Bab 6

1029 Words
Pintu tertutup pelan di belakangnya, tetapi suara itu terasa seperti tembakan di kesunyian tengah malam. Lysandra ambruk ke lantai, memeluk lututnya, menyadari bahwa jeratan hasrat itu baru saja dimulai. Bau aftershave Eros masih melekat di udara, bercampur dengan aroma stroberi dan s**u dari rambutnya yang basah, sebuah campuran yang kini terasa menjijikkan. Di pipinya, sisa air mata bercampur dengan rasa marah dan jijik. Ia tahu, tamparan itu adalah batas terakhirnya, garis yang ia tarik untuk melindungi dirinya dari obsesi Eros yang mengerikan. Dari dulu, Lysandra selalu memuja Eros. Bagi gadis kecil yang belum tahu bahwa ia diadopsi ke dalam keluarga kaya raya ini, Eros adalah kakak lelaki yang tangguh, pahlawan yang akan menghancurkan apa pun yang membuatnya tak nyaman. Jika bonekanya hilang, Eros yang akan menemukannya. Jika ia diusili teman sekolah, Eros yang akan memastikan temannya tak berani lagi mendekat. Lysandra melihatnya sebagai pelindung, simbol kekuatan yang absolut. Namun, beberapa tahun belakangan ini, Lysandra mulai sadar ada yang berubah. Perubahan itu datang perlahan, tidak kentara, tapi pasti. Sentuhan Eros menjadi lebih lama. Tatapannya menjadi lebih intens. Pelukan yang dulu terasa menghangatkan kini terasa mengekang. Ia mulai memahami bahwa ada yang berbeda dengan Eros. Saat Eros memandanginya, Lysandra tidak lagi melihat kasih saudara. Yang ada di sana adalah sorot mata yang gelap, haus, dan penuh kepemilikan. Itu adalah tatapan yang membuat darahnya dingin, tatapan yang memperjelas bahwa Eros tidak lagi melihatnya sebagai adik, melainkan sebagai sesuatu yang lain, mungkin sesuatu yang ia inginkan. Eros menjadi lebih menakutkan. Bukan karena ia kasar secara fisik—Eros tak pernah menyakitinya—tetapi karena ia menyakitinya secara psikologis, menghancurkan fondasi kasih sayang persaudaraan yang selama ini menjadi jaminannya. Lysandra meremas robe putihnya kuat-kuat, merasakan bekas ciuman paksa Eros di bibirnya, dan itu membuatnya mual. Ia bukan lagi anak kecil yang mengendus lehernya karena ingin dimanja. Ia adalah wanita yang akan dijodohkan. Kata-kata Eros kembali terngiang. "Perjodohanmu tidak akan terjadi. Tidak akan pernah. Karena kau adalah milikku. Hanya milikku." Lysandra menarik napas dalam, membasuh wajahnya dengan tangannya yang bergetar. Ia harus memutuskan, apakah ia mampu melepaskan diri dari jeratan hasrat yang baru saja dilepaskan oleh Circe dan ditegaskan oleh Eros, ataukah ia akan tenggelam dalam pusaran obsesi terlarang ini, menjadi 'dewi stroberi dan s**u' milik Eros. Ia tahu, mulai malam ini, ia tidak hanya melawan seorang pria, ia melawan obsesi yang setebal kulitnya sendiri. Ia bangkit dari lantai, kakinya terasa lemas. Matanya menyapu kamar, lalu terhenti pada tas travel kecil yang tersimpan di sudut lemari. Pelarian. Itu adalah naluri pertama. Meninggalkan rumah ini sebelum pertunangannya diumumkan secara resmi, sebelum Eros benar-benar mengklaimnya. Kota besar ini memang anonim, tapi tidak ada tempat yang cukup jauh dari jangkauan keluarga mereka. Namun, pikiran tentang melarikan diri segera terhenti. Eros sudah mengatakan akan membatalkan perjodohannya. Jika Lysandra kabur, ia hanya akan membenarkan obsesi Eros di mata keluarga, membuat dirinya terlihat bersalah. Selain itu, Circe sudah menjadi dalang, menantang Eros untuk menjeratnya. Melarikan diri berarti menyerahkan Lysandra ke dalam permainan Circe. Lysandra berjalan ke meja rias, menatap bayangannya di cermin. Bekas air mata, rambut berantakan, dan di bibirnya, ia bisa merasakan sisa paksaan yang dingin. Lysandra membersihkan bibirnya dengan kasar, seolah ingin menghapus jejak Eros selamanya. Penolakan tidak bekerja. Itu hanya memicu Eros. Ketakutan juga tidak berguna, karena Eros justru menyukai ketakutannya. Jika ia ingin bebas, ia harus bermain dalam permainan ini. Ia harus menemukan kelemahan Eros, menemukan cara untuk mematahkan obsesi yang sudah dipegang oleh kakaknya. Pikiran itu membawa Lysandra kembali pada perjodohannya. Itu adalah satu-satunya harapan. Calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Itu adalah satu-satunya tembok yang bisa ia gunakan untuk menangkis obsesi Eros. Lysandra meraih ponselnya di nakas. Ia harus bertindak cepat. Sebelum matahari terbit, sebelum Eros sempat mewujudkan ancamannya untuk membatalkan perjodohan. Tangannya mengetik cepat nomor telepon seluler ayahnya. Ini sudah tengah malam, tapi ia tidak peduli. Ia harus memohon. Ia harus meyakinkan ayahnya bahwa ia, Lysandra, sangat ingin menikahi pria pilihan keluarga. Telepon tersambung. Suara ayahnya terdengar serak, mengantuk. "Ayah?" suara Lysandra bergetar, tapi ia memaksanya menjadi lebih mantap. "Maafkan aku, Ayah. Aku tahu ini terlambat, tapi ... tolong, jangan batalkan perjodohan itu. Aku akan menikah dengannya. Aku akan melakukan apa pun yang Ayah inginkan. Tolong, percepat semuanya." Di dalam kamar yang beraroma stroberi dan ketakutan itu, Lysandra mengambil keputusan. Ia akan menggunakan takdir yang telah disiapkan orang tuanya sebagai perisai. Pertarungan kini resmi dimulai, dan ia akan melawan hasrat Eros dengan satu-satunya hal yang paling dibencinya, cinta yang legal dan diizinkan. *** Keesokan paginya, ruang makan kembali menjadi panggung ketegangan yang tersembunyi, meskipun suasananya lebih cerah oleh sinar matahari pagi. Tuan Danu dan Nyonya Ira sudah duduk, Lysandra berada di tempatnya, dan Circe sudah menyeruput tehnya dengan anggun. Namun, ada yang berbeda. Udara dipenuhi aroma tajam, segar, dan menantang. Eros datang terlambat. Ia melangkah masuk dengan aura yang masih gelap dari malam sebelumnya, tetapi saat ia menarik kursi di samping Circe dan duduk, ekspresinya langsung berubah. Ia mengerutkan hidungnya, wajahnya menunjukkan ketidaknyamanan yang ekstrem. "Siapa yang memakai aroma sitrus sialan itu?" desis Eros, suaranya rendah dan penuh amarah. Hidungnya yang sensitif langsung memerah, kontras dengan kulit wajahnya. "Aku benci aroma ini. Sialan, singkirkan ini dariku!" Semua orang tahu kelemahan Eros; hidungnya yang peka terhadap aroma sitrus yang selalu membuatnya menderita. Nyonya Ira menatap putranya dengan tatapan tak suka. Tuan Danu hanya menggeleng pelan. Sementara itu, Lysandra, yang sarapannya baru dimakan setengah, mengangguk sekali, lalu langsung berdiri dari kursinya. Ia tidak menatap Eros, hanya meninggalkan jejak aroma segar itu di belakangnya. Eros memandangi kepergian Lysandra dengan mata menyipit. "Kenapa adik kecilku pergi?" tanyanya, nada suaranya menuntut penjelasan. Ayahnya berdecak. "Hari ini Lysandra bilang ingin mencoba parfum sitrus, dan kau telah mematahkan hatinya di hari pertama." Eros membeku. Ia tidak mematahkan hatinya. Lysandra sengaja melakukan ini. Aroma sitrus, kontras sempurna dengan wangi stroberi dan s**u yang ia jadikan obsesi. Itu adalah tantangan yang terang-terangan. Tiba-tiba, tawa pelan terdengar. Circe meletakkan cangkir tehnya, senyumnya menyeringai puas. Ia mencondongkan tubuh ke arah Eros, matanya menyala penuh geli. "Dasar bodoh," bisik Circe, hanya untuk didengar Eros. Itu bukan hinaan. Itu adalah kekaguman pada kemampuan Lysandra untuk memprovokasi, dan kekecewaan karena Eros belum menyadari bagaimana permainan telah berbalik. "Adik Stroberimu tidak takut lagi, suamiku. Dia sekarang ingin ikut bertarung."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD