Keputusan Mega

2062 Words
Akhirnya Allea bisa bernafas lega Karena uang itu sudah berhasil dikirim kemarin. Dia bergegas menelpon ibunya lalu pergi ke Bank. Kini Allea bisa kembali tenang meskipun gajinya akan tersita untuk cicilan pinjaman tersebut. Malam itu Mega memanggilnya ke ruang tengah sebelum masuk ke kamarnya. Raut wajah Mega membuat Allea bertanya-tanya. Sepertinya Mega akan menginterogasi dengan kesalahan yang belum diketahuinya. Karena tak biasanya Mega bersikap seperti itu. "Duduk Al," suruh Mega sambil menyilang tangan di d**a. Allea pun duduk dengan pikiran berkecamuk. "Ibu akan ngomong langsung pada intinya." mulai Mega, "dengan berat hati ibu akan memulangkan kamu besok." Bak diterjang peluru nyasar Allea merasa nyawanya sudah terbang dari jasad. Pernyataan Mega yang mendadak itu membuatnya terpaku. "Ibu tau kamu mau berbakti kepada orang tua, tapi dengan caramu itu terus terang Ibu tidak bisa menerimanya." Allea langsung mendongak menatap heran kepada Mega. "Maksudnya gimana ya Bu?" "Ibu melihat kamu keluar dari kamar hotel dengan laki-laki dan mendengar semua percakapan kalian. Jujur, Ibu gak nyangka kamu melakukan perbuatan tercela itu." Bukan main kagetnya dia mendengar penuturan Mega. Ia baru ingat kalau Mega ada seminar di sebuah hotel, tapi dia tidak menyangka kalau Mega berada di hotel yang sama dengannya. "Ibu sudah bicara sama Bik Daya untuk memulangkan kamu. Dan dia menerima keputusan Ibu." Kini Allea mendapat jawaban kenapa akhir-akhir ini Mega bersikap dingin padanya. Namun dia tidak menyangka Mega langsung memberitahu ibunya tanpa memastikan terlebih dahulu. Allea mencoba menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Mulai dari pertemuannya dengan Monica sampai riwayat dia berhasil menebus surat tanah kakeknya. Mega mematahkan ungkapan Allea, "Logikanya, koperasi mana yang memberi pinjaman kepada anak sekolah tanpa syarat?" Allea mengerutkan dahi, "Saya bisa bawa Ibu ke kantornya." Mega dengan tegas berkata, "Loan itu jenis pinjaman untuk pengusaha menengah yang mau mengembangkan bisnis mereka. Sementara kamu anak sekolah, Allea!" Seketika Allea langsung tersentak, dia mengingat majalah bisnis milik Mega yang pernah dibacanya. Mega memang berkecimpung dalam bisnis saham yang sering mengadakan pertemuan di hotel-hotel ternama. Tentunya dia lebih mengerti tentang hal-hal semacam itu. "Dan yang lebih gak masuk akal, Bosnya langsung yang mengantarkan uang itu hanya dengan secarik pesan diatas kertas kosong tanpa kontrak bermaterai?" Lagi-lagi ucapan Mega membuat mata Allea terbelalak. Seakan pencerahan penting baru saja menyerbu pikirannya. Tapi dia tetap berusaha memberi Mega pengertian. "Saya sudah menandatangani perjanjian hutang itu Buk, tanda tangan diatas materai." "Jangan lagi membela diri dengan berbohong Allea. Terus terang Ibu sangat kecewa dengan kelakuan kamu. Ibu lebih mentoleransi kalau kamu mencuri daripada menjual diri." Ucapan Mega membuat Allea sedih. Bisa-bisanya dia menuduh sekeji itu, tapi Allea mencoba memaklumi karena apa yang dilihat dan didengar Mega sewaktu di hotel membuat Allea tak bisa berkilah lebih jauh. "Ibu sudah meminta Bik Daya mengurus surat rekomendasi kepindahan kamu kesana. Nanti Ibu bakal urus pencabutan berkas kamu dari sekolah." "Tapi Buk, Allea 'kan sudah mau UAN?" "Kamu bisa UAN disana nanti," pungkas Mega kemudian beranjak menuju kamarnya. Sementara Allea terpaku meratapi kesalahpahaman yang tak bisa diatasi olehnya. Langkahnya pasrah menuju kamar. Keesokan paginya Allea bersiap mengemas barang-barangnya. Sisil terkejut melihatnya, entah perasaannya memang peka atau dia seolah mengerti dengan apa yang terjadi. Tangisnya tumpah memeluk erat Allea. "Jangan pergi Kak …." Suara lirih mengambang pilu di telinga Allea. Gadis itu tersenyum mengusap air mata Sisil. "Maafin Kakak ya, Sisil belajar yang rajin. Jangan buat Mama marah, jangan cengeng. Kalau diganggu temen lawan jangan biarin mereka memanfaatkan ketakutan kamu." "Kenapa Kakak harus pergi? Sebentar lagi 'kan UAN Kak?" "Kakak harus menyelesaikan urusan di kampung, nanti kalau sudah selesai Kakak bakal balik lagi kesini." Sisil mengulurkan jari kelingking, "Janji?" Allea tak kuasa menahan air matanya, "Janji!" ucapnya seraya mengaitkan kelingkingnya. Hari ini Allea sudah tidak lagi bersekolah, dia harus ikut Bus pagi dengan diantar Mega. "Ibu harap kamu kembali jadi gadis yang baik setelah pulang, Allea." Allea hanya mengangguk sambil tersenyum lirih. Meskipun dalam hati Mega memendam kekecewaan pada gadis yang sudah dianggapnya seperti keluarga itu. Tapi dia tetap melambaikan tangan dan menangis ketika Bus yang membawa Allea berlalu dari pandangannya. Hampir sepuluh tahun dia mengenal Allea dan keluarganya. Dulu suami Mega pernah mendapat proyek di kampungnya. Proyek bendungan yang baru siap setelah hampir empat tahun. Meskipun dulu Daya– ibunya Allea yang bekerja dirumah Mega. Tapi Allea kerap datang mengasuh Andin dan Sisil. Sampai akhirnya Keluarga Mega harus kembali ke kota dan menawarkan agar Allea mau ikut bersama meraka bekerja sambil sekolah. Mega sangat menyayangkan gadis cerdas itu harus putus sekolah karena terhalang biaya. Sejak itu Allea menjalani rutinitasnya sebagai Pelajar dan seorang Pembantu rumah tangga. Sementara itu di sekolah, Karina dan Farrel gelisah karena sudah dua kali ini Allea bolos tanpa pemberitahuan. "Kaya bukan Allea dah!" sungut Karina. "Apa dia sakit?" timpal Farrel. "Kalau sakit pasti ngirim surat, ini gak ada kabar." "Kemarin dia seneng banget kayaknya, tumben beliin kita jajanan 'kan?" "Jajanan apa?" Karina mengetok kepala Farrel dengan sendok batagornya, "Amnesia lo ya? Apa sangking gak pernah ditraktir dia sampai lo lupa!" Manik coklat kehitaman berputar kesana kemari, dalam pandangan Karina dia sedang mengingat sesuatu. "Entahlah!" ucap Farrel. "Kita samperin kerumahnya aja yuk!" Farrel langsung melotot, "Nggak-gak ah! Lo sendirian aja." "Kenapa? Biasanya lo paling demen nyamperin dia kerumahnya!" Farrel mengerutkan dahi, "Oh ya?" Karina menggeleng, "Benar-benar terjal otak lo ya?!" Akhirnya mau tak mau Farrel mengikuti Karina ke rumah Mega. Mereka memanggil Allea berulang kali tapi tak mendapat jawaban. "Pergi kali, liat aja pagarnya digembok!" Farrel menunjuk gembok besar yang terkunci. "Ada urusan kali ya? Mangkanya Allea gak sempat izin." telisik Karina, "kita tunggu aja ya?!" Akhirnya mereka memutuskan untuk menunggu Allea, sampai satu jam berlalu yang ditunggu tak kunjung pulang. "Mau berapa lama lagi kita disini? Gue banyak kerjaan!" Gaya bicara Farrel hari ini terasa sangat berbeda dari biasanya. "Dia berubah lagi," desah Karina dalam hati. Meskipun mendengar Farrel terus menggerutu bahkan mengumpat, Karina berusaha menutup telinganya. Sampai Mega pulang bersama Andin dan Sisil, tidak terlihat Allea turun dari mobil. "Eh ada Karina sama Farrel! Ngapain duduk di situ? Masuk yuk!" tawar Mega dengan ramah. "Ah gak usah Buk! Kami cuma mau ketemu Allea." Tiba-tiba Sisil menangis berlari kedalam rumah. Karina merasa heran dengan gelagatnya, meskipun Sisil memang dikenal cengeng tapi sikapnya berbeda saat ini. Mega mendesah, "Allea sudah pulang ke kampung jam sepuluh tadi Rin." Alih-alih Karina terkejut malah Farrel yang berteriak histeris. "Apa …! Kenapa dia pulang?" Karina langsung membekap mulut Farrel, "Lo kenapa sih?" "Keadaannya saat ini terlalu genting untuk bertahan disini jadi Allea harus pulang untuk memperbaiki semuanya." Nafas Farrel kembang kempis dengan mata menyala. "Keadaan apa? Memperbaiki apa?" Farrel mencecar Mega dengan mengabaikan rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Tak pelak tingkah Farrel hari ini membuat Karina tercengang. Sekalipun Farrel memang sedikit aneh bagi mereka tapi dia tak pernah melihat Farrel seganas sekarang. "Maaf Buk! Farrel refleks karena terkejut." ucapnya setelah menarik tubuh Farrel menjauh dari Mega. "Apa ada masalah sama keluarganya disana Buk?" Mega berfikir sejenak kemudian menjawab, "Kita doakan aja yang terbaik buat Allea ya." Mendengar perkataan Mega, Farrel kembali tersulut. Dengan lantang dia berkata, "Tolong beritahu yang jelas. Jangan buat saya menerka-nerka!" "Farrel!" Karina membentak kemudian menariknya. "Lepasin gue!" Raung Farrel, mendorong Karina sampai terjengkang. Kemudian dia kembali mencecar Mega. Mega yang terpojok akhirnya berkata, "Karena saya tidak mau Allea menjadi gadis nakal kalau terlalu lama dibiarkan!" Farrel terhenyak kakinya mundur berapa langkah. Sementara Karina langsung bangun dan bertanya, "Gadis nakal? Maksudnya gimana Buk?" "Apa kalian tidak tau Allea bergaul dengan Mucikari dan keluar dari kamar hotel bersama lelaki hidung belang?" Tentu saja Karina terkejut setengah mati mendengar penuturan Mega. Tak disangka sahabatnya itu melakukan perbuatan serendah itu. Mega melanjutkan ucapannya, "Saya memulangkan dia karena gak mau dia semakin jauh bergaul dengan dunia hitam. Karena saya gak mau mengingat Allea sebagai orang yang bergelimang kemewahan dari hasil menjual diri!" Air mata Karina berlinang deras, hatinya hancur. Allea yang dia kenal malas meladeni lelaki yang mendekati bahkan tak terhitung murid laki-laki disekolah yang sudah ditolak mentah-mentah olehnya. Dia sibuk mengejar prestasi di sekolah sampai mengabaikan indahnya kisah asmara putih abu-abu yang kerap menjadi kenangan paling populer dikalangan para senior. "Sekarang kalian sudah paham bukan? Justru saya mau menyelamatkan Allea yang saya kenal dulu. Saya merasa paling bersalah karena gagal menjadi seorang yang berperan dalam keberhasilan dia. Padahal saya berniat mau membiayai pendidikan dia sampai selesai kuliah." Lutut Karina terasa lemas, dia bersandar pada tubuh Farrel yang berdiri mematung. Tak ada lagi yang bisa mereka katakan, semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, Allea sudah pergi meninggalkan mereka dalam penyesalan yang menggerogoti hati masing-masing. *** "Memang kami membutuhkan Office boy, tapi harus full selama jam kerja Allea. Jadi gak bisa kamu lakukan setelah pulang sekolah," tutur Irwan menanggapi niat Allea untuk bekerja dikantornya.. "Sayang sekali ya …," lirihnya sambil memandang tas yang terselip diantara kaki dan meja. "Saya tau kamu pasti bisa melakukan tugas disini. Tapi kantor memiliki kebijakan yang gak sama dengan kegiatan rumah tangga. Saya harap kamu bisa memahami," ungkap Irwan. Anita hanya terpaku menatap Allea dengan perasaan iba. "Apa kamu gak mau kembali kerumah majikanmu? Kami bisa membantu menjelaskan," tawar Irwan, bermaksud memberi solusi untuk masalahnya. Allea menggeleng, "Saya tidak mau melibatkan Bapak apalagi sampai membawa nama perusahaan untuk urusan pribadi saya. Karena saya hanya customer. Saya datang kesini karena teringat ada brosur lowongan kerja tertempel di pintu kaca." Irwan mendesah, "Maafkan saya Allea, saya tidak bisa menerima kamu disini." "Gapapa Pak, saya mengerti. Terima kasih Bapak sudah bersedia membantu saya, saya akan mencari kerjaan paruh waktu yang lain." "Kamu mau tinggal dimana Al?" tanya Anita. "Saya mau tinggal di kosan temen saya, Kak. Kebetulan dia ngekos didekat sekolah dan rumah temen saya juga didekat situ." Irwan mendelik tiba-tiba dia berkata, "Saya bisa memberi kamu pekerjaan!" Anita melotot heran, "Jadi office girl?" Irwan gugup melihat ekspresi Allea yang tiba-tiba berubah cerah dan berharap. "Saya baru ingat, CEO kami lagi cari pembantu. Kalau kamu mau saya bisa membawa kamu kerumahnya." "Saya mau Pak!" jawab Allea dengan cepat. "Dia tinggal sendirian dirumah dan rumahnya juga gak terlalu besar tapi barang-barang pajangannya ekslusif dan pastinya mahal. Jadi kamu harus ekstra hati-hati jangan sampai merusak apalagi memecahkan. Karena dia bakal marah besar!" ungkap Irwan dengan nada tersendat. Allea langsung mengangguk cepat, "Baik Pak!" Irwan meringis mengigit bibirnya, sementara Anita menatapnya dengan tatapan ngeri. Membayangkan si CEO kasar itu akan murka ketika Irwan membawa Allea masuk kerumahnya. Rumah yang tak pernah diinjak oleh orang lain selain mereka, seorang dokter pribadi dan jasa bersih-bersih mingguan yang sudah terpercaya. Anita menggerakkan bibirnya tanpa bersuara, "Lo gila ya?!" Lagi-lagi Irwan meringis seakan menyesali ucapannya. "Sorry," Bibirnya bergerak tak bersuara seperti yang dilakukan Anita. Allea tak memperhatikan gelagat dua pegawai konyol yang kerap membuat si CEO murka. Kebiasaan mereka yang sering bertengkar acap kali membuat suasana hati si Bos berantakan. Ya, Irwan dan Anita memang tidak pernah akur sekalipun status mereka yang sudah bertunangan. Akhirnya mereka mengantarkan Allea kerumah si CEO pemarah sambil komat-kamit berdoa dalam hati. Allea merasa senang karena bisa kembali bekerja dan sekolah seperti tinggal dirumah Mega sebelumnya. Yang paling membuatnya gembira adalah dia mencicil angsuran tanpa kesulitan. "Kita sudah sampai, mungkin dia belum pulang jadi kita harus menunggu." Irwan memasukan tangannya di celah tembok dan menekan tombol. Tak lama pagar kokoh dan tinggi itu terbuka. Allea terkesima melihat penampakan di depan matanya. Seumur hidupnya tidak pernah melihat kecanggihan semacam itu. Anita berkata, "Rumah ini benar-benar memiliki privasi khusus. Kamu orang pertama yang bisa masuk tanpa izin dia." Allea melongo, "Loh, jadi dia belum tau saya mau bekerja disini Kak?" Anita meringis sambil menggeleng. Jantung Allea mendadak bertalu terlebih setelah sampai di pintu rumahnya yang juga menggunakan sandi khusus untuk membukanya. "Silahkan masuk," ajak Irwan setelah membuka pintu. Allea tertegun melihat tatanan ruangan itu, ruangan yang tidak terlalu besar namun memiliki desain ekslusif khas selera seorang pria. Warna dinding putih dipadu dengan abu metalik di setiap tepi, kusen dan pintu. Juga lemari pajangan berwarna senada dengan bangunan yang berbahan kayu dan besi. "Rupanya dia pencinta warna abu-abu," batin Allea mengagumi tatanan rumah itu. Terlebih berbagai pajangan ekslusif di dalam lemari itu membuat Allea bergidik. Satu saja pecah, mungkin gajinya sebulan tidak akan cukup untuk menggantinya. "Duduklah!" Irwan mempersilahkan duduk, tak lama Anita datang membawa tiga cangkir minuman hangat. Sambil menunggu si Pemilik rumah datang Irwan menjelaskan tugas pembantu pada umumnya. Meskipun kerap diralat oleh Anita. Tak lama terdengar suara ketikan tombol lalu pintu terbuka. Dua insan tercekat saling memandang dengan raut wajah tegang. Allea berdiri kemudian berseru, "Pak Rama?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD