Seperti Kepingan Puzzle

2021 Words
"Hoi, melamun aja lo?" sergap Karina ketika namanya disebut oleh guru Bahasa Indonesia untuk membacakan puisi ke depan. "Kamu sedang mikirin apa Allea?" tanya guru tersebut. "Maaf Buk, saya sedikit pusing jadi kurang berkonsentrasi." Karena Allea termasuk murid unggulan yang tidak pernah melakukan kesalahan jadi guru tersebut membiarkan Allea menyandarkan kepalanya di meja. Kemudian mengganti murid lain untuk membacakan puisi ke depan. Karina mengernyit heran, "Lo kenapa sih?" "Sst! Perhatikan pelajaran!" "Cih!" Karina melengos memperhatikan seorang siswa sedang membaca puisi. Allea masih sibuk memikirkan perasaannya terhadap Rama. Sampai kepalanya terasa berat untuk diangkat. Rama yang semula bertemu dengannya secara tidak sengaja bisa bertemu lagi dengan situasi yang aneh. Awalnya mungkin bisa disebut sebuah kebetulan tapi yang mengganggu pikiran Allea adalah kenapa Rama bisa terlibat dengan Monica. "Apa dia memang suka membeli perawan? Artinya dia memang pelanggan Monica?" Pertanyaan demi pertanyaan itu mencuat ketika ia merasa hatinya selalu bergetar setiap melihat Rama dalam keadaan apapun. Bahkan saat Rama mereguk wine di hadapannya bukan rasa takut lagi yang dia rasakan. Melainkan perasaan aneh yang menyergap nalarnya. Bel istirahat berdering, langkah Allea terasa berat menuju kantin. Bukan saja karena pikirannya yang tidak nyaman, tapi perseteruannya dengan Farrel masih berlanjut meski sudah berjalan beberapa hari. "Kalian masih mau diam-diaman? Sudah seminggu lebih loh!" protes Karina. "Bodo amat!" dengus Farrel. "Gue lagi males berdebat sama lo!" ucap Allea seraya menyandarkan kepalanya ke meja. "Bela aja terus Bos lo itu! Nanti kalau lo udah dibuang sama dia. Lo bakal nangis meraung datangi gue!" "Kata-kata dibuang itu apa gak terlalu berlebihan? Kenapa gak lo pake kata dipecat!" seloroh Allea dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Lo gak tau siapa dia? Gimana aslinya dia?! Lo bakal nyesel Allea!" tekan Farrel, "gue tau gelagat kalian berdua tuh aneh, kalian tuh lebih mirip sepasang kekasih daripada Majikan dan Pembantu!" Ucapan Farrel membuat Allea tertegun, dia lupa tersadar bahwa Rama dan Farrel bersaudara. "Kenapa gak gue gali informasi dari Farrel? Ngeliat tingkah mereka, jelas mereka gak akur. Gue bisa memanfaatkan kemarahan Farrel untuk mengungkap bagaimana aslinya Rama." Karina berusaha menengahi, "Gini ya Rel! Anggap aja yang lo bilang itu bener. Gak ada salahnya dong kalau Abang lo suka sama Allea. Dia ganteng, mapan, seksi lagi. Pas banget sama tipe Allea, gue yakin begitu Bang Rama menyatakan cinta, Allea gak bakal bilang: 'Sorry lo bukan tipe gue' iya 'kan Al?" Selorohan Karina tak ayal membuat Farrel semakin emosi. Dengan lantang dia berkata, "Kalian gak tau gimana Rama yang sebenarnya, dia itu–" Tiba-tiba Farrel terdiam. "Apa?" sentak Allea langsung mengangkat kepalanya. Farrel menarik nafas lalu menghela kasar, "Keluar secepatnya dari rumah itu! Serius Allea, Rama bukanlah orang yang bisa lo gapai dengan mudah! Sekali lo masuk dalam jeratan jangan harap bisa lepas. Kecuali lo nikah sama orang lain." "Oke, gue nanya kayak gini bukan berarti gue suka sama Abang lo." "Itu dia yang gue takutkan Allea!" "Gue belum ngajuin pertanyaan Rel!" bentak Allea. "Oke, apa yang mau lo tanyain?" "Apa dia sudah punya istri?" "Gue gak tau!" "Kok bisa lo gak tau?! Lo 'kan adiknya?" "Dia baru balik kesini setelah lima tahun tinggal di Jepang. Jadi gue gak tau dia sudah punya istri apa belum. Dia baru tiga tahun menetap dan buka usaha disini." Sontak Allea tertegun mendengar informasi dari Farrel, bila digabungkan dengan informasi Irwan jelas saling berkaitan. Allea mengajukan pertanyaan lagi, "Apa keluarga kalian ada di Jepang?" "Bokap gue udah mati dan kami gak punya sanak saudara di Jepang sana. Gue anak yatim piatu," ungkap Farrel melemah. Allea seperti menemukan kejelasan tentang keluarga yang dimaksud oleh Irwan. "Berarti yang dimaksud keluarga– Istri dan anak?" Allea langsung mendongak menatap tajam kepada Farrel. Farrel menjawab, "Gue gak tau Allea, yang jelas Rama itu kejam, tega, tapi bodoh! Dia terlalu berambisi menjadikan segalanya sesuai dengan keinginan dan rencananya." "Rencana?" kulik Allea lebih jauh lagi. "Rumit Al, lo gak harus terlibat di dalamnya. Sebab itu tinggalkan rumah itu, gue bisa bayarin kosan lo tiap bulan kalau memang lo gak mau tinggal Satu kamar sama gue." "Gak semudah itu Rel! Gue merasa kayak orang yang gak tau balas budi. Apalagi kalian bersaudara apa jadinya kalau dia tau gue tinggal sama lo?" "No problem, kami memang gak pernah akur kok! Gue gak mau nerima sepeserpun uang dari dia. Gue lebih baik kerja keras untuk bertahan hidup daripada menggonggong mengharap belas kasihan dari dia!" Allea merintih, kepalanya semakin terasa berat. Tiba-tiba Karina berkata, "Pantes lo gak bisa bantu Allea, gue pikir orang tua lo yang kaya." "Memang … Mami punya aset milyaran tapi gue gak tau warisan Mami ada dimana? Semua aset kemungkinan Rama yang mengelola. Gue rasa kepergian dia ke Jepang untuk mengurus aset Mami yang terpendam disana. Tapi gue gak peduli, toh Mami udah gak ada." "Maksud lo dia udah meninggal?" tanya Karina dengan hati-hati. "Sudah gue bilang tadi 'kan kalau gue ini yatim piatu!" "Ah maaf Rel …," ucap Karina lirih, dia merangkul Farrel seraya mengusap lembut bahu pemuda itu. "Pantes kepribadian lo tuh aneh!" cetus Allea sinis. "Gue hanya gak bisa memilih Al! Hutang nyawa itu harus gue bayar mahal!" Allea mengernyit, "Hutang nyawa?" Farrel tersenyum tipis, "Itu cuma perumpamaan." Allea mencoba memahami perasaan Farrel meskipun dia tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi antara sahabatnya itu dan Rama. Tapi Allea juga tidak bisa mengikuti saran Farrel, dia tidak tahu harus memberikan alasan apa untuk keluar dari rumah itu. Terlebih Allea terjerat hutang yang tidak sedikit kepada Rama. Alasan itu juga yang membuatnya sulit keluar dari rumah itu. "Gue belum bisa keluar dari rumah itu Rel! Tapi gue bakal jaga jarak sama dia." "Terlambat kalau lo mau jaga jarak sekarang ini. Dia udah jadiin lo tawanan elite dalam rumahnya." "Hah?!" Allea tercengang begitu pula dengan Karina. "Tawanan elite gimana maksud lo?" desak Karina. "Rama sudah merencanakan ini sejak awal, walaupun ini baru sebatas dugaan gue aja. Tapi gue harap bukan seperti yang terlintas dalam pikiran gue." "Maksud lo?" Allea mulai merasa takut. "Rama sudah jatuh cinta sama lo! Dan lo udah terjebak dalam Ambisi dia." "Ambisi buat dapetin Allea?" tebak Karina. "Hem, gue harap cuma itu alasannya. Tapi bisa jadi ada hal lain," pungkas Farrel menyudahi ocehannya. Langkah Allea semakin berat kembali ke kelas. Kini pikirannya bertambah rumit setelah mendengar sederet ungkapan Farrel tentang Rama. Semua seperti puzzle yang memerlukan kepingan lain untuk bisa mengetahui dengan jelas gambar apa yang ada dibalik kepingan-kepingan yang belum tersusun. Sementara kepingan-kepingan itu masih tersembunyi entah dimana. *** Seperti biasa Allea menunggu Rama di depan gerbang. Sementara Karina sudah pulang bersama Farrel. Setelah beberapa saat, mobil Rama terlihat memasuki areal sekolah. Allea bergegas menghampirinya. "Selamat siang Nona Allea!" senyum lebar merekah di antara kumis dan jambangnya yang mulai lebat. Allea hanya tersenyum kecut mendapat perlakuan manis itu. Hatinya sedang dalam kondisi acak-acakan untuk membalas gurauan itu. "Kenapa kok kayaknya gak suka di sapa kayak gitu?" "Ah maaf Pak, saya hanya tidak terbiasa disebut Nona." "Biasakanlah, jadi kamu gak bakal canggung nanti kalau menghadapi bos-bos besar." Allea memutar maniknya, "Untuk apa?" Rama hanya menyunggingkan senyum tipis, "Siapa tau kamu mau menjadi bagian dari hidup saya." Pernyataan Rama yang tiba-tiba itu membuat Allea mendelik. Jantungnya seketika berpacu dengan cepat. "Ah, tidak usah dipikirkan. Saya hanya bercanda," ucap Rama seraya menikung ke arah lesehan tempat mereka makan bersama Karina hari itu. "Kok kesini, Pak?" "Kita makan dulu ya? Kamu pasti lapar!" "Apa nggak sebaiknya saya makan dirumah aja?" "Gak ada apa-apa di rumah, kamu mau makan apa?" "Saya bisa masak mie instan." Rama mematikan mesin mobilnya, menatap Allea dengan sendu. "Ada aturan yang berlaku di rumah itu, hanya boleh makan mie instan satu bulan sekali." Allea terbelalak, namun dia tak menjawab. Rama keluar lebih dulu kemudian membukakan pintu untuknya. "Kenapa dia harus berbuat seperti ini?" tanya Allea dalam hati. Sepanjang kegiatan makan siang itu, Allea merasa aneh dengan tingkah Rama. Pria itu begitu perhatian mengurus soal hidangan untuk disantap Allea. "Seharusnya 'kan gue yang melayani dia." Lagi-lagi Allea hanya bisa membatin. Ungkapan Farrel tadi terus menghantuinya, mendadak semua terasa semakin jelas. "Kebetulan atau memang direncanakan kayak yang tadi diomongin Farrel." Allea berfikir seraya mengunyah makanannya. Rama hanya menggeleng ringan melihat tingkahnya itu. Dia kembali menganalisa dugaannya, "Pertama ketemu pas dia bayarin tagihan wartel, habis tuh ketemu lagi pas gue ketabrak motor. Yang paling aneh pas dia nanyain tentang kartu nama Monica. Dan ternyata dia orang yang sudah memesan keperawanan gue. Terus Amplop coklat dan Pak Irwan, terakhir gue jadi pembantunya. Apa ini murni kebetulan?" Sepanjang mengunyah Allea terus berpikir tanpa henti, "Gue dapet kamar yang bagus, dilarang terlalu giat bersih-bersih. Tiap siang makan diluar, bukan cuma itu bahkan dia sering melayani urusan makan gue. Apa ini gak terlalu berlebihan untuk memperlakukan seorang Pembantu?" "Apa kamu punya kebiasaan makan sambil berfikir?" Pertanyaan Rama tiba-tiba mengejutkannya. Mendadak suaranya bergetar, "Anu, saya lagi mengingat pelajaran tadi Pak. Karena dua bulan lagi kami UAN." ungkapnya berbohong. "Hem … kamu bisa belajar sama saya." ucap rama tulus. "Hah?" Senyum kecutnya membuatnya terkesan seperti orang linglung. "Saya jago Matematika, saya jago bahasa Inggris. Saya juga jago membuat kamu salah tingkah!" Sontak wajah Allea serasa merah padam. "Bagaimana dia bisa tau kalau gue sering salah tingkah?" ringisnya dalam hati. Setelah makan, Rama mengantar Allea pulang habis itu kembali ke kantor. Malamnya pun Allea dilarang masak, Rama sudah membawakan makan malam untuk mereka. Tak ayal keadaan itu membuat Allea semakin dirasuki segala dugaan yang hampir membuat kepalanya pecah. Hari ini Allea agak keteteran melakukan tugas rumahnya, karena terlalu banyak menghabiskan waktu diluar. Akhirnya hampir tengah malam dia baru bisa menyelesaikan setrikaan bajunya. Begitu naik keatas, dia terkejut mendapati Rama telah tertidur di Sofa, "Pak," Allea membangunkan Rama dengan lembut. "Eum …," Tangan Rama menarik tubuhnya, hingga tubuh mungil semampai itu masuk kedalam dekapannya. "Dingin …," rengeknya. Allea yang mencoba melepaskan diri membuat pria itu semakin erat merangkulnya. "Maaf Pak, tolong lepaskan saya." Bukannya melepas, Rama malah menyilangkan kakinya ke tubuh Allea. Tak pelak sesuatu yang menonjol dari bawah sana terasa menyentuh bagian sensitifnya. Allea tersentak, semakin berusaha ingin melepaskan diri. "Jangan bergerak, kamu semakin membuatnya terbangun." Seketika Allea menjadi panik, dia berkata dengan cepat. "Saya harus ke kamar, Bapak bisa lanjutkan tidur di kamar." "Sama kamu?" Rama berujar dengan mata yang masih terpejam. "Maaf Pak, maksud saya di kamar masing-masing." Masih terasa aroma manis wine keluar dari mulut Rama saat ia bicara, "Jangan bergerak Allea! Kamu akan membuatnya semakin tak terkendali." Suara Rama berubah parau. "Pak, please …," pinta Allea dengan nada memelas. "Iya Sayang!" Suara berat Rama menerbangkan sensasi manis yang memabukkan pikirannya. "Pak kita gak boleh seperti ini!" "Diamlah Allea, saya hanya ingin tidur!" Allea terdiam, ia tidak ingin memprovokasi naluri Rama lebih jauh lagi. Bibir pria yang masih terlelap itu menempel di wajahnya. Dia memilih menunggu sampai Rama tertidur pulas kemudian meninggalkannya masuk dalam kamarnya. "Benar-benar parah tuh orang! Bisa-bisanya dia melakukan hal itu! Gue harus secepatnya keluar dari rumah ini. Sebelum semuanya semakin tak terkendali." Allea mencoba memejamkan mata tapi kegundahan hatinya terus saja berkecamuk. "Oke sesaat gue sempat terbuai sama pesona dia. Tapi akhirnya gue sadar kalau dia memang bukan orang yang bisa gue gapai. Gue gak mau jadi benalu dalam rumah tangga orang lain. Apa jadinya kalau istrinya sampai tau? Bisa jadi bulan-bulanan gue!" Sampai pagi Allea tidak bisa memejamkan matanya. Meskipun kantuk menyerang tapi sudah terlambat untuk tidur karena dia harus melakoni rutinitasnya seperti biasa. Rama terkekeh melihat penampakan Allea pagi ini, "Apa kamu begadang semalaman?" "Saya tidak bisa tidur Pak!" "Sudah saya bilang jangan terlalu sering menatap saya nanti tidak bisa tidur." Allea tersenyum kecut mendengar ucapan Rama. "Sumpah ini orang selain berperilaku buruk juga narsis abis!" umpatnya dalam hati. Sampai di sekolah pun mulai dari pelajaran pertama sampai pulang Allea berusaha menguasai kantuk yang terus menyerangnya. "Bisa mati ngejut gue kalau begini terus tiap hari …," keluhnya bergumam sendiri saat menunggu jemputan Rama. Allea duduk di sebuah bangku bersandar dibawah pohon, tak terasa matanya terpejam. Sampai Rama membangunkannya. "Kenapa kamu tidur disini?" "Ah maaf saya ketiduran Pak!" "Aduh Allea, mangkanya kalau malam itu tidur jangan mikirin yang bukan-bukan." Allea menggaruk kepalanya, "Iya Pak!" ucapnya mengikuti langkah Rama menuju mobil. Sepanjang perjalanan pun dia tertidur di mobil. Bahkan dia tidak sadar Rama sudah membawanya ke tempat makan yang eksklusif.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD