Semalaman dia berpikir akan melanjutkan keputusannya untuk bertemu dengan seorang pelanggan yang sudah melakukan transaksi atas dirinya melalui Monica. Pikirannya kacau balau, perasaan bergidik ngeri sekaligus muak merasuk dalam kepalanya.
Allea mendekati Mega yang tengah menyiapkan keperluan Sisil untuk meminta izin pulang terlambat kepada Mega.
"Gapapa Al, santai aja. Lagian Ibu juga ada seminar di Hotel siang ini."
"Terima kasih Buk," jawab Allea.
Dia beralasan ada kerja kelompok siang ini. Padahal janji temunya dengan lelaki penikmat perawan sudah diatur. Bahkan dia bolos sekolah untuk mempersiapkan diri ke salon.
Monica menyambut Allea dengan senyum sumringah. "Kamu siap?" tanyanya meraih tubuh Allea lalu menggandeng masuk ke ruang SPA.
Serangkaian perawatan dijalani oleh Allea dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lima jam terasa begitu lambat, waktunya terasa berhenti. Jerit tangis dalam hatinya hanya menderu dalam penyesalan tanpa ampun.
Penghinaan sang Kakek dan keluarga ibunya terhadap orang tuanya, membuat Allea bertekad untuk menyelesaikan segalanya demi harga diri. Harga mati yang harus dibayar mahal olehnya. Sebuah pengorbanan yang akan menyisakan neraka dunia seumur hidupnya.
Penampilannya telah berubah menjadi seorang wanita cantik dengan dress selutut berwarna putih berbahan sutra. Membuat citranya sebagai anak remaja berubah drastis.
"Welcome to the Hell …," gumamnya seraya melangkah menuju kamar yang disebut oleh Monica.
Langkahnya terhenti di depan pintu kamar Eksekutif Suit. Tangannya gemetar menekan Handle pintu, masuk dengan perasaan yang berkecamuk. Seorang pria gagah dengan setelan jas berwarna hitam berdiri memandang ke luar.
Dengan suara bergetar Allea menyapa, "Selamat siang Pak."
Pria itu menjawab, "Heum …."
Jawaban pria itu membuat jantung Allea berdegup kencang. Dalam benaknya pria itu sangat dingin dan tidak menutup kemungkinan dia pria yang kasar. Seperti adegan sebuah Film yang pernah ditonton tentang cerita seorang gadis yang menjual keperawanannya demi membantu temannya.
"Apa gue bakal seberuntung dia? Gue rasa gak mungkin. Harapan gue itu terlalu konyol untuk situasi seperti ini," kesah Allea dalam hati.
Pria itu masih belum mau menampakan wajahnya, membuat Allea semakin gelisah. Ingin rasanya pingsan atau pura-pura gila, tapi tentu saja cara seperti itu tidak akan berhasil. Akhirnya dia memilih diam menunggu pria itu berbalik.
Tiba-tiba pria itu bertanya, "Kamu sudah siap?"
Mendadak jantung Allea bertalu bak genderang perang yang menggaung tanda penyerangan. Aliran darahnya terasa berpacu cepat mengalirkan rasa takut yang melesat sampai ke ambang rasa takutnya.
"Kenapa kamu diam saja?"
Allea berusaha sekuat tenaga untuk menjawab, "Sa-saya sudah siap."
Pria itu berbalik kemudian mendekati Allea yang tertunduk tak mampu menatap wajahnya. Tangan kekar yang masih kencang itu pertanda bahwa dia adalah seorang lelaki yang belum terlalu tua atau bisa dibilang masih muda. Menggamit tangan Allea yang sudah lembab oleh keringat.
"Sayang sekali jodoh kita terjalin dengan cara seperti ini."
Sontak Allea langsung mendongak, suara yang sangat familiar itu kini terdengar jelas di telinganya. Benar saja, pria yang akan menikmati waktu panas bersamanya adalah Rama. Tubuh Allea seakan tak sanggup berdiri tegak, nafasnya menderu. Serangan panik dan rasa heran itu muncul secara bersamaan.
"Kenapa?" Allea tak mampu melanjutkan ucapannya.
Rama mendesah seperti merasa frustasi, "Seharusnya saya yang bertanya Allea, kenapa pikiran kamu sekerdil ini?"
Tanpa diduga air mata Allea jatuh dengan sendirinya. Tangis yang ditahannya sejak tadi malam akhirnya tumpah ruah.
Rama memeluk erat tubuh gadis itu, meresapi isak tangis yang membuat hatinya terenyuh. "Jangan menangis Allea …," ucapnya lirih.
"Kenapa bisa Bapak–" Ucapannya kembali tertahan.
"Mungkin ini yang dinamakan dengan jodoh."
Allea meringis pedih, "Jodoh? Hah!" Sekuat tenaga ia mencoba menetralkan perasaannya untuk melepas dekapan Rama. "Jodoh untuk menjadi penjaja nafsu dan pelanggannya?" Suara Allea meraung sambil mendorong tubuh Rama.
"Kenyataannya memang seperti itu bukan?"
"Secara kebetulan?" sinis Allea dengan mimik sarkastis. "Lagi?"
Rama tertegun memaksa gumpalan sesak yang mencekam di kerongkongannya terdorong ke dalam. "Allea …." Kali ini giliran dia yang tak mampu berkata.
"Saya tidak menyangka Bapak dari awal memang merencanakan ini semua. Apa pekerjaan Bapak memang mencari mangsa gadis perawan? Pura-pura nelpon di wartel hanya untuk memikat perawan bodoh seperti saya!"
"Allea …!" Teriakan Rama memenuhi ruangan kamar dengan desain ekslusif yang pastinya sangat mahal bagi orang sekelas Allea.
Nafas Allea semakin menderu, luapan emosi yang akan diledakkan kemungkinan akan membuat dia gagal menerima uang tersebut. Tapi setidaknya dia memiliki alasan untuk tidak jadi menikmati neraka dunia yang akan disesali nantinya.
"Biarlah surat tanah Kakek hangus, gue bakal kerja keras untuk mengganti sepetak tanah itu!" tekadnya dalam hati.
"Kenapa kamu mempermainkan saya ketika saya bertanya tentang kartu nama itu?"
"Bukankah saya sudah berkata jujur?"
"Saya mau kamu memberi alasan kenapa harus sejauh ini?"
"Siapa Bapak? Apa pentingnya buat Bapak mengetahui alasan itu?"
"Setidaknya saya bisa membantu kamu kalau kamu terus terang sejak awal."
"Saya rasa dengan mengenal Monica Bapak pasti sudah tau alasan kenapa saya melakukan hal terkutuk ini!"
"Saya tidak mengenal Monica!"
"Oh ya? Dan Bapak mau bilang kalau semua ini hanya kebetulan? Mengatasnamakan jodoh sebagai alasan."
"Memang seperti itulah kenyataannya Allea!"
Allea terdiam sejenak lalu menyeringai, "Artinya Bapak memang penikmat perawan. Karena setahu saya Monica khusus calo keperawanan. Apa Bapak mau menyangkal itu juga?"
Rama tercekat dengan penuturan Allea, seakan dia tidak memiliki alasan untuk berkilah. Secara harfiah omongan Allea memang masuk akal.
Allea menggeleng sinis lalu berbalik meninggalkan kamar itu.
Di lobi, Monica terkejut melihat Allea keluar padahal waktunya belum habis. "Kok kamu sudah keluar?"
"Maaf saya berubah pikiran!"
"Allea kamu gak bisa membatalkan perjanjian gitu aja!"
"Terus apa saya harus mengganti rugi?"
"Uang muka sudah saya Terima, serta biaya makeover kamu. Kalau kamu membatalkan kita harus mengganti dua kali lipat."
"Ya udah kamu aja yang maju! Selesai bukan?!"
"Saya sudah tidak perawan, bagaimana mungkin saya menggantikan kamu?"
"Intinya sama saja bukan? Minimal uang muka itu sebagai tanda jasa atas pelayanan kamu."
"Kamu benar-benar keterlaluan Allea!" sergah Rama yang mendadak muncul di belakang mereka.
"Dari sudut mana?" tanya Allea sambil melempar tatapan tajam.
"Apa kamu pikir saya serendah itu?"
Allea mendadak terpingkal mendapat sanggahan yang menurutnya lucu itu. "Lantas apa Bapak pikir dengan membeli sebuah keperawanan derajat Bapak akan lebih tinggi?" lontarnya masih dengan tatapan semakin sengit. "Oh iya saya lupa … jelas lebih terhormat karena nominal yang harus dikeluarkan berkali lipat dari kupu-kupu malam yang sudah senior!" Tatapan Allea beralih ke Monica.
Rama menanggapi dengan nada rendah namun menyentak, "Hentikan Allea!"
"Memang saya sudah mau pergi … setidaknya saya harus berterima kasih karena Bapak membuat saya jadi semakin sadar. Bahwa kaum miskin seperti saya ini harus bekerja keras agar harga diri tidak diinjak-injak oleh orang-orang berduit seperti kalian! Permisi." Allea bergegas mengambil tas sekolahnya yang tersandar di sofa kemudian keluar tanpa menoleh.
***
Allea termenung selama jam pelajaran, berulang kali Karina menyenggolnya karena guru kerap membidik ke arahnya. Sampai bel jam istirahat berdering Allea masih sibuk membenamkan lamunan pada kejadian kemarin.
"Kenapa lo gak masuk kemarin?" tanya Farrel.
"Sakit," jawabnya pelan.
Karina menyodorkan es teh ke hadapannya. "Muka lo lusuh banget sih? Lo gak tidur gitu?"
Allea menarik nafas lelah, "Gue sudah pasrah dengan semua ini, kalau memang surat tanah Kakek harus musnah artinya gue harus kerja keras nantinya buat gantiin sepetak tanah itu."
Farrel mendesah pasrah, "Tenang aja Lek! Gue bakal bantu lo kalau sudah kerja nanti."
Karina mengangguk, "Hem gue juga!"
Soni datang membawakan bakso pesanan mereka. "Kalian lagi ngobrolin apa? Seru banget kayaknya?!"
Farrel merangkul leher Soni, "Tekad Bang, tekad!"
Soni mengernyit, "Tumben lo manggil gue Bang!"
Allea dan Karina saling memandang, bagi Soni yang baru saja akrab dengan mereka akan merasa aneh dengan tingkah Farrel. Tapi bagi mereka berdua itu sudah biasa. Farrel adalah pemuda dengan kepribadian unik. Satu sisi dia terkadang menjadi pribadi yang humble, ramah dan penyayang. Disisi lain dia terkadang menjelma menjadi pribadi yang kasar, dingin dan jutek.
Farrel langsung melepas tautannya, "Ya kadang gue suka lupa Bang!"
Soni mengangguk, "Okelah, no problem."
"Gue lebih suka Farrel yang begini," ujar Karina, mengaduk-aduk baksonya.
Allea menimpali, "Hem, gue setuju!"
Karina langsung berseru, "Jelas aja lo harus setuju, iya kali tiap hari gue kudu ngadepin dua manusia dingin melebihi zombie."
"Gue gak kayak gitu ya, jangan samakan gue kayak dia!" dengus Farrel mengarahkan bibir kecutnya ke arah Allea.
"Asal lo tau–" Allea menahan napas. "Watak lo tuh sangat mengerikan kalau kepribadian lo berubah. Gue saranin lo ke Psikiater kalau sudah sukses nanti."
"Hem, betul itu!" sahut Karina setuju.
"Emangnya gue gila apa?"
"Bukan hanya orang dengan gangguannya jiwa yang harus ke Psikiater tapi orang dengan gangguan kepribadian kayak lo juga!" tutur Allea.
Spontan Farrel menjawab, "Iya nanti gue bawa dia ke Psikiater!"
Kompak kedua gadis itu saling memandang lalu melihat Farrel. Mereka seolah memiliki pikiran yang sama dengan kata 'dia' yang Farrel lontarkan.
Karina bertanya dengan serius, "Dia siapa maksud lo?"
Farrel menggigit sendok menoleh kepada Karina, "Dia? Emangnya gue ada nyebut dia?"
Tentu saja kedua gadis itu harus terlempar kembali pada situasi dimana mereka harus ingat bahwa Farrel adalah pemuda dengan kepribadian ganda.
Allea bergumam, "Terserah lo deh!"
Karina mengangguk setuju tanpa menimpali dengan ucapan.
Pulangnya, Allea dipanggil oleh salah satu siswi. Tubuhnya yang sudah hampir masuk ke angkot kembali ke trotoar.
"Ada apa?" tanyanya datar.
"Nih!"
Allea menatap heran amplop coklat yang disodorkan oleh siswi tersebut. "Apa ini?"
Siswi itu menjawab, "Gak tau deh! Aku cuma disuruh ngasih ini ke kamu."
"Siapa yang nyuruh?"
Bukannya menjawab siswi itu malah bergegas pergi dari hadapannya. Dahinya mengerut membuka amplop itu, matanya tiba-tiba terbelalak mendapati isi amplop tersebut ternyata empat ikat uang dengan bundel senilai masing-masing lima juta rupiah.
Allea menarik secarik kertas dalam amplop tersebut. Di kertas itu tertulis: Hallo Allea, Maaf kita gak sempat bertemu langsung karena mendadak saya harus pergi untuk urusan kantor. Jadi saya menitipkan amplop ini kepada temanmu. Silahkan gunakan uang ini untuk menyelesaikan masalahmu. Kalau ada waktu saya akan segera menemuimu.
Allea melihat kartu nama di dalam amplop tersebut, "Irwan?" Dahinya mengerut sempurna. Tertulis di bawah namanya Alfa Loan berikut alamat dan nomor telepon kantor tersebut.
Tanpa membuang waktu Allea langsung menuju alamat tersebut dengan menggunakan ojek. Karena untuk menanyakan perihal uang sebanyak ini tidak afdol kalau dari telepon.
"Loan itu apa sih? Kayak pernah denger deh!"
Sepanjang jalan pikirannya tak luput dari uang dalam amplop tersebut. Sampai tiba disana matanya terbelalak melihat suasana kantor yang begitu asri. Dia bergegas menuju bangunan utama setelah membayar ongkos ojeknya.
"Selamat datang di Alfa Loan! Ada yang bisa saya bantu?" seru seorang wanita menyambut kedatangan Allea.
Allea mendekati resepsionis itu lalu bertanya, "Maaf Buk, apa benar ini kantornya Pak Irwan?"
Dengan senyum ramah wanita itu menjawab, "Iya betul! Ada perlu apa ya? Oh kamu mau membayar cicilan?"
Allea tercekat, "Cicilan?" Ingatannya menyerbu pada beberapa Koperasi yang dia telpon beberapa hari yang lalu. "Apa ini salah satu dari koperasi yang gue hubungi ya?!" tebaknya dalam hati.
Wanita itu kembali bertanya, "Cicilan atas nama siapa Dek?"
"Anu Buk! Bukan tentang cicilan tapi pinjaman baru."
"Oh pinjaman baru … boleh, nanti saya beri brosur untuk dipelajari."
"Tapi sa-saya sudah cair," jawabnya terbata-bata.
"Oh ya? Jadi apa yang mau ditanyakan?"
Allea bingung harus menjawab apa akhirnya dia menceritakan asal muasal uang itu bisa sampai ke tangannya. Wanita bernama Anita itu mengangguk lalu menyuruh Allea untuk menunggu di sofa.
Tampak Anita menelpon seseorang, Allea berpikir pasti wanita itu tengah menelpon Irwan. Namun yang mengganggunya, obrolan di telepon itu terlalu lama kalau hanya untuk memberitahu kedatangannya.
Tak lama Anita memutuskan sambungan kemudian menghampiri Allea. "Pak Irwan sedang menuju kesini, mohon tunggu sebentar ya …."
Allea merasa lega mendengar informasi tersebut. Besar harapannya bahwa amplop itu memang ditujukan untuknya. Dengan begitu dia bisa melunasi hutang orang tuanya sebelum tenggat waktu habis.
Selama menunggu, Anita menemaninya sambil mengobrol seadanya dengan secangkir teh hangat yang diberikan oleh office boy. Tak lama pucuk dicinta ulam pun tiba, Irwan muncul dengan senyum sumringah menghampiri Allea.
Gadis itu langsung berdiri membungkuk kepada Irwan. "Selamat siang Pak!" ucapnya dengan sopan.
"Selamat siang, Allea … silahkan duduk tidak usah sungkan."
Allea tersenyum senang mendengar namanya disebut dengan lugas oleh Irwan. Itu menandakan amplop coklat itu memang ditujukan untuknya.
"Pasti kamu datang kesini untuk menanyakan perihal uang itu bukan?"
Allea langsung menjawab, "Betul Pak!"
"Baiklah, nanti Anita akan memberikan kontrak pinjaman ke kamu. Silahkan isi data sesuai alamat tempat tinggal yang kamu sebutkan tempo hari."
Allea mengingat sebuah koperasi yang meminta data lengkapnya sebelum menjelaskan alur pinjaman. "Tapi kok namanya beda ya?" Tapi dia buru-buru menepis pertanyaan tak penting itu. Baginya melunasi hutang orang tuanya jauh lebih penting.
"Petugas kami menelpon ke rumahmu, tapi tidak ada yang mengangkat. Akhirnya karena saya ada meeting di dekat sekolahmu. Saya berinisiatif untuk menemui kamu disana. Tapi sayangnya saya harus buru-buru pergi."
Allea mengangguk senang, terlebih Anita membawa berkas penandatanganan kontrak pinjaman untuk Allea tanda tangani. Serta memilih cicilan yang sekiranya sanggup untuk dia bayar setiap bulannya.