. Dari siang Allea tidak memiliki selera makan. Bahkan malam ini, meskipun perutnya melilit karena lapar, dia menahan demi bisa makan malam bersama Rama.
Tanpa menjawab, Allea berbalik turun ke dapur. Marah, kecewa, sedih menyatu dalam satu rasa hampa yang telah menyelimutinya beberapa hari ini.
Air matanya jatuh ketika mengangkat makanan itu, "Tega banget sih dia." Akhirnya Allea memutuskan untuk menyimpan makanan itu di kulkas tanpa menyentuhnya.
Sampai beberapa hari berjalan Rama tak kunjung meredam amarahnya. Ada saja tingkah Allea yang membuatnya kesal, padahal gadis itu hanya mengharapkan Rama menerima maaf darinya.
Suatu malam ketika tengah menikmati acara TV di dapur, Allea merasakan tidak nyaman di bagian perutnya. Kepalanya pusing, badannya terasa melayang-layang. Tapi dia harus menelpon ibunya untuk mengabari kalau dia akan keluar dari rumah Rama.
"Bu, Allea merasa tidak cocok tinggal di sini."
"Jadi gimana kamu mau pulang? Tapi sebentar lagi kamu UAN?”
"Allea mau tinggal di rumah Farrel Buk!"
"Tapi Farrel 'kan laki-laki Nak!"
"Tenang aja Buk sementara aja kok! Kalau Allea sudah dapet kerjaan Allea bakal kos sendiri."
"Ya sudah kalau memang itu keputusan kamu."
"Makasih Buk, Allea mau nelpon Farrel dulu." ujarnya seraya mematikan telponnya.
"Apa Lek?" jawab Farrel dari seberang sana.
"Gue mau pindah ke kosan lo!"
Terdengar suara Farrel tersedak.
"Kenapa? Lo bilang gue boleh tinggal sama lo."
"Serius?" tanya Farrel meyakinkan.
"Iya! Gue bakal mengundurkan diri sebelum dipecat. Jadi gue pastiin dulu lo mau nerima gue gak? Kalau iya gue beresin barang-barang gue sekarang!"
"Sekarang?"
"Iyalah! Masa tahun depan?!"
"Gila aja lo udah malam ini!"
"Gapapa kok gue bisa berjalan dalam gelap."
"Ntar gue jemput deh!"
"Pake apa?"
"Pinjem motor anak sebelah!"
"Oke!"
Entah kenapa kepala Allea terasa berputar-putar. Perutnya terasa begah, serasa ada mau terdorong keluar dari kerongkongannya. Dia berbalik untuk ke kamar mandi tapi gerakannya tertahan oleh tubuh tegap yang berdiri di belakangnya.
"Berani-beraninya kamu mengkhianati saya!" sergahnya dengan nafas memburu.
Allea menggeleng-geleng sambil menutup mulutnya yang sudah penuh oleh gumpalan yang terdorong dari kerongkongannya.
"Berani kamu meninggalkan rumah ini dan tinggal bersama Farrel. Maka saya akan membuat hidup Farrel semakin sengsara!"
Allea melotot karena sesuatu dari perutnya memaksa untuk keluar. Dengan cepat dia ia bergerak menghindari Rama, tapi pria itu dengan sigap menarik tangannya.
"Jangan mengabaikan selagi saya bicara!"
Allea tak kuasa lagi menahan gumpalan sesak di mulutnya. Cairan asam keluar begitu saja dari sela-sela jarinya yang masih menutupi mulut.
Seketika Rama berseru, "Kamu hamil?!"
Ingin rasanya Allea memaki pria itu, tapi mulutnya tak bisa berbicara. Dia bergegas menuju kamar mandi diujung dapur diikuti langkah cepat Rama. Praktis semua cairan dalam perutnya terdorong keluar.
Spontan Rama mengurut bagian belakang Allea untung merangsang cairan keluar sepenuhnya. Allea berusaha menepis karena tidak mau Rama menyaksikan adegan memalukan itu. Namun pria itu tetap kekeh melakukannya.
Rama berkata, "Keluarkan semuanya biar lega."
Pemandangan menjijikan itu tak membuat Rama mundur. Dengan telaten dia membersihkan mulut Allea dan menyiram bekas muntah yang berceceran di lantai.
Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Kakinya gemetar melangkah menuju meja makan dengan dipapah Rama.
"Duduklah, biar saya ambilkan air hangat."
Allea menyandarkan kepalanya di kursi makan. Kepalanya mendadak terasa pusing, badannya seperti meriang.
Rama membantu Allea meneguk air itu sedikit demi sedikit.
"Mual," keluh Allea dengan suara pelan.
"Kita kerumah sakit ya," ajak Rama ketika merasa tubuh Allea dingin oleh keringat.
Allea hanya bisa meringis, sejak tadi siang dia sudah merasa tidak enak di sekitar perutnya. Tapi dia berfikir hanya gangguan sesaat sebab itu dia tak begitu menghiraukan.
Rama membuka jasnya lalu memakaikan kepada Allea. Bergegas menggendongnya ke mobil untuk menuju rumah sakit terdekat.
Di depan pagar Farrel sibuk menelpon Allea namun tidak ada jawaban. Tak lama dia melihat pagar terbuka, matanya terbelalak begitu melihat Allea tergolek lemah di sandaran kursi.
"Allea kenapa?" sergahnya.
Tapi Rama tak menggubris dia menekan tombol pada remote untuk menutup pagar lalu pergi. Tanpa babibu Farrel bergegas mengikuti mereka dari belakang.
"Allea hei," panggil Rama sesekali melepas pandangannya dari jalan raya.
Allea menjawab dengan lesu, "Iya Pak."
"Sabar ya sebentar lagi kita sampai."
Allea mengangguk lemah.
Mobil berhenti tepat di pintu masuk UGD. Tak lama datang perawat bersama satpam membawakan ranjang Sorong. Rama menggendong tubuh Allea ke atas ranjang itu seraya terus memanggil namanya.
"Allea," Raut wajah khawatir tak begitu jelas dalam pandangan Allea yang sudah nanar.
Tak lama Farrel masuk langsung menyerbu, "Al lo kenapa?"
Rama langsung menarik tangan Farrel untuk keluar. "Mendingan lo pulang!"
"Gue gak mau! Lo gak berhak ngusir gue dari sini!"
"Allea butuh ketenangan jadi lo silahkan pergi!"
Gigi rapi Farrel gemeretak menandakan kemarahan yang tertahan. "Lo gak berhak atas Allea jadi gak usah sok berkuasa!"
"Lo pikir Allea itu harta gono-gini yang sering kita perdebatkan?!"
"Lo boleh ambil semua milik gue bahkan kehidupan gue! Tapi jangan pernah lo jadikan Allea senjata untuk mengancam gue! Tinggalkan Allea, gue bisa ngurus dia sendiri."
Rama menyeringai, "Jadilah lebih pintar untuk melakukan sesuatu jangan sampai lo menyengsarakan orang lain lagi. Lo gak mau 'kan ada korban lain lagi selain gue?!"
Mata Farrel menyala, "Gue sudah melakukan semua yang lo mau demi harga mati yang harus gue bayar, tapi gue gak bakal tinggal diam kalau sampai lo berani nyakitin dia!"
"Heh! Nyakitin dia? Justru gue yang menyelamatkan masa depan dia. Lo bisa apa selain diam dan menunggu kehancuran dia. Bahkan lo gak tau apa yang lagi dihadapinya kemarin. Apa lo masih mau menyerang gue dengan ucapan sampah lo itu?!"