Bab 7

1527 Words
Eros tidak menanggapi tawa sinis Circe. Ia merasakan serangan Lysandra—bau sitrus yang dibencinya—bukan sebagai lelucon, melainkan sebagai deklarasi perang yang diperhitungkan. Parfum itu bukan sekadar bau itu adalah penolakan terhadap identitas "Dewi Stroberi dan s**u" yang Eros ciptakan untuknya. Itu adalah penolakan terhadap kepemilikannya. "Dasar bodoh," gumam Eros pada dirinya sendiri, suaranya mengandung janji bahaya. Ia berdiri, tetapi alih-alih meledak, ia menarik napas dalam, memaksa dirinya menerima rasa sakit dari aroma itu. Ia harus mengendalikan dirinya, karena Lysandra kini mengharapkan amukan. Eros meninggalkan ruang makan dengan langkah tenang, fasad kakaknya yang penyabar tetap utuh di depan orang tua mereka. Tuan Danu dan Nyonya Ira hanya melihat putranya yang peka berjalan menjauh, kesal karena parfum baru adiknya. Namun, begitu tiba di lorong yang sepi, mata Eros berubah dingin. Ia segera menuju ruang keamanan. Lysandra menghabiskan sisa pagi itu dengan perasaan waspada. Ia sibuk di kamarnya, mencoba menghubungi Ayahnya untuk menanyakan perincian perjodohan, tetapi Ayahnya terlalu sibuk. Ketika Lysandra sedang berbicara di telepon dengan sekretaris Ayahnya mengenai jadwal pertemuan dan pengaturan makanan untuk lusa, Eros muncul di ambang pintu kamarnya, bersandar santai. Ia sudah berganti pakaian, memakai kemeja casual yang tampak tidak berbahaya. "Aku hanya ingin memastikan adikku baik-baik saja," katanya, nadanya lembut, persis seperti kakak yang penuh perhatian. Ia membiarkan aroma sitrus itu mengganggu indra penciumannya tanpa menunjukkan reaksi apa pun, sebuah penampilan yang menyiksa diri sendiri. Lysandra memaksakan senyum lelah, "Aku baik-baik saja, Kak. Jangan khawatir." Ia memastikan ponselnya menjauh dari mulut agar Eros tidak mendengar perincian percakapannya. "Aku selalu khawatir," balas Eros, sambil berjalan santai ke sisi tempat tidur Lysandra. "Kau kan belum pernah melalui perjodohan sebelumnya. Pasti banyak hal yang harus diurus." Eros pura-pura tertarik pada rak buku Lysandra. Tangannya menyentuh salah satu buku, memindahkannya. Tindakannya santai, namun matanya memindai kamar, mencari informasi yang tidak terucapkan. Lysandra menjadi tegang. Ia tahu Eros hanya ingin mengganggunya, mengukur batasnya. Ia kembali fokus pada telepon, "Ya, Theo, pastikan catering sudah konfirmasi—" "Tunggu sebentar, Lysandra," sela Eros, suaranya yang tenang memotong percakapan itu. Ia dengan cepat mengambil alih ponsel dari tangan Lysandra dengan gerakan cepat, tapi terasa seperti sentuhan kasih sayang di mata siapa pun yang melihat. Ia mendekatkannya ke telinganya. "Halo, dengan Theo? Ya, ini Eros. Mengenai pengaturan meja makan untuk Adnan lusa, Ayahku pasti ingin dia merasa diterima. Bisakah kau memastikan dia duduk di sebelah Ibuku?" Lysandra membelalak. Itu adalah langkah yang brilian dan kejam. Nyonya Ira dikenal sangat cerewet dan kritis terhadap calon menantu, dan duduk di sampingnya adalah ujian yang dijamin akan membuat Adnan gugup dan tidak nyaman. Itu akan membuat Adnan tampak tidak kompeten dan Lysandra terlihat tidak bersemangat. "Aku ingin Adnan merasa seperti sudah menjadi bagian dari keluarga," lanjut Eros, nadanya sangat ramah dan tulus. Ia memberikan kembali ponsel itu kepada Lysandra, senyumnya seolah berkata, 'Aku adalah kakak yang baik, bukan?' Lysandra mencengkeram ponsel itu. "Kau menyabotaseku," desisnya rendah, hanya untuk didengar Eros. "Menyabotase? Tentu tidak," Eros pura-pura terkejut. "Aku hanya memastikan calon suamimu mendapatkan perhatian penuh dari keluarga kita. Itu adalah kehormatan, bukan?" Ia mencondongkan tubuh sedikit, tangannya menyentuh bahu Lysandra. Sentuhan itu tidak kasar, tetapi Lysandra merasakan hawa dingin yang menjalar. "Jangan pernah berpikir untuk lari ke pelukan orang lain, Lysandra. Semakin keras kau mendorongku menjauh, semakin aku akan memastikan lingkaran ini menjadi tempat teraman dan satu-satunya tempat bagimu." Eros berbalik untuk pergi, tetapi ia sempat meraih botol parfum sitrus Lysandra yang baru dibelinya dan tersisa setengah. "Bau yang bagus," katanya dengan seringai palsu, "tapi membuat hidungku gatal. Sebaiknya kau buang. Aku membelikanmu sesuatu yang lebih cocok." Langkah Eros selanjutnya terjadi malam harinya. Ketika Lysandra sedang mencoba pakaian untuk pertemuan keduanya dengan Julian, ia menemukan satu setelan kemeja yang ia rencanakan untuk dipakai hilang. Di tempat setelan kemeja formal itu, tergantung sebuah gaun baru. Sutra tipis berwarna peach yang hampir menyerupai warna kulitnya, dengan potongan rendah di d**a. Gaun itu indah, tetapi terlalu provokatif dan tidak cocok untuk pertemuan keluarga yang formal. Di atas gaun itu, tergeletak sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan Eros. Pakai ini. Stroberi dan s**u. Aku tahu kau ingin membuatku senang, Adik Kecil. Jangan mengecewakan kami. Dan di atas meja rias, ia melihat botol parfum sitrusnya yang tadi pagi hanya tersisa setengah, kini isinya sudah kosong. Lysandra ambruk ke tempat tidurnya. Eros tidak menggunakan amarah atau kekerasan. Ia menggunakan kontrol dan manipulasi psikologis, disamarkan sebagai kasih sayang kakak, dan itu jauh lebih menakutkan. Ia memastikan Lysandra tahu bahwa semua gerakannya terawasi, bahkan aroma yang ia gunakan. Ia bukan hanya melawan Eros. Ia melawan bayangannya sendiri di dalam rumah ini. Lysandra menatap bayangannya di cermin dengan campuran jijik dan ketegasan. Ia mengenakan gaun sutra peach yang dipilih oleh Eros. Gaun itu indah, melayang, tetapi terasa salah, memeluk lekuk tubuhnya dengan cara yang terlalu terbuka untuk pertemuan keluarga dengan calon tunangan. Ia telah mencari di seluruh lemari, tetapi semua pakaiannya yang formal dan tertutup entah bagaimana telah hilang atau mungkin disembunyikan. Lysandra terpaksa menggunakan losion tubuh beraroma vanilla yang lembut. Masih jauh dari aroma stroberi, tetapi terasa jauh lebih rentan. Ia tahu Eros ingin memperlihatkan Lysandra sebagai miliknya yang provokatif, sebuah hadiah yang segera akan diambil. Saat ia turun, Tuan Danu, Nyonya Ira, Circe, dan—yang paling penting—Adnan Pramudya sudah duduk di meja makan utama. Adnan tampak tegang, mengenakan setelan jas yang rapi, dengan aura serius seorang pria mapan. Nyonya Ira tersenyum kaku melihat penampilan Lysandra. "Lysandra, gaun yang indah sekali, Nak. Tapi apakah tidak terlalu terbuka untuk pertemuan formal?" "Aku hanya ingin Ayah dan Ibu tahu bahwa aku sudah dewasa, Bu," jawab Lysandra tenang. Ia menghindari tatapan Eros. Adnan segera berdiri saat Lysandra mendekat, senyumnya sopan, tetapi ada nada terkejut di matanya. "Selamat malam, Lysandra. Senang bertemu lagi." Lysandra tersenyum, "Selamat malam, Adnan." Namun, saat Lysandra hendak duduk di kursi yang sudah disiapkan—tepat di seberang Adnan—Eros tiba-tiba bergeser. Ia dengan santai mengambil kursi kosong di samping Lysandra, yang seharusnya diisi oleh Nyonya Ira, dan menariknya hingga kursinya hampir bersentuhan dengan kursi Lysandra. "Duduk di sini saja, Adnan," kata Eros dengan suara hangat dan ramah, menunjuk kursi yang ditinggalkannya di sebelah Circe. "Lysandra akhir-akhir ini sering migrain. Aku harus memastikan dia baik-baik saja dan tidak terlalu banyak bicara. Kalian bisa bicara setelah makan malam." Pergerakan Eros itu efektif menghalangi seluruh pandangan Adnan ke tubuh Lysandra, terutama bagian atas gaun peach yang provokatif itu. Makan malam dimulai dengan suasana yang terasa kaku seperti ukiran es. Tuan Danu dan Nyonya Ira berusaha keras menjaga percakapan tetap ringan dan profesional, mengulas bisnis dan rencana masa depan. Setiap kali Adnan mencoba melakukan kontak mata dengan Lysandra, atau berbicara langsung padanya, Eros akan bergerak. Ia akan mencondongkan tubuh sedikit ke depan untuk mengambil lauk, atau menanyakan sesuatu yang mendesak kepada Ayahnya, secara halus berulang kali memutus garis pandang antara Lysandra dan Adnan. Lysandra mengerti. Eros sedang memainkan peran sebagai kakak posesif yang berlebihan, memposisikan dirinya sebagai benteng pelindung yang tidak bisa ditembus. Dan di mata Adnan, ini hanya akan terlihat sebagai sibling bonding yang terlalu intens seperti yang telah direncanakan Eros sejak awal. Adnan yang kesal akhirnya mencoba peruntungan dengan subjek yang lebih personal. "Lysandra, aku ingat pertemuan kita yang pertama. Kau selalu memiliki aroma khas yang manis ... stroberi dan s**u, bukan? Harum itu mengingatkanku pada masa kecil. Seperti seorang gadis remaja." Mendengar Adnan menyebut aroma stroberi yang dulu ia puja, Lysandra merasakan jijik. Ia telah berusaha keras untuk menanggalkan identitas 'dewi stroberi dan s**u'. Eros tiba-tiba meletakkan garpu peraknya dengan bunyi denting yang tajam. Ia mengambil gelas minuman alkoholnya, sebuah old fashioned dengan hiasan kulit jeruk—sebuah ironi, karena ia membenci sitrus—dan mulai memutar bibir gelasnya dengan perlahan, matanya yang gelap kini tertuju tajam pada Adnan. Suara Eros terdengar rendah, berbahaya, dan dipenuhi ancaman yang tersembunyi. "Sopan santun, tatakrama. Itu adalah attitude utama seorang pria, Adnan." Adnan tampak terkejut, tegang di bawah tatapan intimidasi Eros. Nyonya Ira dan Tuan Danu hanya bisa bertukar pandang penuh kecemasan. "Dan caramu mengomentari harum tubuh adikku sangatlah tidak sopan," lanjut Eros, suaranya naik sedikit, tetapi tetap di bawah kendali yang mencekik. "Apakah dia beraroma stroberi, vanilla, atau sitrus, itu adalah hal yang intim dan bukan untuk dikomentari oleh seorang pria yang baru dua kali bertemu dengannya." Eros sengaja menggunakan kata-kata intim dan tidak sopan untuk memicu rasa bersalah dan kecanggungan pada Adnan. Ia memutar gelasnya sekali lagi, matanya berkilat marah, bukan hanya karena Adnan mengomentari Lysandra, tetapi karena Adnan berani menganggap Lysandra masih anak kecil. Lysandra diam-diam merasakan gelombang ketakutan sekaligus kekuatan dari Eros. Eros memang monster, tetapi monsternya ini adalah monster pelindungnya. "Adikku adalah wanita yang akan segera bertunangan," kata Eros, nadanya sekarang kembali normal, dingin, dan menantang. "Kau harus belajar menghormatinya. Kau ingin menikahinya, bukan? Jika aku mendengar lagi komentar yang meremehkan tentang dia, tentang milikku, kita akan memiliki masalah yang jauh lebih besar daripada hanya perubahan jadwal makan malam." Ancaman itu jelas. Lysandra adalah milikku. Adnan menelan ludah. "Maaf, Eros. Itu tidak disengaja. Aku hanya—" "Simpan saja komentarmu," potong Eros. Ia kemudian kembali ke makanannya, mengabaikan Adnan sepenuhnya, tetapi tangannya di bawah meja bergerak, menyentuh lutut Lysandra, menekan kuat seolah menandai wilayah. Lysandra harus menahan napas. Ia hanya bisa menunduk dan memaksakan senyum sopan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD