Begitu Adnan Pramudya pergi dengan wajah kaku setelah hanya mendapat genggaman tangan dingin dan pandangan mematikan dari Eros, ruang makan itu segera menjadi hening yang mencekik. Tuan Danu dan Nyonya Ira bergegas naik, enggan menghadapi ketegangan yang baru saja terjadi.
Lysandra tetap duduk, menatap remah-remah di piringnya. Di sisi kirinya, Eros masih duduk tegak, memutar gelas minumannya yang sudah kosong. Di sisi kanannya, Circe tersenyum puas, seolah baru menyaksikan sebuah drama komedi yang brilian.
"Kau keterlaluan, Kak," bisik Lysandra, suaranya dipenuhi amarah yang tertahan.
Eros hanya tertawa pelan.
"Aku keterlaluan? Aku menyelamatkanmu dari nasib membosankan, Lysandra. Adnan Pramudya? Pria itu beraroma ambisi lama. Kau layak mendapatkan segalanya." Ia kemudian mencondongkan tubuh, bau aftershavenya menyeruak.
"Dan jangan pernah coba-coba memakai gaun seperti itu lagi. Aku nyaris tidak bisa menahan diri."
"Kau sendiri yang memaksaku memakai ini!" balas Lysandra, ia menunjuk gaun peach yang terasa seperti belenggu.
Eros menyeringai.
"Aku tahu. Itu adalah hukuman dan pertunjukan bagiku sendiri. Aku suka melihat apa yang akan menjadi milikku, tetapi tidak seorang pun boleh melihatnya. Itu adalah hak istimewa seorang kakak yang terlalu protektif, bukan?"
Ia bangkit, membiarkan sentuhan lututnya yang posesif menghilang.
"Sampai lusa, Dewi Stroberi. Aku punya rencana yang lebih besar untuk menghibur calon suamimu itu."
Eros pergi, meninggalkan Lysandra sendirian dengan Circe.
Circe kemudian bergeser, mengambil kursi yang ditinggalkan Eros. Ia menuangkan sisa wine ke gelas Lysandra, meskipun Lysandra tidak pernah menyentuhnya.
"Jangan diminum," kata Circe, matanya berkilat di bawah cahaya kristal.
"Anggap saja ini adalah tanda terima kasih dariku."
Lysandra menatap Circe dengan curiga. Circe adalah pelatuk yang menyulut obsesi Eros, mengapa dia sekarang terlihat seperti sekutu?
"Terima kasih untuk apa?" tanya Lysandra tajam.
"Untuk pertunjukannya," jawab Circe.
"Dan karena telah memancing monster itu keluar dari sarangnya. Aku lelah dengan Eros yang dingin, Lysandra. Aku suka Eros yang cemburu, Eros yang berbahaya. Itu membuatnya menarik."
Circe menghela napas, gesturnya tiba-tiba menjadi lebih serius.
"Dengar, aku bukan temanmu. Aku juga tidak membencimu. Aku hanya mencintai kekacauan, dan kau adalah badai yang sempurna."
Ia mencondongkan tubuh lebih dekat, menyebarkan aroma oud mahal miliknya.
"Kau ingin lari darinya? Jangan lari. Kau harus mematahkannya. Dan untuk mematahkan Eros, kau harus tahu apa yang benar-benar ia takuti, di luar aroma sitrus."
Lysandra merasakan harapan samar melonjak di dadanya.
"Apa?"
"Eros tidak takut pada kehilanganmu secara fisik. Dia tahu dia bisa menemukanmu di mana saja. Dia tidak takut pada perasaanmu padanya, karena dia yakin dia akan memenangkannya pada akhirnya."
Circe mendekat lagi, suaranya merendah menjadi bisikan rahasia.
"Eros takut pada kebenaran. Dia takut pada satu hal yang tidak bisa ia kontrol. Penolakanmu yang berakar pada kebebasan, bukan ketakutan."
Lysandra mengerutkan alisnya.
"Aku sudah menolaknya. Aku menamparnya."
"Itu penolakan yang didasari ketakutan dan jijik. Itu memuaskannya, itu membuatnya merasa kuat. Dia melihatmu sebagai mangsa yang ketakutan," koreksi Circe, menggeleng.
"Eros menghabiskan seluruh hidupnya untuk menjadi pria yang sempurna di mata Ayahnya, yang rasional, yang kejam dalam bisnis, dan penuh kasih di rumah. Obsesinya padamu adalah satu-satunya ketidaksempurnaan yang ia sembunyikan."
Circe menyentuh gelas Lysandra, matanya menatap intens.
"Kau harus membuatnya kehilangan kendali di depan seseorang yang berarti, seseorang yang dihormatinya, seseorang yang bisa mengancam kepastiannya."
"Ayah dan Ibu tidak akan pernah melihatnya," bisik Lysandra putus asa.
"Mereka hanya melihat 'persaudaraan yang terlalu erat' dan 'proteksi berlebihan'."
"Tentu saja mereka tidak," desis Circe.
"Itu karena Eros tidak takut pada mereka. Mereka terlalu sibuk melindungi citra keluarga. Mereka akan menerima ikatan terselubung demi reputasi."
Circe menegakkan tubuh, memberikan senyum misterius.
"Ada satu orang yang bisa melihat kebenaran. Satu orang yang sangat dihormati Eros, yang pandangannya jauh lebih tajam dari Ibunya, yang kebijakannya bisa menghancurkan Ego Eros."
Lysandra menahan napas.
"Siapa?"
"Carilah Nenek Hera," bisik Circe.
"Nyonya besar dari keluarga ini. Dia tinggal di sayap timur. Eros tidak pernah mengunjunginya kecuali jika benar-benar terpaksa. Nenek Hera adalah satu-satunya orang yang tidak akan terpengaruh oleh pesona atau ancaman finansial Eros."
Circe berdiri.
"Jika kau ingin lari dari sangkar ini, kau harus menunjukkan dirimu bebas, tidak peduli apakah kau diancam atau dipaksa. Dan tunjukkan kebebasan itu di depan Nenek Hera. Dia adalah kuncinya."
Circe melangkah pergi, meninggalkan Lysandra tenggelam dalam keheningan yang baru.
Nenek Hera. Sosok tua yang keras, yang Lysandra sendiri jarang berinteraksi dengannya. Lysandra merasa itu adalah harapan terakhirnya. Ia harus memanfaatkan waktu dua hari ini sebelum Adnan Pramudya dijebak lagi oleh Eros.
Lysandra kini memiliki sekutu tak terduga dan tujuan yang jelas.
Menemui Nenek Hera.
***
Erosduduk di kamarnya, merasakan sisa amarah yang memuaskan dan sentuhan posesif di lututnya. Ia tersenyum tipis. Adnan Pramudya telah pergi dengan rasa terhina dan tercoreng. Misi kecilnya berhasil.
Ia merasakan kehadiran Circe, meskipun istrinya itu tidak bergerak.
"Kau keterlaluan, Eros," kata Circe, suaranya tenang, tetapi matanya berkilat penuh apresiasi.
Ia mengangkat gelas wine-nya ke arahnya sebagai isyarat hormat.
"Kau membuat pria itu gemetar hanya dengan melihat old fashioned-mu. Kau tahu, Adnan tampak sangat terhormat. Tapi Lysandra memang terlalu berharga untuk standar 'terhormat' yang membosankan."
Eros memutar tubuhnya menghadap Circe.
"Kau menikmati ini."
"Tentu saja aku menikmatinya," balas Circe, menyesap wine-nya.
"Aku suka melihatmu hidup. Sejak kita menikah, kau terlalu banyak menjadi putra ideal Tuan Danu, bukan Eros yang kukenal. Obsesimu padanya yang membuatmu menjadi dirimu sendiri."
Circe meletakkan gelasnya.
"Kau memberinya gaun peach itu. Gaun itu membuatmu gila, bukan? Membuatmu cemburu pada setiap bayangan yang mungkin melihatnya. Dan kau menghukum Adnan karena mengomentari bau stroberi, bau yang seharusnya sudah kau benci karena terasosiasi dengan masa lalu yang ia tinggalkan."
Eros mengatupkan rahangnya.
"Aku tidak membenci bau itu. Itu adalah milikku."
"Benar. Dia adalah milikmu," ulang Circe, kata-katanya setuju, tetapi nada suaranya sangat provokatif.
"Tapi dia tidak melihatnya begitu. Dia menelepon Ayahmu di tengah malam, memohon untuk mempercepat perjodohan itu. Dia menggunakan Ayahmu sebagai perisai."
Eros berdiri, tatapannya membakar Circe.
"Dia hanya ketakutan. Itu adalah refleks. Begitu dia menyadari tidak ada tempat untuk lari, dia akan kembali ke sisi yang aman. Dia akan datang padaku."
"Tentu saja dia akan datang padamu. Karena kau sudah menyingkirkan semua pilihan," sahut Circe, tersenyum lebar.
"Tapi bukankah lebih indah jika dia datang padamu karena keinginan? Bukan karena tidak ada pilihan?"
Circe mencondongkan tubuhnya ke atas meja, matanya menantang Eros.
"Kau adalah pria paling berkuasa di kota ini. Kau bisa membeli apa saja, menghancurkan siapa saja. Tetapi kau bersembunyi di balik peran 'kakak yang protektif' untuk menghalangi seorang tunangan yang membosankan. Itu tidak pantas untukmu, Eros."
"Ini adalah permainan psikologis," tukas Eros, mempertahankan pembelaannya.
"Tidak. Ini adalah taktik pengecut," balas Circe dengan satu kata yang menghancurkan.
"Kau takut dia melihatmu apa adanya, seorang pria yang terobsesi hingga mencintai seorang gadis yang ia anggap adik."
Mendengar kata-kata itu, kemarahan Eros mencapai puncak. Ia bergerak cepat, tangannya menampar meja makan, membuat kristal di atasnya bergetar.
"Jangan pernah bicara lagi tentang cinta!" desis Eros.
"Aku adalah pemiliknya. Dia adalah pelengkap yang sempurna. Lysandra adalah kepastian di tengah kekacauan hidupku. Ini bukan tentang perasaan bodoh. Ini tentang klaim."
Circe hanya tersenyum puas, mengetahui ia telah mencapai sasaran. Ia telah menusuk titik terlemah Eros. Ego dan kepastian akan klaimnya.
"Baiklah. Kalau begitu, buktikan," tantang Circe, menunjuk ke arah kamar Lysandra di lantai atas.
"Hentikan Lysandra mencari 'cinta legal' lainnya. Tunjukkan padanya bahwa kau adalah satu-satunya hukum yang harus ia ikuti, bukan hanya di ruang makan. Karena lusa, Adnan akan kembali, dan kali ini, Ayahmu akan mengawasimu."
Eros menatap Circe. Sebuah ide baru yang lebih kejam dan lebih berani terbentuk di benaknya. Ia tidak akan menunggu Adnan kembali. Ia harus menutup semua pintu keluar sebelum matahari terbit lusa.
Ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya. Objek utamanya sekarang bukan lagi sabotase eksternal, melainkan mengunci mental Lysandra di tempatnya.
"Kau benar, Circe," gumamnya, meskipun Circe sudah jauh di belakang.
"Ini bukan tentang perasaan. Ini tentang kuasa mutlak."