Hari sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Allea telah selesai dengan segala rutinitas bersih-bersihnya. Perutnya terasa lapar ia pun makan dengan masakan yang dimasak oleh Rama tadi pagi.
Jauh di lubuk hatinya, Allea mengagumi bosnya itu, selain pembersih Rama juga terampil dalam hal memasak. "Mungkin karena dia terbiasa hidup sendiri," pikirnya seraya menghabiskan makanannya.
Selepas makan, ia berniat untuk mengelilingi pekarangan rumah itu. Dia yakin akan melihat pemandangan bagus dari setiap sudut yang ditanami dengan bunga-bunga dan kolam ikan hias sebagai pelengkapnya. Sama seperti dekorasi taman yang ada di kantor.
“Ternyata dia memang hobi bercocok tanam.” Simpul senyumnya seakan mengandung makna. “Orang yang aneh!” Dia terkekeh geli ketika mengingat kepribadian Rama yang amat bertolak belakang dengan hobinya.
Allea mengamati tiap sudut taman di halaman belakang rumah itu, menyusuri pekarangan itu sampai di sebuah garasi terbuka dimana terdapat satu buah sedan mewah berwarna silver terparkir di sana.
"Gue kayak gak asing sama mobil ini," batin Allea, "ah iya, gue ‘kan pernah naik mobil ini, beberapa hari lalu." Pikirannya mendadak tidak nyaman ketika mengingat aroma tubuh Rama sewaktu memeluknya.
Setelah puas mengamati sekeliling rumah dari halaman belakang hingga ke halaman depan. Allea kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam dengan bahan yang ada di dalam kulkas. Ia berharap Rama akan menyukai hidangan yang di masaknya.
Tanpa sadar, dia telah larut dalam suasana rumah beserta kharisma si pemilik rumah yang mungkin saja akan menimbulkan debaran aneh seperti yang dia rasakan saat ini.
Masih terngiang-ngiang dalam pikirannya kejadian di meja makan tadi pagi. "Kenapa gue jadi deg-degan gini sih?"
Terngiang pula perkataan Irwan kemarin, "Pak Rama itu orang yang baik, meski dia tinggal sendiri tapi beliau memiliki keluarga di luar negeri."
"Keluarga?" Apa mungkin anak dan istri? Ah, kenapa gue jadi mikirin dia?!"
Nafasnya tak henti dihela dengan hempasan kuat. Untuk menenangkan pikirannya dia pun merebahkan tubuh di sebuah sofa yang terletak di sudut dapur. Menyalakan televisi berharap ada acara yang bisa ditonton sembari menunggu majikan barunya itu pulang.
Jarum jam menunjukan pukul 7.30 malam, Rama yang baru saja pulang langsung mencari Allea di lantai atas tapi gadis itu tidak ada. Lalu mengetuk kamar gadis itu tapi tak mendapatkan jawaban.
"Apa dia di kamar mandi?"
Rama berbalik menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang bau keringat lantaran dia dan Irwan mendadak harus survey ke lapangan.
Selesai mandi dia bermaksud mengajak Allea makan diluar. Namun ketika dia keluar kamar, tidak ada tanda-tanda Allea berada di dalam kamarnya. Seketika Rama pun panik, takut kalau-kalau Allea pergi dari rumah itu. Sekonyong-konyong membuka pintu kamarnya, benar saja Allea tidak ada di dalam.
Dia bergegas turun mencari Allea di dapur tapi tetap tidak menemukannya bahkan meja kompor tertata rapi. Namun Rama melihat makanan telah terhidang di meja makan.
"Kemana dia?"
Rama menoleh ke arah sofa yang ada di sudut ruangan, ternyata gadis yang dicari itu tergeletak dengan lelapnya. Seketika ia terkekeh seraya menarik nafas lega, lalu mendekati Allea.
"Lelap sekali tidurnya."
Entah setan apa yang merasuk dalam kepalanya. Dia mendekatkan wajah ke bibir Allea seolah ada sesuatu yang menekan nalurinya untuk mencium gadis yang tengah tertidur lelap itu.
Dan untuk pertama kalinya bibir Rama menempel lembut di bibir seorang gadis. Bersamaan itu Allea tiba-tiba membuka matanya, praktis mata mereka saling bertatapan.
Rama terkejut bukan kepalang, Ia tak menyangka Allea akan terbangun, seketika melepas kecupan itu. Rama tertunduk seraya menelan ludah, andai saja ia punya kekuatan menghapus ingatan, mungkin ia akan menghapus semua ingatan Allea saat ini.
"Bapak sudah pulang?" Allea setengah terhuyung bangkit dari sofa.
"Ah iya." Suara Rama bergetar takut kalau Allea sampai marah lalu pergi. "Allea, maaf saya tidak bermaksud untuk–"
Belum selesai ia bicara, Allea memotong ucapannya dengan menawari makan. "Bapak pasti lapar, biar saya hangatkan dulu lauknya, maaf saya ketiduran." Allea bergegas berdiri untuk menghangatkan masakannya. Karena Rama bilang akan pulang sore jadi Allea buru-buru masak agar bosnya pulang bisa langsung makan.
"Gak usah dipanasi," cegah Rama sembari menarik tangannya. Allea yang belum sadar sepenuhnya tersungkur di pangkuannya yang tengah berlutut.
Refleks tangan Rama langsung menyambar tubuh ramping itu. Bak adegan FTV mereka terpaku dan saling menatap. Rama yang terbawa suasana mendekatkan wajahnya ke bibir Allea, ingin menciumnya lagi.
Allea seketika gelagapan dan langsung bergeser dari pangkuannya. Dengan cepat berdiri lalu berjalan menuju meja makan. Rama hanya bisa memandang lesu ke arahnya, menghempaskan nafas berat karena gagal menciptakan nuansa romantis malam itu.
Sementara Allea yang salah tingkah bingung harus melakukan apa. Belum hilang deg-degannya karena kejadian tersedak tadi pagi. Malah ditambah lagi dengan kejadian yang sukses membuat fantasinya melayang.
"Yang benar saja, ciuman pertama gue?" ringisnya dalam hati, "tapi kenapa gue jadi deg-degan? Seharusnya 'kan gue marah? Gimana nih, gimana kalau ternyata Pak Rama memang om-om mata keranjang yang doyan daun muda." Batin Allea terus berkecamuk tanpa sadar nasi yang ditaruh di piring sudah hampir tumpah karena kepenuhan.
Rama yang memperhatikan pemandangan itu berdiri tepat di belakangnya. Bahkan hampir tak berjarak sedikitpun, seketika Allea mencium Aroma parfum dan deodorant yang soft menyeruak dalam rongga pernafasannya.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Rama seraya mengambil piring dari tangan Allea dan menaruh kembali nasi ke rice cooker dengan posisi memeluk Allea dari belakang.
"Gue berasa kayak lagi di awang-awang, kepala gue pusing. Perasaan apa ini?" Allea mencoba menenangkan pikiran dan detak jantungnya.
Lalu Rama bergeser mengambil mangkuk besar, tempat biasa menaruh nasi bila tengah makan bersama Irwan dan Anita. Praktis tubuh Allea mengikuti gerakan Rama. Jantungnya semakin tak beraturan waktu Rama menempatkan nasi tanpa merubah posisi tubuhnya.
"Ayo makan!" ajaknya setengah berbisik, spontan membuat gadis itu kian membeku.
"Sadar Allea sadar! Gak lucu 'kan bengek lo kumat disaat seperti ini." Allea mencoba menetralkan pikirannya. Ia pun melangkah dengan ragu. "Saya nanti saja Pak," sahutnya sembari menempatkan nasi ke piring Rama.
"Duduklah," perintah Rama.
"Saya gak enak Pak," sahut Allea.
"Kenapa?"
"Saya ‘kan hanya Pembantu, tak pantas jika saya duduk satu meja sama Bapak," celotehnya dengan suara yang agak gemetar.
"Saya hanya rakyat biasa bukan Raja, jadi duduklah!"
"Ah ... saya masih kenyang Pak," kilahnya.
"Apa itu alasan kedua atau caramu untuk menolak saya?"
"Sa- saya gak bermaksud begitu Pak!"
"Kalau begitu duduklah!" Kali ini bukan sebuah permintaan atau ajakan melainkan terkesan seperti perintah.
"Baik Pak!" Akhirnya Allea duduk.
Sampai Rama mengambilkannya nasi, gadis itu masih tertunduk. Allea tak sanggup berpandangan dengan pria berjambang tipis itu.
"Apa kau akan terus seperti itu? Makanan itu tidak akan masuk dengan sendirinya ke dalam perutmu," seloroh Rama setengah terkekeh.
Allea menghentikan lamunannya dan menyuapkan makanan yang telah disiapkan oleh Rama ke mulutnya yang kecil. "Astaga! Dia mau nyuruh gue gendut atau gimana? Bisa meledak perut ini." Allea menatap sepiring penuh makanan yang ada di hadapannya.
"Hem ... masakan kamu enak!" puji Rama dengan bibir mengembang.
Wajah Allea serasa merah padam, padahal bukan sekali dua kali dia kerap menerima pujian lantaran pandai memasak. Tapi kali ini terasa berbeda dan sukses membuatnya melayang.
Kendati demikian, acara makan malam mereka berlangsung tegang dan canggung bagi Allea tapi tidak bagi Rama. Pria itu benar-benar menikmati moment yang selama ini hanya sebatas angannya saja.
Selesai membereskan meja makan dan mencuci piring, Allea mematikan semua lampu lalu naik ke atas. Sesampainya di atas dia melihat Rama yang tengah mengambil minuman di mini bar. Sekujur tubuhnya gemetar dalam bayangan gadis kampung itu, jiwanya tengah terancam saat ini. Apalagi setelah kejadian di Hotel masih membekas dalam ingatan, semakin membuatnya keringat dingin.
Allea hanya membungkuk pertanda pamit kepada Rama untuk masuk ke kamarnya. Rama membalas dengan anggukan pelan.
Dikamar, Allea menyusun buku sekolahnya. Dia berencana untuk masuk sekolah besok, sudah dua hari ini dia absen.
"Gimana kalo seandainya bu Mega sudah mencabut data gue disana?" pikirnya, "ah sudahlah, yang penting ke sekolah dulu besok."
Tak lama terdengar suara ketukan pintu, mendadak tubuhnya menegang. Siapa lagi yang berdiri didepan pintu kamar itu kalau bukan Rama.
"Kamu udah tidur?" tanya suara dari luar.
Jantung Allea sudah tak dapat lagi di kondisikan, sementara pintu kamar itu tak memiliki slot kunci. Hanya lubang kunci yang tak memiliki pasangan.
"Udah mau tidur?" ulang Rama ketika gadis itu membuka pintu.
"Sebentar lagi Pak."
"Bisa kita bicara sebentar?"
Allea mengangguk. Tercium Aroma anggur dari mulut pria seksi itu, aroma manis yang memabukkan indra penciumannya.
"Sadar Allea, sadar!"
Rama lalu mengajak Allea untuk duduk di sofa ruang TV.
Allea duduk di sudut sofa sementara Rama bergeser ketengah hampir mendekatinya. Seketika ia merasakan aliran darahnya semakin tandus, terasa mengering di sekujur tubuhnya.
"Ini," Rama memberikan sebuah kotak, terlihat gambar ponsel keluaran terbaru pada kotak tersebut.
"Apa ini, Pak?" tanya Allea.
"Ponsel buat kamu."
"Buat saya? Tapi–" Allea bingung melanjutkan kata-kata apa yang tepat untuk dikatakan.
Ponsel yang dijanjikan dalam bayangan Allea adalah bekas yang sudah tak terpakai. Namun yang didapat justru handphone baru yang masih bersegel dan pastinya mahal bagi kantong Allea.
"Jarak dari rumah ini ke sekolah kamu jauh sekali dan tidak ada satupun angkutan umum masuk ke area sini." Rama menjelaskan sembari meneguk minuman berwarna merah yang tergeletak di hadapannya. "Jadi mau tidak mau kamu harus menunggu sampai saya pulang dari kantor."
Allea terdiam membayangkan pulang dan pergi bersama Rama. "Jadi kapan gue punya waktu beres-beres sama masak?"
"Besok kamu sekolah?" tanya Rama menyudahi lamunannya.
"Iya Pak."
"Besok kita berangkat jam setengah tujuh bawa ponsel ini, di dalamnya sudah saya masukan kartu SIM. Kamu bisa mengirim pesan atau menghubungi saya atau keluarga kamu kapan saja. Tak perlu memikirkan tagihannya, karena saya yang akan membayarnya."
Allea masih terdiam, seperti tengah bingung harus berkata apa menerima segala kebaikan Rama padanya. Tapi dia belum memiliki sesuatu untuk membalas semua itu, seperti yang ia janjikan tempo hari.
Rama menyandarkan tubuhnya di sofa, "Tidurlah!" suruhnya seraya merangkul pinggang Allea.
Tak ayal gadis itu tersentak, "Anu … Tentang hari itu–" Tapi mendadak ragu untuk mengatakannya.
Terlebih Rama yang mendengar ucapan itu seketika duduk tegak dan memanahnya dengan tatapan ingin tahu. "Tentang apa?" tanyanya.
"Saya minta maaf Pak!"
"Hem …." Rama mengangguk seakan dia sudah mengerti sebelum gadis itu menjelaskan.
"Saya terlalu lancang mengecam urusan pribadi Bapak. Saat itu pikiran saya kacau balau. Entah pertemuan kita ini cuma kebetulan atau apalah itu, tapi saya meyakini bahwa Bapak tidak memiliki niat buruk terhadap saya."
"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan."
Allea terdiam membeku, tak kuasa melanjutkan kata-katanya karena hembusan nafas Rama terlalu dekat dengan wajahnya. Lalu memutuskan pamit ke kamarnya.
Rama juga sepertinya enggan membahas Masalah itu terlalu jauh. Seperti dia memahami watak kritis gadis itu lalu membiarkan Allea untuk kembali ke kamarnya.
Allea merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang dialasi dengan sprei yang halus. "Ah, nyamannya …." Tangannya menyapu permukaan sprei.
Kemudian beranjak cepat membuka kotak HP dengan sangat hati-hati lalu memencet-mencet tombol HP tersebut. Tanpa sengaja menekan panggilan cepat pada tombol nomor satu.
Terlihat tulisan disitu, "My Rama!" Mata Allea terbelalak bersamaan dengan itu ia pun dikejutkan oleh suara ketukan. Sekonyong-konyong membuka pintu. "Pak Rama!" desisnya.
"Kenapa kamu memanggil saya?"
"Maaf Pak, saya belum ngerti cara menggunakannya jadi salah pencet." Allea menjelaskan supaya Rama tidak salah paham.
"Oh, belum mengerti. Oke biar saya ajarin." Tanpa basa basi nyelonong ke dalam kamarnya.
"Gapapa Pak, tidak perlu repot-repot nanti saya belajar sendiri." Allea mencoba menghentikan langkah Rama.
"Saya gak merasa direpotkan," sahut Rama cuek, dengan santai duduk di atas tempat tidur. "Sini duduk!" Menepuk kasur tepat di sebelahnya.
Allea gugup bukan kepalang, apalagi mulut Rama penuh dengan aroma Wine. Dalam benaknya, kalau orang mabuk suka memperkosa anak gadis. Jantung Allea berpacu tak tentu arah, tak bisa fokus memperhatikan penjelasan Rama. Matanya tertuju ke layar HP tapi pikirannya kemana-mana.
Tiba-tiba wajah pria itu mendekat dengan jarak yang hampir menempel ke wajah Allea. "Kamu sudah paham?" Suara berat Rama menjadi parau akibat pengaruh alkohol.
Allea tersentak, "Su- sudah Pak," jawab Allea terbata.
"Kenapa kamu gugup?" tanya Rama seraya terkekeh.
"Gapapa, Pak!"
"Tidurlah, besok pagi saya antar kamu ke sekolah." Rama memegang wajah Allea dengan telapak tangannya yang hangat. Pengaruh alkohol telah merambat ke sekujur tubuhnya.
Ada perasaan Aneh yang menyeruak dalam d**a gadis itu. Sebuah perasaan yang tak pernah dia rasakan dari para lelaki yang pernah mendekatinya.
Allea mengangguk, "Terima kasih Pak!"
Rama berlalu meninggalkan Allea yang tengah dirasuki perasaan aneh menjalar ke pusat terdalam relung hatinya. Meski begitu rasa kantuk dan lelahnya berhasil mengalahkan pikirannya, hingga tak lama dia pun terlelap.