Si Pria Pemarah

2026 Words
Rama terkejut bukan kepalang melihat Allea berada di rumahnya. Tak ayal Irwan dan Anita gemetar melihat ekspresi tegang Rama. Pria itu memang terkesan dingin dan pemarah tapi mereka tidak pernah melihat ekspresi itu sebelumnya. "Mati gue," gumam Irwan dalam hati. Rama melangkah dengan raut muka yang sulit dijabarkan. "Kenapa kalian ada disini?" Irwan langsung menjawab, "Gue bawain pembantu buat lo!" "Gue gak butuh Pembantu!" Gemeretak gigi rapinya membuat mereka bergidik. "Tapi–" "Ikut gue!" Rama berkata kepada Irwan sambil melangkah. Allea mendadak kosong, aliran darahnya terasa berpusat hanya di kepalanya saja sehingga dia merasa nanar dengan tubuh lunglai. Anita kembali mengajaknya duduk sambil menunggu Rama dan Irwan kembali. "Lo gila ya?!" raung Rama ketika mereka berbicara di lantai dua. "Gue gak punya pilihan lain, Ram!" "Pilihan selalu banyak! Kenapa harus rumah gue?" "Karena lo dalang dibalik semuanya! Lo yang nyeret dia masuk dalam Ambisi konyol lo itu! Apa gue salah kalau membawa dia masuk secara langsung tanpa perlu capek-capek mengendap?" Rama mengeram, "Tapi lo gak perlu bawa dia ke rumah ini!" "Dan membiarkan dia tinggal bersama Farrel?" Tiba-tiba Rama tercekat, "Apa maksud lo?" "Dia dipecat karena bosnya salah paham dengan kejadian di Hotel kemarin. Asal lo tau, dia mau tinggal di kosan Farrel karena di kantor gak bisa nerima karyawan paruh waktu. Lo tau 'kan akibatnya kalau sampai Allea satu atap dengan Farrel?" Rama mendesah frustasi, jelas saja karena ambisinya yang ingin memisahkan Allea dari Farrel akan sia-sia kalau gadis itu tinggal bersama pemuda aneh itu. Merasa tidak ada pilihan lain akhirnya dia berkata, "Baiklah, dia boleh kerja disini." Mereka pun turun untuk menemui Allea yang sudah mengeras di ruang tamu. "Oke Allea kamu bisa mulai bekerja dirumah ini." Irwan duduk dengan tenang disamping Anita. Rama duduk di sofa kebesaran sambil memandang wajah Allea yang tengah tertunduk. "Maaf Pak, saya berubah pikiran." Irwan terkejut mendengar ucapan Allea, bagaimana mungkin dia berubah pikiran secepat itu. "Kenapa?" tanya Rama menyentak lamunan Irwan. Allea tak kuasa menjawab pertanyaan Rama, ia memilih diam. Menyimpulkan kedua telapak tangannya yang sudah dibasahi keringat dingin. "Allea, kamu ingat 'kan apa yang tadi saya katakan?" ungkit Irwan. "Apa yang lo katakan?" Rama bertanya kepada Irwan tanpa memalingkan wajah dari Allea. "Gue bilang, lo orang baik!" cetus Irwan. "Tapi sayangnya dia tidak bisa melihat kebaikan orang lain dari penampilan saja." "Maksud lo?" "Dia takut sama gue!" Pandangan Rama langsung beralih kepada Irwan dengan mata mendelik. "Oh, gak sih heran kalo soal itu." Irwan terkekeh. "Allea denger ya, mungkin secara penampilan dia menakutkan. Tapi didalam hatinya menyimpan kebaikan yang tiada tara." Pujian Irwan bak sindiran pedas bagi Rama. Allea tetap tak bergeming dari diamnya. "Kalian pulang aja biarkan dia disini." Sontak Allea langsung mendongakkan kepalanya, ia menggeleng memandang Irwan dan Anita seakan meminta pertolongan. Rama berdesis sinis ke arah Allea, "Apa sebegitu menakutkannya saya dimata kamu?" "Saya cuma mau pulang," Akhirnya Allea buka suara. "Pulang kemana? Memangnya kamu punya tujuan?" Allea tak memperdulikan cecaran Rama, ia menatap ke arah Irwan. Dengan nada bergetar ia berbicara, "Saya tinggal di rumah teman saja Pak. Tapi Bapak gak perlu khawatir saya berjanji akan mencari kerja untuk mencicil hutang saya setiap bulannya." "Tapi …." Irwan terbata. “Saya tidak bisa memutuskan itu Allea, maaf.” “Kenapa tidak bisa?” sela Allea dengan cepat. Rama menyerobot, "Karena yang berhak memutuskan adalah saya! Karena uang itu milik saya," tegasnya. Allea tertegun mendengar ucapan Rama, ia lupa menyadari bahwa Rama adalah pemilik perusahaan itu. "Aduh gimana nih?" Pikirannya kacau balau. "Kalau kamu mau pergi, apa Kamu bisa melunasinya sekarang?" tekan Rama, "jika tidak, tetaplah disini." Rama beranjak dari duduknya menuju lantai dua. "Kamu tinggal di sini aja ya? Seperti penjelasan saya di kantor tadi, kamu bisa bersekolah seperti biasa. Besok saya datang lagi kesini membawa surat perjanjian kontrak kerja," terang Irwan. "Tapi saya benar-benar tidak ingin kerja disini Pak. Baiklah awalnya saya memang merasa gembira, tapi sekarang saya menyesali keputusan saya. Bisakah saya keluar dari sini?" ungkap Allea dengan wajah memelas. "Maaf Allea, tapi Pak Rama tidak mungkin melepaskan kamu begitu saja," tukas Irwan. "Saya berjanji tidak akan lari dari tanggungan saya Pak! Percayalah, saya akan mencicil hutang saya setiap bulannya." mohon Allea. "Allea dengerin saya, Rama itu memang terkesan menakutkan tapi dia baik banget. Dan hanya dia satu-satunya orang yang tepat, untuk menjadi sandaran kamu saat ini." Anita mencoba membesarkan hati Allea. Allea hanya bisa pasrah menerima bujukan mereka. Setidaknya dia tidak akan kehilangan nyawa di rumah itu. Karena berpegang dengan kata-kata mereka yang meyakinkannya bahwa Rama adalah orang baik-baik. "Baiklah, saya harap kata-kata Pak Irwan dan Kak Anita benar adanya." Akhirnya mereka membawa Allea ke lantai dua, tempat dimana hanya ada satu kamar yang tersisa yang tak pernah dihuni siapapun. Rama telah menanti mereka seraya berdiri depan mini bar memegang secangkir anggur di tangannya. "Oke, kami tinggal ya?" ucap Irwan. Allea melotot melihat Rama, bergidik ngeri melihat mini bar itu tersusun berbagai jenis minuman "Ta ... ta- tapi Pak!" Allea terbata tubuhnya kembali kaku. "Jangan khawatir, semua bakal baik-baik saja. Percayalah!" Irwan menenangkan Allea. "Semangat Allea …," ucap Anita setengah berbisik. "Ikut saya," Rama menghampiri Allea dan meraih tas yang sedari tadi dibawanya. "Anu …." Allea tersentak mendapati tasnya telah berpindah tangan. "Ikutlah, pak Rama mau menunjukan kamar kamu," suruh Irwan, "kami tinggal ya …." Tanpa menunggu jawaban Allea, Irwan dan Anita meninggalkannya yang masih terpaku. Memandang punggung Rama berjalan menuju sebuah kamar yang terletak di sudut ruangan tepat di depan sebuah kamar yang sepertinya milik si empunya rumah. "Kemarilah!" seru Rama. Dengan langkah gontai, Allea mendekati Rama. "Masuklah." Rama menelengkan kepalanya ke arah pintu kamar yang sudah terbuka. Allea masuk kedalam kamar yang terbilang cukup mewah untuk seorang Pembantu. Merasa tidak wajar, Allea memberanikan diri buka suara. "Ini terlalu mewah untuk saya Pak, saya tidur di kamar pembantu saja." "Saya tidak memiliki kamar Pembantu!" Allea melongo mendengar ucapan Rama, "Bagaimana mungkin rumah sebagus ini tidak memiliki kamar untuk pembantu?" gumamnya dalam hati. "Istirahatlah, kamu pasti capek." Suara Rama terdengar hangat namun menakutkan di telinga Allea. "Baik Pak, terima kasih …," ucap Allea lirih. Rama meletakan tasnya di samping lemari yang berada di sisi kiri tempat tidur lalu meninggalkan Allea tanpa berkata apapun. Allea menarik nafas panjang memperhatikan kamar yang akan ditempatinya selama bekerja di rumah itu. Kamar yang tertata rapi dengan kamar mandi di sisi kiri pintu masuk yang terpisah oleh dinding ruangan tidurnya. Di depan kamar mandi terdapat rak sepatu dengan pintu kaca yang masih kosong. Tempat gantungan handuk juga lemari handuk dan kimono yang tersusun rapi seakan belum pernah dijamah, serta beberapa selimut tebal dan sprei di dalamnya. "Gue lagi gak ngimpi, 'kan?" gumamnya dalam hati, "Gimana bisa gue terdampar di rumah semewah ini?" Allea merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran 160x200cm dengan spring bed empuk berkualitas super premium dan pastinya sangat mahal baginya. "Apa ini gak terlalu berlebihan untuk seorang pembantu?" gumamnya lagi seraya memandangi sebuah TV layar datar di atas meja dengan pendingin ruangan di atasnya sampai matanya terpejam. "Cantik sekali," gumam pria kekar tengah memandangi wajah Allea yang sedang tertidur pulas dengan bibir sedikit terbuka. "Selamat datang dalam kehidupanku Allea ... Kau tidak akan bisa lari kemanapun," bisiknya seraya mengecup kening gadis itu. *** Allea terkesiap begitu membuka mata dan melihat ke arah jam dinding, "Hah ... jam delapan! Gila gue tidur berapa jam?" serunya bergegas turun dari tempat tidur. Sesampainya di bawah hidungnya menangkap aroma lezat yang berasal dari sisi kiri sudut rumah "Dapur," batinnya. Dia bergegas menuju arah aroma itu berasal. Terlihat Rama tengah menuangkan makanan ke dalam piring, Allea terpaku sembari menelan ludah. "Kamu sudah bangun?" sapa Rama. "Maaf Pak saya kesiangan," sahut Allea gemetar. "Duduklah ... Kamu pasti lapar." Allea merasakan perih yang berputar putar di lambungnya. Kemudian meraih piring yang telah terisi potongan daging dengan saus lada hitam. Lalu menaruhnya di atas meja makan yang hanya tersusun empat kursi. Allea menyiapkan piring dan sendok, sementara Rama melepas celemek. Pria itu duduk menghadap dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan pagi nan sejuk, dari beranda samping rumahnya. Allea bersiap untuk melakukan kewajiban pertamanya di rumah itu. "Kamu mau ke mana?" tanya Rama begitu melihat Allea bergerak menjauhi meja makan. "Saya mau beres-beres Pak," jawab Allea. "Temani saya makan," pinta Rama. "Anu …." Allea gugup menanggapi permintaan bos barunya itu. Rama berdiri lalu menghampiri Allea dan menarik tangannya untuk menyuruh duduk. Mau tak mau gadis polos itu duduk dengan perasaan canggung. Rama mengambilkannya nasi dan mempersilahkan Allea mengambil lauknya sendiri. "Maklumi saja jika rasanya kurang berkenan di lidah kamu. Saya tidak terlalu mahir dalam memasak," ujar Rama. Allea merasa dalam situasi yang serba tidak enak, ia menyendok lauk yang hanya ada di hadapannya dengan tertunduk malu. masih teringat jelas perselisihan yang terjadi beberapa waktu lalu saat dimana Allea sangat marah kepadanya, "Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi?" keluhnya dalam hati. Rama tersenyum memperhatikan tingkah polosnya, lalu menuangkan daging ke dalam nasinya. Allea kaget seketika diapun tersedak. Dengan sigap Rama langsung memberikannya minum seraya mencondongkan tubuhnya untuk mengusap bagian belakang tubuh Allea. Tak ayal pandangan mereka pun bertemu satu sama lain, cukup sempurna untuk membuat Allea salah tingkah. Amat berbeda dengan pertemuan mereka beberapa hari yang lalu penuh dengan drama dan meninggalkan kesan buruk dalam hati Allea. Terlebih sikapnya tadi malam yang terkesan memandang sinis kepada Rama. Pagi ini ia mencoba berdamai dengan ego. Melihat Rama dari sisi yang berbeda meskipun ia merasa aneh mengingat sederet drama pertemuannya dengan pria itu. "Apa mungkin semua ini bukan cuma kebetulan?" tanyanya dalam hati sambil tetap mengunyah makanannya. "Kamu gak sekolah?" tanya Rama menyadarkan lamunannya. "Besok Pak," jawab Allea pelan. "Hem Oke, hari ini saya harus ke kantor jadi kamu lakukan saja apa yang mau kamu kerjakan dirumah ini," tutur Rama. "Baik Pak!" jawab Allea hampir selesai dengan makanannya. "Tak perlu merasa sungkan, anggap saja rumah sendiri." "Baik Pak!" sahut Allea masih dengan jawaban yang sama. "Oh iya kamar saya tidak terkunci, silahkan jika kamu ingin bersih-bersih disana." "Baik Pak!" Masih dengan Jawaban yang sama seraya menghabiskan suapan terakhir ke mulutnya. "Harap maklum kalau berantakan, saya gak pernah mengizinkan siapapun masuk kedalam kamar saya. Termasuk tukang bersih-bersih yang saya panggil pas lagi libur," papar Rama. Kali ini Allea bingung harus menjawab apa, selain hanya mengangguk pelan seraya mengangkat piring kosong yang ada di hadapan mereka. "Oke, kalau begitu saya pamit, nanti sore saya usahakan untuk pulang cepat." Rama beranjak dari kursinya, "Satu lagi, saya tidak memiliki telepon rumah. Jadi kamu pasti bakal kesulitan menghubungi keluarga atau teman. Saya akan bawakan handphone untuk kamu nanti." Allea tertegun dengan penuturan Rama, "Kok bisa rumah sebagus ini gak punya telepon rumah. Apa disini gak ada tiang telepon?" pikirnya, "Gimana gue bisa ngabarin Ibu?" Selepas mencuci piring ia bergegas mengelilingi rumah untuk mempelajari tata letak dan struktur rumah itu. Rumah itu bak kastil tertutup dengan privasi super ketat namun tak dibekali CCTV satupun. "Orang seperti apa kiranya pak Rama ini?" Lalu ia bergegas mengambil sapu yang terletak di ruangan tempat perkakas bersih-bersih khusus untuk lantai dua. Allea mulai menjalani tugas pertamanya, setelah semua ruangan tersapu bersih meskipun hanya secuil debu yang tersapu karena memang rumah itu tidak begitu kotor malah nyaris bersih mengkilat. "Rupanya selain Rapi, dia juga pembersih." Pikir Allea seraya membuka kamar Rama. Tempat terakhir yang harus ia sapu sebelum melanjutkan dengan mengepel lantai ruangan tersebut. "Wah!" Mata Allea terbelalak takjub ketika mendapati tempat tidur yang tertata rapi dengan pigura mawar putih dari kayu jati berwarna hitam pekat dan bagian head board berbingkai bahan kulit dengan warna selaras. "Dia suka bunga mawar putih rupanya." Serta kasur yang tentunya terbuat dari bahan berkualitas tinggi yang pastinya sangat nyaman jika tidur diatasnya. Tak berbeda jauh dengan tempat tidur Allea, hanya saja ukuran tempat tidurnya lebih kecil daripada tempat tidur Rama. Dengan hati-hati ia pun masuk ke kamar tersebut tanpa melepas pandangannya pada dekorasi bernuansa abu-abu mate tersebut. Allea juga dibuat kagum oleh lemari baju bosnya yang berada di sisi kiri, menempel pada dinding kamar yang disebelahnya terdapat ruang khusus dengan meja aksesoris seperti jam tangan, ikat pinggang sampai dasi. Pintunya yang berlapis full kaca, memantulkan sosoknya yang tengah menganga. "Luar biasa! Dia benar-benar ekslusif." Baru tadi malam dia merasa takut kepada Rama, tapi pagi ini perasaan itu sedikit lebih baik melihat sisi lain dari kepribadian pria berjambang tipis tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD