Jam weker di kamar Allea berbunyi nyaring membuatnya tersentak dari alam mimpi. Dia bergegas keluar kamar untuk melaksanakan tugas rumah tangganya, Karena hari ini dia berniat akan masuk sekolah.
Allea terkejut melihat Rama tidur di sofa.
"Pak …," Allea berusaha membangunkan dengan tepukan lembut.
"Eem!" Suara parau Rama mengayun lembut di telinga Allea.
"Pindah ke kamar, Pak!"
"Jam berapa ini?" tanyanya berusaha membuka mata.
"Jam empat pagi," jawab Allea pelan.
Rama tersentak, "Jam empat?!"
"Iya Pak!"
"Terus ngapain kamu disini?" Matanya terbelalak ketika melihat Allea memegang sapu.
"Saya mau beres-beres Pak!"
Rama langsung mengomel, "Ya ampun Allea, ini masih malam! Kayak gak bisa nunggu pagi aja."
"Takut gak sempat Pak," jawabnya pelan.
"Rumah ini gak kotor, ngapain kamu repot-repot bangun jam segini?"
"Saya sudah terbiasa, Pak."
"Saya gak mau tau kebiasaan di rumah Bos kamu yang lama. Di sini gak boleh ada kegiatan sebelum pagi."
"Tapi saya bisa terlambat kalau nunggu pagi untuk mengerjakannya."
"Nggak perlu berbenah rumah pagi-pagi. Kamu bisa melakukannya pulang sekolah!"
"Tapi–"
"Saya yang mengatur, kamu hanya perlu mengikuti aturan!"
"Baik Pak." Dengan berat hati, Allea kembali ke kamarnya.
Sampai jam enam pagi dia baru keluar dari kamarnya, telinganya menangkap nada panggilan telepon dari ruang TV.
"Katak dalam tempurung?" Allea membaca nama si penelpon dengan dahi mengkerut. Namun ia tak menggubris panggilan itu dan bergegas menyiapkan sarapan.
Tak lama Rama turun dengan setelan rapi, tak pelak Allea menganga melihat aura bosnya yang semakin memukau pagi ini.
"Selamat pagi, Allea."
Senyum manisnya membuat Allea salah tingkah.
"Pagi Pak!" balasnya.
Kemudian mempersilahkan Rama untuk sarapan, "Semoga Bapak menyukai kopi buatan saya." Kemudian melangkah menjauhi meja makan.
Rama menyeruput kopi itu, "Wah, nikmat sekali."
Lagi-lagi senyuman itu membuat Allea tak mampu berucap.
"Duduklah, kita sarapan sama-sama," ajak Rama.
"Saya mau ganti baju dulu, Pak."
"Nanti saja, setelah sarapan."
"Bapak saja duluan, saya bisa membawa bekal nanti."
"Hah, bekal?" Rama heran mendengar perkataan Allea.
"Saya biasa membawa bekal ke sekolah."
"Apa kamu masih TK?"
Pertanyaan Rama membuat Allea terkekeh. "Biar hemat Pak," akunya dengan polos.
"Ini bukan lagi zaman penjajahan, kenapa masih ada anak SMA bawa bekal ke sekolah?"
Allea hanya tersenyum tipis, komentar Rama mengingatkan dia akan ejekan Karina tentang bekalnya. "Jangan-jangan lo jelmaan wanita di zaman perang ya? Ada hari gini anak SMA bawa bekal." Allea terkekeh mengingat hal itu.
"Kok kamu ketawa?" Rama mengernyit.
Allea buru-buru menetralkan pikirannya, "Gapapa Pak!"
"Ayo makan, tidak usah membawa bekal."
Akhirnya Allea duduk berhadapan dengan Rama, menyantap sarapan nasi goreng ala-ala restoran yang pernah dipelajari Allea dari Mega.
Setelah selesai, dia pun segera membereskan meja makan dan berganti baju seragam.
Untuk pertama kalinya dia ke sekolah dengan menaiki mobil mewah.
"Kenapa kamu kelihatan gelisah?" tanya Rama memecah keheningan di mobil itu.
"Saya takut Bu Mega sudah mengurus kepindahan saya," tuturnya.
"Gampang itu bisa diatur. Kalau memang sudah diurus kamu bisa pindah sekolah."
"Tapi mau pindah kemana? Saya tidak begitu memahami sekolah lain di kota ini."
"Teman saya pemilik sebuah sekolah yang terbilang bagus. Kamu bisa pindah kesana kalau memang berkas kamu sudah dicabut dari sekolah itu."
Seketika Allea memikirkan Karina dan Farrel, "Kalau gue pindah, nggak ketemu lagi dong sama mereka."
Rama memarkir mobilnya di halaman sekolah. Dia terpaksa ikut masuk karena ingin memastikan apakah Allea masih terdaftar sebagai murid di sekolah itu atau tidak.
Untunglah Mega belum sempat mengurus kepindahannya. Mereka keluar dari kantor kemudian menuju kelas. Dari kejauhan Farrel tercengang melihat Allea datang bersama Rama.
Sekonyong-konyong dia mendekat lalu bertanya, "Kenapa kalian bisa berduaan?"
Rama menoleh kemudian menjawab, "Tiba-tiba datang dan bertanya dengan gaya tidak sopan!"
Farrel menyeringai, "Apa gue harus bersikap sopan dengan orang yang tidak pernah menghargai kesopanan?"
Allea mendadak tercekat melihat tingkah keduanya, "Kalian saling kenal?"
"Dia adik saya," ucap Rama melirik sekilas kepada Allea.
Karina yang baru saja datang langsung berseru, "Apa?! Jadi lo anak orang kaya Rel?"
"Bukan harta gue!" sergahnya acuh tak acuh.
"Pantes lo sering beliin kami jajanan, ternyata–"
"Argh!" Farrel menggeram lalu pergi meninggalkan mereka.
Allea masih terpaku mengerjap berulang kali untuk menyakinkan kalau ini bukan mimpi.
Lalu suara Karina mengejutkannya, "Lo gak jadi pulang Lek?" Gadis itu menyerbu Allea dengan pelukan.
Rama menyela, "Lek?"
Karina terkikik, "Kami selalu memanggil dia begitu, yang artinya jelek."
"Dia cantik kok!" Senyum Rama merekah membuat Allea lagi-lagi salah tingkah.
"Bukan wajahnya yang jelek tapi wataknya!"
Allea langsung mencubit pinggang Karina.
"Oh kalau itu saya sependapat!" Rama terkekeh mengingat betapa sulitnya dia menghadapi watak Allea.
"Tapi ngomong-ngomong Abang ini siapa?" tanya Karina, "oh okelah Abangnya Farrel 'kan? Tapi yang gue heran kok bisa datang sama Allea?"
"Ini Pak Rama– Majikan baru gue," ungkap Allea.
"Jadi serius mereka orang kaya?" Karina terperangah tak percaya dengan kenyataan tentang Farrel.
"Ya begitulah!" sahut Rama seraya tersenyum kecut.
"Tapi kok Farrel ngekos dan kerja di warung pecel lele sih?"
"Tanyakan saja langsung sama dia ya, saya masih banyak kerjaan." Rama bersiap pergi. "Ah, nanti siang saya jemput kamu. Tunggu saja di depan gerbang."
Allea tersenyum, "Baik Pak, Terima kasih banyak."
Rama mengangguk kemudian pergi.
Setelah kepergian Rama otomatis Allea jadi incaran ceceran Karina. Berbagai macam pertanyaan dilontarkan untuk memenuhi hasrat penasarannya, terutama tentang omongan Mega dua hari yang lalu.
Karina menenggelamkan pikirannya pada nasib sahabatnya itu yang benar-benar mujur bertemu pria seperti Rama.
"Rasanya gue pengen tukar posisi sama lo," desah Karina menyandarkan kepalanya dengan pasrah diatas meja.
"Ngaco lo!" sergah Allea, "belum tentu kehidupan gue dirumah itu bakalan mulus. Pak Rama itu Pemarah, kalau ngomong tuh selalu serius. Gak pernah tertawa, Pemaksa, dan jutek abis!"
Karina mengerutkan dahi menatap kosong papan tulis dari arahnya bersandar. "Tunggu! Kayak pernah kenal sama orang dengan ciri-ciri yang lo sebutin," ujar Karina mengangkat kepalanya.
Allea bertanya, "Oh ya?! Siapa?"
Karina menjawab sebelum terpingkal, "Elu! Siapa lagi coba?!"
Allea bersungut setelah itu komat kamit mengutuk Karina tanpa bersuara.
***
Farrel memasang wajah jutek ketika di kantin, suasana meja itu tak seramai biasa.
Soni memandang mereka satu persatu, "Kalian kenapa?"
Farrel bertanya, "Bang kalau lo dikhianati bakalan kecewa gak?"
Allea langsung menyala, "Mana gue tau kalau dia Abang lo! Memangnya salah kalau gue kerja sama dia? Tadinya gue mau tinggal di kosan lo, tapi gue pikir bakal jadi beban buat lo nanti!"
"Gue gak pernah merasa terbeban nerima lo! Seharusnya lo langsung ke kosan gue bukan malah datangi b******n itu!"
"Dia Abang lo Rel!" bentak Allea, "gak sepantasnya lo mengumpat kayak gitu!"
"Dia lebih dari pembunuh berdarah dingin, bertindak semaunya, gak pernah mau dengerin masukan apalagi berdiskusi untuk masalah keluarga! Apa lo pikir selama ini dia menganggap gue sebagai adiknya? Bahkan dia namai kontak gue Katak dalam tempurung!"
Allea terdiam kemudian mendadak tertawa terbahak-bahak, "Jadi itu elo?"
"Iya! Puas lo?!"
Karina dan Soni yang sedari tadi menyimak perdebatan mereka ikut tertawa terbahak-bahak.
"Bahagia banget kalian tertawa diatas penderitaan gue!"
Karina menghentikan tawanya, "Maaf Rel, istilah Katak dalam tempurung itu 'kan mengacu ke hal yang negatif. Yang gue gak habis pikir kok Abang lo pinter kasih julukan?"
"Justru julukan itu lebih pantas buat dia! Gue pinter kok, buktinya gue selalu jadi juara umum."
Soni mendesah kemudian beranjak, "Ya sudahlah! Kalian lanjutkan saja perdebatan ini. Abang masih banyak kerjaan."
"Si Abah teh kemana Bang?" tanya Karina karena sudah beberapa hari ini tak melihat Usup.
"Sakit Neng, kumat vertigonya mah!"
"Hem, semoga si Abah cepet sembuh ya Bang!" ucap Karina.
"Makasih ya …,"
Setelah itu Soni meninggalkan keributan itu. Tentu saja perdebatan Allea VS Farrel masih berlanjut. Pemuda itu tidak Terima sahabatnya jatuh dalam pelukan si Abang durjana, begitulah Farrel menjulukinya.
Perdebatan itu terhenti ketika bel tanda jam istirahat berakhir. Sampai pulangnya pun Farrel enggan bertemu muka dengan dua gadis Primadona sekolah itu. Dia bahkan tak mau pulang bersama Karina.
"Parah si Farrel ih, gue ditinggal!" dengus Karina.
"Lagian lo ngapain belain Pak Rama?"
"Meskipun cuek dan terkesan dingin tapi Pak Rama jauh lebih keren daripada dia."
"Kerennya?"
"Ya Pak Rama yang gak kenal sama lo aja mau bantu, nah dia gak mau! Padahal 'kan dia kaya, bisa aja pinjemin lo duit buat nebus surat tanah itu. Eh giliran Abangnya yang bantu, dia malah gak terima."
"Gue juga gak nyangka Farrel yang kita kenal pekerja keras ternyata anak konglomerat."
Tak lama terlihat mobil Rama memasuki jalan menuju sekolah. Dengan senyum lebar Allea melambaikan tangan.
"Kita makan dulu ya?!" ajaknya sambil membuka pintu.
"Kenapa gak makan dirumah Pak?"
"Kamu pasti capek, jadi kita makan diluar aja."
Karina mesem-mesem melihat kemanisan mereka. "Okelah, gue duluan ya Al?!" pamitnya mulai mengayunkan langkahnya.
"Ikut aja sekalian!" Rama menghentikan langkahnya.
Karina langsung berbalik, "Serius Bang?" tanyanya mencondongkan kepala.
"Serius," jawab Rama.
Tanpa basa basi Karina langsung masuk ke bangku penumpang. "Wah baru kali ini naik mobil mewah!" serunya girang.
Allea tertegun melihat tingkah sahabatnya itu. Sementara Rama hanya menggeleng geli.
Karina tersenyum melihat tempat makan yang begitu asri, "Pasti enak nih!" Langkahnya begitu riang membayangkan hidangan khas yang akan memanjakan lidahnya.
"Jangan malu-maluin kenapa sih?!" sergah Allea dengan gigi mengatup.
"Dih kenapa? Gue 'kan gak pernah makan di tempat begini jadi wajar dong kalau seneng."
Allea berdesis, "Cih!"
Ternyata benar, Karina begitu lahap menyantap makanan yang telah terhidang dengan berbagai menu.
Rama terkekeh melihatnya, "Enak?" tanyanya.
Dengan polosnya gadis itu mengangguk cepat sambil tersenyum. Bukan main senangnya Allea melihat kebahagiaan sahabatnya itu. Seumur-umur dia juga tidak pernah makan ditempat bagus seperti ini. Tapi dia malu untuk bereaksi sepolos Karina.
Selesai makan Rama mengantar Karina sampai di depan gang rumahnya.
"Gue pulang ya Al?!" pamitnya, "Terima kasih Bang! Semoga rezeki Abang semakin melimpah." ucap Karina seraya menarik Handle pintu dan keluar setelah mendapat anggukan dari Rama.
Sesampainya di rumah, Allea memulai rutinitas bersih-bersihnya. Tidak ada hal istimewa yang terjadi malam ini. Selepas makan mereka memilih berdiam di kamar masing-masing.
Allea memutuskan untuk menelpon ibunya, namun dia harus menunggu karena si pemilik wartel harus memanggil ibunya terlebih dahulu.
"Allea!" Suara panik dari seberang sana hangat menyergap di telinganya.
"Iya Bu, maaf Allea baru bisa ngasih kabar sekarang."
"Kamu dimana sih! Ibu khawatir banget!"
"Allea ada di rumah orang yang bantu kita kemarin Buk."
"Gimana ceritanya kamu bisa tinggal disana?"
Allea menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada si Ibu, betapa bahagia ibunya mendengar kalau anak gadis semata wayangnya itu baik-baik saja.
"Ah, syukurlah kalau begitu. Jaga diri baik-baik ya Nak. Pandai-pandai membawa diri, yang paling utama kejujuran. Jangan mengambil apapun yang bukan hak kamu."
"Baik Buk, Allea tidur dulu."
Sambungan telepon terputus.
Hari-hari dirumah Rama menjadi hal baru yang membuat suasana hatinya jadi tak menentu. Pria itu kerap membuatnya salah tingkah, semakin hari Allea semakin kesulitan menata sikap di depan Rama.
"Gue mendadak mabuk laut sebelum berlayar," Lamunan panjangnya terus mengarah kepada Rama.
"Kamu berapa bersaudara Al?" tanya Rama sembari sibuk mengaduk pupuk untuk tanaman barunya. Sementara Allea masih sibuk berjibaku dengan lamunan panjangnya, sehingga tak menghiraukan pertanyaan Rama
Rama menatap heran kearahnya, untuk pertama kalinya ia melihat gadis yang tengah memegang sekop mini itu tersipu-sipu tidak tentu arah. Tatapannya menerawang ke arah pot yang berisi tanah pupuk.
Pria itu mengulangi pertanyaannya, "Allea?" Dia terkekeh melihat reaksi kagetnya, seperti pencuri yang sedang kepergok. "Saya tadi nanya kamu berapa bersaudara?"
Allea menaikan bola matanya seakan tengah memikirkan sesuatu, tak pelak tingkahnya itu membuat Rama semakin terkekeh. "Kamu lagi mikirin apa?” Rama menggeleng seraya tersenyum melanjutkan aktivitasnya.
"Maaf Pak, saya terlalu fokus mengaduk pupuk," kilahnya, "saya tiga bersaudara Pak, saya anak kedua."
"Kamu gak rindu sama mereka?"
"Sebenarnya sih rindu juga, tapi … ya begitulah!"
"Abang kamu sudah berkeluarga?"
Allea menggeleng, "Siapa yang mau menikah sama pemuda pengangguran?"
Sekejap Rama mengerti perasaan Allea terhadap kakak laki-lakinya tidaklah baik. Jadi dia memilih membahas si bungsu.
"Dia masih sekolah di kampung kelas satu SMA."
"Oh ya? Berarti jarak kalian gak sampai dua tahun?"
"Hampir lima tahun Pak!"
"Loh memangnya umur kamu berapa?"
"Sembilan belas Pak, sebentar lagi dua puluh."
Rama terkejut dengan pengakuan Allea, karena menurut perhitungannya seharusnya ia masih berusia tujuh belas atau delapan belas tahun. "Loh, kok sembilan belas? harusnya umur segitu kamu udah lulus ‘kan?"
Semburat senyum lirih tersungging di bibirnya. "Saya terlambat masuk sekolah dan saya pernah mogok satu tahun pas mau masuk SMA."
"Ah Jadi gitu."
"Iya," sahutnya pelan.
Tiba-tiba Rama berkomentar, "Baguslah jadi saya tau kamu ternyata bukan lagi anak di bawah umur."
Allea mendelik heran mendengar ucapan Rama, ia merasa Rama tengah menggodanya. Pria itu memang handal dalam mengulik hati Allea, berkali kali pria itu sukses membuatnya tersipu tak menentu. Bahkan hanya dengan kegiatan berkebun pun pria itu terlihat amat berkharisma di matanya.
"Gak usah kebanyakan ngeliatin saya, nanti kamu susah tidur." godanya seraya membawa satu pot berisi tanaman bonsai yang baru di tanamnya.
Allea hanya tersenyum tipis. Entah sejak kapan bermulanya, nyatanya Allea semakin tak bisa lari dari jeratan pesona majikannya itu.